'Terapi Holistik' ala Prinska Damara Sastri

Bandung - Meski terlihat simpel, namun bercocok tanam atau berkebun rupanya bisa jadi terapi bagi kita. Terapi holistik ini bisa jadi solusi untuk seseorang yang mengalami depresi atau pikiran berlebih (overthinking). Bagaimana bisa, ya?

Beritabaik.id punya kesempatan berbincang dengan Prinska Damara Sastri, psikolog yang kini sedang asyik berkegiatan dengan Kebun Damara miliknya. Ia menyebut bercocok tanam atau lebih spesifiknya berkebun bisa menjadi terapi bagi kesehatan mental. Bahkan, apa yang ia lakukan bersama Kebun Damara pun diakuinya sebagai eskapisme (pelarian sesaat) dari rutinitasnya sebagai pekerja kantoran.

Bagi Prinska sendiri, pengalaman berkebunnya bukan seutuhnya dikarenakan faktor psikologis atau pekerjaannya sebagai seorang psikolog, melainkan ketertarikan orang tuanya terhadap tanaman. Namun, setelah menjalani kegiatan bekerja dari rumah, ia justru menemukan keseruan tersendiri dari bercocok tanam. Lebih lanjut lagi, ia mendapat beberapa pelajaran penting dari bercocok tanam, termasuk kaitan bercocok tanam dengan terapi kesehatan mental.

Menurutnya, dengan berkebun, fokus pikiran seseorang akan terbantu untuk meningkat. Sebab saat kita berkebun, secara otomatis kita akan memikirkan tumbuhan yang kita rawat. Berlatih fokus dengan media bercocok tanam ini juga menurutnya masuk ke bagian lain dari terapi mindfulness.

"Proses bercocok tanam itu bisa jadi proses terapi. Selain itu, proses tumbuh kembang tanaman itu secara enggak langsung bakal ngajarin kita akan banyak hal. Mulai dari penerimaan, enggak semua bibit yang kita tanam itu harus tumbuh loh, di situ kita dapet poin untuk belajar merelakan. Selain itu, menunggu tanaman kita tumbuh jadi bagus itu kita ngelewatin proses yang enggak sebentar. Dari situ aja kita udah dapet dua poin, belajar merelakan dan belajar sabar," beber wanita kelahiran 22 Mei 1991 ini.

Baca Ini Juga Yuk: Yadi Sopian, Berprestasi di Luar Negeri Usai Jadi Teman Netra

Lebih spesifik lagi, Prinska berharap terapi holistik berkebun ini dapat diterapkan oleh klien-kliennya. Ia menyebut seseorang dengan keluhan depresi dapat diarahkan untuk menjalani terapi holistik berkebun ini. Pasalnya, seseorang dengan keluhan depresi disebut memiliki energi yang mengendap dalam dirinya, sehingga berkebun dapat dijadikan media bagi mereka untuk mulai bergerak dan fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan saat ini.

Ia menambahkan, apabila dikaitkan dengan terapi mindfulness yang belakangan ini sedang jadi perbincangan hangat, berkebun bisa jadi pola meditasi tersendiri. Sebab, selain bergerak, kamu akan terlatih untuk menyadari, menerima, dan juga fokus terhadap tanaman yang kamu rawat.

"Bisa banget untuk terapi bagi klien yang kena depresi. Soalnya kalau 'hanya' meditasi aja, itu menurutku enggak semua orang tahan karena kegiatannya hanya duduk aja kan. Nah, kalau berkebun itu, kita dihadapkan dengan kegiatan langsung, enggak hanya duduk kayak meditasi aja," ujar wanita yang juga tertarik mendalami beberapa kegiatan mindfulness seperti meditasi dan olah nafas ini.

Dari berkebun, seseorang juga menurutnya bisa mengambil energi baik dari alam. Selain itu, berkebun juga bisa dilakukan oleh berbagai segmen karena praktik berkebun itu relatif mudah. Ia menyebut dalam memelihara tanaman, kita ‘hanya’ perlu tiga unsur yakni air, tanah, dan matahari.

Selain terapi holistik, dari kegiatan berkebun pula kita bisa belajar menghargai proses. Pasalnya, dalam satu periode panen biasanya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Proses pengenalan diri dengan alam juga bisa dijembatani oleh kegiatan ini. Sudah barang tentu, berkebun akan membuat kita dekat dengan media tanam seperti tanah, air, bibit, dan lain sebagainya. Unsur alam itulah yang secara tidak langsung akan kita kenal, termasuk jenis-jenis dan karakteristik tumbuhannya.

Berkebun juga menurut Prinska cocok diterapkan oleh segmen 'ibu-ibu', atau ia menyebutnya 'ibu-ibu komplek' dan anak-anaknya. Maraknya perkembangan teknologi dan masifnya penggunaan gawai di kalangan anak-anak membuat anak generasi sekarang cenderung tidak lagi mengenal alam. Nah, proses berkebun dari rumah sekalipun dapat menjadi tahap pengenalan awal sang anak terhadap sesuatu yang bersifat analog atau non teknologi.

Lebih lanjut lagi, Prinska menanggapi fenomena bercocok tanam yang belakangan sedang jadi tren ini agar tetap lestari dan tidak hanya ramai saat sedang jadi tren saja. Menurutnya, selain keberadaan tanaman yang juga perlu perawatan yang baik dari manusia, proses bercocok tanam juga bisa menjadi ajang bagi tiap manusia untuk lebih dekat dengan alam.

"Kalau saya pribadi sih memulai bercocok tanam di rumah, di halaman yang masih kecil banget itu sebagai persiapan fisik karena saya bermimpi di usia tua nanti saya ingin punya kebun," pungkasnya.

TemanBaik, adakah di antara kamu yang mulai menjalani kegiatan berkebun? Coba sebutkan, apa tumbuhan yang sudah kamu tanam dan caramu memperlakukannya!

Foto: Dok. Kebun Damara‘Terapi Holistik’ ala Prinska Damara Sastri

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler