Kisah Pak Dadang, 16 Tahun Jadi Mr. Postman

Bandung - TemanBaik, belanja online adalah tren konsumsi masa kini yang mungkin kita sering melakukannya. Namun, d ibalik proses pembelian barang hingga barang itu diterima olehmu, sadarkah bahwa ada palang pintu terakhir yang menentukan apakah barang tersebut akan diterima olehmu atau tidak. Ya! Dialah pengantar paket. Dulunya, pengantar paket ini hanya identik dengan pengantar surat atau pos.

Kendati kerap dilupakan setelah pesanan tiba di tangan, namun pengantar paket adalah orang yang tanpa disadari paling dinantikan kehadirannya oleh jutaan orang di dunia sejak setengah abad lalu. Tidak percaya? Tengok saja lagu ‘Please Mr. Postman’-nya The Beatles yang menceritakan bagaimana penantian seseorang akan surat yang dibawa oleh sang pengantar paket. Mungkin di era sekarang, surat itu sudah bertransformasi menjadi bentuk lain, seperti barang kiriman misalnya.

Berbicara soal pengantar paket, Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan Dadang Solihin, pengantar paket yang bertugas di Kantor Pos Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Menariknya, pria berusia 41 tahun ini tinggal di Rancacili, Riung Bandung, Kota Bandung. Yang mana artinya saban hari, ia harus menempuh jarak sekira 30 kilometer satu kali jalan dari rumahnya.

“Pagi biasa aja, berangkat jam 6, terus ke kantor, terus nanti udah ada bagian dan rute-nya saya mau antar ke mana aja hari ini,” ujar pria yang sudah 16 tahun menjalankan profesi sebagai pengantar paket ini di Kantor Pos Lembang, Sabtu (21/2/2020).

Ia bergabung dengan PT. Pos Indonesia pada medio 2004. Mulanya ia bertugas di Kantor Pos Soekarno Hatta Bandung lalu dipindahtugaskan ke Kantor Pos Cipedes Bandung sebelum kini akhirnya bertugas di Kantor Pos Lembang. Tak sedikitpun nampak wajah lelah dari Dadang sepanjang menceritakan perjalanannya menjadi Mr. Postman dari Bandung.

Dadang memaparkan, dalam sehari ada tiga garis waktu pengiriman paket dari kantornya. Pertama, ia mengambil paket di kantornya, Kantor Pos Lembang pukul 8 pagi dan mengantarkannya. Setelah paket selesai diantar, Dadang kemudian mengambil paket lagi di kantornya pukul 12 siang dan mengantarkannya. Terakhir, ia kembali ke kantornya pukul 3 sore untuk mengantar pesanan terakhir edisi hari tersebut.

Paket-paket berupa barang dan dokumen tersebut diantarkan Dadang sesuai rute yang mana ia ditugaskan di rute tersebut. Dadang menyebutkan, ia bertugas di rute Lembang, Setiabudi, dan Cipedes. Di belakang sepeda motornya, ia menyimpan tas yang berisi barang pesanan dari konsumen.

“Ini lagi sepi nih hari ini. Biasanya kalau lagi rame, saya bisa nganter 120 orderan sehari,” ujarnya sembari tersenyum.

Tanggung jawab sebagai palang pintu terakhir dengan konsumen terus dijaga olehnya. Pasalnya, ia menilai tak semua orang punya banyak waktu untuk mengurusi kebutuhan berbelanjanya. Pernyataan itu ditujukan bagi konsumen yang dalam kesehariannya sibuk bekerja, dan mengandalkan aplikasi daring serta jasa pengiriman untuk berbelanja. Oleh karenanya, Dadang selalu memastikan terlebih dahulu barang yang hendak diantarkannya agar ‘selamat’ sampai ke tangan konsumen.

Selain itu, ia menjamin keamanan barang yang diantarkan. Bahkan menurutnya, saat ini semua orang sudah tahu barang pesanannya sedang ada di mana karena terlacak lewat aplikasi di internet.

Dalam menjalankan pekerjaannya, ia membandingkan kemudahan hari ini dengan fase awal ia berprofesi sebagai pengantar paket. Dulu, ia harus rajin bertanya kepada orang saat hendak menuju alamat tertentu. Namun, hadirnya teknologi internet seperti google maps, misalnya, diakui sangat membantunya dalam bekerja.

Kemajuan teknologi juga dirasa memudahkan baginya dalam urusan administrasi pekerjaan. Jika pada masa lampau ia menghitung paket yang telah dikirimnya secara manual, maka saat ini semuanya dilakukan melalui aplikasi.

“Ngebantu banget itu. Sekarang nyari alamat tinggal klik, terus kerjaan juga kita ngitungnya jadi gampang. Kan habis nganter itu kita laporan dan laporannya langsung terkoneksi ke sistem. Transparansinya jelas. Makanya enggak heran sekarang orang pada belanja online, karena terpercaya paketnya bakal sampe,” bebernya.

Selama 16 tahun, Dadang mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Hal itu disebabkan satu hal sederhana yakni ia gemar berjalan-jalan. Pekerjaan sebagai pengantar pos secara tak langsung merupakan kesenangan yang dibayar baginya. Ia berpandangan, belum tentu mendapat kesenangan yang sama bila harus menjalankan pekerjaan di dalam ruangan.

Kendati demikian, ia mengaku ada saja sisi tak menyenangkan dari pekerjaannya. Misalnya seperti saat ia mendapat komplain karena barang pesanan seorang pelanggan terlambat datang. Namun ia menanggapi itu sebagai masukkan dan ke depannya ia memperbaiki lagi performa kerjanya, utamanya dalam manajemen waktu saat mengantarkan paket.

Penghasilan dari pekerjaan sehari-harinya mengantar paket itulah yang digunakan menghidupi keluarganya yang tinggal di Rancacili Bandung. Praktis, Dadang hanya berharap bisa terus sehat sampai usia lanjut. Lebih jauh lagi, kesehatan bagi Dadang dianggap sebagai hal yang sangat penting.

Pertemuan Beritabaik.id dengan Dadang yang bertepatan dengan hari-hari di mana Pemerintah Republik Indonesia sedang menggalakkan gerakan social distancing juga membuat dirinya bersuara, betapa pentingnya kesehatan bagi seorang yang harus bekerja di lapangan sepertinya. Namun, selama bertugas di lapangan dalam masa-masa pandemi ini, Dadang berujar dirinya selalu menjaga kesehatan dengan mengikuti standar yang ditetapkan Pemerintah seperti menggunakan masker saat berada di keramaian dan rajin mencuci tangan.

“Alhamdulillah, dari nganter paket mah buat sehari-hari cukup. Apalagi kerjaannya menurut saya menyenangkan. Tapi kalau ngomongin kesehatan mah, saya selalu jaga kesehatan. Apalagi di musim begini (pandemik, red) saya sebisa mungkin harus sehat biar bisa terus nganter paket,” ujarnya.

TemanBaik, ingatkah dalam sebulan ada berapa paket yang kamu terima dari Pak Dadang lainnya? Yuk, kita ucapkan terima kasih kepada mereka, Mr. Postman dari Indonesia!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler