Zia Kusumawardini, Perjalanan Panjang Menemukan Kepercayaan Diri

Ubud - TemanBaik, mendapatkan kepercayaan diri dan percaya terhadap keunikan yang dimiliki oleh diri sendiri adalah sebuah anugerah yang dimiliki oleh tiap orang. Sebab, tak semua orang bisa mendapatkannya secara instan. Beberapa orang mendapatkan kepercayaan diri bahkan setelah mengarungi perjalanan yang sangat melelahkan.

Ya, perjalanan itu yang akhirnya membentuk seorang Zia Kusumawardini menjadi praktisi ayurveda yang juga aktif bersama Jeda Wellnest. Sebelum "berdamai" dengan dirinya dan mendapatkan kepercayaan diri, wanita kelahiran Bandung 11 Januari 1990 ini sempat berhadapan dengan berbagai ketidaksesuaian dalam hidup.

"Saya mengalami skoliosis saat masih kecil hingga remaja. Selain itu saya juga sakit-sakitan, intoleransi terhadap makanan dan suka alergi,” ucapnya kepada Beritabaik.id.

Padahal, Zia kecil punya mimpi dan cita-cita menjadi seorang model. Hal yang mungkin bisa disebut mustahil bila kondisinya masih menderita skoliosis. Kondisi tulang belakang Zia saat itu mencapai kelengkungan 35 derajat. Ia tak bisa duduk lurus lebih dari 10 menit karena otomatis akan merasa sakit sekali.

Tak hanya skoliosis yang dideritanya, Zia juga kerap "bermasalah" dengan rasa percaya diri. Ia menganggap tubuhnya tak memenuhi standar kecantikan secara umum. Selain itu, Zia juga mengaku kerap menderita alergi dan mudah sakit.

Pada laman web pribadinya, Zia juga membagikan bahwa perjalanan hidupnya semakin sulit saat Ibundanya wafat pada 2009 silam, saat Zia berusia 19 tahun. Kondisi skoliosis yang dialaminya juga makin hari makin parah. Vonis dokter yang menyarankan dirinya melakukan operasi tulang belakang sempat membuatnya kehilangan arah hidup. Pasalnya, ada hal besar yang dipertaruhkan dalam operasi tulang belakang. Ya, risiko kegagalan dari metode ini ialah kelumpuhan. Sebuah hal yang sangat ditakutkan oleh Zia.

Baca Ini Juga Yuk: Suhardini, Kepala Sekolah SD di Malang Bergelar Doktor

Ayurveda yang Mengubah Hidup
Setelah berbagai ketidaksesuaian menerpa hidupnya, akhirnya Zia memutuskan untuk pindah ke Ubud, Bali, pada 2012 silam. Ia mengaku saat itu mengambil cuti dari kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung.

"Saat itu saya pindah ke Ubud buat jadi pengajar TK. Saya ingin hidup di bidang edukasi, walau belum tahu pasti juga rincinya seperti apa," jelasnya.

Dalam perjalanannya menjadi seorang pengajar, ia kemudian bertemu seorang pria bernama Kimmana. Dari pria yang kini jadi mantan suaminya itulah, Zia belajar banyak tentang ayurveda. Ya, sedikit mengulas, ayurveda itu sendiri adalah metode pengobatan tertua dari India yang ada di dunia. Dalam pandangan Zia, ayurveda tak hanya sebatas ilmu pengobatan biasa, namun juga ilmu untuk membantu hidup seseorang untuk lebih sehat sehingga memiliki usia yang panjang.

Disiplin dalam menjalankan ayurveda sejak 2013, perlahan membawa Zia pada kesembuhan. Sadar mendapatkan titik balik melalui pembelajaran ayurveda yang didapatkannya, Zia terus memperdalam ilmu dan disiplin seputar pengobatan tertua di dunia ini.

Menurut Zia, manfaat yang didapatkannya dari pengobatan ayurveda antara lain saat ini skoliosis yang dideritanya sembuh. Dan ia jarang sekali menderita sakit, saat tubuh orang-orang relatif lebih ringkih. Hal itu menurutnya karena dalam ayurveda, manusia diajarkan untuk menjalankan sesuatu secara teratur dan disesuaikan dengan energi atau dosha tubuh mereka.

Zia juga memaparkan bahwa ayurveda bisa diterapkan oleh siapapun dan di manapun. Sebab metode pengobatan ini dianggap sangat umum dan mudah dipelajari bagi tiap orang.


Berbagi dan Keliling Dunia
Saat ini, Zia aktif menjadi praktisi ayurveda dan menangani berbagai jenis pasien serta penyakit yang diderita. Lebih lanjut lagi, Zia memaparkan dalam menerapkan pengobatan ayurveda untuk pasien-pasiennya, Zia selalu melakukan pendekatan historis mengenai pasien tersebut. Semisal dengan cara bertanya riwayat makanan, riwayat stres dan seluruh hal yang berkaitan dengan pasiennya sebelum mengambil metode tindakan.

"Enggak cuma instant shortcut, gitu. Kita cari dulu akar masalahnya apa berdasarkan beberapa teori ayurveda. Karena bisa nemuin kesinambungannya dari sana dan mengobati pasien enggak hanya saat itu saja," bebernya.

Selain itu, Zia juga aktif membagikan pengalaman dan pola hidup sehatnya di akun instagram @ziakusumawardini dan melalui siaran podcast yang bisa TemanBaik dengarkan di laman www.ziakusumawardini.com/podcast.

Hal paling sederhana dalam penerapan ayurveda untuk diri sendiri yang ia bagikan kepada Beritabaik.id ialah pola hidup teratur dan rutin yang harus kita lakukan. Semisal jam makan dan jam istirahat atau tidur.

"Jam makan itu, sebut saja pukul 9 pagi, jam 12 siang dan makan malam itu berkisar pukul 6 hingga 7 petang. Intinya sebelum matahari terbenam. Nah, pola diatas itu dilakukan benar-benar rutin," ujar Zia.

Tak dipungkiri olehnya, menerapkan ayurveda di kalangan muda dan produktif pasti relatif sulit. Namun, bila seseorang bisa mendapat sedikit saja poin dari pembelajaran tentang ayurveda, Zia mempercayai hidup orang tersebut akan berubah lebih baik. Nah, saat ini, ia merasa tugasnya ialah menyampaikan dan mengemas ayurveda ke dalam bentuk yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh kawula muda produktif.

Oleh karenanya, medium yang digunakannya untuk berbagi ilmu juga merupakan platform yang sangat akrab dengan anak muda semisal instagram atau siniar podcast. Untuk mendapatkan kemasan ini, Zia mengaku perlu waktu tak sebentar untuk belajar. Bahkan, sampai saat ini pun ia mengaku terus mengembangkan ilmu tentang ayurveda.

"Sebab apa yang membuat hidup bermakna adalah kemampuan kita untuk berbagi dengan orang lain," pungkasnya.

TemanBaik, bukan cuma manfaat ayurveda secara klinis saja yang bisa kita ambil dari perjalanan Zia. Tapi juga bagaimana kita harus mengenali diri kita sendiri, menerima, dan mencintai keunikan dalam tubuh kita. Setelah itu, baru kita tanamkan kebaikan untuk banyak orang.

Foto: Philida Thea / dok. Zia Kusumawardani


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler