Kisah Zaki & Tempat Belajar Anak TKI di Ujung Selatan Malang

Malang - Sejak 2011 silam, Muzeki telah membangun sebuah tempat belajar bernama 'Kampung Cerdas Ceria Galeri Kreatif' sebagai tempat pengabdian. Saat ini setidaknya ada 300 anak-anak dari sekitaran Dusun Sukosari, Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang yang setiap harinya menghabiskan waktu di tempat belajar ini.

Di sini, anak-anak diajak belajar dengan cara yang fun. Senin hingga Kamis, anak-anak kecil belajar akademik secara kelompok dan didampingi relawan dari siswa SMA. Sementara hari Jumat adalah sesi pengembangan bakat dan minat. Ada kelas menari, melukis, belajar kaligrafi, kerajinan tangan dan masih banyak lagi lainnya.

"Tiap 4 bulan sekali kita adakan pentas kreativitas seni dan budaya, dimana adik-adik bisa mementaskan hasil tari, drama dan juga pameran hasil karya," kata pria yang akrab siapaa Zaki tersebut.

Sementara untuk siswa SMP, SMA dan kuliah, Zaki sering mengajak mereka untuk mengikuti sesi kelas menulis, seminar motivasi kuliah hingga kewirausahaan. Semua kegiatan disini dilakukan dengan senang hati dan tanpa biaya. Semua relawan dan pemateri tidak ada yang dibayar. Mereka memberikan ilmu secara tulis tanpa imbalan.


Baca Ini Juga Yuk: Chef Devina Hermawan Berbagi Kreasi Masakan Unik Lewat Buku

Berdirinya tempat ini berawal dari pengalaman pahit Muzeki dalam mengakses pendidikan tinggi. Saat hendak melanjutkan kuliah, Zaki dan teman-temannya merasakan betul kesulitan mengakses pendidikan. Maklum, tempat tinggal Zaki sangat jauh dari Kota. Ia tinggal di sebuah desa di bagian ujung selatan wilayah Kabupaten Malang. Yakni berjarak sekitar 31 kilometer dari kota tempat banyak kampus berdiri.

Saat itu sekitar tahun 2009, Zaki bersama temannya Fitri, Bambang dan Nurul Masrifah ingin sekali mengenyam pendidikan tinggi di kampus.Meski tak memiliki uang yang cukup, Zaki dan kawan-kawan tak patah arang. Mereka nekat mendaftarkan diri di sebuah kampus negeri di Kota Malang.

"Saat daftar kuliah itu kita saling pandang dan bertekad suatu saat nanti akan membawa adik-adik (dari kampungnya) ke universitas," cerita Zaki.

Dari keprihatinan dan pengalaman pahit ini, Zaki dan kawan-kawan kemudian merealisasikan niatan baiknya. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memberi les gratis ke siswa kelas 3 SMP dan SMK yang ada di sekitar kampung. Tak hanya diberi ilmu akademik saja, anak-anak ini juga diberi motivasi agar semangat belajar hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

Menurut cerita Zaki, kebanyakan anak di sekitaran kampungnya merupakan anak buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terkadang hanya tinggal bersama kakek dan neneknya, jauh dari orangtua.

"Sehingga kita rasa perlu mendampingi adik-adik ini untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik agar nantinya mereka nggak perlu lagi menjadi buruh migran mengikuti jejak orang tuanya," tuturnya.


Zaki juga memiliki misi untuk memberi pencerahan kepada para orang tua tentang pentingnya pendidikan untuk anak. Menurutnya, selama ini mayoritas para buruh migran lebih banyak menginvestasikan pendapatan meraka dari luar negeri untuk dibelikan tanah dan kendaraan bermotor. Bukan untuk biaya pendidikan anak.

Dulunya, galeri kreatif ini hanyalah sebuah taman baca juga untuk bimbingan motivasi belajar. Namun setiap tahun, anak-anak yang ikut belajar semakin bertambah.

Begitu pula dengan kegiatan belajar yang diadakan. Kelas bakat minat menjadi lebih spesifik. Ada juga sanggar komunitas, tempat berkumpulnya komunitas seperti cosplay, akustik, komunitas pemuda kreatif dan masih banyak lagi, yang ikut serta memberi pengalaman belajar bagi anak-anak di sana. Kendati demikian, jalan Zaki tidak selamanya mulus. Dalam perjalanannya, banyak orang tua yang melarang anak-anaknya belajar disini karena dikira hanya bermain-main.

"Alhamdulillah seiring berjalannya waktu malah banyak orang tua yang senang ketika anaknya di galeri. Karena di galeri kan nggak hanya fokus akademik saja tapi lebih ke bakat dan minat," terangnya.

Zaki juga mengadakan Festival Seni dan Budaya yang digelar 4 bulan sekali agar orang tua mengetahui perkembangan bakat dan minat anak-anaknya. Selain belajar, Zaki juga membantu anak-anak untuk bisa mengakses pendidikan tinggi. Mulai dari mencarikan informasi kampus, cara daftar hingga beasiswa.

"Kemudian ngasih info ke adik-adik dan yang mau daftar kita bantu antar," ucapnya.

Tidak hanya itu. Saat anak-anak tersebut sudah berkuliah, Zaki juga memberikan pendampingan selama 6 bulan. Ia, bahkan juga membuat kesepakatan dengan anak-anak tersebut agar kelak juga mau membantu generasi selanjutnya untuk kuliah.

"Minimal harus membawa 1 anak dari kampung untuk dibantu kuliah ditahun berikutnya," pungkasnya.

Foto: Dok. Muzeki

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler