Dari Doyan, Kini Siti Karlina Jual Camilan Bandung di Yogyakarta

Bandung - Dari doyan jadi jualan. Itulah yang saat ini dialami oleh Siti Karlina Yuniarti, seorang perempuan asal Bandung yang lahir pada 13 Juni 1997. Siti, sapaan akrabnya, sangat menyukai cemilan yang berasal dari kota asalnya. Panganan ini adalah basreng, atau bakso goreng. Bakso yang dipotong tipis dan digoreng kering hingga menyerupai keripik ini memang sangat ia gemari. Berangkat dari rasa sukanya tersebut, ia akhirnya berjualan basreng.

Awal mulanya, jiwa berdagang Siti terpercik ketika masa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia saat itu berjualan dari camilan-camilan dengan kemasan kecil untuk dijajakan ke sekolah, dan berdagang pulsa. Bahkan hingga SMA dan pindah ke Yogyakarta, Siti tetap berjualan pulsa dan dari keuntungannya ia bisa membeli barang dengan uang sendiri.

"Waktu pas SMP, itu juga aku udah mencoba jadi reseller berbagai macam camilan milik bunda. Aku coba bawa ke sekolah, aku pasarin dua ribuan waktu itu. Terus aku coba bantuin jualan pulsanya bunda. Beranjak ke SMA, aku juga mencoba buat jualan pulsa, tapi itu bukan jadi prioritas sih, tapi dari hasil labanya aku bisa membeli pakaian sendiri gitu," ungkap Siti.


Nah baru ketika masuk kuliah, ia mulai terpikir untuk berdagang kembali. Hal ini juga dipicu dengan bergabungnya Siti dengan Keluarga Wirausaha Mahasiswa. Lalu kenapa akhirnya basreng? Awalnya ketika liburan kuliah ia liburan ke Bandung, dan sebagai oleh-oleh dari Bandung ia membawa basreng yang masih mentah dan nantinya digoreng di Yogyakarta. Ternyata, teman-temannya menyukai cemilan tersebut. Setelah lulus kuliah, Siti ternyata dapat pekerjaan yang menempatkan dirinya untuk kembali ke kota Bandung. Selama masa kerja di Bandung, Siti merasa dia tipikal orang yang sulit diam dan mencoba mencari kesibukan lain.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Sukardi, Setengah Abad Merawat Makam Leluhur

Ketika di Bandung tersebut, Siti mendapat pesan dari temannya yang menyukai basreng namun berada di Tegal. Siti pun akhirnya mencoba mengolah dan menggoreng kering seperti keripik. Setelah menerima basreng buatan Siti, temannya yang berada di Tegal mengunggahnya di media sosial, lalu ternyata teman-teman yang lain berminat untuk membeli basreng dari Siti.

"Temenku yang dari Tegal itu update kan biasa di Instagram. Dia minta saran dari temen-temen nih, gimana kalau misalkan aku buka pre-order basreng gitu. Eh ternyata pada tertarik. Pelanggan pertamaku tuh temen di Purwokerto, dan ternyata emang enak," tutur Siti.

Dari situ Siti mulai meracik dan mengembangkan basreng-nya hingga seenak sekarang. Kemudian sejak saat itu juga mulai ramai yang memesan basreng tersebut. Akhirnya Siti memutuskan membuat merek dagang untuk produk tersebut yaitu 'Basreng Sikarlin' dan juga memasarkannya di media sosial instagram di @basrengsikarlin.

Siti sebagai seorang karyawan tentu harus membagi waktu dengan usahanya ini. Proses pembagian waktu yang baik dan berhasil inilah hingga membuat Siti dapat menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Hal yang pasti buat Siti, konsisten dan tidak lupa tanggung jawab adalah hal yang paling penting. Ketika ada kendala dalam proses pembuatan basreng, Siti mengkomunikasikannya kepada pelanggan. Memang, ketika disibukkan dengan dua pekerjaan sekaligus, waktu istirahat pasti berkurang, tapi inilah resiko yang harus dihadapi demi mencapai sebuah kesenangan yang menjadi kesuksesan.

“Sebetulnya kalau buat membagi waktunya itu tuh, aku sendiri sih memang mencoba untuk konsisten gitu apa yang aku kerjakan. Maksudnya apa yang akan menjadi tanggung jawab aku sebagai karyawan tetap dan juga aku sebagai pedagang gitu yang harus melayani konsumen ku,” ucap Siti.

Tanggung jawab dan kerja keras memang jadi salah satu kunci kesuksesan Siti. Tanggung jawab besar tentu menghadirkan resiko yang besar, tapi ketika dapat menghadapinya, kesuksesan rasanya akan menjadi buah yang manis untuk dipetik nantinya.

"Caranya sih ya kita harus bisa bertanggung jawab lah intinya. Bertanggung jawab kita di perusahaan orang dan kita bertanggung jawab juga sebagai pengusaha untuk melayani konsumen. Emang iya sih waktu istirahat pasti berkurang, tapi memang itu resikonya. Aku juga mencoba untuk nikmatin aja ngejalaninnya," tambah Siti.

Tapi ketika berada pada titik jenuh dalam bekerja, Siti tetap mengedepankan untuk beristirahat sejenak dan menyenangkan diri sendiri. Lewat hasil usahanya, ia terkadang pergi liburan atau membeli suatu barang yang ia sebut sebagai penghargaan untuk diri sendiri. Hal inilah yang membuat Siti tetap bertahan dan dapat terhindar dari titik jenuh tadi.

Nah, TemanBaik, menjadi pengusaha memang menarik. Belum lagi ketika usaha ini dikerjakan sebagai sampingan dan berjalan beriringan bersama pekerjaan tetap, penghasilan bertambah namun ada risiko di balik keuntungan tersebut. Hadapi semaksimal mungkin dan pilih jalan yang terbaik, jangan sampai nanti TemanBaik lelah dan akhirnya malah tak mengerjakan keduanya. Jangan takut untuk mencoba, TemanBaik!

Foto: dok. Pribadi Siti Karlina Yuniarti

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler