Berkenalan dengan Yanto, Pengabadi Momen di Pantai Gunung Kidul

Yogyakarta - Sesi foto saat berwisata seolah jadi pelengkap yang mesti ada dalam tiap edisinya. Saat tidak membawa juru potret pribadi, kehadiran fotografer tempat wisata tentu biasanya jadi andalan para turis.

Apabila beberapa waktu silam kita sempat berbincang dengan Nara, seorang fotografer yang punya ribuan jepret kebersamaan keluarga di Kebun Binatang Bandung, kali ini kami berbincang dengan Yanto (24) seorang fotografer pariwisata di Pantai Pok Tunggal, Gunungkidul, Yogyakarta.

Untuk kamu yang belum pernah ke kawasan wisata ini, di sini ada lebih dari 10 pantai yang bisa kamu kunjungi. Tiap pantai punya "sensasi" dan keunikan masing-masing untuk dipotret.

Yanto sendiri mulai belajar fotografi sekitar tahun 2013 secara otodidak. Saat itu ia masih berusia 17 tahun. Mengaku tak bisa melanjutkan sekolah, ia kemudian mempelajari fotografi dan mulai jadi "tukang foto" di Kawasan Wisata Pantai Sundak, yang masih bagian dari pantai-pantai yang ada di Gunungkidul.

Awalnya, ia membeli seperangkat kamera dengan alat cetak fotonya. Boleh jadi, saat itu belum banyak akses teknologi yang bisa dieksplorasi.

"Saya ini enggak melanjutkan sekolah. Tapi alhamdulillah-nya punya modal untuk buka usaha," ujarnya.



Baca Ini Juga Yuk: Sisi Lain Pemain Persib Kim Jeffrey Kurniawan

Saat ini, Yanto menjadi fotografer pantai bersama 11 fotografer lainnya. Saban hari ia pergi ke pantai dan mengambil potret kebersamaan keluarga. Pukul tujuh pagi, Yanto sudah "jeprat-jepret" sana-sini. Ia dan kawan-kawannya punya beberapa lensa untuk mengambil potret "klien-nya". Jarak dari rumah Yanto ke lokasi pantai memang tidak terlalu jauh. Ia tinggal di daerah Jetis, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, sekitar 8 kilometer dari kawasan pantai.

Proses memotret biasanya dilakukan Yanto secara diam-diam agar hasil fotonya terlihat natural. Setelah pengunjung dirasa akan meninggalkan area pantai, maka ia akan menghampiri dan menawarkan hasil fotonya. Satu jepretan Yanto dijual dengan harga Rp.3 ribu. Ia juga biasanya dibantu istrinya, Putri, dalam bekerja sehari-hari. Selain juga ikut memotret, Putri biasanya jadi orang yang mengurusi pengiriman data foto kepada calon pembelinya.

Sejak pindah lokasi motret ke Pantai Pok Tunggal (sebelumya memotret di Pantai Sundak), Yanto tidak lagi menerapkan sistem cetak foto saat memberikan hasil foto kepada calon pembeli. Ia hanya menjual fotonya dalam bentuk digital. Jadi, hasil foto yang sudah diambilnya akan dikurasi sendiri oleh calon pembeli. Setelah memilih beberapa jenis foto, maka nanti si calon pembeli bakal mendapatkan fotonya dengan cara transfer data langsung lewat kabel USB, atau dikirim via daring.

Sama seperti beberapa fotografer tempat wisata lainnya, tantangan yang dihadapi Yanto dan kawan-kawannya adalah beberapa pengunjung yang enggak jarang bikin jengkel. Kenapa demikian? Menurut Yanto, enggak jarang dirinya dimarahi pengunjung yang mengaku enggak suka dipotret. Namun, setelah ia minta maaf dan menghapus fotonya, enggak lama kemudian sang pengunjung menghampirinya lagi dan meminta fotonya.

Selain itu ada pula pengunjung yang minta dipotret. Setelah dipotret dengan berbagai macam gaya, si pengunjung ini malah menghilang, biasanya dengan embel-embel pesan nanti akan membayar pesanan fotonya tersebut. Belum lagi, tak jarang harga foto per bingkainya yang tergolong relatif murah ini masih saja ditawar oleh calon pembeli.

"Tapi ya dinikmati saja. Mungkin itu seni-nya bekerja jadi fotografer pantai," ujar Yanto.

Baru-baru ini ia tersadar akan pentingnya portfolio memotret, agar dirinya bisa mengembangkan jejaringnya sebagai fotografer. Ia kemudian membuat akun Instagram @fotograferpantai. Usia akun Instagramnya ini baru sebesar jagung, dan nampak baru ada sedikit unggahan yang ditampilkan. Namun, Yanto menyebut akan mengelola media sosial ini sebagai portfolio dan sarana promosi. Pasalnya, enggak jarang ia juga menggarap beberapa sesi dokumentasi seperti foto pra-pernikahan alias pre-wedding, hingga foto pernikahan.

Sudah tujuh tahun menekuni pekerjaan seperti ini, Yanto merasa sangat senang. Terlebih, ia mengaku kadang merasa tidak percaya kalau dirinya yang belum pernah sekolah fotografi bisa hidup dari kegiatan memotret. Dalam sehari, kalau sedang kebanjiran pembeli ia berhasil menjual sampai 500 jepret fotonya. Namun, ia dan sang istri juga mengaku pernah pulang tanpa membawa uang sepeser pun.

Terpaan pandemi yang sempat mengguncang sektor pariwisata juga diakui Yanto jadi salah satu tantangan. Sebab, ia merupakan orang yang berpenghasilan harian, yang sudah tentu bergantung pada wisatawan yang datang mengunjungi pantai.

"Kalau orang-orang yang tinggal di tempat wisata, ya hidupnya mau dari mana lagi selain dari tempat wisata itu sendiri," terangnya.

Selain berharap diberikan kesehatan, Yanto juga berharap agar situasi sulit dampak dari pandemi ini segera berlalu. Ia mengaku sudah sangat rindu memotret kebersamaan keluarga yang bermain-main di pantai. Sebagai informasi, saat kami berjumpa dengan Yanto di area pantai, kawasan ini tidak seramai seperti biasanya. Jumlah wisatawan yang hadir pun nampak bisa dihitung dengan jari.

TemanBaik, yuk kita sama-sama berdoa agar pandemi ini segera berakhir. Sebab, kalau pandemi sudah berakhir, kita bisa berwisata tanpa membawa rasa khawatir, dan masyarakat yang hidupnya bergantung pada sektor wisata dapat kembali bernafas lega. Tetap semangat!

Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler