Cerita Supomo dan Karya-Karyanya yang Lama Terendap

Bandung - TemanBaik, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk relaksasi dan menghilangkan kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Salah satu caranya adalah dengan menggambar atau melukis. Hal itu yang dilakukan Supomo.

Seniman kelahiran Indramayu, 8 April 1955 ini menuangkan emosinya ke dalam gambar dan lukisan yang ia sebut bergenre kontemporer. Saat dijumpai di kediamannya, ia menunjukkan beberapa karya terbaru yang selesai digambarnya.

"Ini baru beres tadi pagi, jam 2,” katanya.

Kepada BeritaBaik, Supomo tak pernah mengira karya seni rupanya mendapat antusias positif, khususnya dari kalangan muda. Ia mengaku pada awalnya menggambar hanya sebatas sarana untuk melepas penat saja. Kendati bakat seni tersebut sudah muncul sejak ia duduk di bangku SD, tapi Supomo tak pernah mengikuti pendidikan formal untuk hobinya tersebut. Bahkan, beberapa kali ia menekuni pekerjaan yang tak berkaitan dengan bidang seni.

"Saya 25 tahun kerja di perusahaan bidang otomotif. Tahun 1981 saya pertama kali kerja. Terus pindah ke pabrik garmen," jelasnya.

Kepenatan di lingkungan kerja kemudian dituangkannya ke dalam gambar di waktu senggang. Hingga akhirnya saat pensiun dari pekerjaannya di pabrik garmen, Supomo mulai fokus menjadi seniman penuh waktu. Ia mengaku senang, karena sepanjang hari melakukan sesuatu yang sangat disukainya. Kesenangan itu semakin menjadi saat namanya mulai dikenal oleh beberapa seniman lain, yang kemudian berkolaborasi dengan Supomo untuk materi keperluan visual.

Baca Ini Juga Yuk: Deri, Si Penyelamat Ratusan Gitar Patah di Bandung

Nama Supomo mulai dikenal luas setelah putra sulungnya, Yulius Iskandar, membuatkan akun instagram @senikanji dan mengunggah hasil gambar Supomo. Sejak itu, Supomo mulai kebanjiran pesanan gambar. Tercatat ada nama Sir Dandy dan The Panturas, dua musikus yang melibatkan Supomo sebagai perancang artwork-nya.

Sir Dandy meminta Supomo untuk menginterpretasi lagu 'Jakarta Motor City', 'Mudah-mudahan Ramai Terus (MRT)' dan 'Jurnal Risa', sedangkan The Panturas meminta Supomo untuk menginterpretasi album 'Mabuk Laut' ke dalam bentuk gambar. Tak hanya itu, Supomo juga mulai kebanjiran pesanan gambar dari rumah makan, kedai kopi, clothing line, label rekaman musik, sampai untuk keperluan ucapan pribadi.

"Biasanya, proses orderan itu awalnya saya dikasih tau Yulius, dijelaskan secara verbal klien maunya kayak gimana. Lalu biasanya ada kutipan teks Bahasa Inggris atau Indonesia yang saya terjemahin ke Bahasa Mandarin,” papar Supomo.

Tulisan huruf mandarin akhirnya menjadi ciri khas gambar pria ini. Ia juga bercerita pernah belajar bahasa mandarin dan menulis aksaranya medio 2005 silam melalui kursus. Kendati berdarah Tionghoa, ia mengaku tak bisa berbahasa mandarin. Oleh karenanya, ia sengaja memperdalam Bahasa Mandarin lewat kursus selama dua tahun.

Saat berkarya, Supomo menggunakan media kertas, drawing pen, pensil dan spidol. Normalnya, ia mengerjakan orderan dalam kurun waktu dua hingga tiga hari. Puncak dari rasa senang Supomo terjadi saat ia menggelar pameran di Kedai Juru, belum lama ini. Pameran bertajuk A Mini Showcase by Mr. Supomo of Seni Kanji ini awalnya tak pernah terbesit dalam pikiran.

"Saya itu enggak percaya diri sama karya saya. Tapi keluarga ngasih support besar untuk saya. Mereka bilang saya bisa penuh waktu jadi seniman. Makanya saya seneng banget pas pameran kemarin terselenggara. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah mengapresiasi karya saya," ujarnya.

Ia juga berencana akan membuat pameran berikutnya dengan melibatkan beberapa seniman muda. Pameran-pameran berikutnya, ia sebut akan digelar dalam waktu dekat. Diluar menggambar untuk pesanan, Supomo juga aktif menggambar. Salah satu obyek gambar favoritnya adalah objek wayang. Seluruh karya gambar Supomo bisa dijumpai di akun instagram @senikanji.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler