Ujang 'Gebeg' Rahmat , Drummer Sejuta Band yang Rendah Hati

Bandung - Dalam serial animasi Captain Tsubasa, ada kata mutiara yaitu 'bola adalah teman'. Namun, quote tersebut ditafsirkan secara semena-mena oleh Ujang Rahmat (40), sehingga kata mutiara tadi berubah menjadi 'drum dan musik keras adalah teman'.

Siapa sangka, di balik karakternya yang nyeleneh, unik, dan lucu, penabuh drum yang dikenal karena banyak membantu band-band besar seperti Burgerkill, Jeruji, dan beberapa nama musisi lainnya ini punya sekelumit kisah menarik yang akhirnya membentuk karakter nyelenehnya ini. Namun, ia selalu bilang kalau dirinya hanya konsisten menjalankan apa yang disukainya.


Satu jam kami berbincang dengan Gebeg sebelum dirinya berlatih tinju di The Hallway, Pasar Kosambi, Bandung. Ia nampak sedang mengontrol barang-barang di toko miliknya, Anti Class, sembari ngobrol-ngobrol dengan penjaga toko di sebelahnya. Momentum wawancara pada Jum’at (5/2/2020) juga bertepatan dengan momen latihan 'Boxing Ceria' (tinju) yang biasa digelar seminggu sekali oleh Gebeg dan kawan-kawannya di The Hallway.

Mang Gebeg, lagi santai enggak? Kegiatannya sekarang lagi sibuk apa?
"Santai banget. Begini aja lah saya mah, di toko, main drum. Tapi hari ini kebetulan mau boxing sama anak-anak nih.”

Wah, udah kayak Oscar De La Hoya aja nih main boxing (tinju).
"Ha ha ha . Nyari keringat (mengeluarkan keringat, red) aja ini mah. Olahraga, seru-seruan lah. Terus kan dalam acara boxing ceria tiap Jum’at itu, kita ngencleng (mengumpulkan donasi seikhlasnya) ya istilahnya, dan itu kita salurin ke saudara-saudara kita yang membutuhkan.”

Kok bisa dipanggil ''Gebeg' sih, Mang?
"Dari dulu itu mah. Nama asli saya sebenarnya Ujang Rahmat. Pas awal dulu main drum, saya main drum-nya gegerebegan (bising), jadi aja dipanggilnya si Gebeg.”

Dikenal sebagai pemain drum super sibuk dan banyak penggemarnya, kok bisa sih nongkrong-nongkrong se-santai ini? Biasanya kan orang terkenal mah diamnya di apartemen, bales pesan di Instagram susah, dan ekslusif banget lah. Kok ini bisa sih?
"Terkenal itu sebenarnya capek loh. Ha ha ha, tapi sok lah, ku urang mah ditagenan (tapi silakan saja, saya jabanin),” kelakarnya.


Melelahkan gimana nih maksudnya?
"Kadang, ada beberapa orang yang kita enggak dekat-dekat banget sama dia. Tapi, bercandanya kelewatan karena merasa dekat, dan mungkin karena, ya, bisa dibilang saya punya reputasilah, si Gebeg mah begini begitu, misalnya. Padahal, kadang ada batasan yang mana saya juga risih kalau ada orang yang merasa sudah dekat, tapi jadi ngelunjak. Hahaha, tapi saya tanggapi santai aja soal itu.”

Dikenal sebagai 'drummer sejuta band', gimana tuh?
"Oh bangga dong. Soalnya bandnya itu band besar semua. Ha ha ha. Tapi buat sekarang sih saya fokus di Taring, Power Punk dan The Ubz. Kalo additional sih di beberapa band saya main kayak HMGNC, Rock N Roll Mafia, dan ngamen-ngamen begitu aja.”

Nyaris tiap pertanyaan yang kami umpan lambung ke Gebeg selalu berujung tawa hingga hati menjadi hangat. Di balik tubuhnya yang tambun, kerut wajah dan tatapan mata yang garang layaknya petinju Muhammad Ali, Gebeg adalah sosok humoris yang begitu konsisten menjalankan hal apapun yang ia gemari, salah satunya musik.

Baca Ini Juga Yuk: Samanta Elsener dan Pengalamannya Jadi Psikolog

Ia memulai karir musik pada akhir dekade 90-an, di masa mudanya. Saat itu, ia tergabung dalam beberapa band underground. Selain main band, ia juga membantu banyak band lainnya.


Jadi, band pertama Mamang tuh yang mana?
"Ada, namanya Global Unity sama anak-anak BPI dan Ignorance. Tapi, awalnya itu senang-senang aja sih. Enggak begitu kepikiran duit lah, apalah. Hal yang saya inget waktu di Global Unity manggung di Bandung Berisik era awal-awal lah. Kalau di Ignorance itu enggak lama.”

Langsung main drum ya? Enggak kayak Ariel Noah gitu, pernah jadi bassist dulu lah, apa dulu, sebelum terkenal jadi vokalis kayak sekarang?
"Hanya main drum aja. Tapi nih ya, selain main drum, saya juga bisa nyanyi. Tapi lebih pede main drum lah.”

Mamang "dibentuk" oleh musik cadas dan scene underground berarti ya?
"Sebenarnya iya, tapi makin ke sini sih semua dihajar. Dibentuk oleh musik underground karena saya banyak bantuin band-band yang udah seniorlah kayak Jeruji, Bedebah, kalau era-era ke sini sih Teenage Death Star dan beberapa band elektronik pop. Catatan penting buat saya itu pada era saya muda lah, 2000-an awal, itu perkembangan musik cutting edge di Bandung lagi berkembang banget, tapi pemain drumnya kurang. Jadi, di sanalah saya kenalan sama band-band lintas aliran itu.”


Itu langsung rekaman? Atau belum sempat?
"Awal-awal sih belum ya. Nah, pas sama Jeruji, itu baru saya bikin karya. Kalo enggak salah dua album lah. Sebetulnya karena saya ngegantiin Sani (drummer Jeruji) kalau dia lagi sibuk, atau ngisi-ngisi rekaman di dalam album. Kayak joki lah, ha ha ha.”

Album rekaman pertama tahun berapa?
"Aduh, lupa ha ha ha. 2003 deh kalau enggak salah. Ya, 2000-an awal itu.”

Bahaya nih, pasti karena kebanyakan band ya.
"Ha ha ha, nanti deh dicari arsipnya ya.”

Karena saking banyaknya, jadi berapa kali dalam seminggu Mang Gebeg manggung?
"Saya pernah sehari empat kali loh waktu itu. Untung mainnya di Bandung semua.”


Kaya raya dalam sehari lah ya?
"Mana ada. Saya enggak dibayar, malah harus bayar parkir. Ha ha ha. Tapi kan saya suka. Dan saya santai lah, enggak mikir ini itu. Karena saya suka main drum, terus di sana manggungnya juga sebagai drummer, ya disikat aja lah. Waktu itu saya hanya punya double pedal doang.”

Wah, tapi bisa survive ya. Gimana tuh ceritanya?
"Haduh. Bentar. Jadi ya, si double pedal itu saya dapet beli nyicil dari teman, drummernya Rocket Rocket yang pertama. Spirit pertemanan gitu deh, kerja belum jelas, main band dibayar Rp50 ribu. Akhirnya saya tawar 'udah lah sini dibeli double pedalnya tapi dicicil’ dan akhirnya dikasih lah. Mereknya DW9000. Tapi si DW9000 itu teh dipinjam sama band-band besar di Bandung, karena drummernya pada enggak punya, ha ha ha.”

Double pedal itu barang yang 'wah' dong ya pada masanya?
"Bisa dibilang iya. Studio band yang ada double pedalnya tuh bisa dibilang studionya Sultan (orang kaya) lah. Ha ha ha.”

Masih ingat enggak dulu latihan di studio mana aja?
"'Banyak. Tapi yang Gebeg inget sih, biasanya di studio tuh ada tulisan: 'No Underground'. Dalam hati mikir, sialan, saya ini anak Underground.”

Ah iya bener tuh, 'No Underground'. Tapi disikat (dibiarkan) aja ya?
"Ah bodo amatlah. Ha ha ha. Soalnya gini. Enggak bisa digeneralisir juga kalau musik keras bikin alat rusak. Itu sih pemain drumnya aja enggak bisa mukul drum. Band metal atau band keras lah, kalau mainnya enak, enggak bakal sampai ngerusak alat kok. Tapi, ya namanya stigma lah. Udah pada suudzon aja sama kita tuh. Ha ha ha. Tapi kan kebuktian, sekarang endorser produk alat musik itu enggak sedikit berasal dari kalangan musisi Underground. Nah. Mantap kan!”


Termasuk Mang Gebeg juga diendorse ya?
"Iya. Di-endrose drum dan cymbal, ya. Malah ada satu endorser yang ngasih kontraknya seumur hidup.”

Kok bisa? Gimana tuh?
"Waktu itu, Gebeg main di acara Bandung Drums Day kedua kalau enggak salah. Tahunnya 2010. Gebeg tuh punya drum yang bisa dibilang cukup jadul lah. Dapet beli di Tiga Negeri, dapet nyicil. Ha ha ha. Pas lagi disetel manggung itu, ternyata cymbal-nya kurang. Akhirnya saya pinjem cymbal yang dipakai buat pameran, dan tiba-tiba ada orang dari distributor musik ngeliatin terus pas saya manggung. Nah, pas saya turun ditanya 'Kok masih ada sih hari begini pake drum merek ini, kan udah jadul?' terus saya jawab 'Lah, mau gimana lagi? Saya kebelinya drum ini. Itu juga dapet nyicil' Ha ha ha itu langsung pecah ketawa.

Dari situlah obrolan dibuka, dan panjang lagi ke sana ke mari obrolannya. Sampai akhirnya saya dikontrak lima tahun sama salah satu produk drum. Pas setelah kontraknya masuk ke periode kedua, nambah lagi deh satu ini yang kontrak seumur hidup. Dari situ deh, rejekinya ngalir. Banyak main, banyak teman, banyak rejeki.”


Balik lagi ke sebutan 'drummer sejuta band'. Dari sejuta band yang udah dibantu main drumnya, ada enggak yang paling sulit maininnya?
"Ada. Themilo! Ha ha ha.”

Parah. Parah. Parah. Kok Themilo? Coba jelaskan pada kami! 
"Ini drummer Themilo sakti parah kalau menurut saya ya. Soalnya (mainin musik mereka) harus sabar. Enggak tau juga ya, saya rasa drummer sejago apapun, belum tentu bisa mainin atau ngiringin musik yang semodel Themilo atau Pure Saturday lah, yang sejenis itu. Nah, dulu itu pernah bantuin Themilo pas mereka manggung di Cilandak Town Square, Jakarta. Di acaranya trax kalau enggak salah. Jadi, Sabtunya ditelpon (diajakin manggung), Minggunya manggung dan saya bantuin manggung karena drummer Themilo sakit gigi. Ha ha ha.”

Terus sulitnya di mana?
"Di musiknya lah. Gila, ini sabar banget drummernya. Pas saya main itu kendalanya di dinamika dan tempo. Karena kebiasaan main musik keras mungkin ya. Jadi, pas saya agak over sedikit (main drumnya), eh, semua personil di panggung ngeliatin. Ya saya salah tingkah dong. Ha ha ha.”

Berarti balik ke karakter kita dan musik yang dimainin, ya?
"Iya. Soalnya akan berbeda nih saat kita konteksnya drummer band atau session player. Kalau drummer band itu biasanya punya karakter. Indra Mocca misalnya, atau Reza waktu di Peterpan dan Noah, dia berkarakter kan? Nah, tapi untungnya saya tuh sedikit banyaknya bisa punya banyak karakter yang setidaknya bisalah buat ngegantiin sementara. Tapi ada sialnya juga, karena kalau ada momentum yang mana si drummer-drummer band Bandung pada enggak bisa manggung, ujung-ujungnya larinya ke Gebeg lagi, Gebeg lagi. 'Eta weh ka si Gebeg, bisa da si eta mah (itu aja sama si Gebeg. Dia selalu bisa)’ gitu deh. Ha ha ha tapi untungnya lagi, jadi punya banyak teman.”

Ada yang belum kesampaian enggak mau bantuin band apa?
"Yang belum kesampaian sih bantuin band Edane. Terakhir kan kepingin main sama Burgerkill dan Ipang, semuanya Alhamdulillah kesampaian. Edane nih, suatu saat saya yakin lah bisa.”

Jadi di antara drummer band dan session player, ada sosok Gebeg, gitu?
"Wah sial, ini pertanyaan sulit nih. Ha ha ha. Buat saya sih, saya itu drummer aja lah. Enggak usah ada embel-embelnya.”

Aliran musik yang belum Mang Gebeg kuasai bener itu apa?
"Jaz. Kalau buat jamming-jamming sih masih oke lah. Tapi kalau buat rekaman kayaknya saya harus belajar banyak nih. PR banget mainin jaz itu.”

Tapi untuk sejauh ini, dari bermain drum, banyak hal yang Mamang dapetin ya?
"Banyak banget. Hal yang dulu hanya jadi cita-cita, sekarang kesampaian. Jadi endorser sudah, dan buka usaha sendiri sudah. Sekarang sih dinikmati aja apa yang sudah dikerjakan di masa lampau.”

Jadi, Mang Gebeg itu termasuk golongan idealis yang sukses ya?
"Idealis yang berhasil itu idealis yang konsisten. Buktinya Gebeg dari dulu idealis main drum, sampai sekarang masih main drum. Kecuali pas lagi pandemi ya, soalnya kalau udah dikasih pandemi mah semua juga lieur (pusing). Dadas. Ha ha ha.”

Seberapa besar peranan Bandung untuk perjalanan Mang Gebeg?
"Bandung tuh gede banget pengaruhnya. Semua hal yang udah saya dapatkan; pertemanan, nama besar kalau boleh dibilang itu nama besar, prestasi, musik, semuanya lah, itu saya dapatkan di Bandung. Senang banget rasanya bisa bawa nama Bandung dan nama Indonesia pas saya manggung di luar negeri.”

Punya catatan khusus enggak pas manggung di luar negeri?
"Pernah. Pas manggung di Jepang. Saya main drum, itu dipelukin, diciumin sama orang. Sialnya, yang nyium dan meluk saya itu fans laki-laki. Ha ha ha. Tapi intinya, selama restu dari istri masih diberi, rasanya main musik keliling dunia adalah hal yang menyenangkan dan saya selalu tancapkan bendera Indonesia di bas drum saya, biar orang tahu, kalau saya ini dari Indonesia.”

Ke depannya, apa yang Mang Gebeg mau lakukan dalam proses berkreasi?
"Saya mau ngalbum aja sih. Sama Taring, sama Power Punk. Bikin karya aja. Olahraga tetap jalan nih, si boxing ceria ini. Dan sisanya sih saya mau terus berkarya aja pokoknya.”

TemanBaik, belajar dari perjalanan Gebeg, rasanya dalam menjalankan kegemaran kita, kita hanya perlu konsisten dan jangan berhenti. Sebab, kegemaran itu enggak jarang bisa menjadi salah satu sumber penghidupan kita. Dan saat cita-cita kita sudah tercapai, maka jangan lupa untuk berbagi. Seperti apa yang dilakukan Gebeg bersama kegiatan olahraga boxing ceria-nya, misalnya. Intinya, jangan berhenti melakukan kegemaran kita sampai cita-cita kita tercapai, namun saat cita-citanya tercapai, jangan lupa berbagi ya. Tetap semangat di akhir pekan, TemanBaik!

Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id 


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler