Berkenalan dengan Muhammad Iid, Sosok di Balik Prakiraan Cuaca

Bandung - TemanBaik, prakiraan cuaca bisa kita ketahui saat ini dengan mudah. Cukup dengan membuka laman resmi atau media sosial Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kamu bisa tahu prakiraan cuaca.

Di balik adanya prakiraan cuaca, tentu ada sosok penting, yaitu keberadaan para peneliti cuaca dan iklim atau kerap disebut juga prakirawan BMKG. Merekalah yang bertugas mengolah data seputar cuaca hingga akhirnya bisa disajikan untuk publik.

Salah seorang di antara prakirawan itu adalah Muhammad IId Mujtahiddin. Profesi ini ditekuni Iid sejak 2008 di BMKG Jawa Barat yang berkantor di Jalan Cemara, Kota Bandung. Ada banyak cerita menarik yang dibahas dari Iid dan seputar profesinya tersebut. Simak ulasannya, yuk!

Tugas Utama
Sebagai prakirawan, tugas utama Iiid tentu menghimpun berbagai data seputar cuaca. Sumber data itu berasal dari beragam alat di halaman Kantor BMKG Jawa Barat. Data-data yang terkumpul kemudian akan dikumpulkan dan diolah hingga menjadi satu kesatuan yang disebut prakiraan cuaca.

Prakiraan cuaca ini biasanya muncul secara harian hingga bisa digunakan untuk beberapa hari ke depan. Dalam prediksi cuaca ini, biasanya akan dimuat berbagai informasi. Selain cuaca, di dalamnya ada arah angin, suhu, hingga kelembapan.

Bagi masyarakat, mendapatkan prakiraan cuaca ini sangat mudah. Hanya bermodal gawai, prakiraan cuaca bisa dilihat kapan saja. Apalagi sekarang ada aplikasi BMKG yang juga semakin mempermudah.

Baca Ini Juga Yuk: Dari Doyan, Kini Siti Karlina Jual Camilan Bandung di Yogyakarta

Di balik kemudahan itu, prakirawan bekerja cukup keras dan teliti untuk menghasilkan prakiraan cuaca. Bahkan, waktu yang dibutuhkan juga tergolong singkat.

"Untuk menghasilkan prakiraan cuaca ini butuh waktu 30 menit sampai satu jam setelah melihat berbagai parameter," ujar Iid.

Dalam sebulan, para prakirawan di BMKG Jawa Barat bekerja antara tujuh hingga delapan kali. Kok sedikit ya jumlahnya? Itu karena prakirawan di sana ada empat orang. Sehingga, tugas membuat prakiraan cuaca cukup dilakukan per orang secara bergiliran.

Menurut Iid, prakirawan di tempatnya bertugas biasanya bekerja dengan selang 'libur' tiga hari. Namun, bukan berarti 'libur' ini benar-benar libur. Mereka tetap bekerja seperti biasa. Namun, ketika sedang 'libur', prakirawan akan mengerjakan tugas lain, misalnya menyusun analisis bulanan terkait cuaca atau membuat buletin cuaca.



Perbedaan Era
TemanBaik, pernah membandingkan bagaiman prakiraan cuaca ini disajikan untuk publik? Dulu, sebelum memasuki era digitalisasi, prakiraan cuaca biasanya disampaikan melalui siaran televisi atau radio. Itu menjadi sarana bagi publik untuk mengetahui prediksi cuaca di wilayahnya.

Pada masa itu, tugas prakirawan cukup sibuk. Untuk melayani wawancara wartawan misalnya, seorang prakirawan dalam sehari bisa berkali-kali diwawancara. Begitu juga ketika ada warga yang datang langsung ke kantor BMKG. Namun, berbeda dengan kondisi sekarang. Penyebaran informasi prakiraan cuaca bisa dilakukan lebih mudah.

Caranya bisa melalui laman resmi, media sosial, hingga menyebarkan rilis melalui surat elektronik atau grup WhatsApp. Namun, permintaan wawancara secara langsung tetap dilayani jika ada yang bertanya lebih detail seputar prakiraan cuaca, termasuk terhadap warga. Ada juga yang bertanya melalui sambungan telepon dan akan dilayani oleh prakirawan yang bertugas di hari itu.

"Jadi, siapa yang kebetulan kerja di hari itu, dia yang handle semua (kebutuhan prakiraan cuaca)," jelas Iid.

Namun, di era modern seperti sekarang, tentu prakirawan dituntut bekerja ekstra cepat tanpa menanggalkan ketelitian. Hal itu justru menjadi tantangan bagi Iid. Yang terpenting, ia berusaha menjalankan pekerjaannya sebaik mungkin.

Kepuasan
TemanBaik, setiap orang tentu memiliki kepuasan jika pekerjaannya berjalan lancar. Lalu, apa yang membuat seorang prakirawan, khususnya Iid, merasa puas terhadap pekerjaannya?

Jawaban Iid pun sederhana. Baginya, ketika prakiraan cuaca dirasa bermanfaat bagi banyak orang, maka di situ ada kepuasan. Apalagi, saat ini prakiraan cuaca bisa dijangkau dengan mudah dengan semakin majunya teknologi dan digitalisasi.

"Kepuasan kita adalah ketika informasi seputar cuaca ini bisa tersampaikan sejauh mungkin," ungkapnya.

Sebagai gambaran, kebutuhan informasi atau prakiraan cuaca ini akan bermanfaat bagi mereka yang akan melaksanakan hajatan atau melakukan kegiatan. Mereka yang menggunakan prakiraan cuaca biasanya akan mempertimbangkan menggelar kegiatan menyesuaikan dengan prediksi cuaca.

Bahkan, untuk urusan pengecoran rumah hingga jalan, informasi dari BMKG sangat diperlukan. Sehingga, mereka yang akan mengerjakannya tahu kapan waktu tepat melakukannya.

Bayangkan jika mereka yang akan mengerjakan itu tidak tahu prediksi cuaca, bisa-bisa pekerjaan yang dilakukan terhambat. Namun, dengan menggunakan prediksi cuaca dari BMKG, kegiatan yang dilakukan bisa lebih lancar.

Begitu juga dengan mereka yang akan menggelar kegiatan seperti hajatan atau pesta di tempat terbuka. Mereka bisa mempertimbangkan apakah akan menggunakan konsep benar-benar terbuka, memakai tenda, atau justru dipindah ke ruang tertutup.

"Mereka yang mau bikin hajatan itu kadang suka ada yang ke sini, mereka nanya bulan sekian hujan enggak," jelas Iid.

Prakirawan biasanya akan menjelaskan secara umum. Namun, informasi yang disampaikan tentu tidak pasti 100 persen. Bisa saja prediksi itu meleset dari apa yang disampaikan. Sebab, ada berbagai parameter yang membuat cuaca bisa berubah di luar prediksi.

Namun, setidaknya prakiraan yang disampaikan bisa jadi acuan bagi mereka yang akan melakukan sesuatu agar tak terhambat akibat cuaca. Dengan begitu, kegiatan yang dilaksanakan diharapkan lebih lancar.

Manfaat itu yang membuat Iid tertarik menjadi prakirawan. Sehingga, ia mengambil kuliah jurusan Meteorologi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Mimpi menjadi prakirawan pun terwujud.

Dengan profesinya itu, ia berharap bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Sebab, prakiraan cuaca pasti dibutuhkan masyarakat. Rasa puas pun semakin besar karena dari waktu ke waktu pihak yang membutuhkan prakiraan cuaca semakin banyak.

Sisi kepuasan lainnya, Iid bisa berbagi ilmu dan informasi kepada masyarakat, termasuk siswa. Sebab, BMKG kerap menerima kunjungan dari berbagai pihak. Bahkan, terkadang ada kunjungan siswa yang ingin mengetahui segala hal tentang BMKG dan prakiraan cuaca.


Foto: Muhammad Iid/Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler