Navida Suryadilaga, antara Puisi dan Separuh Hidup

Bandung - Keindahan kata, sarat makna dan aksara. Itulah puisi. Diantara karya sastra, puisi memang selalu jadi primadona kawula muda. Dari zaman awal kemerdekaan hingga zaman modern semuanya seakan punya 'penyair' di zamannya. Dari mulai Chairil Anwar, kemudian Seno Gumira Ajidarma, mungkin hingga Fiersa Besari beberapa dasawarsa ke depan. Nama-nama tersebut seakan mewakili puisi-puisi pada zamannya.

Tak hanya ditengok dari sudut seni dan kesusasteraannya saja, puisi juga bisa menjadi wahana ekspresi bagi kawula muda yang merasa ingin menumpahkan sesuatu yang sebelumnya tak bisa ia tumpahkan lewat ucapan.

Salah satunya dilakukan oleh Navida Suryadilaga. Wanita kelahiran 2 Oktober 1995 ini sudah tertarik membaca dan menulis puisi sejak sekolah dasar. Beritabaik.id punya kesempatan untuk berbincang dengan seniman yang belakangan sering terlihat mentas di atas kursi roda tersebut.

"Saat saya remaja, saya pernah mendapatkan pelecehan seksual, yang mana kemudian karena kejadian itulah saya di bully oleh teman-teman dan dijauhi," ujar Navida kepada Beritabaik, Rabu (25/3/2020).

Akan tetapi, pengalaman yang tak menyenangkan tersebut justru menjadi satu pemantik dahsyat dalam hidupnya untuk kemudian membuat sebuah karya melalui puisi. Setelah menjajal ikut perlombaan puisi di tingkat sekolah, ia selalu mendapat penghargaan. Tak berhenti di situ, setelah penghargaan di level sekolah, beberapa teman yang dulu merundungnya kini mulai mau bergaul dengannya, walau awalnya untuk keperluan dibuatkan puisi. Navida juga masih mengingat momen di mana ia pertama kali membacakan puisi berjudul Ibu dalam lomba kegiatan di sekolahnya.

Sejauh ini, Navida punya 3 karya yakni Antologi Puisi Cawan Aksara, Antologi Puisi Tematik Rindu bersama penulis se-Nusantara yang dipublikasikan oleh Sudut Sastra. Sementara itu kumpulan Puisinya (Self Titled) ia cetak dan publikasikan sendiri lewat bantuan media sosialnya di Instagram pribadi @kanjengskrikandi.

Saat membaca atau menuliskan puisi, Navida merasa secara horizontal melakukan komunikasi dengan Tuhan. Selain menulis, Navida juga aktif bermain teater di beberapa panggung. Meski tak nampak aktif di salah satu kelompok seni Kota Bandung, penampilan Navida bisa disebut paling dinantikan oleh penonton. Pasalnya, selain nyentrik dengan gaya membaca puisi di atas kursi roda, cara membacakan puisi Navida juga seakan punya ciri khas sendiri; melantun, berdinamika serta sanggup mengubah atmosfir dan mengobrak-abriknya dari tawa, haru, hingga sangat getir.

Ia menyebutkan proses kreatifnya menulis puisi dan bermain teater adalah bentuk terapi atas semua hal buruk yang pernah dialaminya semasa kecil.

"Pelecehan seksual dan bullying yang saya alami pada akhirnya membuat saya didiagnosa bipolar. Sejauh ini, saya merasa yang menjadi terapi saya mengatasi apa yang didiagnosakan kepada saya adalah dengan membaca puisi atau bermain teater," beber Navida.

Di tahun kesepuluhnya berkarya, cobaan berat sempat menimpanya. Kelihaiannya membaca puisi, gerak tubuhnya saat bermain teater dan menari harus sirna sesaat tatkala ia mengalami tabrak lari, pada suatu hari di tahun 2015. Kejadian itu membuat kaki Navida patah. Sampai tulisan ini dibuat, Navida masih mengikuti pengobatan intensif di rumah sakit guna penyembuhan kakinya tersebut. Saat berjalan, Navida harus dibantu oleh tongkat atau kursi roda.

Setelah kejadian yang sangat memukul hatinya itu, Navida berkomunikasi dengan dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya kehilangan fungsi dari salah satu tubuhnya, namun bukan berarti kehilangan kemampuannya untuk mengekspresikan diri melalui puisi. Kendati tak bisa membaca puisi sembari berdiri, tapi ia merasa masih bisa membaca puisi sembari duduk.

"Selagi saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi saya masih dapat melakukan apa yang saya bisa lakukan. Jadi, saya lanjutkan apa yang saya bisa lakukan, yakni membaca puisi," ujarnya.

Nama Theorisia Rumthe adalah salah satu penyair yang menjadi inspirasi Navida dalam membaca dan menulis puisi. Terlebih, ia mengaku merasa teduh dan pulang bila sedang membacakan puisi-puisi karya Theorisia.

Sebagai pamungkas, di bulan puisi ini, Navida menyebutkan bahwa tak ada alasan untuk tak berkarya. Sebab bagaimanapun kondisinya, selama bisa berkarya, seorang seniman jangan sampai berhenti berkarya. Untuk mengaplikasikannya, Navida kini sedang mengumpulkan karya-karya tulisnya untuk kemudian terbit lagi di waktu mendatang.

TemanBaik, adakah diantara kamu yang juga menyukai keindahan kata dalam bentuk puisi? Lalu, penyair siapakah yang menjadi panutanmu dalam menjalankan ‘ibadah puisi’ di bulan puisi ini?

Foto: dok. Navida/www.instagram.com/kembangdupa
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler