Yadi Sopian, Berprestasi di Luar Negeri Usai Jadi Teman Netra

Bandung - TemanBaik, menjadi disabilitas bisa dialami sejak lahir. Namun, ada juga yang menjadi disabilitas setelah sempat menjalani kehidupan normal tanpa terhalang kondisi fisik.

Hal ini dialami Yadi Sopian (48). Pria asal Bandung ini kehilangan penglihatannya. Namun, ia justru bisa menuai prestasi di tengah keterbatasan penglihatannya. Simak kisahnya, yuk!

Sejak SMA, sekitar usia 15 tahun, fungsi penglihatan mata Yadi secara perlahan berkurang. Dari tahun ke tahun, kondisinya semakin parah. Hingga akhirnya, pada usia 44 tahun, ia benar-benar kehilangan seluruh penglihatannya.

Namun, ia mengaku tidak terpuruk setelah kehilangan penglihatan. Sebab, ia tahu konsekuensi dari retinitis pigmentosa yang dialaminya. Meski begitu, ia mengaku mengalami kesulitan tersendiri dalam menjalankan aktivitas.

Saat berjalan misalnya, ia membutuhkan bantuan orang lain. Ia juga kerap menggunakan tongkat jika tak ada orang yang bisa membantunya.

Dibanding teman netra yang lain, Yadi mengaku kepekaannya tak terlalu hebat. Sebab, ia terlahir dengan penglihatan mata normal. Sehingga, sebelumn menjadi teman netra, ia terbiasa melakukan segala aktivitas sendiri.



Baca Ini Juga Yuk: Dante Farm, Sulap Garasi Jadi Arena Budidaya Jamur

Kondisi ini tentu berbeda dengan mereka (teman netra) yang sudha mengalaminya sejak lahir. Mereka jauh lebih terbiasa karena terlatih sejak kecil memiliki penghlihatan terbatas, bahkan tidak bisa melihat.

"Karena kehilangan penglihatannya sedikit-sedikit, jadi ada aptasinya. Sehingga saya tidak terlalu kaget ketika kehilangan penglihatan. Saya jadi tunanetra total itu sejak 4 tahun lalu. Jadi, sampai usia 44 tahun saya masih bisa jalan sendiri. Tapi, dari umur 44 tahun susah jalan sendiri," ujar Yadi kepada BeritaBaik.id.

Ia pun masih membiasakan diri melakukan berbagai aktivitas tanpa penglihatan. Sebab, ketimbang terpuruk, bagi Yadi lebih baik menjalani hidup dan melakukan apa yang bisa dilakukan.

"Semua aktivitas terganggu kalau enggak ada penglihatan. Tapi sekarang menyesuaikan diri sebagai tunanetra saja," tutur Yadi.

Namun, tak ada kata patah semangat dalam diri Yadi. Dalam kesehariannya, Yadi tetap berusaha menjadi pribadi yang pantang menyerah sekaligus ceria. Apalagi, kehadiran istri dan tiga anak membuatnya langkah hidupnya menjadi lebih berwarna. Belum lagi dukungan dan semangat dari orang-orang di sekitarnya.

Terapis Sekaligus Atlet Catur
Dalam kesehariannya, Yadi berprofesi sebagai terapis pijat. Profesi ini dijalaninya sejak beberapa tahun dan membuka praktik di kawasan Caringin, Kota Bandung. Keahlian memijat itu didapat setelah belajar di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Netra Wyata Guna.

Di luar profesinya sebagai terapis pijat, Yadi ternyata seorang atlet catur tunanetra. Hal ini bermula dari kegemarannya bermain catur sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Namun, ia baru merintis karir sebagai atlet pada tahun 2000-an ketika belajar di Wyata Guna. Butuh waktu beberapa tahun hingga akhirnya ia bisa menjadi atlet. Hingga akhirnya, ia bisa menembus ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2008 di Kalimantan.

"Di Peparnas sebelumnya saya telat daftar. Tapi, begitu dapat informasi ada seleksi untuk PON/Peparnas di Kalimantan, saya ikut seleksi, akhirnya menang dan bisa jadi wakil (Jawa Barat) ke Kalimantan," ungkap Yadi.

Berbagai kejuaraan catur pun ia ikuti. Namun, diakuinya tak semua menuai prestasi. Meski begitu, kemampuan Yadi bermain catur tunanetra tak sebatas di kancah lokal, regional, dan nasional. Ia bisa melebarkan sayap hingga menembus event internasional.

"Saya mulai ke luar negeri itu pada 2013, waktu itu ke Myanmar ikut Asian Paragames. Di situ saya dapat medali perunggu," jelasnya.

Ia juga meraih dua medali perak pada ajang Asian Paragames di Singapura di edisi berikutnya. Tentu ini jadi prestasi manis yang sebelumnya tak pernah terpikir di benak Yadi. Ada rasa bangga pada diri Yadi. Sebab, meski menjadi teman netra, ia justru bisa menuai prestasi dan mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.

"Kepuasan buat saya, ternyata sebagai disabilitas ada hikmahnya, kita bisa ke luar negeri. Terutama waktu dapat medali, naik podium dan mendengar lagu Indonesia Raya. Saya merasa bangga, walaupun dengan keterbatasan, tapi bisa mengharumkan nama bangsa di internasional," papar Yadi.

Kini, Yadi terus memburu prestasi untuk mengharumkan bangsa. Tahun ini, ia seharusnya mengikuti kejuaraan di Filipina. Namun, kejuaran itu dibatalkan karena pandemi COVID-19.

Di tengah kekecewaan karena kejuaraan itu batal digelar, Yadi langsung mengalihkan fokusnya. Ia kini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Asian Paragames 2021 di Vietnam.

Meski ada berbagai kendala berlatih di tengah pandemi COVID-19, ia tetap bersemangat. Ia kini berlatih keras secara mandiri. Sebab, tak ada pelatihan nasional (pelatnas) secara fisik.

"Karena enggak ada pelatnas, jadi latihannya mandiri. Sebenarya kalau pelatnas, latihan dengan tim, semangatnya beda, suasanya beda, ke kita juga lebih masuk (lebih mudah berlatih). Kalau latihan mandiri di rumah, kadang ada gangguan, kurang fokus," tutur Yadi.

Meski begitu, kendala yang ada harus dihadapi. Sebab, pandemi COVID-19 memang memaksa semua orang untuk menyesuaikan diri dalam melakukan beragam aktivitas, termasuk Yadi dalam berlatih. Ia pun berharap bisa meraih hasil maksimal dalam kejuaraan di Vietnam tersebut.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler