Kenalan Sama Galih, Peramu ‘Bazingga Metzger’ yang Senang Berbagi

Bandung - Kuliner dan dunia dapur memang sudah dekat dengan Galih Prabu Anindita. Dari dunia itulah, ia bisa berlayar keliling dunia. Di tengah terpaan pandemi virus korona, Galih pulang ke Indonesia dan mendirikan produk kuliner Bazingga Metzger.

Beritabaik.id punya kesempatan untuk ngobrol dan merekam kegiatan Galih saat memproduksi olahan daging di Bazingga Metzger. Produk kuliner berbahan dasar daging ini didirikannya selepas masa karantina wilayah, atau sekitar bulan Agustus 2020. Selain ngobrol seputar produknya, kami juga banyak bertanya seputar pengalaman Galih, yang sudah malang melintang sebagai Juru Masak. Ia telah menjajakkan kaki di berbagai belahan dunia sebagai juru masak. Selain banyak terjun merumuskan puluhan hingga ratusan menu kuliner, menguasai lebih dari tiga bahasa asing, namun Galih punya sisi lain yaitu selalu ingin berbagi kebahagiaan dengan orang terdekatnya.

Ingin kenalan lebih jauh dengannya? Simak obrolan kami dengan Galih yuk!

Kang Galih, gimana awalnya bikin produk Bazingga Metzger ini?

“Awalnya sih karena mau survive alias bertahan hidup selama pandemi. Saya enggak bisa pulang ke rumah istri di Hungaria. Akhirnya saya tinggal di Indonesia. Dan saya berpikir kegiatan ini tuh sebagai wadah berkegiatan buat orang-orang di sekitar saya, dan juga bisa jadi solusi buat temen-temen yang kepingin makan daging dengan harga murah lah. Bisa dibilang begitu, ya.”

Jadi, dunia kuliner ini memang sudah deket sama Kang Galih, ya?

“Hmm, gimana ya? Saya agak risih kalau dibilang seorang Chef. Nanti tuh biasanya ada ekspektasi ‘Kok Chef masaknya gini, kok Chef masaknya gitu?’ hahaha. Saya lebih suka disebut tukang masak aja lah. Tapi ya, begitu lah. Dunia dapur, itu kayaknya emang udah dekat dengan dunia ini sejak kuliah deh. Tahun 2005 saya masuk ke salah satu universitas pariwisata di Bandung, dan jurusannya memang tata boga. Dari situ deh kenal sama dunia masak memasak.”

Kapan memulai karir di dunia tata boga ini?

“Mulai profesional itu sejak 2009. Saya pertama kerja tuh jadi pemotong salad, nyuci-nyuci bahan makanan gitu. Nah, lalu saya dipromosiin dan jadi first cook di tiga outlet. Dan banyak terlibat langsung di acara menu update dan menu planning buat restoran Brazil. Di situlah akhirnya saya dapet banyak referensi tentang menu daging-dagingan.”

Memang influence rasa makanan Kang Galih itu apa?

“Saya sih terus terang ke masakan Brasil dan Eropa Timur.”

Karakter makanan seperti apa yang berasal dari sana?

“Kalo dari Brasil itu, karena di mereka tuh sekalian untuk minum (alkohol) begitu, dan juga disesuaikan sama udaranya yang panas, jadi di sana tuh tipe makanannya gurih, pedas, dan asam. Lah, jadi kayak cuankie, ya? Hahaha. Tapi ya, memang demikian. Berbeda dengan Eropa Timur yang bermain dengan bumbu dan sangat simpel banget sebetulnya. Jadi, (bumbu) apapun yang ada, ya itu diolah.”

Lebih gampang masakan Eropa Timur dong ya kalau ngolahnya?

“Sebenarnya masakan Eropa itu simpel banget loh. Dan enggak banyak orang tahu, kalau masak makanan Indonesia jauh lebih ribet dari masak makanan Eropa atau Brasil tadi. Di Eropa tuh kalau masak sup tinggal panasin minyak, masukkin bawang putih, air, bumbu, daging, udah beres. Nah, kalau di kita kan ada sesi tumis-tumisan lah, ada banyak varian bumbunya lah. Ada bumbu merah, kuning, putih, intinya lebih ribet.”

Masakan paling sulit yang Akang pernah buat tuh apa?

“Hmmm. Apa ya? Sebetulnya enggak ada masakan yang sulit sih. Mungkin yang bikin ribet itu cara penyajian karena karakter makanannya itu sendiri. Orang Indonesia yang lidahnya familiar dengan bumbu-bumbu, mungkin akan mengklaim masakan di wilayah tertentu, kok kayak hambar, ya?”

Ada beragam masakan yang akang kuasai dong ya?

“Bisa dibilang gitu. Ya karena memang banyak terlibat nyusun menu buat hotel sih ya. Jadi secara enggak langsung itu berpengaruh gede sama perbendaharaan menu kita.”

Dari sekian banyak masakan yang akang kuasai, makanan favorit akang sendiri apa?

“Saya malah doyan sayur kacang. Hahaha. Dan saya kalau lagi di rumah itu enggak pernah masak. Saya selalu pesan sama orang tua biar orang tua ajalah yang masak.”

Dunia dapur itu sekejam yang diperlihatkan di layar kaca enggak sih?

“Saya deket sama dunia dapur ini waktu kuliah di jurusan tata boga. Dan di sana tuh emang saya digembleng luar biasa. Saya dikunci di dalem chiller lah, disuruh ngunyah bawang, minum jus brotowali. Memang bukan racun sih, ya. Tapi coba aja kamu ngunyah bawang, kan males ya? Hahaha. Jadi, memang kekejaman itu ada, hanya saja si kekejaman ini berlangsung selama masa servis aja. Jadi, pas benar-benar kita lagi di dapur, kita harus konsentrasi, dengerin juru masaknya pesan apa aja, dan banyaknya bunyi dari mulai penyedot udara, suara piring yang dicuci, itu bikin stres. Dan di situlah biasanya kata-kata kasar terucap. Hahaha.”

Menyenangkan enggak sih kerja di dapur tuh?

“Karena saya kerja sama orang bule ya. Jadi, kultur di sana tuh kalau di ruang kerja, mereka bisa ngomong kasar banget. Tapi begitu keluar dapur, kita bisa duduk bareng dan kalau kamu merokok, ya bisa merokok bareng lagi.”

Apa nilai atau value yang Kang Galih dapetin dari dunia masak memasak?

“Banyak. Salah satunya saya bisa ngerti karakter seseorang dari cara mereka pesan makanan. Kebetulan, pendekatan saya tuh personalize service, atau mengerjakan pesanan makanan pakai pendekatan personal. Jadi, dalam situasi tertentu saat saya jadi juru masak, saya bisa samperin itu konsumen lalu nanya, lagi pengen makan apa, lagi kangen masakan apa, terus saya buatin deh.”

Apakah di kegiatan bisnis sekarang, pendekatan personal itu masih Akang pakai?

“Masih. Jelas atuh. Lucunya nih, karena saya pakai pendekatan personal saat ngejalanin si Bazingga Metzger ini, jatuhnya orang-orang tuh jadi malah banyak yang curhat ke saya. Hahaha.”

Tapi jadi keganggu dong, kang?

“Enggak lah. Saya emang kepingin si Bazingga ini jadi wadah ngumpul. Wadah bertukar ide aja. Ya, walau berangkatnya dari kuliner.”

Apa yang ngebedain antara jadi Juru Masak dan pebisnis kuliner?

“Saat jadi pebisnis kuliner tuh saya, dari segi finansial, emang enggak se-wah saat jadi juru masak ya. Tapi saya jadi lebih tenang aja. Pusingnya tuh hanya dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore.”

Jadi, lebih bahagia menjadi pebisnis kuliner dong daripada Juru Masak?

“Di satu sisi iya. Karena saat sekarang saya sebagai pebisnis kuliner, saya bisa berbagi kebahagiaan sama temen-temen yang mungkin terdampak pandemi. Saya bisa mengukur sendiri dengan uang yang mungkin enggak besar, tapi kita bisa ngerasain makanan yang enak dan mewah. Katakanlah begitu, ya. Di sisi lain, saat jadi Juru Masak, itu tantangannya luar biasa, di samping pendapatan kita juga ya lebih tinggi ya untuk saat ini sih.”

Di Bazingga Metzger ini akang masang harga yang bisa dibilang cukup murah. Apa alasannya?

“Nah itu dia tadi. Saya kepingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang. Saya enggak punya uang buat sedekah nih, paling enggak saya bisa ‘sedekah’ dari profit. Sedekah kebahagiaan gitu. Ada orang beli Sirloin atau Tenderloin dengan harga yang murah, terus dia jadi berteman personal dengan saya, konsultasi penyajian lewat video call, itu kan berbagi kebahagiaan ya.”

Produk Bazingga Metzger ini dianter manual alias kalian punya kurir sendiri, ya?

“Untuk wilayah Bandung Raya sih iya. Kita bahkan pernah nganterin ke Banjaran dan Cicalengka. Posisi kita kan di Parongpong. Ya, kebayanglah ujung ke ujung ya. Hahaha. Meski kadang suka gondok juga kalau konsumen nyeletuk ‘wah, ini harganya kemahalan nih,’ tapi ya sudahlah. Saya sih nganggepnya itu seni berdagang aja.

Pola pengantaran manual ini kita pilih biar kita deket sama pelanggan kita. Ada banyak sentuhan personal dalam produk-produk Bazingga Metzger ini.”

Dalam menangani konsumen orang Indonesia dan orang luar Indonesia, akang sudah nemu perbedaannya?

“Orang kita itu, selain pake lidah, mereka pake hati. Maksudnya, ada sisi lain yang jadi penilaian mereka. Seperti ‘oh ini biasa aja, tapi Chef-nya baik tuh baik,’ walaupun masakan saya enggak enak, begitu. Dan enggak jarang aspek ini jadi sesuatu yang gede juga loh, walau tipikal begini tuh kurangnya saya jadi enggak dapat kritik atas performa saya. Kalau pelanggan bule itu meskipun dia permintaannya rewel dan bikin kesel, tapi kita jadi banyak belajar.”

Berbicara soal konsumen, karena levelnya Internasional, akang jadi belajar banyak bahasa dong?

“Iya. Bener banget. Saya jadi bisa bahasa Spanyol, Prancis, Danish, dan beberapa bahasa negara Eropa. Tapi lucunya, saya enggak bisa bahasa Hungaria. Padahal, istri saya orang Hungaria. Hahaha, susah banget soalnya belajarnya.”

Di luar kuliner nih, berarti akang punya kiat dong buat kita yang kepengin belajar bahasa asing?

“Banyak ngobrol aja. Saya juga istilahnya learning by doing lah. Dan saat saya memberanikan diri ngomong pakai bahasa mereka ke konsumen luar, nanti biasanya suka dibenerin sama mereka. Dikoreksi begitu. Nah, di situ deh kita belajarnya.”

Setelah akhirnya ‘pulang’ ke Indonesia, Akang mau lanjut terus tinggal di sini atau balik lagi ke Eropa?

“Kalau keinginan pribadi sih di Indonesia ya. Karena puasanya enggak terlalu lama, hahaha. Enggak sih, ya lebih nyaman aja di Indonesia. Tapi kalau ngaitin ini sama keberadaan Bazingga, saya kepinginnya tetap stay di Indonesia sampai saya punya resto atau offline store lah. Saat ini saya ngejalanin Bazingga ini sama dua orang. Nah, saat si dua orang ini bisa saya lepas, dan usahanya jadi auto pilot, kemungkinan saya akan balik lagi ke dapur sebagai Juru Masak, tapi saya pengen si Bazingga ini udah punya wadah untuk ngumpul, ya udah ada offline store lah.”

TemanBaik, berkaca dari obrolan kami dan Galih, sehebat dan sebanyak apapun pengetahuan kita tentang satu hal, maka hal yang jangan sampai kita lupakan adalah membagikannya kepada orang-orang terdekat. Galih sudah mencontohkannya. Sebelas tahun ia keliling dunia sebagai juru masak, namun saat ia sedang berada di rumah atau di Indonesia, ia membuat produk dan membagikan kekayaan palet lidah yang dimilikinya dalam bentuk masakan, yang dijual dengan harga bersahabat. Selain itu, kegiatannya menekuni bisnis kuliner juga membuka peluang dan rezeki bagi orang-orang terdekatnya.

Yuk, lebih semangat lagi berbagi kebahagiaan dengan sesama ya. Jaga selalu api semangatnya ya, TemanBaik!

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler