Anggra Bagja, Pengarsip Aksi Panggung dari Bandung Sampai Eropa

Bandung - Datang ke pertunjukkan musik adalah satu kesenangan tersendiri. Menjadi hal yang istimewa bila kita memiliki kegemaran terhadap musik, dan bisa datang ke sebuah pertunjukkan musik dan mengarsipkan memori dari pertunjukkan tersebut. Terlebih, jika dari kebiasaan tersebut pada akhirnya jadi mata pencaharian untuk kita.

Itulah yang dialami oleh Anggra Bagja, pria asal Bandung yang kini bertugas sebagai juru kamera dari grup band metal Burgerkill. Memulai kesukaannya terhadap dunia fotografi medio 2011, Anggra telah menjajal pengalaman menjadi fotografer panggung untuk musikus-musikus Tanah Air.

"Motret panggung tuh awalnya padahal dari pengalaman sering ikutan event-event musik gitu di kampus. Saya jadi bagian dokumentasi," ujarnya kepada Beritabaik.id.

Anggra mengaku pada awalnya ia tak memiliki kamera. Kamera pertamanya ia dapatkan di tahun ketiga ia memotret. Mengenai ketertarikannya memotret panggung, Anggra mengaku itu semua berawal dari keisengannya membawa kamera saat sedang menonton acara musik. Selebihnya, ia mengaku bahwa dirinya memang gemar nge-gig alias datang ke konser musik.

Ia memulai perjalanannya bersama Burgerkill sejak tahun 2016 setelah sebelumnya bekerja untuk sebuah merek dagang fesyen lokal asal Bandung, Eastern Wolves. Pekerjaannya di Eastern Wolves itulah yang memperkenalkannya pada pelaku di skena musik metal. Dari sana, ia diajak bergabung sebagai fotografer untuk band metal Taring sebelum akhirnya mendapat tawaran dari manajer Burgerkill untuk menjadi fotografer band metal tersebut.

"Dia (manajer Burgerkill) minta portfolio saya, terus saya diajak gabung buat jadi tim dokumentasi dalam pembuatan album Adamantine," bebernya. Proyek perdananya itu kemudian terus bertahan hingga hari ini.



                                                              Foto: Burgerkill Official dok. www.instagram.com/anggrabagja

Menjadi fotografer band sekelas Burgerkill adalah suatu hal yang membuat Anggra merasa senang. Pasalnya, ia bisa dikatakan berkeliling dunia bersama band metal kebanggaan Indonesia tersebut. Ia tak menyangka kegemarannya memotret tersebut bisa membawanya jalan-jalan jauh. Selain itu, ia juga merasa senang karena menjadi saksi sejarah dalam perjalanan bermusik Burgerkill.


Dalam perjalanan itu, Anggra memotret seluruh momen Burgerkill dari awal perjalanan sampai kembali pulang. Hal itu membuat kamera tak pernah lepas dari genggamannya.

"Udah harus siap ready motret, karena kita mengabadikan detilnya juga," ujar Anggra.

Ia menilai Burgerkill adalah band yang punya konsep mendobrak mainstream dalam mengemas sebuah karya. Selain itu, ia menganggap Burgerkill punya sistem pengarsipan dokumen yang sangat baik. Menjadi kebanggaan baginya karena bergabung dengan Burgerkill sebagai tim di balik layar.

Baca Ini Juga Yuk: Navida Suryadilaga, antara Puisi dan Separuh Hidup

Attitude Itu Penting!
Lebih jauh lagi, Anggra berbagi kepada TemanBaik jika kamu hendak menekuni bidang fotografi panggung. Menurutnya, teknik dasar fotografi menjadi hal mutlak dimiliki seorang fotografer, di manapun medan memotretnya. Setelah itu, sang fotografer harus tahu momen yang tepat untuk membidik obyek. Ia menyebutkan kunci utama untuk menjadi fotografer panggung adalah sering-seringlah memotret panggung.

"Waktu dari kita belajar, sampe bisa jadi fotografer panggung nih, itu tergantung seberapa sering kita latihan motret dan balik lagi, relasi pertemanan juga penting. Apalagi dalam skala komunitas seperti ini kan udah masif banget ya," ujar Anggra.

Selain itu, Anggra melihat pentingnya seorang fotografer panggung memiliki attitude dalam bekerja. Ia menilai, idealnya fotografer yang berdiri di depan panggung namun di belakang barikade tak sampai menghalangi penonton yang menikmati pertunjukan musik dari musikus tertentu. Ia menyoroti hal ini sebagai sesuatu yang tak elok, sebab sesulit apapun medan pekerjaan bagi fotografer panggung, kenyamanan penontonlah yang jadi prioritas.

Untuk mengarsipkan karya-karyanya di kemudian hari, Anggra bercita-cita ingin membuat buku foto atau zine tentang skena musik yang ia potret. Selain itu, Anggra juga berharap semakin banyak fotografer panggung bermunculan. Sebab menurutnya, jika fotografer panggung dan komunitasnya sudah masif dan kuat, maka akan muncul arsip-arsip panggung skena musik Tanah Air.

"Sesederhana orangnya (fotografer) banyak, komunitasnya kuat dan kreatif nih. Mereka bisa bikin buku foto skena musik di era tertentu. Itu kan simpel, tapi jadi rekam jejak gitu buat penikmat musik di kemudian hari," tutupnya.

TemanBaik, terbesitkah keinginanmu menjadi fotografer panggung?

Foto: dok. Anggra Bagja

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler