Kisah Hari Pochang dengan Ribuan Rol Film Fotonya

Bandung - Di balik sosoknya yang terkenal sebagai pemain harmonika legendaris asal Bandung, rupanya perjalanan bermusik Hari Pochang juga dibarengi dengan profesi lain yakni sebagai fotografer. Hampir seluruh pelosok Nusantara pernah dipotret oleh pria kelahiran Bandung, 22 April 1950 ini.

Beritabaik.id punya kesempatan berbincang secara ekslusif dengan musisi bernama asli Hari Krishnadi ini. Ia bercerita kalau dirinya sudah tertarik dengan dunia visual, khususnya fotografi sejak masih menginjak usia sekolah dasar. Kakak dari Ayahnya lah yang membuatnya tertarik akan dunia fotografi.

Melihat koleksi kamera dan melahap buku fotografi, seniman yang akrab disapa Kang Pochang ini kemudian menjajal kamera milik Ayahnya. Ia masih ingat kamera pertama yang digunakannya untuk belajar adalah kamera analog bermerek Yashica. Terinspirasi dari Majalah Foto Indonesia kala itu, ia serius mempelajari berbagai macam gaya fotografi.

"Komunitas fotografi yang ada saat saya pertama kali belajar motret itu, satu-satunya hanyalah PAF (Persatuan Amatir Fotografi), tapi saya enggak masuk sebagai anggota," jelasnya di Bandung, Kamis (10/9/2020).

Kendati tak tergabung sebagai anggota komunitas fotografi, ia mempelajari buku yang ditulis oleh pendiri komunitas tersebut. Lebih dalam lagi, Pochang juga mendalami teknik cuci cetak. Karena perlu diingat, saat itu fotografi bukanlah hal yang umum dijumpai seperti saat ini.

Untuk mendapatkan potret seseorang, ada proses panjang di dalamnya mulai dari mengambil gambar (itu pun dengan teknik yang mesti dikuasai, kecuali kameramu sudah punya setelan auto), proses cuci foto, proses pindai atau scan, baru foto tersebut bisa dicetak dan kamu miliki.

Aktif bermusik dan punya kolega yang merupakan fotografer bandnya, Pochang kemudian mempelajari fotografi dengan koleganya tersebut. Setelah melihat halaman muka Rolling Stone dengan foto karya David Bailey akhirnya ia mencari tahu apa kamera yang digunakan oleh sang fotografer. Terinspirasi dengan potret tersebut, Pochang yang akhirnya mengetahui kamera yang digunakan tersebut akhirnya membeli kamera pertama, yang bermerek Olympus.

Proses perjalanannya sebagai fotografer berlanjut. Pada awal dekade 1980-an, ia kemudian menemukan gaya foto yang disukainya. Ya, ia mengedepankan sisi natural dari obyek foto yang dijepretnya. Ia juga tertarik dengan foto human interest dan lanskap. Namun, ia menyukai proses pendekatan dengan obyek foto saat hendak memotret, khususnya human interest.

Pada fase itulah, Pochang yang sedang asyik bermain musik mendapat pekerjaan sebagai fotografer di sebuah kantor yang berkaitan dengan pengembangan industri kecil pedesaan. Pekerjaan itu membuatnya harus masuk ke pelosok desa di Jawa Barat. Di sanalah, ia menemukan kecintaan dengan bidang fotografi.

"Saya menemukan pelajaran tentang kehidupan, sosial, dan tentunya keindahan alam. Di situ, saya bertekad ingin jadi fotografer profesional. Saya belajar lebih giat lagi," terangnya.

Kegiatan bermusik juga memanggilnya untuk punya karya fotografi panggung. Pada era yang mana banyak kegiatan musik hingga mondar-mandirnya musisi internasional ke Indonesia tersebut, Pochang sudah asyik dengan kamera analognya. Ia memotret untuk beberapa musisi kala itu. Ia juga kemudian mendirikan kumpulan pecinta fotografi dengan nama Sukahati Foto Club.

"Jadi itu mah ya, gimana kita, atau kumaha urang, weh," terangnya sembari tertawa.



Baca Ini Juga Yuk: Cerita Erna Kurniawati, Pengisi Suara Buku untuk Teman Netra

Hal yang jadi catatan saat itu adalah, Pochang menggelar pameran fotografi panggung di Bumi Sangkuriang, Bandung pada tahun 1982. Foto-foto yang dipamerkannya adalah hasil karyanya selama memotret panggung dari mulai akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an. Beberapa hasil karya foto dalam pameran tersebut dilirik oleh salah satu orang dari Goethe Institute.

Perkenalan dengan seseorang dari Goethe Institute itu membuat dirinya diajak menjadi fotografer untuk acara-acara yang digelar di bawah naungan Goethe Institute, tanpa terkecuali acara musik yang menampilkan musisi internasional. Pada titik ini, ia merasa amat senang karena bisa memotret musisi idolanya yang bertaraf internasional.

Pameran fotografi panggung itu dianggapnya jadi babak baru dalam perjalanannya sebagai fotografer. Ia kemudian mendirikan Forum Fotografi Bandung pada era 1982-1983 dengan teman-temannya Marinta, Aan Dermanik, Ray Bachtiar, dan beberapa lainnya. Dalam forum tersebut, Pochang juga melibatkan kawan-kawannya yang merupakan orang dengan latar belakang seni rupa.

Perpaduan foto dan seni rupa itu membuat eksistensi Forum Fotografi Bandung seperti tak diakui oleh komunitas fotografi lainnya. Pochang menduga, perbedaan sudut pandang mengenai fotografi itulah yang jadi penyebabnya. Kendati demikian, hal itu tidak pernah membuatnya dan kawan-kawan ambil pusing.

"Foto kita tuh kayak karya seni rupa jatohnya, kayak ngelanggar pakem-pakem fotografi yang berlaku saat itu," jelasnya.

Namun, karena dianggap jadi sesuatu yang baru, banyak kawula muda yang tertarik dengan komunitas foto ini. Bahkan, Forum Fotografi Bandung sempat menggelar pameran fotografi yang berjudul 'Alternatif', pertengahan dekade 1980-an.

Memasuki tahun 1987, Pochang yang juga masih bekerja di kantor lamanya yang fokus pada industri desa ini nyaris mendampingi seorang fotografer National Geographic asal Inggris untuk mengerjakan proyek fotografi di Kalimantan. Ia diminta mendampingi sang fotografer selama tiga minggu. Namun, karena masih terikat kontrak dengan pekerjaannya di kantor, izin untuk mendampingi sang fotografer tersebut tidak didapatkannya.

"Di kantor itu, saya dapat cuti sebulan dalam setahun. Dan band saya saat itu dapet kontrak main di Bali. Di tengah-tengah kontrak ngeband di Bali itu, saya dapet tawaran (mendampingi fotografer National Geographic). Saya telpon bos saya untuk minta cuti tambahan, tapi enggak dikasih. Patah hati juga saya saat itu," kenangnya.

Peristiwa itu kemudian dilewatinya, dan Pochang kembali bekerja meneruskan sisa kontrak di kantornya. Namun, di penghujung masa kontraknya pada tahun 1989, ia mengambil keputusan cukup ekstrim dengan tidak memperpanjang kontraknya. Ia bertekad menjadi fotografer penuh waktu. Sebuah keputusan yang kurang populer bagi seseorang yang berusia sekitar 39 tahun.

Meski begitu, Pochang mengaku lega telah mengambil langkah tersebut. Dengan banyaknya waktu luang karena tidak terikat dengan pekerjaan tetap, ia menggarap beberapa proyek visual. Tidak hanya sebagai fotografer, ia merambah posisi lain seperti art director penata artistik.

"Setelah keluar dari kantor, eh malah dapet pekerjaan banyak banget," terangnya.

Pekerjaan itu antara lain membuat foto buku untuk beberapa instansi pemerintah seperti Departemen Koperasi, misalnya. Ia juga menambah jejaring dengan berkenalan dengan fotografer yang mengenyam pendidikan fotografi secara formal. Ia kemudian mempelajari fotografi produk dan foto arsitektur.

Ia kebagian memotret koperasi se-Jawa Barat. Pekerjaan di masa lampaunya sebagai fotografer dan berkeliling Jawa Barat memudahkan aksesnya dalam menggarap proyek ini.

Saat mempelajari fotografi arsitektur, ia mengaku dapat tantangan besar, khususnya saat harus berhadapan dengan art director dan minimnya teknologi. Kembali lagi, saat itu, proses pemotretan sangat jauh berbeda kondisinya dengan hari ini.

"Ya kadang gitu lah, art director itu suka kepingin terlihat penting. Padahal mah, henteu oge (padahal tidak demikian)," candanya sembari tertawa.

Kerumitan proses dan adaptasi dengan obyek baru membuat Pochang banyak belajar lagi. Sejumlah ornamen fotografi seperti tata warna, pengaturan filter foto, dan lain sebagainya pun ia pelajari. Jika hal itu terjadi saat ini, mungkin tantangannya relatif lebih mudah, karena banyak perangkat lunak olah foto untuk mengotak-atik karya foto tersebut. Namun, bayangkan momentum itu terjadi di era analog, yang mana semua pengaturan diterapkan secara manual.

Hal yang tak dilupakan Pochang adalah saat ia memotret pabrik di Lampung untuk kebutuhan produksi kalender. Ia memotret sendirian dengan alat-alat hasilnya meminjam. Ia memasang lampu, dan menjalani segala proses memotret yang kala itu masih sangat rumit sendirian. Pada tahap ini, Pochang merasa pilihannya untuk menjadi fotografer penuh waktu sudah tepat karena adanya penerimaan akan karya-karyanya.

Masuk dekade 1990-an, Pochang mendirikan Yayasan Budaya Indonesia, dan menelurkan majalah dengan nama Scope. Majalah tersebut banyak menyajikan visual fotografi. Ia menjadi redaktur foto di majalah tersebut. Ada juga nama seniman Aat Soeratin, yang menjadi direktur majalah tersebut. Mengangkat tema Jawa Barat, majalah ini mengedapankan sisi seni, budaya, entertain, dan travel. Sebagai pekerjaan sampingan, Pochang juga mengerjakan proyek membuat foto untuk kebutuhan pembuatan kalender.

Namun, perjalanan Majalah Scope berlangsung relatif singkat. Kebijakan Pemerintah era Orde Baru yang mengharuskan media untuk memiliki Surat Izin Usaha Penerbitan) yang secara tak langsung menghentikan laju majalah tersebut. Setelah terbit tiga edisi dan SIUP tak kunjung terbit, Majalah Scope tidak melanjutkan produksi, namun Yayasan Budaya Indonesia terus menjalankan aktivasi kegiatan lain.

Pochang dan kawan-kawannya kemudian membawa delegasi kesenian ke New York, Amerika Serikat. Ia menyajikan karya Topeng Losari, yang diambil di daerah Losari, tidak jauh dari wilayah Brebes. Pochang menyajikan visual dengan slide show kala itu dengan melibatkan seorang penari topeng Losari bernama Sawitri, perajin topeng, dan banyak unsur di dalamnya. Ia mengemas karya Topeng Losari dalam bentuk slide show visual dan karya itu dipamerkan di New York tahun 1993.

Baca Ini Juga Yuk: Berkenalan dengan Muhammad Iid, Sosok di Balik Prakiraan Cuaca Oris Riswan Budiana

Menjelajah Indonesia dan Kehilangan Kamera
Makin kuat dengan segudang portfolionya, Pochang kemudian mendapat tawaran untuk menggarap buku seri bertajuk 'Indonesia Indah'. Ada 13 seri yang dijadwalkan akan digarap oleh Pochang. Dan untuk menggarap buku ini, Pochang mengelilingi wilayah Indonesia yang saat itu baru berjumlah 27 Provinsi. Di dalam buku tersebut, tergambar keindahan Indonesia melalui visual dan artikel. Pochang menyebut, buku seri 'Indonesia Indah' ini punya bobot yang bagus untuk dibaca.

Dalam proses penggarapan buku ini, Pochang menemukan beberapa wilayah yang menjadi destinasi barunya. Ia mengaku jatuh cinta dengan wilayah Indonesia Timur seperti Sumba, Nusa Tenggara, dan Kalimantan bagian timur. Di sela-sela penggarapan buku seri 'Indonesia Indah' ini, Pochang juga sempat terbang ke Moskow, Rusia untuk mengikuti pameran dengan Yayasan Budaya Indonesia pada tahun 1994.

Penggarapan buku seri 'Indonesia Indah' menyadarkan Pochang kalau Indonesia merupakan negara yang besar dan indah. Namun, penggarapan buku ini terhenti di edisi ke-10, setelah Ibu Negara kala itu, Tien Soeharto wafat.

Selama penggarapan buku tersebut, Pochang juga sempat kehilangan seluruh kameranya. Ia mengenang kejadian itu terjadi saat memotret edisi Yogyakarta. Beruntung, hasil kerjanya masih bisa terselamatkan karena berada dalam tas yang berbeda.

"Itu kejadiannya di bus. Begitu sampai rumah, tas yang isinya lensa itu diganti sama botol air mineral biar sama-sama berat. Saya enggak sadar. Wah, begitu sampai rumah saya nangis sejadinya," kenang Pochang.

Keseruan lainnya dalam ekspedisi awal mengelilingi Indonesia adalah karena minimnya sumber tentang data yang akan dipotret. Berbekal buku Lonely Planet, Pochang mengumpulkan data yang akan dipotretnya berdasarkan referensi di buku ini. Ia menyebut Lonely Planet itu seperti "Google-nya" zaman dahulu.

Penutup era analog dalam perjalanan memotret Hari Pochang berlangsung saat Selasar Sunaryo Art Space dibuka pada tahun 1998. Pochang kebagian tugas untuk memotret. Sebulan lamanya ia memotret bagian dari Selasar Sunaryo Art Space.

Adaptasi Digital
Memasuki era digital jadi salah satu tantangan Pochang. Ia perlu waktu untuk beradaptasi  dengan kecanggihan era digital. Namun, sisi yang dianggapnya positif adalah ia masih membawa disiplin memotret analog ke dalam perangkat yang sudah difasilitasi kemudahan fitur. Kamera digital pertamanya bermerek Nikon.

"Saya itu selama pakai digital, semua pengaturan kamera tetep saya pakai disiplin manual. Paling kalau lagi malas, saya pakai fitur aperture priority aja. Enggak pernah saya pake fitur P (fitur program yang mana hasil gambar dapat diambil tanpa perlu insting fotografernya) sebab kalau P itu artinya 'pasrah'. Enggak, saya enggak pernah gitu," katanya sambil tertawa.

Meski begitu, ia menganggap era digital sebagai anugerah bagi insane fotografi. Sejak kehadiran teknologi dan digital, tiap orang berpotensi membuat karya fotografi yang bagus. Pada masa ini, Pochang mulai banyak mengerjakan fotografi produk seperti produk sepatu, misalnya. Setelah itu, ia juga aktif membuat kelas fotografi, pameran, dan menjadi juri untuk kontes fotografi. Pada tahun 1998, ia aktif bermusik dengan Blues Jam.

Pada era ini, ia mengaku tertarik dengan kamera Fujifilm, karena karakter warnanya menyerupai hasil kamera analog. Namun, ia menggunakan lensa-lensa analog lamanya untuk mempertahankan karakter fotonya.

Setelah melepas masa lajangnya pada tahun 2005, Hari Pochang masih tetap aktif dengan kegiatan fotografi, dan tentunya musik. Perjalanan besarnya saat memotret Indonesia adalah saat menggarap 'Ekspedisi Pulau Terluar' yang digagas Wanadri bersama Rumah Nusantara. Ia mewakili Rumah Nusantara, dan berkeliling pulau terluar di Indonesia.

"Saya waktu itu udah kawin. Jadi enggak bisa ikut semua. Tapi tetap seru banget ya waktu itu," terangnya.

''Ekspedisi Pulau Terluar' digarap medio 2008 hingga 2013. Pada waktu-waktu tersebut, Pochang menyambangi pulau-pulau terluar Indonesia seperti Nias, juga beberapa pulau terluar di Jawa, Kalimantan, dan Papua. Ia mengaku dapat banyak pelajaran selama perjalanan tersebut. Ia memotret kehidupan orang-orang di pulau terluar Indonesia. Ekspedisi Pulau Terluar dapat dinikmati dalam bentuk tiga seri buku. Adakah di antara kamu yang pernah membacanya?

Sampai edisi wawancara ini diterbitkan, ia mengaku kalau ekspedisi memotret terakhirnya ialah saat ia diminta memotret 13 distrik di Timor Leste pada tahun 2013 bersama Wanadri. Ekspedisi ini yang dianggapnya masih berkesan sampai saat ini.

Perjalanan memotret Hari Pochang masih berjalan sampai saat ini. Namun, setelah usai dengan 'Ekspedisi Pulau Terluar' dan ekspedisi ke Timor Leste, Pochang lebih banyak aktif dalam kegiatan musik di Bandung. Pada era tersebut, ia membuat workshop belajar harmonika bersama Bandung Harp Project, dan aktif di beberapa komunitas musik Bandung seperti Bandung Blues Society (BBS). Ia juga aktif bermusik dengan Blues Libre.

Sebagai pamungkas, ia menilai kalau perjalanannya di bidang fotografi merupakan hal yang sangat ia syukuri. Proses belajar dan memotret dengan kamera analog menjadikannya begitu menghargai tiap momen yang dibekukannya lewat tombol shutter. Ia juga banyak berkolaborasi dengan fotografer muda, khususnya fotografer musik dan membuat konten-konten visual untuk beberapa acara komunitas musik di Bandung.

TemanBaik, perjalanan Hari Pochang sedikit banyaknya mengajarkan kita untuk tidak ragu memilih sesuatu yang benar-benar kita sukai. Dengan tetap menghitung risiko dan mempersiapkan segala sesuatunya, ketekunan tiap orang dalam menjalankan apa yang disukai akan berbuah manis dan jadi cerita indah untuk dinikmati di usia senja kelak. Tetap semangat, ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler