Nia Kurniati, Perempuan Tangguh yang Terbiasa dengan Jenazah

Bandung - TemanBaik, saat ini perempuan bisa menjalani profesi apapun. Bahkan, profesi yang lazimnya akrab dengan dunia laki-laki juga bisa digeluti.

Hal itu yang dilakukan Nia Kurniati (43). Dalam kesehariannya, ia merupakan staf Seksi Bantuan dan Penanggulangan Bencana Markas PMI Kota Bandung. Di saat yang sama, perempuan kelahiran Bandung, 12 Mei 1977 ini juga merupakan seorang relawan di Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Bandung.

"Saya jadi staf di bagian yang sekarang itu sejak 2016, sebelumnya sempat di bagian administrasi dan di bagian pelayanan donor. Tapi, saya basic-nya dari relawan, saya anggota KSR dari 1995 waktu usia 18 tahun," kata Nia kepada BeritaBaik.id.

Di posisinya saat ini, Nia sebenarnya lebih banyak bekerja di belakang meja. Namun, jangan salah, ia tetap kerap jadi 'tim tempur' saat dibutuhkan. Sebab, itu merupakan bagian dari tugasnya sebagai KSR.

Nia kerap ikut terjun ke lokasi bencana hingga kecelakaan. Bahkan, tak jarang harus mengevakuasi jenazah. Saking seringnya mengevakuasi jenazah, ia bahkan lupa sudah berapa kali melakukannya.

"Sering banget, tapi lupa sudah berapa kali. Sudah ratusan mungkin karena dalam sehari saja bisa dua sampai tiga kali (mengevakuasi jenazah)," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Bonita Hana, Disabilitas yang Jadi Penata Rias

Mengevakuasi jenazah tentu bukan hal mudah. Bahkan, ada banyak orang yang merasa ngeri hingga takut untuk sekadar berhadapan saja. Apalagi, yang dilakukan Nia justru menanganinya secara langsung.

Nia sendiri di awal bertugas sebagai anggota KSR memang kerap terlibat dalam evakuasi jenazah. Namun, saat itu ia lebih banyak dalam posisi diperbantukan. Sehingga, evakuasi menjadi tugas para seniornya yang jelas lebih berpengalaman. Ia hanya membantu apa yang dibutuhkan seniornya dalam proses evakuasi.

Dari situ, ia justru merasa tertantang sekaligus penasaran bagaimana rasanya mengevakuasi jenazah secara langsung.

"Saya malah penasaran karena melihat senior melakukan evakuasi secara langsung," ungkapnya.

Korban Kecelakaan Pesawat hingga Longsor
Jenazah yang ditangani Nia pun memiliki kondisi beragam. Ada yang 'mulus', ada yang hancur, serta berbagai kondisi lainnya. Namun, tak ada rasa takut, jijik, atau bahkan ngeri dalam benak Nia. Apalagi, ia tahu betul konsekuensi dari tugasnya.

"Mengevakuasi jenazah itu dalam kondisi dan bentuk bagaimana pun harus siap," ucap Nia.

Sementara saking banyaknya jenazah yang pernah dievakuasi, ia mengaku tak bisa mengingat satu per satu. Tapi, yang jelas jenazah yang dievakuasi mulai dari korban kecelakaan lalu lintas, kecelakaan pesawat, bunuh diri, hingga korban bencana seperti banjir bandang dan longsor.

Salah satu yang paling sulit lepas dari ingatan Nia adalah saat evakuasi korban kecelakaan pesawat di kawasan Margahayu, Bandung, beberapa tahun lalu. Apa yang dirasa berbeda dibanding peristiwa lainnya?

"Waktu kecelakaan pesawat di Margahayu itu saya masih baru (menjadi anggota KSR). Waktu itu korbannya banyak dan tim kita dipecah, masing-masing satu ambulans satu orang (relawan)," ucap Nia.

Saat itu, sarana dan prasarana masih terbatas. Belum lagi ditambah kondisi yang kacau karena dalam posisi kecelakaan sebuah pesawat dengan jumlah korban banyak.

"Waktu itu karena sarana dan prasarana terbatas, di satu ambulans itu kita sampai bawa empat jenazah sekaligus," papar Nia.

Meski kerap mengevakuasi jenazah, Nia mengaku merasakan kenikmatan tersendiri. Baginya, apa yang dilakukan adalah sebagai jalan berbuat baik. Kepuasan yang didapatkan pun sulit diukur dengan angka atau bahkan materi.

"Kalau dinilai, enggak bisa membayangkan nilai (kepuasannya) bagaimana. Hal yang penting bagi saya ada kepuasan tersendiri untuk bisa membantu," tutur Nia.

Ia pun begitu menikmati perannya sebagai anggota KSR, termasuk jabatannya sebagai staf di Markas PMI Kota Bandung. Sebab, dua peran itu jadi jalan baginya untuk melakukan #AksiBaik.

Rasa lelah pun justru lebih banyak tak dirasakan. Ketika tenaganya dibutuhkan, Nia selalu siap kapan saja turun tangan. "Kadang dalam sehari itu kita baru pulang harus pergi lagi karena dibutuhkan. Kita nikmati aja," ungkapnya.

Beruntung, keluarga Nia memahami apa pekerjaan dan peran yang harus dijalankannya. Sehingga, tak pernah ada protes dari mereka meski waktu Nia kadang hanya sedikit bagi keluarga.

"Dari awal sudah mengerti, saya sudah jelaskan tugasnya seperti ini. Memang ketika dibutuhkan kapanpun harus siap berangkat," jelas Nia.

Bahkan, saking mengertinya, keluarga Nia tak perlu lagi bertanya jika ia terlambat atau tak pulang. Apalagi jika ada berita di media massa soal kejadian bencana atau suatu peristiwa, misalnya kebakaran. Keluarganya akan langsung ngeuh bahwa Nia akan terlambat atau bahkan sama sekali tak pulang karena harus terjun ke lokasi.

"Kalau ada kejadian besar dan diberitakan (di media massa), keluarga sudah pada tahu, saya pasti ke situ," ujar Nia.

Nia sendiri sejauh ini tetap konsisten dengan perjuangannya. Baginya, selama dibutuhkan, ia akan tetap mengabdi dan menjalankan tugasnya di PMI sekaligus anggota KSR.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler