Waryudin, Lulusan SD yang Sukses di Bidang Pertanian Organik

Bandung - Bersahaja, begitu kesan yang muncul saat berbincang dengan petani sukses yang satu ini. Ia adalah Waryudin, yang sejak tahun 2003 menjadi pionir pertanian organik di kawasan Bandung Selatan.

Mengapa pilih organik? Tak lain, karena dulu ia merasa jengah dengan polemik harga yang terjadi di hasil pertanian reguler. Selain tak memiliki pola bertanam, ia juga kerap menghadapi kenyataan pahit saat harga sayuran anjlok pada musim panen raya.

Namun setelah hampir 17 tahun menggeluti tanaman organik, pria asal Cisondari, Pasir Jambu Kabupaten Bandung ini nyaris tak pernah lagi mengalami fase merugi. Nasib baik pun berangsur mampir di kehidupan Waryudin. 

Bermula dari empat orang petani penggarap, kini ia menjelma jadi bos Jaya Alam Lestari Farm yang membawahi 282 petani di sekitar daerah Cisondari.

"Istilahnya, saat ini JAL Farm sudah menjadi sumber penghidupan baru bagi warga Cisondari yang dulunya banyak pengangguran. Alhamdulillah, dengan pola tanam tersistem, kita bisa jaga keberlanjutan pertanian ini dengan harga produk pertanian yang stabil di pasaran," ujar Waryudin kepada BeritaBaik, belum lama ini di Bandung.

Petani lulusan Sekolah Dasar ini menceritakan, dulu ia hanya orang desa yang bertani karena tuntutan hidup dan mengikuti jejak orangtua. Namun pendidikan rendah tak menghalanginya untuk terus belajar dan mengulik ilmu.

Tak sedikit, ada total 40 hektar lahan garapan yang kini dimiliki JAL Farm. Berawal dari usaha sayur dan buah organik, kini ia berhasil mengekspansi bisnisnya ke perkebunan kopi organik,  hingga peternakan sapi. 

Karena konsepnya organik, pria 42 tahun ini juga tak pernah membeli atau mendatangkan obat kimia di lahan usahanya. Sebagai gantinya ia membuat unit sarana produksi atau klinik tanaman dan unit pengolahan limbah yang berperan sebagai rumah komposter untuk keperluan tanaman di JAL Farm.

"Dari ekosistem tani yang kita buat ini akhirnya berkembang ke beberapa unit usaha baru. Bahkan untuk pengolahan kompos juga digarap sendiri. Seperti sama Hotel Hilton, kita rutin mengangkut sampah organik dari sana untuk dikompos. Kebutuhan kompos JAL Farm mencapai 50 sampai 60 ton per bulan," bebernya.


Seiring pertumbuhan usahanya, Waryudin mengaku tak terlalu sulit lagi mencari mitra. Namun baginya kesuksesan tak ada yang bisa diperoleh dengan cara mudah. Salah satu yang butuh jerih payahnya, adalah memperoleh label sertifikasi organik yang didapatkannya dalam waktu 10 tahun.

"Awalnya memang enggak muluk-muluk, saya bisa tembus sayuran organik ke beberapa RS di Bandung. Tapi akhirnya pasar berkembang setelah saya mendapatkan sertifikasi produk organik dari lembaga independen. Saat ini pasar ya sudah meluas ke perhotelan hingga beberapa ritel di Bandung dan Jakarta," ungkapnya.

Lebih jauh Waryudin menuturkan, dulu tanaman organik memang dikenal mahal dan pasarnya masih terbatas. Namun seiring tren gaya hidup sehat, kini hasil panennya justru banyak yang mengincar. Setiap hari, produk selada, bayam, horenso, shiomal jambu kristal hingga kopinya menjadi produk organik unggulan Kabupaten Bandung.

Meski bukan sarjana pertanian, Putra Ciwidey ini berhasil menginovasi lahan garapannya menjadi lebih efisien. Berkat pola tanamnya yang tersistem, Waryudin juga kerap diundang sebagai pembicara di berbagai forum yang berkaitan dengan pertanian.

"Jadi dengan pola tanam tersistem,  konsep pertanian di liar organik juga bisa mengadopsi cara yang sama. Tujuannya untuk meminimalisir kerugian atau harga jual anjlok di pasaran. Makanya kepada mitra juga saya selalu mengajak mereka mengikuti pola kita, misalnya jika belum saatnya panen, ya jangan memaksa dipanen," rincinya.

Jaya Alam Lestari memang sudah menjadi terdepan pada lini bisnis organik di Bandung Selatan. Namun Waryudin tak mudah berpuas diri. Saat ini, JAL Farm tengah membangun SMK Pertanian tak jauh dari perkebunannya. Waryudin menyampaikan, keberadaan sekolah itu nantinya dapat dimanfaatkan anak-anak petani di sekitar Cisondari. 

Menurutnya, hingga saat ini, taraf pendidikan masyarakat Cisondari tercatat masih rendah karena kendala jarak ke lokasi sekolah yang terlalu jauh. Lewat pembangunan pendidikan ini lah, Waryudin menaruh harapan besar untuk mencetak generasi yang lebih mumpuni di bidang pertanian.

"Cita-cita besar saya memang menciptakan petani milenial yang pendidikannya memadai. Sekarang pembangunan sekolah ini baru 40 persen, mudah-mudahan bisa segera rampung, mohon doanya," pungkas Waryudin. 

Foto: Dini Yustiani/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler