Kreativitas Manshur Praditya, Gabungkan Angklung dan EDM

Bandung - Kreativitas tak pernah mengenal batas. Kalimat itu diaplikasikan oleh Manshur Angklung, yang sukses menggabungkan angklung dengan kesenian modern seperti musik elektronik.

Kecintaan terhadap angklung didapatkannya saat memutuskan berkuliah di Jurusan Musik Bambu, Institut Seni Budaya Indonesia pada 2012 silam. Meski begitu, seni bukan hal yang baru bagi Manshur. Ia tercatat sebagai lulusan SMK Negeri 10 Bandung jurusan Seni Karawitan. Pengalaman belajar seni tradisi secara formal itulah yang menjadi bekal Manshur untuk mempelajari musik bambu.

Tidak hanya mempelajari angklung dari segi teknis dan aransemen saja, Manshur juga mempelajari desain dan inovasi dari angklung itu sendiri. Jadi, jika angklung yang biasa kita jumpai bentuknya begitu konvensional dan khas dengan deretan angklung yang dipasang dalam satu media, dan harus mengalami bongkar pasang saat seniman angklung ini akan manggung.

Terinspirasi dari bentuk angklung toel di Saung Angklung Udjo, Manshur mengembangkan bentuk angklung ini sehingga lebih praktis lagi. Ia membalikkan posisi angklung dan membuat susunan nada pada angklungnya menyerupai susunan nada pada piano. Bahkan, ia memberi istilah sendiri yaitu bambu putih dan bambu hitam, terinspirasi dari tuts putih dan hitam di piano. Karena bentuknya yang ringkas, alat tersebut bisa dimasukkan ke dalam tas kayu atau hardcase.

Pengembangan alat ini rupanya banyak memudahkan Manshur dalam proses persiapan saat akan manggung. Apabila pada umumnya seniman angklung akan banyak menemui kendala saat akan check sound, namun hal tersebut dapat diminimalisir oleh Manshur karena inovasi anatomi tubuh susunan angklung yang jadi alat atau gear manggungnya. Jadi, begitu tiba di lokasi panggung, Manshur hanya tinggal membuka angklung dari hardcase-nya, dan angklung bisa dimainkan. Ini berbeda dengan teknis persiapan manggung di seniman angklung pada umumnya, yang mana harus ada proses bongkar pasang, menyetel angklung sesuai notasinya, dan banyak hal-hal lainnya.

“Angklung toel tuh udah ada sejak 2008, ciptaan Pak Yayan Udjo, dan saya kembangi lagi. Saya terinspirasi dari keribetan malahan. Saya bilang ini keribetan, karena (pemain angklung) kalau mau manggung tuh masang alatnya lama. Harus bongkar pasang lah, belum lagi angklungnya bisa ada potensi pecah karena terbanting saat di perjalanan. Akhirnya saya bikin si organologi alatnya lebih simpel deh, biar sama aja kayak pemain kibor mau manggung. Buka hardcase, pasang, jreng deh,” terang Manshur.

Inovasi juga dilakukan Manshur dari segi musikalitas. Ia memadukan angklung dengan musik elektronik. Ini tentu jadi hal yang baru, mengingat wajah angklung itu sendiri identik dengan dunia pendidikan. Inovasi itu didapatkannya saat ia terbang ke Jepang bersama seorang musisi elektronik Ari Irham pada 2016. Mewakili Indonesia dalam Umekita Fesival di Osaka, Jepang, Manshur memperkenalkan angklung ke dunia lewat medium musik elektronik.

Selepas penampilannya tersebut, ia mendapatkan kesenangan saat memadukan dua unsur musik ini. Menurutnya, electronic dance music atau EDM dan angklung merupakan dua unsur yang bisa saling mengisi. Hal ini merujuk pada karakter keduanya. EDM punya karakter middle-low, dan angklung punya karakter middle-high. Dalam pandangan Manshur, karakter musik ini tak akan mengalami betrok apabila dipadukan.

“Selain itu, enggak ada karakter sound DJ, sekalipun itu preset di dalam perangkat lunak untuk rekaman, yang bisa menyamai atau mendekati karakter angklung. Saya lihat ini unik, dan belum ada yang ‘terpikir’ bikin hal ini,” katanya.

Ia juga merasa angklung bisa jadi ‘lahan baru’ untuk para musisi berkiprah di industri musik. Ia dan Ari Irham kemudian membentuk grup Future Etnic dengan melibatkan seorang DJ, rapper, penyanyi, dan angklung itu sendiri. Manshur juga mengenakan entitas Manshur Angklung saat nampil sebagai solois.

Kreativitas Manshur lambat laun membuatnya dikenal sebagai seniman angklung muda dari Bandung. Namanya sering tampil di acara-acara musik berskala kecil hingga besar. Bersama angklungnya, Manshur juga terbang ke India, Malaysia, Singapura, Jepang, dan beberapa negara Asia lainnya. Ia menyebut sebelum mencapai titik ini, ada serangkaian proses dan tantangan yang harus dihadapinya selama masih berkesenian di Bandung.

“Tantangan? Wah, banyak banget dong. Saya, mungkin ya, dibilang hanya nempelin angklung dengan musik barat. Atau mungkin saya banyak menabrak kaidah lama soal angklung. Tapi ya memang kan angklung itu fungsinya sebagai media saja. Beda dengan suling atau kacapi, misalnya ya,” kata Manshur.

Soal keliling dunia pun, Manshur menanggapi hal ini dengan santai. Menurutnya, keliling dunia merupakan hal yang relatif mudah bagi para seniman tradisional. Namun yang jadi tantangan bukan perkara keliling dunianya, melainkan kesan dan nilai yang dibawa dalam perjalanan seorang musisi saat membawa bendera Indonesia di kancah internasional.

Inovasi menggabungkan angklung dengan musik elektronik pun didapatkan setelah ia menyadari harus punya nilai dan kesan saat menampilkan pagelaran di kancah internasional. Begitupula di Indonesia, ia merasa perlu ada inovasi dari segi musikalitas bagi produk musik tradisional.

“Kalau hanya Manshur Angklung main angklung di India gitu. Udah gitu selesai. Kayak sayang aja gitu kalau progressnya hanya segitu,” imbuhnya.

Delapan tahun menekuni angklung, Manshur baru punya kesempatan untuk merilis single pada 17 Agustus 2020 silam. Ia menyebut, proses delapan tahun dihabiskannya untuk mempopulerkan angklung di lingkungannya terlebih dulu. Secara pribadi ia punya pandangan akan sulit bagi seniman tradisi untuk mempopulerkan alat yang dibawanya, kalau ia tidak menceburkan diri di lingkungan pertemanan para musisi.

Single ini berjudul 'Indonesian Pride'. Memadukan unsur rap, EDM, dan angklung, ada kesegaran tersendiri dalam karya yang dirilis Manshur. Karya ini juga kemudian didapuk menjadi lagu tema untuk IMX (Indonesian Modification Expo) 2020. Manshur terlibat dengan kolaborator lainnya seperti Juggermouth dan DJ Henry Firstya sebagai produser musiknya. Menurutnya, lagu ini mengedepankan musik Indonesia dan kecintaan terhadap budaya.

“Buat saya ini jadi kebanggaan tersediri loh. Saya kayak mikir, wah ini angklung udah sampe dilirik sama industri otomotif. Ini sesuatu yang mungkin agak out of the box, tapi saya bangga banget,” ujarnya.

Setelah merilis single, Manshur punya impian bisa membuat album, namun seluruh lagu di album ini melibatkan kolaborator penyanyi yang disebutnya lebih terkenal dari dirinya. Ia terang-terangan menyebut hal itu, karena menurutnya butuh sosok publik figur apabila dirinya ingin memperkenalkan angklung lebih luas lagi. Dengan melibatkan musisi yang punya segmen pendengar lebih luas, Manshur merasa ini bisa jadi jalan baginya secara pribadi memperluas jejaring, dan kedua memperkenalkan angklung ke cakupan pendengar lebih luas.

Delapan tahun perjalanan bersama angklung begitu disyukuri oleh Manshur. Ia merasa jadi punya banyak teman, bisa berkolaborasi dengan musisi-musisi hebat, dan menginjakkan kaki di beberapa negara Asia, dan masih banyak lagi. Ia merasa ini jadi motivasi untuk dirinya terus membuat karya yang bagus.

“Hal yang bikin bangga itu karena saya bawa angklung ini. Kalau bawa gitar, bas, piano, atau saya jadi penyanyi, kayaknya udah banyak yang lebih dulu mencapai titik ini,” terang pria kelahiran 1994 yang mengaku baru bisa memainkan alat musik gitar dan piano setelah menguasai angklung ini.

Pengalaman berkesenian itu kemudian menumbuhkan kepeduliannya terhadap komunitas musik daerah. Ia membuat akun @indoangklunggram di Instagram untuk mempertemukan tiap seniman angklung di seluruh penjuru Nusantara. Konsep ini terinspirasi dari akun instagram @indomusikgram, yang mempertemukan musisi-musisi independen se-Indonesia dengan cara saling mengunggah ulang video kreasi mereka di Instagram. Manshur juga saat ini menjadi wakil kurator untuk menyeleksi video yang tayang di @indomusikgram. Ia menjadi wakil kurator untuk musik etnik.

Pengembangan berbasis komunitas ini digalakkan Manshur agar angklung dapat lebih populer dari hari ini. Bahkan, ia bermimpi suatu saat nanti, angklung bisa dengan mudahnya dijumpai di toko alat musik besar di Indonesia. Hal itu menurutnya bisa terwujud apabila komunitas dan pemain angklungnya aktif dan bersama-sama mempopulerkan alat musik asal Indonesia ini.

“Dalam setiap penampilan, pas ada kesempatan untuk ngomong saya selalu ingatkan kalau angklung itu warisan budaya Indonesia. Sebisa mungkin, yuk kita jaga warisan ini,” pungkasnya.

TemanBaik, jika kamu hendak berkenalan dengan Manshur dan melihat karya-karyanya, kamu bisa mengikuti akun Instagramya di @manshur.angklung atau mengunjungi situs web resminya yaitu manshurangklung.com.



Foto: Dok. Manshur Praditya 

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler