Ni Nengah Widiasih, Tularkan Semangat dengan Prestasi

Bandung - TemanBaik, keterbatasan harusnya enggak menjadi penghalang kita untuk menjadi yang terbaik. Salah satunya bisa dicontohkan oleh Ni Nengah Widiasih.

Dalam sesi diskusi daring 'Kenali Profesi Atlet Paralympiade' yang digelar oleh DNetwork Indonesia, Widiasih, begitu ia disapa menceritakan perjalanan dan pengalamannya mengharumkan nama Indonesia lewat sederet prestasi, antara lain medali perak pada Asian Para Games 2014 di Incehon, serta medali perunggu pada Olimpiade di Rio de Janeiro, 2016 silam.

Ia mengisahkan perjalanannya dimulai saat dirinya dinyatakan lumpuh pada usia 3 tahun. Di usia yang cukup dini pula itulah, ia menjalani kehidupan sebagai atlet.

"Sebenarnya bukan karena pilihan. Tapi ya karena mengalir saja. Kakak saya, teman-teman, dan beberapa orang terdekat saya ada di dalam bidang tersebut (olahraga)," terang wanita kelahiran 1992 ini, Minggu (7/2/2021).

Proses yang dijalani secara mengalir itu kemudian bermuara pada pemikiran kalau dirinya harus fokus menjalani bidang ini. Padahal, Widiasih menyebut hati kecilnya ingin menjadi seorang Psikolog.

Baca Ini juga Yuk: Ujang 'Gebeg' Rahmat , Drummer Sejuta Band yang Rendah Hati

Perjalanannya berlanjut saat dirinya mengikuti pelatnas di Solo saat usia sekolah menengah. Saat itu pula, dirinya membagi waktu antara sekolah dan berlatih. Namun, diakuinya pula, ia sampai mengorbankan pendidikannya demi menjadi atlet paralimpik yang sukses.

"Saya percaya pendidikan itu penting. Tapi di sisi lain, saya juga punya pandangan kalau banyak orang yang bersekolah tinggi namun masa depannya belum jelas. Dan di situ saya bertekad bahwasannya enggak apa-apalah sekolah saya biasa saja, tapi saya punya masa depan," ujarnya.

Ia juga menyebut dirinya menemukan motivasi besar saat tahu tujuan hidupnya. Bagi Widiasih, penting bagi siapapun untuk mengetahui tujuan hidup masing-masing, sebelum akhirnya menentukan arah. Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya hambatan, ia menyebut kalau hambatan itu pasti ada. Hanya saja, jika kita menyerah karena hambatan tersebut, otomatis kita kalah. Apabila menemui kegagalan, Widiasih menyarankan agar kita mengoreksi diri dan belajar dari kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi di kemudian hari.

Secara filosofis juga ia menyebut kalau enggak ada jaminan untuk siapapun bakal sukses. Sekalipun orang yang sudah bekerja keras, belum tentu dirinya akan sukses. Lalu bagaimana yang enggak mau berjuang sama sekali?

"Introspeksi diri itu sangat penting. Banyak orang yang merasa dirinya benar dan penting sekali untuk berpikir terbuka (open minded). Dengan begitu, kita bisa belajar dari kesalahan," jelasnya.

Proses Berlatih dan Prestasi
Saat ditanya proses berlatihnya, Widiasih menjelaskan kalau dirinya berlatih enam kali dalam seminggu. Hanya ada sehari untuk libur. Tiap harinya, pelatih dan tim sudah menyiapkan program latihan yang menunjang kemajuan atletnya. Selain itu, Widiasih juga menyebut kalau program latihan fisik yang dijalaninya berpengaruh juga untuk membangun mental berlatihnya.

Terkait prestasi yang didapatkannya, Widiasih menyebut kalau enggak ada semua hal yang diraih secara instan. Demikian pula dengan apa yang sudah diraihnya. Prestasi yang diraih Widiasih berangkat dari tingkat kedaerahan dulu, sebelum merambah dunia Internasional. Semua tahap kejuaraan itu diikutinya, dan ia belajar dari tiap turnamennya.

Namun kembali ke poin awal, dari perjalanannya itu, ia menyebut hal terpenting bagi tiap orang, khususnya penyintas disabilitas agar bisa berprestasi adalah kesadaran akan sesuatu yang digemari oleh seorang difabel itu. Dengan menyadari kegemaran, maka akan mudah untuk menemukan jalan sukses.

"Bukan masalah difabelnya, difabel apa, tapi semangatnya. Kalau di olahraga, olahraga apa yang kita suka," terangnya.

Terpaan pandemi pada 2020 silam juga menimpa dirinya sebagai atlet. Berniat untuk membuka usaha kuliner, keinginan itu harus ditundanya karena satu dan lain hal. Saat ini, Widiasih menyibukkan diri dengan berolahraga dan terus berlatih, serta sesekali menikmati hidup dengan bersantai dengan orang-orang terdekatnya. Ia berharap dapat meraih seluruh pencapaian yang belum dicapainya. Olimpiade Paralimpik di Tokyo yang sempat tertunda menjadi bidikannya saat ini. Di sisi lain, Widiasih mengaku bangga karena mata dunia terhadap prestasi atlet paralimpik sudah mulai terbuka. Gelaran Asian Paragames di Jakarta tahun 2018 silam dianggapnya sebagai titik balik yang mencerahkan.

Tularkan Semangat
Kepada saudara-saudaranya, khususnya sesama penyintas disabilitas, ia mengajak untuk lebih semangat lagi menggapai mimpi. Ia berharap banyak penyintas disabilitas yang enggak ragu lagi untuk memulai sesuatu yang digemarinya. Kendati rasa takut dan ragu ada, namun menurutnya, memulai adalah langkah yang perlu dilakukan.

"Cari cabang yang kita sukai (dalam konteks olahraga) dan nikmati prosesnya," pesan Widiasih.

Ia juga menyarankan kepada saudara-saudara penyintas disabilitas untuk bergabung ke MPC. Menurutnya, MPC ini bisa menjadi wadah bagi penyintas disabilitas yang ingin berprestasi di bidang olahraga. Ia menyarankan untuk segera berkonsultasi dan bergabung.

"Jangan takut mencoba, jangan takut gagal, jangan takut bermimpi karena bermimpi itu gratis," pungkasnya.

TemanBaik, melihat semangat dan prestasi Widiasih, sudah waktunya kita bercermin dan bergerak untuk melakukan yang terbaik. Yuk, mulai sekarang tingkatkan lagi semangatnya!

Foto: Tangkapan Layar Zoom 'Kenali Profesi Atlet Paralympiade' oleh DNetwork Net

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler