Kenalan dengan Risa Santoso, Rektor Termuda di Indonesia

Malang - Sosok Risa Santoso, B.A., M.Ed. beberapa waktu lalu sempat viral dan banyak diperbincangkan oleh publik. Pasalnya, perempuan satu ini tercatat sebagai Rektor termuda se-Indonesia oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) di usianya yang ke 27. Kendati terbilang masih sangat 'muda', namun latar belakang pendidikan dan sepak terjang dalam karirnya tak bisa dianggap remeh.

Setelah lulus pendidikan strata satu di University of California, Berkeley Amerika Serikat, Risa kemudian melanjutkan kuliah S2 di Harvard University Graduate School of Education dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari pemerintah Indonesia. Risa lalu pulang ke tanah air dan mengabdikan diri di kantor Staf Kepresidenan di bawah Deputi III yang menangani Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis selama tahun tahun 2015 hingga 2017.

Setelahnya, Risa kemudian aktif sebagai Direktur Pengembangan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) ASIA Malang yang kini bernama Institut Teknologi dan Bisnis ASIA, hasil merger dengan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) ASIA. Salah satu yang menjadi gebrakannya adalah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Swiss melalui program Asia Entrepreneurship Training Program (AETP).

Asia Entrepreneurship Training Program (AETP) adalah program startup yang digelar selama beberapa bulan dengan 5 sesi pelatihan intensif yang memungkinkan para pengusaha Swiss untuk membangun jaringan dengan ekosistem bisnis di Indonesia atau negara-negara ASEAN. Juga sebaliknya, para pemilik startup di Indonesia bisa mendapatkan akses ke ekosistem startup di Swiss.

Dengan program ini, perusahaan startup akan mendapatkan pelatihan untuk memperoleh akses terhadap matching investors dan inkubator baik di Swiss maupun Indonesia. Risa memahami betul pergerakan dunia yang semakin digital. Maka dari itu, ia mengusung sebuah misi untuk mendorong mahasiswanya untuk melek teknologi dengan inovasi-inovasi startup.

"Fokusnya ke digital bisnis. Jadi mahasiswa generasi milenial ini tidak sekadar membuat startup kemudian dibiarkan begitu saja. Namun kami dorong bagaimana startup ini bisa menjadi bisnis yang berkesinambungan dengan aspek tata kelola perusahaan, marketing, team work dan sebagainya itu," tutur Risa.

Selain itu, mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan bisnis untuk tingkatan tertentu setiap Kamis.

"Kami mendorong business practice dan technology practice dengan pengembangan startup inkubator bisnis. Beberapa mahasiswa yang memiliki ide startup kami seleksi kami cari yang benar-benar layak dan solid untuk dikembangkan," tegasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Mengenal Sulianti Saroso, Dokter yang Tak Pernah Menyuntik Pasien

Risa mengaku, saat ini fokusnya adalah menjalankan tugasnya sebagai Rektor dengan baik. Kendati tak sedikit yang meremehkan usia mudanya, Risa tak gentar dan justru akan membuat inovasi-inovasi pengembangan skill mahasiswa lebih baik lagi.

Tak hanya itu. Risa Santoso juga bertekad ingin menerapkan sistem pendidikan Amerika Serikat yang pernah ia jalani selama kuliah S1 dan S2 di kampus yang ia pimpin.

Salah satunya contohnya yakni mahasiswa bisa lulus tanpa harus mengerjakan skripsi. Semasa kuliah di University of California, Berkeley dan Harvard University Graduate School of Educatio dulu, Risa tidak pernah merasakan sensasi mengerjakan skripsi.

"Jadi saya S1 dan S2 tugas akhirnya berupa project. Tidak ada yang bikin skripsi, bikin tesis. Jadi nggak pernah jadi momok gitu," ujar Risa.

Dari pengalamannya itu, Risa kemudian kepikiran untuk memberikan peluang kepada mahasiswanya untuk membuat sebuah proyek atau sebuah magang agar tidak membebani mahasiswa.

"Jadi ada opsi, dari mahasiswa mau tugas akhirnya berupa project apa berupa skripsi, yang memang suka research ya tetap bisa mengerjakan skripsi," jelasnya.

Ide ini menurutnya untuk menghapus stigma mahasiswa tentang skripsi yang selama ini jadi momok menakutkan. Di samping itu, Risa mengatakan, yang terpenting adalah bagaimana caranya mahasiswa bisa lebih aktif.

"Misalnya memang berkecimpungnya di pembuatan program atau mungkin lebih ke industri. Kenapa nggak membuat project yang lebih cocok untuk pekerjaan mereka kedepanya," urainya.

"Dulu kan saya (kuliah) di luar, skripsi atau tesis, project itu kan pilihan. Jadi boleh semuanya asalkan ada subtitusi," sambungnya.

Bahkan, menurut Risa, program magang atau internship juga bisa dijadikan sebagai project akhir yang nantinya bisa dilaporkan sebagai substitusi skripsi.

"Misalnya mereka melakukan internship atau magang di luar. Kemudian mereka melakukan sesuatu misalnya gimana caranya memajukan perusahaan tersebut itu kan bisa menjadi sebuah project tersendiri dan alasanya kenapa. Tetep saja bentuknya seperti research tapi benar-benar diaplikasikan. Jadi mereka lihat di lapangan bentuknya seperti apa bisa di kolaborasikan," paparnya.

Ia juga bercerita, dulu semasa ia kuliah di Berkeley, ada sebuah sistem pembelajaran yang dilakukan oleh sesama mahasiswa. Menurutnya, sistem pembelajaran semacam itu juga bisa diterapkan di kampusnya untuk melecut keaktifan mahasiswa.

Foto: Nunung Nasikhah/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler