Yepi Findiari, Disabilitas di Balik Kemudi Mobil Tahu Bulat

Bandung - TemanBaik, pasti familiar kan dengan camilan tahu bulat? Biasanya camilan ini dijajakan menggunakan mobil bak terbuka. Di bagian bak terbuka itulah tahu bulat akan digoreng dan pembeli dilayani.

Salah seorang penjual tahu bulat itu adalah Yepi Findiari (38). Dalam kesehariannya, Yepi lebih banyak menjadi sopir yang membawa mobil untuk berjualan tahu bulat. Namun, siapa sangka, Yepi mengendarai mobil dengan cara kreatif.

Yepi sendiri merupakan disabilitas. Kedua kakinya lemas dan sulit digerakkan untuk berjalan. Sedangkan dari bagian lutut ke atas masih bisa digerakkan dengan kondisi terbatas.

Kondisi ini dialami Yepi sejak masih SMA di usia antara 16-17 tahun. Ia terjatuh dari pohon yang mengakibatkan urat saraf tulang ekornya tersumbat atau dikenal dengan istilah paraplegia. Hal itu sempat membuatnya lumpuh. Hampir seluruh badannya tak bisa digerakkan.

"Saya tiga bulan hanya terbaring, enggak bisa ngapa-ngapain," kata Yepi.

Namun, seiring berjalannya waktu, termasuk karena pengobatan, secara perlahan Yepi bisa menggerakkan kembali badannya. Ia akhirnya bisa beraktivitas meski dengan kondisi kaki yang tak bisa dipakai untuk berjalan.

Sebagai orang yang terlahir dengan fisik lengkap dan berfungsi baik, Yepi mengaku sempat patah asa. Ia sempat terpuruk dan minder dengan kondisinya.

Baca Ini Juga Yuk: Alvinska, Bereksperimen Membuat Menu Masakan Berbahan Bunga

Titik balik semangatnya kemudian kembali setelah ia banyak bergaul dengan orang lain, terutama sesama disabilitas. Ia melihat kenyataan ada banyak orang yang kondisinya lebih buruk darinya. Namun, di saat yang sama mereka bisa beraktivitas, bekerja, hingga menuai prestasi.

"Itu yang bikin saya termotivasi, kenapa saya harus minder karena yang kondisinya di bawah saya banyak loh. Satu lagi titik bangkit saya karena punya istri, lebih besar lagi semangat saya," tutur Yepi.

Mengemudi dengan Bantuan Tongkat
Yepi sendiri berjualan tahu bulat sejak 7 tahun lalu. Kebetulan sang paman memiliki usaha tahu bulat. Sehingga, ia tertarik untuk berjualan.

Pada 2 tahun awal berjualan, ia biasanya bekerja berdua. Satu orang menjadi sopir, sedangkan Yepi bagian menggoreng serta melayani pembeli.

Namun, sesekali ada kendala. Sang sopir sempat tak datang sehingga menyulitkannya berjualan. Ia kemudian terlintas ide untuk menyetir sekaligus berjualan sendiri.

"Saya coba-coba nyetir, ternyata bisa, walaupun awalnya sempat nabrak angkot dan rumah," ungkap Yepi sambil berkelakar.

Hal yang unik, karena kedua kakinya tak bisa berfungsi seperti dulu, ia menggunakan dua tongkat untuk mengendalikan pedal gas, kopling, dan rem. Tongkat ia tempatkan di dekat pahanya agar mudah digunakan dengan tangan.

Kemahirannya pun lama-lama teruji. Meski dengan cara seperti itu, ia bisa mengendalikan mobil dengan lancar. Bahkan, kemampuannya mengendarai mobil enggak bakal kalah deh dari orang lain pada umumnya.

Saat mobil berhenti untuk mangkal atau berjualan, Yepi akan keluar dari mobil dan pindah ke bak terbuka menggunakan kursi. Setelah selesai melayani pembeli, ia akan kembali ke depan untuk mengendarai mobil dan berkeliling berjualan.

Namun, setelah kini memiliki pegawai lagi, Yepi lebih sering berada di balik kemudi. Sedangkan pegawai yang merupakan saudaranya bertugas menggoreng dan melayani pembeli di bak atau bagian belakang mobil.

Sementara itu, kemampuan mengendarai mobil didapat Yepi secara otodidak. Ia mengaku sering memperhatikan orang lain mengemudi. Dalam benaknya, ia yakin bisa mengendarai. Sehingga, ia akhirnya belajar dan mahir mengendarai mobil.

Habis 2 Ribu Tahu Sehari
Dalam berjualan, ada rute yang rutin dilaluinya. Yaitu mulai dari Jalan Elang, Maleber, Ciroyom, Andir, Pagarsih, Jamika, hingga kembali lagi ke Jalan Elang. Namun, sesekali ia juga melewati jalur lain.

Dalam sehari, jumlah tahu yang dijualnya mencapai 2.000 butir. Jumlah itu biasanya tercapai dalam sehari. Jika habis lebih cepat, ia bisa pulang lebih cepat.

Kadang, ia juga berjualan di tempat keramaian atau di suatu acara. Biasanya, berjualan di tempat seperti itu membuat dagangannya lebih laris. Jumlah yang terjual bahkan bisa mencapai 3 ribu butir dengan harga Rp500/butir.

Dari hasil jualannya, ia bisa mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga. Bahkan, mobil yang digunakan saat ini adalah mobilnya sendiri yang dibeli dengan pembayaran dicicil.

"Dulu pas 2 tahun awal mobilnya sewa. Akhirnya saya kumpulin sebagian hasil jualan selama tiga bulan buat uang muka. Tahun 2016 saya ngambil mobil, tahun kemarin baru beres (lunas)," jelas Yepi.

Sempat Mengajar PAUD dan Jadi Atlet
Sebelum berjualan tahu bulat, Yepi ternyata pernah mengajar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Hal itu dilakukan sebagai bentuk aksi sosial dan sekaligus #AksiBaik kepada sesama.

Ia mengajar dalam kurun 2009-2012. Kebetulan, saat itu PAUD itu didirikan oleh ormas peduli lingkungan yang jadi tempatnya berorganisasi.

"Kalau (mengajar PAUD) itu mah sosial. Tapi setelah menikah, saya fokus usaha (berjualan tahu bulat)," ucap Yepi.

Sementara di luar aktivitasnya berjualan tahu bulat, ia juga punya profesi lain. Ia aktif jadi atlet bulutangkis. Saat ini, ia sedang mempersiapkan diri untuk tampil di Peparnas 2021 Papua.

Secara umum, sebenarnya Yepi menyukai berbagai olahraga. Namun, ia pertimbangan khusus kenapa ia lebih memilih terjun di cabang olahraga bulutangkis.

"Di bulutangkis ada peluang mengalahkan (meraih medali di Peparnas)," ujarnya.

Ia pun selalu berusaha menyempatkan diri berlatih di sela aktivitas berjualan. Bahkan, ia juga kerap berlatih mandiri di sela istirahat ketika berjualan. Setelah itu, ia biasanya kembali berjualan.

Di tengah beragam aktivitas dan perjalanan hidupnya, Yepi memiliki pesan khusus, terutama bagi sesama penyandang disabilitas. Ia mengingatkan mereka untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan di tengah keterbatasan.

"Kekurangan jangan dijadikan hambatan. Apa yang ada dalam diri kita sebenarnya bisa dikembangkan dan dimaksimalkan. Justru jadikan kekurangan itu sebagai motivasi. Selama ada kemauan pasti bisa," pungkas Yepi.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler