Sehat & Bugar ala Bude Sumiyati, Pedagang Jamu 4 Dekade

Bandung - TemanBaik, pernahkah kamu membeli jamu di pedagang jamu keliling? Biasanya, jamu identik dengan kesehatan dan kebugaran tubuh. Lalu, pernahkah kamu bertanya tip menjaga kesehatan dan kebugaran langsung dari peracik jamunya?

Bagi Sumiyati (54) pedagang jamu keliling yang tinggal di RW 13 Cijawura Hilir, Buahbatu, Bandung, pekerjaan yang sudah dijalaninya selama hampir 40 tahun tersebut sangat ia syukuri. Pasalnya, dari pekerjaan yang dijalaninya sejak remaja tersebut, ia mengaku seperti mendapat dua kebaikan tiap harinya. Dengan berjualan jamu, ia mengaku senang bisa membantu orang yang memerlukan prodak jualannya untuk dikonsumsi.

Di sisi lain, dengan caranya menjajakan dagangan dengan berjalan kaki rata-rata sejauh 15 kilometer perhari, ia merasa rutin berjalan kaki bisa membuat tubuhnya tetap fit meski usianya memasuki kepala lima.

"Sekalian olahraga juga. Tubuh jadi enteng kalau sering digerakkan. Kadang kan kalau kita malas-malasan, banyak tidur, itu jelek lho untuk kesehatan," kata Sumiyati.

Menurut wanita asal Solo yang sudah berjualan jamu sejak 1981 ini, bangun pagi, jalan kaki dan banyak minum air putih jadi rahasianya masih segar bugar di usia 54, walau harus menempuh jarak hampir 15 kilometer per-hari dengan mendorong gerobak. Saban pagi, ia sudah bangun dan mulai berkeliling dari Cijawura Hilir, terus masuk ke perumahan Margahayu Raya lewat Jalan Rancabolang.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Supomo dan Karya-Karyanya yang Lama Terendap


Sasaran pembelinya tak jauh dari warga komplek atau para penunggu siswa di beberapa sekolah yang ada di Perumahan Margahayu Raya tersebut. Hampir tiap sudut perumahan dilaluinya dengan berjalan kaki. Belakangan, ia mengaku menggunakan roda saat berjualan.

"Kalau dulu sih digendong (jamu-jamunya). Tapi, akhirnya saya pakai gerobak aja biar praktis tinggal dorong," jelasnya.

Berbagai macam ramuan sudah disiapkannya. Begitu pembeli datang, Sumiyati biasanya bertanya dulu kepada pembelinya; apa yang dikeluhkan oleh si pembeli? Dan apakah si pembeli alergi terhadap konsumsi racikan jamu tertentu? Setelah itu, ia meracik sendiri jamu-jamu yang disesuaikan dengan pembelinya.

Meski begitu, tak sedikit juga pembeli yang memang sudah paham mengenai kandungan jamu yang hendak dibelinya, sehingga Sumiyati hanya tinggal menuruti saja pesanan pembelinya. Menurut Sumiyati, jamu memiliki khasiat yang manjur untuk menjaga kesehatan tubuh.

"Kayak misalnya beras kencur, itu untuk badan pegal-pegal. Terus ada lagi kunyit asam, itu sih favoritnya pembeli saya yang ibu-ibu," jelasnya.

Konon, Sumiyati punya banyak pelanggan yang menunggu tiap harinya. Hal itu dikarenakan ia tak pernah mengurangi kandungan apapun dalam jamu racikannya, kendati bahan bakunya mengalami kenaikan. Sumiyati menuturkan, kalau bahan baku dikurangi, maka khasiat jamu bisa berkurang.

Dalam hitungan jam saja, biasanya jamu jajakan Sumiyati sudah ludes. Ia bahkan menuturkan, biasanya pukul 10 pagi, jamu dagangannya sudah habis. Ia juga mematok harga maksimal Rp5.000 untuk satu gelas jamu yang dijualnya.

"Nggak mahal lho 5.000 rupiah saja, tapi bisa bikin sehat tubuh kita," katanya.

Hasil jualannya tersebut ia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di rumahnya, Ibu dari 4 anak ini tinggal bersama 2 orang anaknya. Sementara kedua anak lainnya tinggal di Sukabumi. Ia punya cita-cita bisa menyekolahkan anaknya dari berjualan jamu. Namun, cita-cita itu belum bisa terwujud karena sang anak memilih untuk bekerja ketimbang melanjutkan pendidikan. Meski tetap bersyukur, tetapi Sumiyati memandang pendidikan sebagai hal penting.

"Ya, anak kan jadi belajar disiplin, terus pergaulannya luas kalau dia kuliah. Soalnya kalau ilmu sih udah pasti dia dapetin," tutupnya.

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler