Samanta Elsener dan Pengalamannya Jadi Psikolog

Jakarta - Dunia psikologi memberi rasa penasaran tersendiri bagi Samanta Elsener (31). Ia sudah menjadi psikolog sekitar lima tahun dan kini punya tempat praktik sendiri dengan nama Samanta Ananta Psychologist di Jakarta.

Selama perjalanan kariernya, ada banyak cerita menarik yang dialami. Kenal lebih dekat dengan Samanta, yuk!

Menjadi psikolog yang punya fokus utama di bidang anak dan keluarga, ia sudah menghadapi berbagai macam keluhan klien. Yang cukup sulit ditangani biasanya anak-anak.

Sebab, Samanta butuh perjuangan ekstra untuk menyelesaikan masalah atau keluhannya. Namun, hal itu memberinya ketertarikan tersendiri. Sebab, menangani anak kecil butuh kesabaran ekstra dan ketelatenan.

"Kalau menangani anak-anak itu lebih menantang buat saya sekaligus menyenangkan," ujar Samanta.

Ketika bertemu klien anak, Samanta harus benar-benar berusaha mendekatkan diri dengan berbagai cara. Sehingga, sang anak bisa terbuka dan mengetahui akar permasalahannya. Dengan begitu, solusi bisa dicari dan diselesaikan.

Meski butuh waktu lebih lama untuk menangani klien anak dibanding dewasa, ada sisi kepuasan lebih besar yang didapatkan ketika keluhannya bisa diatasi. Sebab, ketika klien anak bisa ditangani dan dicari penyelesaiannya, orang tua otomatis akan senang. Ujung-ujungnya, hal itu bakal bermuara pada harmonisnya kehidupan keluarga sang klien.

Klien anak pun berbeda-beda, ada yang benar-benar pendiam hingga melampiaskan ekspresi berlebihan ketika ditangani. "Saya pernah kok ngalamin dicakar, digigit sama klien anak," ungkap perempuan kelahiran Yogyakarta, 28 Juni 1989 itu.



Baca Ini Juga Yuk: Nina Nihayatul Husniah, Dahulukan Orang Tua Sukses Kemudian

Namun, berbagai perlakuan itu tak lantas membuatnya patah semangat. Hal seperti itu justru semakin membuatnya merasa tertantang. Ia pun berusaha untuk tak memberikan perlawanan ketika mendapat perlakuan tak mengenakkan dari klien anak.

Sebab, ia tahu betul bahwa anak-anak terkadang sulit mengendlikan emosi atau mengekspresikan sesuatu. Tak jarang, ia pun mempersilakan klien anak mengekspresikan berbagai perasaannya. Namun, secara perlahan, ia berusaha mengedukasi klien anak agar bisa mengendalikan emosi dan berbicara sebaik mungkin. Begitu juga pada klien lain dengan karakteristik atau sikap yang berbeda.

Proses seperti itulah yang cukup sulit dilakukan. Namun, ketika berhasil menyelesaikan permasalahan klien anak, rasa puas membuncah dalam hati Samanta.

Meski begitu, bukan berarti ia tak puas dengan klien dewasa. Rasa puas tetap didapatkan. Apalagi ketika hubungan keluarga yang renggang atau bahkan terancam bercerai dan akhirnya harmonis kembali setelah ditangani, itu seolah jadi sebuah kemenangan besar dalam pertandingan.

Hal itu yang membuat Samanta tetap konsisten menjadi psikolog sampai sekarang. Sebab, ada banyak orang membutuhkan bantuan penanganan psikologis darinya. Di saat yang sama, ia pun berusaha mengaplikasikan keilmuan yang dimiliki dan niat untuk melakukan kebaikan.

Tertarik Psikologi Sejak Kecil
Samanta sendiri tertarik dunia psikologi sejak kecil. Saat masih tinggal di Yogyakarta, antara kelas 1-2 SD, sepupunya yang kuliah jurusan psikologi sempat datang ke rumahnya. Sepupunya itu kemudian bercerita soal perkuliahan psikologi.

Dalam benaknya saat itu, Samanta menganggap dunia psikologi begitu menarik karena bisa mengenal banyak orang dan memahami perilaku. Seiring berjalannya waktu, Samanta kemudian pindah ke Jakarta. Di sana, ia sering berkunjung ke rumah sepupunya dan kerap membaca buku seputar psikologi.

Tak hanya membaca buku, ia juga kerap bertanya berbagai hal pada sepupunya tentang dunia psikologi. Berbagai penjelasan yang didapatkannya pun makin membuatnya jatuh cinta pada dunia psikologi.

"Di situ saya makin tertarik. Ternyata ilmu psikologi itu luas banget dan variasinya tinggi," jelas Samanta.

Namun, ia sempat berubah pikiran ingin menjadi pengacara karena terpengaruh salah satu serial yang menceritakan tentang pengacara perempuan. Ketertarikan itu membuatnya belajar untuk semakin berani dan piawai berkomunikasi.

Ketika ada tugas kelompok dan mengharuskan ada diskusi atau perdebatan, Samanta kerap jadi yang terdepan tampil. Bahkan, kelompoknya sering menang ketika ia tampil dan berbicara.

Meski begitu, keinginan menjadi pengacara itu pada akhirnya berubah lagi. Sebab, saat itu ia beranggapan karena kasus yang ditangani berat. Sehingga, ia kembali beralih bercita-cita suatu saat menjadi psikolog.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Erwan Setiawan, Pemandu Museum yang Piawai Bahasa Isyarat

Ibu satu anak itu pun akhirnya semakin mantap berada di jalur dunia psikologi. Lulus SMA pada 2007, ia mempersiapkan diri untuk kuliah di Jerman. Ia bahkan sudah kursus bahasa Jerman selama enam bulan. Namun, keinginan kuliah di Jerman itu akhirnya gagal.

Samanta diminta orang tuanya untuk kuliah di Indonesia saja ketimbang jauh-jauh ke Jerman. Meski berat, ia akhirnya memenuhi permintaan orang tuanya.

Ia lalu memilih kuliah Fakultas Psikologi Universutas Tarumanagara, Jakarta. Ia memilih kampus itu karena tahu betul apa keunggulannya. Apalagi, dosen yang mengajar juga mayoritas adalah praktisi alias psikolog kaya pengalaman.

Sehingga, perkuliahan yang didapat tak hanya berdasarkan teori, tapi juga kaya akan pengalaman dari para dosennya. Masuk kuliah 2008, ia pun mendapatkan gelar S1 pada 2012.

Tak cukup dengan gelar S1, ia kemudian melanjutkan ke jenjang S2 di kampus yang sama. Masuk pada 2014, Samanta mendapatkan gelar Magister Profesi Psikologi Klinis Anak dan Dewasa pada 2016.

Selangkah Lebih Maju
Profesi sebagai psikolog pun akhirnya dijalani. Sejak lulus S1 hingga kini, ia pernah jadi psikolog di beberapa tempat praktik, di antaranya Aneka Search Indonesia, Psinergi Consultant, Biro Psikologi Pelangi, TigaGenerasi, Brazilian Soccer School, hingga Brawijaya Clinic di kawasan Kemang, Jakarta.

Namun, kini ia fokus di tempat praktiknya sendiri, yaitu Samanta Ananta Psychologist. Selain praktik, ia juga kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar, baik offline maupun online. Ia pun sudah terbisa menghadapi ratusan bahkan ribuan orang.

Ketika pandemi pandemi COVID-19 menghadang, Samanta pun tak kesulitan beradaptasi. Sebab, meski harus melakukan penyesuaian, ada hal penting yang disyukurinya sudah dijalankan sejak jauh-jauh hari. Ia sudah terbiasa memberikan konsultasi atau mengisi workshop secara daring.

"Untungnya dari 2018 sudah beralih ke online. Terus klien-klien saya karena beberapa ada di luar negeri, enggak bisa ketemu, janjiannya online. 2018 tuh sudah mulai ada Zoom. Sebelum pakai Zoom, aku pakai Skype atau WA call," jelas Samanta.

Sehingga, ketika pandemi datang, ia tak perlu beradaptasi dengan aktivitas daring. Itu berbeda dengan mayoritas warga lainnya yang benar-benar kaget dan merasa asing melakukan aktivitas secara daring.

Namun, melakukan pekerjaan secara daring memang punya kelemahan tersendiri. Sehingga, ia selalu berusaha untuk kreatif dalam menangani klien atau memberikan materi workshop. Terkadang, ia menyelipkan video, meme, atau jokes yang bisa membuat suasana lebih menyenangkan.

Pelajaran dari Klien
Menjadi psikolog kerap diidentikkan sebagai orang yang menyelesaikan masalah orang lain. Namun, Samanta sebagai psikolog juga sama seperti orang lain pada umumnya yang memiliki beragam masalah.

Ketika orang lain pusing menghadapi masalah, ia juga sama merasakannya. Jadi, bukan berarti hidup psikolog itu mulus ibarat jalan tol. Namun, berkat keilmuan yang dimiliki ia selalu berusaha menyelesaikan berbagai masalah yang mendera kehidupannya sebaik mungkin.

Ia pun bersyukur bisa menangani klien anak maupun dewasa dengan berbagai permasalahannya. Sehingga, ada pelajaran penting yang bisa diambil dan diaplikasikan dalam kehidupannya.

"Alhamdulillah semua pengalaman itu menjadi hal yang semakin hari saya syukuri. Karena sering mendengar cerita orang lain mengalami ini-itu, jadi lebih bersyukur dengan kondisi yang saya punya," ungkap Samanta.

Foto: Dok. Istimewa/Samanta Nur Ananta


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler