Cerita Yolanda Dessy Memilih Jadi Petugas Satpol PP Surabaya

Surabaya - Siapa bilang Petugas Satpol PP harus kaum pria saja, perempuan juga bisa kok bergabung menjadi anggota Satpol PP. Yolanda Dessy adalah salah satunya. Ia sudah menjadi anggota Satpol PP Surabaya sejak tahun 2017.

Sebelum bergabung menjadi Satpol PP, Yolanda menempuh pendidikan kebidanan dan pernah bekerja di sebuah rumah sakit swasta selama dua tahun.

Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda saat menjalani pekerjaannya yang sekarang, ternyata bekal ilmu yang pernah didapatkannya sangat berguna dalam menjalankan tugasnya melayani masyarakat.

Bagaimana kisah Yolanda bisa menjadi seorang Satpol PP? Ternyata semuanya berawal dari penolakan yang diterimanya saat melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Hingga akhirnya, ia mendapatkan informasi dari tetangganya mengenai lowongan pekerjaan yang ada di media sosial Instagram Satpol PP Surabaya.

Setelah mengirimkan surat lamaran dan menunggu hasilnya, Yolanda pun dinyatakan diterima. Hanya saja untuk menyandang status sebagai petugas Satpol PP tidak semudah yang dibayangkannya, sebab perempuan berusia 25 tahun ini masih harus melewati beberapa tahapan seleksi yang harus dijalaninya.

"Iya itu kayak ada masa orientasinya gitu. Pertamanya diukur tinggi badan sama berat badan, terus ada latihan fisik sama latihan mental juga, totalnya tiga bulan," kata Yolanda yang dilansir dari laman humas.surabaya.go.id.

Meskipun profesinya saat ini jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya, namun Yolanda tetap menikmati dan menjalani dengan sepenuh hati. Ia ingin mencoba dunia barunya menjadi petugas Satpol PP.

"Setelah dijalani enggak menyesal sih, nyaman juga, soalnya banyak pengalaman yang baru dan banyak kejadian-kejadian yang bikin lebih bersyukur dalam menjalani hidup," akunya.

Di Satpol PP Surabaya, Yolanda bertugas untuk mengurus anak-anak kecil, ibu-ibu, serta pelajar yang bolos sekolah. Dia juga tergabung sebagai anggota Tim Odong-Odong, atau yang biasa disebut sebagai tim gerak cepat.

Tak jarang ada pandangan negatif yang bermunculan di masyarakat mengenai Satpol PP. Tapi hal itu dijadikan Yolanda sebagai sebuah tantangan untuk bisa merubah stigma tersebut. Karena itu, Yolanda selalu memberi pengertian kepada masyarakat, bahwa sebenarnya Satpol PP bersikap tegas dan selalu melayani masyarakat.

Kesibukannya menjadi pelayan masyarakan membuat Yolanda mau tidak mau harus merelakan waktu bersama keluarga tercinta. Tak jarang saat sedang berkumpul bersama keluarga, ia harus kembali ke kantor atau lapangan untuk memenuhi tugas panggilan.

"Pernah suatu saat itu enggak tugas, tapi ada panggilan dari pimpinan untuk ke kantor, mau enggak mau harus pergi ke kantor. Kalau keluarga sih memaklumi ya, malah didukung dengan perhatian kecil seperti dibawakan bekal," terang Yolanda.

Karena kinerjanya yang baik, Yolanda pernah menerima penghargaan sebagai anggota teladan dari Kepala Satpol PP Surabaya. Bahkan, ia kerap kali ditunjuk untuk mengikuti diklat ataupun latihan untuk mewakili Satpol PP Surabaya. Walaupun tidak secara tertulis, itu semua merupakan sebuah prestasi tersendiri baginya.

Walau begitu, ia juga sempat merasakan duka saat sedang bertugas. Yolanda pernah mengalami patah pergelangan tangan karena tertabrak saat sedang melakukan penertiban pedestrian.

Namun, pengalaman buruk saat menjalankan tugas sebagai anggota Satpol PP tidak melunturkan semangat Yolanda untuk tetap mengabdi kepada masyarakat. Baginya, profesi sebagai anggota Satpol PP adalalah sebah panggilan hati yang besar untuk melayani masyarakat.


Foto: humas.surabaya.go.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler