Oktaria Asmarani, dari Filsafat, Jurnalistik, & Lingkungan Hidup

Ubud - Bisa menjadi produktif di usia muda adalah kesempatan berharga bagi tiap orang. Salah satu contohnya adalah Oktaria Asmarani.

Gemar menulis sejak remaja, wanita yang akrab disapa Rani ini pernah memiliki niat yang kuat untuk menjadi seorang jurnalis. Saat duduk di bangku SMA, Rani sempat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Namun, saat Rani hendak masuk perguruan tinggi, pembimbing kegiatan ekskulnya justru menyarankan Rani untuk mencari jurusan kuliah lain yang bisa menunjang pekerjaannya menjadi seorang jurnalis kelak.

Merasa kalau jurusan filsafat bisa menunjang profesi kewartawanan, pada tahun 2015, Rani yang tumbuh di Bali ini memilih untuk masuk ke jurusan filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Di kampus itu pula, Rani bergabung dengan Pers Mahasiswa.

"Filsafat itu kan pada dasarnya mengasah kita untuk berpikir kritis, komprehensif, dan koheren. Ini penting banget untuk nantinya aku mengajukan pertanyaan, memilih isu, dan lain sebagainya. Aku pikir saat itu, hal-hal tersebutlah yang bisa menunjang pekerjaanku kalau-kalau nanti menjadi seorang wartawan," terangnya kepada Beritabaik.id.

Seiring berjalannya waktu, Rani yang kemudian makin akrab dengan jurusan kuliahnya yakni filsafat dan tentunya dengan kegiatan jurnalistiknya di pers mahasiswa seolah berada di sebuah persimpangan jalan. Namun pada akhirnya, ia mengaku justru ketertarikannya pada dunia filsafat dirasa makin kuat ketimbang menjadi seorang jurnalis.

Baca Ini Juga Yuk: Serunya Perjalanan Ade Putri, Dua Dekade Jadi Pencerita Kuliner

Lebih lanjut, ia mengaku tidak punya energi yang cukup untuk mengikuti kecepatan arus industri media saat ini. Namun, ia merasa tetap perlu mengasah kepekaannya terhadap isu-isu yang bisa ditulis menjadi produk jurnalistik. Alasan itulah yang membuatnya tetap bertahan di pers mahasiswa. Saat itu ia berharap kalau nantinya ia kembali pulang ke Bali setelah lulus kuliah, ia bisa tetap menulis tanpa perlu menjadi jurnalis media mainstream.

"Karena sempat mencicipi jadi wartawan pers mahasiswa dan juga pernah jadi wartawan musik, ditambah lagi aku berdiskusi sama senior-seniorku tentang industri media, aku ngerasa kayaknya enggak cocok sih kalau masuk industri (media). Aku enggak punya endurance untuk nulis cepat dan banyak," terangnya.

Konsep yang telah digagasnya itu juga berbarengan dengan perkenalannya dengan Balebengong, sebuah media alternatif asal Bali yang menghadirkan jurnalisme warga. Mengenal Balebengong sejak 2013, Rani terpikir ingin membuat sesuatu bersama media alternatif itu saat lulus kuliah nanti. Dan pada pertengahan tahun 2019, Rani yang telah selesai menempuh pendidikan S1 kembali pulang ke Bali lalu bergabung dengan Balebengong. Awalnya, ia mengaku bergabung sebagai anak magang, yang kemudian ditarik menjadi kontributor.

Merasa punya kecocockan dan visi serta misi yang sama, Rani kemudian aktif di Balebengong. Ia menulis berbagai artikel, tentu dengan topik yang juga beragam. Latar belakangnya sebagai "anak filsafat" banyak mempengaruhi gaya menulisnya.

Enggak berhenti di situ, Rani juga menyimpan ketertarikan di bidang lingkungan hidup. Berawal dari pekerjaan ayahnya di Badan Lingkungan Hidup Bali, ditambah lagi pengalamannya menulis tentang isu perempuan, sosial, dan lingkungan saat menjadi jurnalis semasa kuliah, Rani menyadari ketertarikannya terhadap lingkungan mulai tumbuh. Bergeser dari jurnalistik, wanita kelahiran 1996 ini mulai tertarik untuk berkantor di NGO.

Keinginannya terwujud hanya selang beberapa bulan setelah bergabung dengan Balebengong. Mulai November 2019, Rani kemudian bergabung dengan Role Foundation, sebuah organisasi di Bali yang berfokus pada isu lingkungan hidup. Di sana, Rani berposisi sebagai Environmental Education Manager.

Bersama Role Foundation, ia menjalankan berbagai program mulai dari pendidikan lingkungan untuk anak sekolah, pengelolaan sampah, permakultur, hingga fasilitas daur ulang. Kendati dihantam pandemi virus korona, program-programnya bersama Role Foundation tetap berjalan. Beberapa programnya yang masih berjalan antara lain daur ulang sabun mandi.

"Saat ini kantorku (Role Foundation) tuh memang kayak kantor semi terbuka. Kebanyakan kebun, dan orang yang dateng itu bisa belajar banyak hal tentang lingkungan," ujarnya.

Baca Ini juga Yuk: Muhammad Athar, Penantang Bahaya Berusia 10 Tahun

Upaya yang dilakukan Role Foundation adalah berbagi dengan masyarakat tentang pengetahuan ekologi lewat pendekatan sederhana yang bisa dilakukan di rumah seperti misalnya diet sampah, pengelolaan sampah, atau berkebun. Intinya, menurut Rani, edukasi yang dibagikan adalah edukasi yang bisa ditiru setiap orang dari rumahnya masing-masing.

Menjalankan dua kegiatan antara menulis di media dengan latar jurnalisme warga, dan berkantor di lembaga yang berfokus di bidang lingkungan hidup diakui sebagai hal yang menyenangkan oleh Rani. Sejak masih duduk di bangku kuliah, ia memang sudah berkeinginan ilmu yang didapatkannya bisa bermanfaat, khususnya saat ia kembali pulang ke Bali. Dan apa yang dijalaninya hari ini merupakan sesuatu yang sangat ia syukuri.

Terkait filsafat, jurnalistik, dan lingkungan hidup yang merupakan tiga hal penting dalam perjalanan Rani, ia menyimpulkan kalau kegiatannya saat ini enggak bisa dilepaskan dari keputusannya mengambil jurusan filsafat semasa kuliah. Ia merasa modal yang dimilikinya untuk menjalankan kegemarannya adalah modal gagasan dan filosofis, yang diharapkannya bisa menjadi sumbangsih positif. Ya, mungkin ini sejalan juga dengan peribahasa filsafat adalah ilmu dari segala ilmu. Ada yang pernah dengar?

Sebagai pamungkas, Rani berharap semangat berbagi dari kedua tempat ia bekerja tetap menyala dan bisa terus saling menguatkan. Ia juga mengajak siapapun dan di manapun TemanBaik berada untuk saling membagikan pengetahuan dan hal positif, utamanya terkait isu lingkungan hidup.

"Untuk kegiatanku di Balebengong sih, aku berharap semangat berbaginya tetap kuat. Untuk kegiatan di lingkungan hidup, pada dasarnya aku enggak pernah memaksa orang untuk seolah lebih save earth gitu, hanya saja, kalau memang kalian punya pengetahuan yang bermanfaat untuk banyak orang, yuk kita saling berbagi," ajaknya.

TemanBaik, menyenangkan bukan bisa produktif di usia muda? Yuk, mulai bergerak dan menata lagi tujuan-tujuan yang sempat tertunda. Tetap semangat, ya!

Foto: dok. Istimewa/Oktarian Asmarani/Kembali Festival 2020


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler