Cerita Ratika Yuli, 13 Tahun Berjibaku dengan Api

Bandung - Ratika Yuli Puspita sudah 13 tahun bekerja di Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung. Berhadapan dengan api pun jadi hal biasa baginya.

Menariknya, ia berlatar belakang pendidikan jurnalistik. Tapi, garis hidup membawanya justru mengabdi di Diskar PB. Awalnya, ia bekerja di sana hanya sekadar mengisi waktu luang sambil mencari pekerjaan lain.

"Awalnya sih mengisi waktu sambil cari-cari kerja di tempat lain. Pertama di sini ditempatkan di bagian administrasi," kata Tika, sapaan akrabnya.

Ia bertugas membuat pengadministrasian di bidang operasional kebakaran. Tapi, pekerjaannya enggak hanya duduk di belakang meja dan di hadapan layar komputer. Ia sering diperbantukan untuk membantu penanganan kebakaran di berbagai daerah di Kota Bandung.

"Awalnya terus terang takut melihat api. Jangankan sebelum turun, di mobil (pemadam) saja sudah kerasa panasnya kayak apa," ungkapnya.

Karena sering diperbantukan mengatasi kebakaran, ia justru menemukan kesenangan dan kepuasan tersendiri. Sebab, pekerjaannya lebih banyak fokus membantu orang lain yang terkena musibah.

"Lama-lama kok senang aja (jadi petugas pemadam), jadi lebih nyaman, bawaannya istilahnya sudah panggilan hati. Jadi, makin ke sini makin nyaman," tutur Tika.

Saking nyamannya, ia bahkan tak pernah terpikir untuk beralih profesi meski statusnya di sana hingga kini masih pegawai harian lepas (PHL), bukan aparatur sipil negara (ASN). "Kalau tawaran kerja ada dari mana-mana, tapi saya tetap memilih di sini," ucapnya mantap.

Ia sendiri sadar soal risiko tinggi yang dihadapi dari pekerjaannya. Tapi, ia memandang risiko sebagai hal biasa dalam pekerjaan apapun. Soal kemungkinan cedera atau celaka, hal itu menurutnya bisa dialami siapa saja. Bahkan, orang yang berjalan pun bisa saja celaka meski secara logika bakal aman-aman saja.

Baca Ini Juga Yuk: Ini Aksi Petugas Damkar Bandung yang Tak Hanya Mahir Padamkan Api

Lalu, bagaimana respons keluarga dengan pekerjaan Tika? Kebetulan sang suami juga bekerja di tempat yang sama. Sehingga, suaminya tahu betul dan mengerti akan konsekuensi pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran.

Tapi, bagaimana dengan anak-anaknya? Mereka juga sudah mengerti dan menerima pekerjaan Tika dan sang suami. Meski begitu, sesekali kekhawatiran tetap saja ada dalam hati sang anak. Untuk menjawab kekhawatiran, sang anak biasanya punya cara khusus mengatasinya.

"Kalau lagi tugas kan kita enggak bisa dihubungi. Paling mereka hubungi anggota yang lain, nanya itu abi, umi, gimana," tutur Tika.

Selama bertugas, Tika mengaku tak pernah mengalami cedera atau kecelakaan parah. Tapi, bukan berarti mulus-mulus saja. Ia kerap mengalami lecet, luka bakar, bahkan tergores. Baginya, hal seperti itu adalah hal biasa.

Tika sendiri cukup lama menjadi primadona petugas pemadam di Diskar PB Kota Bandung. Tapi, kini ia punya memiliki rekan-rekan perempuan dengan tugas yang sama. Mereka dinamakan Srikandi Pemadam.

Di Kantor Diskar PB, ada tujuh orang anggotanya yang semuanya perempuan tangguh. Tapi, Tika dianggap sebagai sosok yang dituakan di Srikandi Pemadam. Itu karena usia dan pengalaman Tika jauh lebih banyak dibanding yang lain. Meski begitu, soal urusan pekerjaan, menurutnya semua dalam posisi yang sama.

"Kalau kerja mah kita semuanya sama, kalau di lapangan kita mengikuti komando dari Danru (Komandan Regu) dan Wadanru (Wakil Komandan Regu)," pungkas Tika.


Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler