Kisah Elda Fakhmy, Atlet Judo Tunanetra Berprestasi Asal Bandung

Bandung - TemanBaik pernah membayangkan ada tunanetra menjadi atlet judo? Ada loh sosok seperti ini, namanya Elda Fakhmy Nurtaufiq (20). Ia sudah menggeluti olahraga ini sejak 2014. Berbagai prestasi sebagai atlet judo pun banyak yang diraih. Mau tahu kisah lengkapnya?

Elda yang lahir di Bandung 28 Agustus 1999 sempat memiliki penglihatan normal. Tapi, secara perlahan penglihatannya terganggu. Sejak usia 18 bulan, ia sudah menjalani operasi akibat mata kirinya mengalami glukoma dan mata kanannya katarak.

Operasi pun sudah berkali-kali dilakukan. Seingatnya, mata kirinya sempat dioperasi hingga enam kali dan mata kanannya tujuh kali. Tapi, akhirnya ia harus kehilangan penglihatan total di usia 10 tahun, tepatnya pada 2009.

Ia justru bersyukur kehilangan penglihatannya. Itu karena ia tak perlu lagi menjalani operasi. Sebab, selain menyita waktu, operasi jelas membutuhkan uang cukup banyak. Apalagi, ayahnya hanya seorang tukang ojek dan ibunya membuka warung di daerah Citepus, Kota Bandung.

"Saya lebih bersyukur kayak gini. Dulu hampir tiap hari harus minum obat, kontrol ke dokter, operasi, dan lain-lain. Dulu malah orangtua sampai bela-belain minjam uang untuk berobat saya," kata Elda kepada BeritaBaik.id.

Elda lalu mengungkap pengalaman awalnya kehilangan penglihatan. Saat itu, setelah bangun tidur, ia tak bisa melihat apapun. Ia kemudian bertanya pada ibunya. "Saya heran. Waktu itu dengan polosnya nanya ke mama 'ini lampunya dimatiin ya?'. Mama saya waktu itu nangis," ungkapnya.

Menurutnya, sang ibu sudah tahu kemungkinan Elda kehilangan penglihatannya sejak usia 5 tahun dari dokter. Tapi, hal itu ternyata tetap membuat perasaan sebagai seorang ibu begitu terpukul. Kemungkinan kehilangan penglihatan itu benar-benar terjadi di usia 10 tahun.

Singkat cerita, sejak usia 12 tahun, Elda akhirnya memutuskan untuk belajar di Balai Rehabilitasi Sensorik Netra Wyata Guna Bandung. Di sana, ia menempuh pendidikan formal. Tapi, ia juga belajar berbagai ilmu dan keterampilan dari rekan-rekannya, mulai dari bermain musik hingga memijat.

"Saya belajar di Wyata Guna sejak 2012, saya yang mau masuk ke sini. Di sini saya bisa belajar banyak hal, belajar mandiri, dan enggak membebani orang tua," jelasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Anton Taufik, Sosok Pengajar Tuli Serba Bisa di SLBN Cicendo


Foto: dok. Elda

Korban Bullying hingga Berprestasi
Sejak penglihatannya terganggu dan akhirnya kehilangan penglihatan, perlakuan negatif dialami Elda. Ia sering dijahili teman-temannya di sekolah saat SD. Mulai dari baju dicorat-coret teman, tas disembunyikan, hingga disebut mata kelereng oleh teman-teman sekolah sudah dirasakannya. Bahkan, ia pernah diajak berkelahi karena ada orang yang tak suka dengan bentuk matanya.

Tapi, tak ada dendam dalam hati Elda. Ia memandang hal itu sebagai hal biasa selayaknya perilaku anak kecil saat itu. "Biasa aja, saya menganggap itu biasa permainan dan kelakuan anak kecil," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, Elda kemudian menemukan kesenangan tersendiri pada beladiri judo. Ia mempelajarinya sejak 2014 setelah diperkenalkan olahraga itu oleh temannya.

Elda pun menjelma menjadi atlet judo yang andal. Hingga kini, sudah 11 event ia ikuti, mulai dari Peparda, Peparnas, Kejurnas, serta berbagai kegiatan lainnya. Ragam medali emas, perak, dan perunggu pun sudah ia dapat.

Di Peparda dan Kejurda misalnya, ia mendapatkan medali emas. Di Peparnas, Karawang Open, dan Kejurnas ia mendapat medali perak. Sedangkan medali perunggu diraih saat mengikuti Jakarta Open.

Selain latihan keras, Elda juga harus berjuang hebat agar bisa tampil di berbagai kelas. Ia mengawali karier atletnya di kelas 50-an kilogram hingga kelas bebas. Setiap naik kelas, ia otomatis harus berjuang meningkatkan berat badan.

"Lumayan susah naikin berat badan, saya makan sampai enam kali sehari, sampai pahit rasa makanan juga. Saya pernah seperti itu selama satu setengah bulan," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Adhi Kusumo Teman Tuli yang Jadi Juru Bahasa Isyarat

Meski perjuangannya berat, Elda menemukan keasyikan tersendiri menjadi atlet judo. Setelah sempat menjajal olahraga lain seperti tenis meja dan catur, judo dirasa sebagai olahraga yang tepat baginya. "Saya memiliki rasa puas ketika bisa gabung di pelatda, pelatnas, dan bisa bersaing sebagai manusia," jelasnya.

Ingin Jadi Guru dan Kibarkan Bendera Indonesia
Di tengah kesibukannya sebagai atlet, Elda ternyata juga sedang fokus kuliah. Ia mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) di IKIP Siliwangi yang berlokasi di Kota Cimahi. Setelah lulus kelak, ia bercita-cita ingin menjadi guru BK.

Dengan menjadi guru BK, ia berharap bisa menghilangkan citra sebagai guru yang menyeramkan. Di saat yang sama, dengan menjadi guru BK, ia berharap bisa mengembangkan potensi siswa agar bisa jadi orang sukses. "Saya ingin membantu siswa agar memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi atau mengejar cita-cita," kata Elda.

Di mana Elda ingin mengajar kelak? Ia ingin mengajar di sekolah umum. Harapannya, kehadiran Elda bisa jadi penyemangat dan cerminan bagi siswa. Ia juga ingin menjadi guru BK di SLB agar para disabilitas bisa dibimbing menjadi berprestasi.

Selain menjadi guru, ia juga ingin mewujudkan mimpinya membela Indonesia di ajang internasional lewat judo. "Saya ingin mengibarkan bendera Indonesia di negara lain. Saya ingin tampil di event internasional. Kemarin sempat ada peluang tampil di ajang internasional, tapi ada kendala. Mungkin belum waktunya," tuturnya.

Ia pun akan berlatih lebih giat agar mimpinya mengharumkan nama Indonesia melalui judo bisa terwujud. Ia ingin memberi bukti bahwa tunanetra bisa mengharumkan negeri di tengah keterbatasannya.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler