Sisi Lain di Balik Pencarian Sumber Panas Bumi

Bandung - TemanBaik, energi panas bumi di masa depan akan menjadi energi alternatif. Namun, bukan hal mudah menemukan hingga memanfaatkan energi panas bumi itu.

Tak jarang, untuk memastikan keberadaan sumber energi panas bumi butuh waktu berbulan-bulan hingga tahunan. Hal itu belum lagi ditambah proses penelitian lanjutan hingga pemanfaatannya.

Peneliti muda Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi Kementerian ESDM Lano Adhitya Permana membagi pengalamannya. Apa saja yang pernah dialaminya?

Pria kelahiran Cirebon, 8 November 1981 ini sejak 2014 menjadi peneliti di bidang panas bumi PSDMBP. Sejak saat itu, ia terlibat dalam sejumlah penelitian seputar panas bumi. Beragam tempat sudah ia kunjungi.

"Dari 2014 sampai 2020, ada 15-20 titik yang saya kunjungi. Itu mulai dari daerah Sumatera, Maluku, Sulawesi, Jawa juga pernah," kata Lano kepada BeritaBaik.id.

Berbagai tempat yang dikunjungi pun memberi kesan tersendiri di hati Lano. Sebab, ada banyak lika-liku, suka-duka, serta beragam pengalaman lainnya. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah berada dua pekan di hutan belantara di kawasan Sumatera pada 2017.

Bersama beberapa rekannya, ia berkutat meneliti keberadaan sumber panas bumi. Ragam perbekalan di bawa. Sehingga, jelas beban yang dibawa dalam perjalanan tak ringan agar bisa bertahan hidup.

"Untuk menuju ke lokasi itu kita harus jalan kaki selama dua hari dari pemukiman penduduk," ungkap Lano.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Yosep dan Aulia Merawat Seni Tradisi

Hal seperti itu pada akhirnya jadi sesuatu yang biasa. Beruntung, ia sudah tahu gambaran pekerjaannya sejak masih kuliah. Sehingga, ia tidak terlalu kaget dengan bidang pekerjaan yang dijalaninya.

Rawan Bertemu Hewan Buas
Meski terbiasa berada di tengah hutan, sebagai manusia biasa, rasa was-was tetap saja ada. Sebab, kerap berada di tengah hutan tak seindah yang dibayangkan. Sesekali rasa khawatir berkecamuk. Apalagi ketika wilayah yang didatangi masih terjaga alami dan terdapat hewan puas.

"Untuk wilayah yang masih 'virgin', keberadaan hewan buas masih ada, seperti ular, kadang-kadang harimau," ujar Lano.

Ia sendiri pernah menemukan jejak kaki harimau di wilayah yang dilintasinya. Namun, ia merasa beruntung karena tak pernah bertemu harimau secara langsung, apalagi mengancam nyawanya.

"Waktu tidur ada ular masuk tenda juga pernah," tutur Lano.

Meski begitu, pengalaman buruk dan kekhawatiran pada hewan buas  tak membuat semangatnya luntur. Ia tetap memiliki tekad kuat untuk menjalankan tugas sebaik mungkin. Sebab, tugas yang ada di depan mata dianggapnya sebagai sebuah ibadah dan pengabdian.

Apalagi, menemukan sumber energi panas bumi akan bermanfaat jangka panjang. Sebab, di masa yang akan datang, bisa jadi sumber energi panas bumi yang ditemukan bakal dimanfaatkan untuk menopang kehidupan manusia.

Ditolak Warga hingga Hadapi Mitos
Seperti diketahui, kehidupan di Indonesia kerap masih dibumbui dengan cerita mitos. Begitu juga di daerah yang dikunjungi untuk diteliti Lano dan kawan-kawan.

"Kalau mitos masih ada. Kadang ketika kita mau masuk ke suatu wilayah, kita ngobrol dengan masyarakat, mereka bilang hati-hati masuk ke situ karena ada ini, ada itu," tutur Lano.

Namun, sebisa mungkin, ia menghormati adat dan kebiasaan warga setempat. Ia sadar bahwa kedatangannya bersama tim peneliti adalah sebagai tamu. Sehingga, percaya atau tidak pada mitos yang ada di daerah setempat, sikap hormat harus tetap dijunjung tinggi.

Bahkan, karena kentalnya mitos di daerah yang dikunjungi, ia dan tim juga pernah diusir warga. Hal itu karena adanya kekhawatiran jika kepercayaan warga setempat dilanggar akan berdampak buruk bagi warga.

"Pernah kita di suatu wilayah tiba-tiba warga datang dan kita diusir. Itu karena ada mitos, kalau dilakukan pengeboran ada naga yang akan bangun. Padahal kita saat itu belum melakukan pengeboran, baru melakukan survei," jelas Lano.

Dari pengalaman-pengalaman seperti itulah, Lano dan rekan-rekannya berusaha memahami karakter setiap daerah dan warganya. Namun, permasalahan yang timbul biasanya bisa diatasi. Kuncinya adalah sosialisasi dan komunikasi yang baik serta mudah dimengerti warga.

"Kita biasanya melakukan mediasi karena kita kan dari sisi pemerintah dan bertugas untuk melakukan inventarisasi (sumber energi panas bumi). Tapi, kalau misalnya penolakannya sangat intensif, kita biasanya koordinasi (ke Kantor Pusat) di Bandung. Pahitnya kalau ujungnya kita enggak bisa masuk karena penolakannya masif dan berisiko, kita menghindari itu," papar Lano.

Sementara dalam melakukan penelitian, biasanya tak hanya dilakukan sekali. Terkadang, tim peneliti datang berkali-kali. Biasanya, di tahap awal, tim yang datang hanya beberapa orang saja. Biasanya, rata-rata tim kecil yang dikirim hanya lima orang.

Di tahap awal, penelitian sumber panas bumi belum tentu membuahkan hasil. Sehingga, terkadang harus berkali-kali datang. Bahkan, hingga akhirnya sumber panas bumi ditemukan dan bisa dimanfaatkan, butuh waktu bertahun-tahun. "Jadi memang semuanya bertahap," cetus Lano.

Baca Ini Juga Yuk: Menerima Keunikan Diri dengan Rambut Keriting ala Gracia

Jauh dari Keluarga
Lano sendiri tak melulu bekerja di luar kota untuk mencari sumber energi panas bumi. Jika sedang tidak ditugaskan ke luar kota, ia biasanya bekerja di Kota Bandung, tepatnya di Kantor PSDMBP. Pekerjaannya pun tetap tak jauh-jauh dari dunia penelitian panas bumi yang merupakan bidang keahlian dan tugasnya.

Namun, jika ditugaskan ke luar kota, ia jelas harus menghabiskan waktu bermingg-minggu hingga berbulan-bulan. Sebab, jarak tempuh yang dituju tentu sangat jauh. Sehingga, ia kerap harus merelakan diri jauh dari keluarga.

Hal ini tentu bukan hal mudah. Apalagi, ia memiliki istri dan anak. Berada di tengah hutan pun kadang membuat pikiran dan hatinya tertuju pada keluarga yang tersekat jarak. Namun, ia berusaha tetap menjalankan pekerjaannya dengan profesional dan tak pernah memutuskan pulang sebelum tugas selesai. Hal yang diandalkannya ketika bertugas di luar kota adalah mengandalkan gawai untuk melepas kerinduan.

"Kangen itu pasti. Salah satu cara untuk mengobati biar enggak kangen banget itu biasanya kalau bisa telepon, saya telepon. Yang repot itu ketika saya pernah dua minggu di tengah hutan dan enggak ada sinyal buat menelpon," tutur Lano.

Selain menelepon, ada cara lain yang biasanya dilakukan agar kerinduan pada keluarga tak membuat larut dalam kesedihan. Berbincang dan bercanda dengan rekan-rekan setim menjadi senjata andalan. Bersama merekalah Lano biasanya merasa terhibur dan sejenak bisa menanggalkan rasa kangen pada keluarga.

"Untuknya kalau pergi itu kan bareng tim. Untuk menghilangkan rasa suntuk kita atau kangen, kita biasanya ngobrol," ujar Lano.

Ia pun merasa beruntung keluarganya memberi dukungan penuh pada profesi yang dijalani. Mereka bisa menerima kondisi sewaktu-waktu ditinggal dalam waktu cukup lama. "Insya Allah keluarga menerima karena ini bagian dari pilihan hidup. Kalau soal meninggalkan keluarga sampai berbulan-bulan, itu memang risiko dari pekerjaan saya," papar Lano.

Melihat Tempat Indah
Di balik pengalaman buruk dan perjalanan ekstra melelahkan, diakui Lano ada hikmah lain yang bisa dipetik. Profesinya bisa mengantar ke tempat indah yang belum tentu bisa didatangi orang lain.

Ada banyak tempat indah yang begitu berkesan baginya. Namun, ada satu tempat yang membuatnya tak bisa lupa akan keindahannya.

"Paling mengesankan itu bisa melihat bagusnya Pulau Banda Neira, pulau ini dulu tempat pembuangan Mochamad Hatta, bagus banget suasana pemandangannya," ungkap Lano.

Untuk menuju ke Banda Neira dalam mencari sumber panas bumi, perjalanan panjang harus ditempuh. Ia dan rekan-rekannya pergi menggunakan speedboat. Setelah empat jam perjalanan, baru ia bisa sampai ke pulau tersebut. Itu pun masih harus dilakukan perjalanan menuju titik pencarian sumber energi panas bumi.

"Banda Neira itu lokasi terjauh yang saya pernah kunjungi. Tapi itu jadi daerah paling indah yang saya kunjungi," kata Lano.

TemanBaik, tahu kan sekarang bahwa menemukan potensi sumber panas bumi itu tidak mudah? Bahkan, mereka yang bertugas melakukan penelitiannya harus menghadapi berbagai rintangan. Namun, semuanya tetap dilakukan secara profesional.

Tujuan besarnya, mereka berharap agar potensi sumber energi panas bumi di Indonesia kelak bisa dimanfaatkan sebanyak mungkin. Sehingga, ada energi alternatif di masa depan agar tak mengandalkan sumber energi berbasis fosil yang suatu saat akan habis.

Indonesia sendiri kaya akan sumber energi panas bumi. Potensinya mencapai 23.965,5 MWe (Mega Watt Elektrikal) dan cadangan sebanyak 12.626,5 MWe. Dari jumlah itu, yang termanfaatkan baru 2.130,6 MWe oleh 16 pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Untuk lokasi sebarannya, sumber energi panas bumi ini ada 351 titik di berbagai wilayah Indonesia. Lokasi terbanyaka da di Sumatera dengan 101 titik. Sedangkan sisanya tersebar di berbagai titik.

Untuk pemanfaatannya, Jawa Barat ada di peringkat pertama dengan 1.253,8 MWe kapasitas termanfaatkan. Berikutnya adalah Sumatera (744,3 MWe), Nusa Tenggara (12,5 MWe), dan Sulawesi (12 MWe). Sisanya, jauh lebih banyak yang belum termanfatkan. Bahkan, potensi sumber energi panas bumi bisa saja masih terus bertambah jika dilakukan penelitian.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler