Amirullah Ramadhan, Dulu Operator Judi Sekarang Marbot Masjid

Bandung - Amirullah Ramadhan (20) kini berusaha jadi sosok yang lebih baik setelah menempuh proses 'hijrah'. Ia aktif menjadi relawan dalam komunitas Hijrah Care di Bandung. Ada kisah menarik yang mewarnai perjalanan hidup pria yang akrab disapa Ramadhan. Simak kisahnya yuk TemanBaik!

Ramadhan sempat terjebak dalam kehidupan kelam. Selepas tamat SMP di kampung halamannya, tepatnya di Medan, ia bertualang ke Malaysia saat berusia 17 tahun. Di sana, ia mendapatkan pekerjaan sebagai operator judi online. Selain itu, juga memiliki pekerjaan sampingan menjadi kurir narkoba hingga bekerja di tempat biliar. Bahkan, ia menjadi anggota salah satu geng di Malaysia.

Penghasilan yang didapatkan dalam sebulan pun tergolong besar. Ia bisa mendapatkan uang hingga Rp10 juta dalam sebulan. Dengan uang melimpah, berbagai kesenangan dinikmatinya, salah satunya mengonsumsi narkoba. Ia juga mengakui sempat jauh dari kehidupan beragama.

"Saya bahkan sempat enggak percaya sama Tuhan," kata Ramadhan.

Selama 2,5 tahun ia menghabiskan kehidupan kelam di Malaysia. Tapi, ia merasa jenuh dengan apa yang dijalaninya. Ia akhirnya memutuskan 'hijrah' dan mendalami agama Islam. Hal itu terjadi setelah di Malaysia cukup sering bergaul dengan orang Bangladesh dan Pakistan.

Karena teman-temannya dari beda negara itu rajin beribadah, Ramadhan justru tertular hal positif. Ia mulai ikut salat hingga banyak bertanya seputar agama Islam pada mereka. Ia pun merasa ada kedamaian tersendiri setelah dekat dengan agama dan menjalankan syariatnya.

Ia lalu memutuskan meninggalkan kehidupan kelamnya di Malaysia. Pendapatan fantastis pun dengan mantap ia tinggalkan demi mendalami agama Islam. Ia kemudian pulang ke Medan dan sempat belajar di pondok pesantren.

Setelah itu, ia memutuskan belajar di Pondok Pesantren Al Huda, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Tak ada dorongan dari siapapun. Keinginannya mempelajari agama Islam dan pergi ke Bandung adalah berkat kemauannya sendiri. "Itu memang niat saya sendiri. Saya ingin suasana baru," ungkap Ramadhan.

Menjadi Marbot Masjid
Selepas mendalami agama Islam di Pondok Pesantren Al Huda, ia ditugaskan untuk pergi ke Kota Bandung. Ia diminta menjadi marbot di Masjid Al Kaffah di kawasan Kopo. Tanpa ragu, ia menjalankan tugas tersebut.

"Setelah tamat di Al Huda, saya ditugasin jadi marbot di sini sejak 2018," ucap Ramadhan.

Di sana, ia akhirnya bergabung dengan komunitas Hijrah Care. Sehingga, ia mendapatkan banyak teman yang sama-sama hijrah. Kebetulan, Hijrah Care banyak beraktivitas di Masjid Al Kaffah. Bahkan, ia kini jadi salah seorang relawan untuk program hapus tato gratis.

Ramadhan sendiri memiliki banyak tato di tubuh dan lengannya. Ia pun termasuk salah seorang peserta program tersebut. Tapi, karena tato di tubuh dan lengannya banyak, butuh waktu cukup lama agar benar-benar bersih.

Ia ingin membuat kembali tubuhnya tak dihiasi beragam gambar. Untuk mewujudkannya, ia harus rela menahan rasa sakit. Sebab, proses penghapusan menggunakan metode laser. Proses itu dirasa jauh lebih sakit daripada membuat tato. Tapi, semuanya dijalani dengan sabar. Ia pun berusaha menikmati proses dan rasa sakit itu sebagai perjuangannya berhijrah.

Baca Ini Juga Yuk: Program Hapus Tato Gratis di Bandung yang Makin Diminati

Selain itu, ia juga selalu berusaha untuk istiqamah alias konsisten menjadi pribadi yang lebih baik. Hal ini yang menurutnya menjadi proses sulit. Untuk sekadar hijrah, hal itu tergolong lebih mudah dilakukan. Tapi, konsisten jauh lebih berat dilakukan.

Sebagai contoh, Ramadhan menceritakan pengalamannya lepas dari kecanduan narkoba selama mondok di Pondok Pesatren Al Huda. Ia sangat tersiksa karena di sana sama sekali tubuhnya tak mendapat asupan narkoba. Badan menggigil dan beragam rasa tak enak lainnya ia terima.

Setelah dua bulan, ia baru bisa benar-benar hidup normal. Ia benar-benar lepas dari efek ketagihan narkoba. Ia pun bersyukur karena hingga kini bisa 'merdeka' dari barang haram tersebut.

Jadi Penjual Susu Jahe
Kehidupan baru benar-benar dijalani Ramadhan. Jika dulu ia bisa mendapatkan banyak uang saat di Malaysia, kini justru harus bersusah payah. Sejak beberapa waktu lalu, ia membuka usaha kedai susu jahe, tak jauh dari Masjid Al Kaffah.

Ia bisa membuka usaha itu karena ada bantuan modal dari Hijrah Care. Kesempatan dan kebaikan itu pun berusaha ia manfaatkan sebaik mungkin. Meski secara pendapatan sangat jauh jika dibandingkan di Malaysia dulu, ia sangat menikmati pekerjaannya saat ini.

Kedainya itu biasanya buka dari sore hingga malam. Jika awalnya bisa menjual sekitar 30 gelas sehari, kini ia penjualannya rata-rata mencapai 60 gelas sehari.

"Saya puas dengan kerjaan ini. Walaupun uangnya sedikit kalau dibandingin sama dulu (di Malaysia), tapi insya Allah lebih berkah, bisa nabung juga. Kalau dulu di sana habisnya enggak jelas, enggak bisa nabung," tutur Ramadhan.

Tapi, ia masih punya mimpi yang ingin dikejarnya. Ia ingin menjadi pengusaha di bidang fesyen. Karena itulah ia berusaha rajin menabung untuk dikumpulkan menjadi modal usahanya kelak. "Saya ingin punya usaha sendiri, ingin punya distro," ungkapnya.

Ia pun berharap kelak bisa menuai kesuksesan. Tak hanya sukses berbisnis, ia ingin sukses dengan mendalami ilmu agama Islam yang terus dipelajarinya. Ia ingin memberi bukti pada keluarganya bahwa ia bisa berubah.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler