Rafni Trikoriaty, Tempat Curhat Penghuni Lapas Wanita Sukamiskin

Bandung - Sudah sekitar tiga tahun Rafni Trikoriaty Irianta mengemban tugas sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Sukamiskin Bandung. Ada banyak cerita dan lika-liku menarik yang dijalani.

Bagi Rafni, menjadi kepala lapas (kalapas) bukan hal aneh. Ia sudah mengemban jabatan itu di beberapa lapas. Di antaranya, ia pernah jadi kalapas di Medan, Palembang, Makassar, bahkan pernah jadi Kepala Rumah Tahanan (rutan) Pondok Bambu.

"Saya enggak ada cita-cita kerja di lapas," ucap Rafni kepada BeritaBaik.id.

Semula, ia justru tertarik bekerja di Kementerian Hukum dan HAM. Di masa mudanya, ia tertarik bekerja di sana karena pakaiannya. "Dulu saya pikir bajunya keren," ungkapnya.

Tapi, di balik baju keren itu, ia justru menghabiskan banyak waktunya ditugaskan dari satu penjara ke penjara lain. Ia sempat kecewa. Meski begitu, akhirnya ia menerima dan menikmati pekerjaan tersebut. Hingga akhirnya, ia mendapat kepercayaan menduduki posisi tinggi di berbagai lapas dan rutan.

Ia sendiri tidak kaget saat bertugas di berbagai lapas. Sebab, sejak muda, ia banyak bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat. Tak ada sedikit pun rasa takut harus menghadapi orang-orang yang tersangkut masalah hukum.

"Dulu saya sering gaul sama preman, jadi enggak takut kerja di tempat seperti ini," kata Rafni.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Warga Binaan Lapas yang Bikin Baju dari Limbah Plastik

Justru, di balik banyaknya para tahanan dengan latar belakang kelam, menurutnya ada banyak kisah sedih yang menyayat hati. Banyak dari tahanan yang menyesali perbuatannya. Sebab, mereka tak bisa hidup bebas dan berkumpul dengan orang terkasih.

Rafni pun kerap menjadi tempat curhat alias mencurahkan isi hati para tahanan. Bahkan, ia seolah menjadi ibu bagi mereka. "Banyak yang ngeluh, curhat. Kalaupun enggak bisa cari solusi buat mereka, minimal kita mendengarkan mereka," tuturnya.

Cara seperti itu biasanya membuat beban di hati para tahanan lebih lega. Bahkan, ia juga kerap memberikan nasihat agar para tahanan bangkit dan berusaha ikhlas menjalani hukuman.

"Bagi saya, kepuasan tersendiri ketika mereka bisa menerima kenyataan," ujar Rafni.

Seperti apa kisah sedih para tahanan? Seperti di Lapas Perempuan Sukamiskin misalnya, ada warga binaan yang tak dianggap lagi oleh keluarga. Selain itu, ada yang tak pernah dibesuk sama sekali oleh keluarga.

"Ada juga yang bohong sama keluarga, bilangnya kerja di luar negeri seperti Hongkong, Arab, Malaysia. Padahal mereka ada di sini," ucap Rafni.

Kenapa harus berbohong? Mereka tak mau keluarganya tahu bahwa mereka dibelit kasus hukum. Apalagi, banyak yang memiliki anak kecil. Sehingga, mereka tak mau anaknya tahu bahwa sang ibu ada di balik jeruji besi. Sebab, jika tahu, itu akan jadi beban berat bagi sang anak.

Hal seperti ini bukan sekadar cerita loh TemanBaik. BeritaBaik.id pun sempat mendapat cerita dari salah seorang warga binaan di sana bernama Inggrid. Perempuan ini ramah melayani permintaan wawancara soal kreasi pakaian dari limbah plastik yang dibuatnya di dalam lapas. Tapi, ia meminta agar wajahnya tak difoto dan dimuat di media.

Sebab, anaknya masih kecil dan tak tahu bahwa ibunya sedang menjalani hukuman di lapas tersebut. Ia takut sang anak tahu melalui internet jika foto sang ibu dimuat di media. "Kasihan, anak saya masih kecil, dia enggak tahu saya di sini," ungkap Inggrid.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler