Kisah Enen Aristianti 10 Tahun Bekerja di Lapas Perempuan

Bandung - Enen Aristianti menghabiskan sekitar 20 tahun pekerjaannya di dunia lembaga pemasyarakatan (lapas). Dalam 10 tahun terakhir, tepatnya sejak 2010, ia bertugas di Lapas Perempuan Sukamismin Bandung. Posisinya saat ini ditempatkan di bagian Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja.

"Saya kerja di lapas ini dari 2010. Sebelumnya di Lapas Banceuy Bandung sekitar tahun 2001," kata Enen.

Bekerja di lapas, TemanBaik pasti tahu kan jika dalam kesehariannya Enen harus hidup bersama warga binaan atau masyarakat umum menyebutnya dengan istilah narapidana.

Resahkah Enen bekerja di sana? Jawabannya adalah tidak. Ia justru menikmati setiap detik pekerjaannya di sana. Baginya, pekerjaan adalahj ibadah yang harus dijalani dengan ikhlas dan penuh kegembiraan.

Bahkan, di sana ia seolah mendapat keluarga baru. Itu karena seringnya ia berinteraksi dengan para warga binaan. Bahkan, kedekatan yang terjalin ada yang seperti ibu dan anak.

Meski begitu, jangan tanyakan soal profesionalitas Enen. Sedekat apapun ia dengan warga binaan, jangan harap Enen memberi keleluasaan bagi warga binaan untuk melanggar aturan di dalam lapas. Semua aturan harus tegak, tak ada sedikit pun celah untuk melanggarnya.

Soal tugasnya di Lapas Perempuan Sukamiskin Bandung, Enen jadi salah satu aktor penting di sana. Ia berusaha membuat para warga binaan memiliki berbagai keterampilan, mulai dari menjahit, berkebun, hingga membuat kue.

Berbagai keterampilan itu diberikan agar saat bebas nanti para warga binaan bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik. Ia berharap mereka bisa mencari nafkah dengan cara halal. Yang tak kalah penting, selepas keluar dari lapas, mereka diharapkan bisa membuktikan diri bahwa mereka bisa berubah.

Tapi, bukan hal mudah membuat mereka mau mempelajari banyak keterampilan di lapas. Apalagi, di awal-awal masuk, warga binaan biasanya mentalnya terpuruk. Mereka tak bisa menerima kenyataan hingga kadang ada yang emosinya meledak-ledak.

Untuk mengatasinya, ia berusaha untuk menyentuh hati mereka secara perlahan. Ia lebih mengandalkan pendekatan personal ketimbang kekerasan dan penekanan.

Dengan begitu, mereka akan paham bahwa berbagai keterampilan yang diajarkan akan bermanfaat. Selain mengisi waktu selama menjalani hukuman, berbagai pelatihan yang ada akan berguna untuk mereka saat bebas kelak.

Karena pola pendekatannya itulah Enen justru seolah jadi ibu bagi para warga binaan di sana. Bahkan, tak jarang ia menjadi tempat curhat alias mencurahkan perasaan mereka.

"Mungkin karena sesama perempuan, jadi kita melakukan pendekatannya dari hati ke hati. Malah kita jadi tempat curhat mereka," tutur Enen.


                                                                        Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Suka dan Duka di Lapas
Selama 10 tahun bekerja di Lapas Perempuan Sukamiskin, jelas ada banyak suka dan duka yang dialami. Ia sendiri sedih ketika melihat para warga binaan dengan berbagai masalah hukum atau kasus yang menderanya. Apalagi, tak semua warga binaan berniat melakukan kejahatan atau kesalahan.

"Kadang yang masuk ke sini bukan karena kesalahan mereka (yang disengaja), tapi mereka ada di posisi yang enggak tepat. Ada yang niatnya baik, tapi karena posisinya enggak tepat, jadinya enggak baik (berujung tersandung hukum)," jelas Enen.

Bukan tanpa sebab ia mengutarakan hal itu. Sebab, ia tahu betul bagaimana kisah para warga binaan di sana. Ia pun tahju persis bagaimana kesedihan mereka harus berpisah dengan keluarga dan orang-orang tercinta. Bahkan, mereka tak bisa hidup bebas di luar sana seperti orang lain.

Tapi, ia tak melulu melihat kesedihan selama bekerja di sana. Enen mengaku tetap memiliki kebahagiaan tersendiri, terutama ketika bisa menempa warga binaan untuk bangkit dan punya kemauan untuk berubah jadi pribadi yang lebih baik.

Ia pun mencontohkan salah seorang warga binaannya yang akan segera bebas dalam waktu dekat. "Ada yang bilang keluar dari sini mau jualan kue," ucap Enen.

Sementara karena kedekatan dan intensitas bergaul dengan warga binaan, ia selalu merasakan dilema ketika ada yang bebas. Ada rasa senang sekaligus sedih yang berkecamuk dalam hatinya.

Di satu sisi, ia senang karena warga binaan yang bisa keluar, apalagi jika pribadi dan semangat memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. "Saya senang kalau mereka bisa menyelesaikan tugasnya (menjalani hukuman) dengan bajik, bisa dapat ilmu juga," jelasnya.

Sebab, tak semua berbagai keahlian itu bisa didapat dengan mudah di luar sana. Bahkan, tak jarang untuk mendapat berbagai keahlian harus merogoh kocek cukup dalam. Tapi, di lapas mereka bisa mendapatkannya dengan gratis.

Jika ada warga binaan yang 'lulus', ia mengaku sedih karena harus berpisah. Sementara selama bertahun-tahun ia menjalani kebersamaan dengan mereka hampir setiap hari.

"Tapi ada senangnya juga karena masih bisa bertemu di luar. Sampai sekarang juga masih ada yang suka kontak-kontakan," ungkap Enen.

Hal itu membuatnya merasa memiliki banyak saudara di mana-mana. Tak hanya di dalam lapas, ia punya banyak saudara di luar sana dengan latar belakang mantan warga binaan.

Foto: Ilustrasi Unsplash
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler