Nina Nihayatul Husniah, Dahulukan Orang Tua Sukses Kemudian

Jember - Gagal dalam ujian masuk universitas dan institusi pendidikan lainnya kerap menimbulkan rasa ketidaknyamanan tersendiri. Rasa iri melihat teman-teman yang lolos seleksi dan juga cibiran dari lingkungan kerap mengerdilkan perasaan dan harapan. Hal ini pula yang dialami Nina Nihayatul Husniah alias Nina hingga tiga tahun lalu.

"Saya lulus SMA tahun 2016. Selepas itu, tentu langsung ikut SBMPTN, tapi tidak lolos. Ikut ujian mandiri, sama tidak lolosnya. Pun begitu saat memutuskan seleksi masuk ke beberapa sekolah seperti akpol, TNI, bahkan IPDN karena saya juga ingin sekali menjadi abdi negara. Namun tetap saja, tidak ada yang lolos satu pun. Saat itu, saya langsung instrospeksi diri. Apakah ada yang salah? Saya pun berjuang memperbaiki diri, baik dari sisi akademis maupun ibadah. Tujuannya tentu agar berhasil saat kembali mencoba di tahun berikutnya. Namun ternyata, 2017 tidak berbeda dari sebelumnya. Tidak ada yang lolos juga," tutur Nina mengenang masa-masa tersebut.

Rasa kecewa Nina dan kepercayaan dirinya juga tergerus, terlebih setelah beberapa tetangga turut mencibirnya. Malu, minder, merasa gagal, semua bercampur aduk dalam hati Nina. Gadis penyuka warna putih ini pun tak luput mempertanyakan maksud Tuhan yang seolah tak merestui keinginan sederhananya.

Namun, Nina bukannya tidak berkegiatan. Wanita muda kelahiran Jember, 30 Agustus 1997 ini bahkan sudah sejak lama melakoni usaha produksi keripik.

"Jiwa dagang sepertinya memang merupakan warisan dari orang tua. Untuk produksi keripik sendiri, awalnya karena di depan rumah kan ada pohon sukun. Kalau sedang berbuah, kami olah sendiri dan juga ada yang dibagi-bagikan ke tetangga, tetapi sepertinya kurang dihargai karena 'cuma sukun'. Dari situlah kemudian ide membuat sukun jadi lebih bernilai dengan menjadikannya sebagai olahan keripik muncul," jelas Nina.

Usaha produksi keripik tersebut pun sudah berjalan sejak dia duduk di bangku SMP. Nina dan kakak nomor duanya yang ada di rumah membantu orang tua membuat keripik. Namun sejak sang kakak lulus SMA dan meneruskan studi di Surabaya, praktis tinggal Nina seorang yang menjalani. Terlebih lagi, kini kondisi orang tua yang tak sebugar dulu juga membuat gadis berjilbab ini berusaha sendiri.

Perjuangan Nina pun tak main-main. Kendati dirinya sendiri tak menempuh studi di perguruan tinggi, Nina berhasil membiayai kuliah sang kakak di Kota Pahlawan.

Baca Ini juga Yuk: Cerita Erwan Setiawan, Pemandu Museum yang Piawai Bahasa Isyarat

Rasa insecure Nina baru hilang sejak pertemuannya dengan alm. Firaz Chalid pada 28 Desember 2017. Seorang Camat di Umbulsari—kecamatan tempat Nina tinggal—kala itu menjadi sosok yang menjernihkan wawasan dan hati Nina yang sempat keruh selama beberapa lama. 

"Kali pertama saya bertemu dengan Bapak (Firaz) adalah saat ada acara pameran UKM se-Jember. Waktu itu, saya dan ayah saya baru selesai mengantarkan keripik ke beberapa tempat. Kami baru tahu bahwa ada pameran UKM tersebut setelah dikabari oleh salah satu pelanggan yang baru kami singgahi. Saat itu juga, saya dan Ayah langsung meluncur ke lokasi," jelas Nina.

Nina lantas memperkenalkan dirinya sebagai seorang warga Umbulsari yang juga menjadi pelaku UKM. Beliau disambut hangat dan diminta untuk turut memamerkan hasil produksinya. Sembari menunggu acara pembukaan, Nina dan sang camat pun berbincang-bincang.

"Bapak (Firaz) menyukai produk yang saya buat. Beliau pun meminta saya untuk menceritakan kisah hidup saya. Ada satu hal yang sangat menancap betul dalam pikiran dan hati saya. Selesai saya bercerita, Bapak (Firaz) meminta saya untuk bersabar sebab yang namanya hidup, memang harus berusaha. Semua yang diberikan Allah pasti adalah yang terbaik—bari dari bentuk, proprosi, maupun waktunya—sebab Allah lebih tahu apa saja yang terbaik bagi setiap hamba-Nya. Pun Allah juga tidak akan memberi 'ujian' di luar batas kemampuan," jelasnya.

Nina juga mengatakan bahwa pimpinan daerahnya tersebut mengingatkannya untuk bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk berbakti pada orang tua. "Beliau bilang, abdi orang tua terlebih dahulu, baru abdi negara. Kamu juga hebat, bisa membantu membiayai kuliah kakakmu. Tidak banyak orang yang bisa seperti itu," kenangnya.

Pertemuan tersebut tak cuma menggusur gusar yang ada di dada Nina, tetapi juga membuka kesempatan dan pintu rezeki lainnya.

"Bapak (Firaz) juga bertanya, saya mau kuliah di mana, biar nanti diikutkan beasiswa. Kebetulan pada saat itu juga, Bupati datang untuk membuka acara. Saya diperkenalkan kepada Bupati dan juga disampaikan soal rencana beasiswa. Bupati menyambut dengan baik dan meminta untuk Bapak Camat langsung yang membantu mengurus persiapannya," tambahnya.

Namun rupanya, Nina mengalami kebimbangan saat akan menentukan pilihan. Setelah berkas selesai diurus dan memasuki tahap wawancara, anak terakhir dari tiga bersaudara ini bimbang memilih perguruan tinggi mana yang harus dipilih. Alm. Pak Firaz menyarankannya untuk memilih swasta karena dengan begitu, saya tetap bisa membantu orang tua di weekday dan baru berkuliah saat weekend.

"Saya juga sebetulnya lebih setuju, tetapi saat itu peluangnya saat itu ada untuk negeri. Karena bimbang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil terlebih dahulu dua-duanya," ujarnya

Di samping itu, Nina juga masih berfokus untuk membantu perekonomian keluarga. Dia pun tak menyesali keputusannya karena di sisi lain, dirinya menjadi punya kesempatan lebih banyak bertemu dan berbakti pada orang tua terutama setelah sang ayah mengalami stroke.

"Alhamdulillah, saya juga kembali dapat tawaran beasiswa untuk kuliah di tahun 2021 ini. Rezekinya ada saja. Sayangnya untuk saat ini memang, prioritas saya masih dengan keluarga dan mengembangkan usaha agar lebih besar. Insya Allah tahun depan, saya akan menempuh S1 dan berusaha untuk lanjut ke S2. Tidak masalah buat saya kalau memang nanti saya jadi mahasiswi paling tua saat memulai S1—toh saya tidak kuliah untuk mengejar status. Saya benar-benar ingin kuliah untuk mendukung usaha yang sudah saya jalani ini," pungkasnya.

Kini, usaha keripik Nina juga sudah jauh lebih berkembang. Dirinya menjadi pemasok utama di mayoritas pusat oleh-oleh besar, rumah makan besar, berbagai koperasi instansi, dan sebagainya di Kabupaten Jember. Produknya pun sangat bervariasi, mulai dari keripik pisang, keripik sukun, molen pisang, molen tahu, rengginang, dan sederet cemilan lainnya.

Foto: Dok. Istimewa

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler