Sugiyanto Utomo, 'Oemar Bakri' dari Antapani

Bandung - Menggemari pelajaran Matematika kemudian 'terlempar' ke Jurusan Geografi rupanya membuat Sugiyanto Utomo malah melancong lebih jauh lagi di dunia pendidikan. Setelah menjajal jadi guru di Papua, kini ia kembali ke Jawa Barat dengan menjadi guru Geografi di SMAN 12 Bandung dan mendirikan KAMUN Arunika sebagai fasilitator belajar mengajar untuk anak-anak di Desa Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Sugi, sapaan akrabnya mengaku sudah tertarik dengan dunia pendidikan bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku SMA. Namun sayang, lulusan SMA PGII ini dianggap kurang punya kemampuan di bidang matematika, sehingga diterima di Jurusan Pendidikan Geografi saat mendaftar ke Universitas Pendidikan Indonesia. Pengalaman mengajar yang didapatnya selain dari kuliah lapangan atau biasa dikenal dengan istilah PPL, tetapi juga dari andilnya saat mengikuti program SM3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terpencil, Terluar dan Tertinggal atau 3T). Ia berangkat ke Papua untuk mengikuti program ini.


Di sana, Sugi melihat kondisi pendidikan yang menurutnya cukup memprihatinkan. Pengalaman itulah yang membekas di ingatannya, sehingga muncul keinginan untuk mengamalkan ilmu dan mengajar di masyarakat. Belum lama ini, impian Sugi untuk bisa mendirikan sekolah nampaknya mulai menemukan titik cerah. Pria asal Bandung  ini mendirikan KAMUN (Kegiatan Anak Muda Untuk Negeri) Arunika pada September 2020 lalu. Di sana, Sugi aktif mengajar Calistung atau membaca menulis dan berhitung. Ia menyoroti kondisi di tempatnya mengajar, yang mana terdapat beberapa anak SD yang belum lancar membaca.

Jarak dari rumahnya di Antapani, Bandung ke Desa Wangunsari, Lembang, Kabupaten Bandung Barat tidaklah dekat. Namun, dengan semangat dan rasa kasihnya terhadap anak-anak dan dunia pendidikan, jarak itu ditempuhnya saban Selasa, Rabu, dan Kamis. Pukul 13.00 WIB tiap hari-hari itu, Sugi sudah hadir di Yayasan Tugu Alam Lestari, tempat di mana KAMUN Arunika bernaung dan berkegiatan.

Kami punya kesempatan untuk ngobrol dengan Sugi. Ia bercerita tentang bagaimana rutinitasnya mengajar reguler di sekolah, dan juga mengajar di KAMUN Arunika. Simak obrolannya yuk!

Baca Ini Juga Yuk: Albert Rudiana, Berkelana hingga #AksiBaik Lewat Sepak Bola

Jadi, KAMUN Arunika ini sudah ada sejak September ya? Gimana tuh awal ceritanya?
"Pengalaman mengajar di Papua itu cukup membekas buat saya. Dan begitu ada kabar kalau di Bandung ada beberapa anak yang enggak bisa baca tulis, saya agak kaget. ‘Wah, kok bisa?’ kira-kira gitu. Dan awalnya memang saya diberi tahu teman kalau ada beberapa siswa-siswi di sekitar Yayasan Tugu Alam Lestari ini belum lancar membaca.”

Di KAMUN Arunika, akang ngajar apa?
"Pada dasarnya, di Arunika itu kami dengan relawan mengajarkan Calistung (membaca, menulis, berhitung) kepada anak. Dan ini juga yang dulu saya lakukan di Papua.”

Jarak dari rumah ke lokasi Yayasan Tugu Alam Lestari kan jauh, kang. Akang menikmati?
"Ha ha ha. Capek ya datang ke sini? Tapi kalau sampai di sini dijamin malas pulang. Jadi, dibilang capek sih pasti capek. Tapi, saya menikmati banget karena sambil refreshing. Ada sih kesal sama anak murid, tapi kadang capeknya hilang karena nuansa di sini yang enak banget."

Besar enggak sih kang ngaruhnya pengalaman ngajar di Papua sama apa yang akang jalani sekarang?
"Pasti dong. Di sana saya ngeliat betapa sulitnya akses pendidikan. Dan begitu saya ada di Bandung nih, maaf, katakanlah beberapa aspek di sini boleh jadi sudah lebih maju kan. Nah, saya miris kalau kondisi di Bandung, itu sama dengan di daerah-daerah 3T tadi. Dan saya ngerasa ini slot buat saya pasang badanlah katakanlah gitu.”

Akang punya metode khususkah selama ngajar di KAMUN Arunika?
"Pada dasarnya tujuan atau goals kami di KAMUN Arunika itu kepingin anak-anak SD di sekitar sini (Desa Wangunsari) itu lancar baca tulis lah. Di sisi lain, kita juga kan punya divisi kemasyarakatan. Hanya saja, memang pendekatan ke anak-anak dengan cara buka kelas belajar mengajar begini saya rasa lebih efektif ya. Kalau metode belajar, di KAMUN Arunika kita pada dasarnya ngikutin kurikulum nasional. Hanya ada beberapa improvisasi, seperti ngajarin berhitung dengan metode soal cerita misalnya.”


Akang sangat dekat dengan anak-anak di Desa Wangunsari ya?
"Semenjak ngajar sih iya. Saya jadi rebutan anak-anak. Ha ha ha. Tapi dari sini energi positif saya berasal. Jadi ya begitu. Walau capek, tapi seneng aja ngejalaninnya.”

Saat menjalankan KAMUN Arunika, akang ngajak teman-teman pengajar enggak?
"Temen seangkatan dan seumuran sih iya saya ajak. Tapi mungkin orang seusia saya saat ini kan enggak semua punya waktu yang pas. Jadi, saya aktif menjalankan KAMUN Arunika banyaknya sih sama temen-temen mahasiswa aja, yang waktunya lebih fleksibel.”

Gimana cara akang mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran anak-anak di KAMUN Arunika?
"Pertama, kelasnya kita bagi dua. Kelas bulan dan kelas bintang. Kelas bulan untuk anak kelas 1, 2, dan 3 SD. Kelas bintang untuk kelas 4, 5, 6. Di sana aja udah kelihatan permasalahannya. Dan biasanya kita urai satu persatu. Misalkan mereka belum lancar baca, biasanya kita pakai metode si membaca ini jadi tiket buat mereka yang kepingin belajar berhitung. Selebihnya sih identifikasi dan solusi dalam kegiatan ngajar saya dapetin dan coba improvisasi bareng teman-teman di lapangan. Yang terpenting sih goals-nya udah jelas: anak bisa baca, kemudian berhitung.”

Di samping kegiatannya di KAMUN Arunika, Sugi juga mengajar reguler di SMA Negeri 12 Bandung. Bergabung pada 2019, kini ia mengajar mata pelajaran Geografi. Sebelum mengajar di SMAN 12 Bandung, Sugi sempat mengajar di Madrasah Aliyah Negeri 1 Purwakarta.

Pengalaman mengajar di Puwakarta tersebut merupakan debutnya mengajar reguler setelah mengikuti program mengajar di Papua. Ia juga menjalani sekolah profesi selama satu tahun sebelum mantap menancapkan bendera sebagai guru secara reguler.

Dari kegiatan mengajar yang sudah dijalani, mana yang paling seru?
"Mengajar untuk warga. Di Papua, atau di sini. Karena kalau di SMA kita arahnya mengembangkan potensi. Kalau di masyarakat itu gimana caranya kita mengolah potensi masyarakat untuk bisa ke depannya jadi lebih baik. Di SMA tuh tantangannya ‘hanya’ gimana caranya materi tersampaikan tanpa anak-anak merasa jenuh.”

Keseruan ngajar di SMA sendiri itu apa?
"Ya karena saya ngajar Geografi, karena itu bidang saya. Di tahun ketiga saya mulai ngajar reguler ini, saya mulai bisa menurunkan ego, standar pribadi saya tentang pemahaman anak terhadap materi. Saya enggak mungkin menjadikan satu angkatan misalnya, semua jadi ahli geografi. Tapi yang saya bisa lakukan adalah bagaimana caranya materi geografi ini bisa tersampaikan secara utuh ke mereka.”


Tantangan ngajar anak SMA zaman sekarang gimana Kang?
"Tantangannya itu ada di kemajuan zaman ya. Sekarang kan kita juga menghadapi sekolah daring. Nah, ini PR banget. Kita harus putar otak gimana caranya anak-anak belajar daring tapi enggak jenuh.”

Baik saat daring maupun luring, gimana metode ngajar akang?
"Saya lebih suka membiarkan anak berkembang dan nyaman dengan dirinya. Kalau secara teknik sih, saya biasanya ngasih waktu kosong dulu di awal pembelajaran. Jadi, kalau anak mau makan, makan dulu. Kalau anak mau chattingan, ya chattingan dulu. Saya kasih waktu di 15 sampai 20 menit pertama itu untuk bebas dulu, biar anak-anak menyelesaikan dulu urusannya di luar pembelajaran. Setelah itu, baru saya mulai pembelajaran.”

Wah, bisa jadi guru favorit dong kalau gini cara ngajarnya?

"Hahaha. Enggak juga sih. Jadi gimana ya? Ya saya sih kepingin anak-anak yang saya ajar itu nyaman dulu aja dengan suasananya. Kayak untuk konteks makan. Mereka kan kasihan kalau harus kabur ke kantin, terus anak-anak jadi ngumpul di kantin, ujung-ujungnya dimarahin guru lain. Makanya saya bilang daripada makan di kantin, udah makanannya bawa ke kelas aja. Saya kasih waktu. Jadi dibanding telat masuk kelas, mending makannya di kelas.”

Cara begini efektif enggak kang?

"Gini, jadi saya punya anggapan anak enggak menguasai materi karena mereka enggak nyaman saat proses belajarnya. Ya mereka lapar lah, atau ada urusan di luar yang belum selesai lah. Dan itu suka dijadiin alasan.”


Makin ke sini, ngajar anak SMA tuh makin ribet enggak sih kang? Mereka kan agak beda nih, lebih sering komunikasi dengan handphone ketimbang manusia.

“Ya memang agak beda sih. Saya pernah ngerasain PPL. Nah, pas zaman PPL itu anak-anak SMA-nya kayak lebih respect aja sama materi pembelajaran. Handphone udah ada sih, hanya enggak secanggih sekarang kayaknya ya. Jadi distraksi dari handphone-nya itu enggak terlalu gede pas saya PPL. Nah, begitu saya ngajar sekarang, gangguan paling nyebelin itu saat anak-anak main handphone saat jam belajar. Dan karakteristik anak biasanya gimana tempatnya juga sih. Karakter anak Purwakarta, jauh beda dengan anak Bandung. Intinya gitu. Ha ha ha."

Pernah enggak sih takut karma sama guru, karena dulunya nakal gitu?
"Saya itu tipe anak yang enggak terlalu nakal, tapi enggak terlalu baik. Hahaha, tapi pada intinya saya mengikuti secara normatif aja proses belajarnya.”

Menghadapi murid yang nakal menurut Kang Sugi itu bagaimana?
"Waduh. Ha ha ha. Jadi kalau saya sih gini ya. Senakal-nakalnya anak SMA, kayaknya saya atau kita deh, pasti udah bisa nebak arah kenakalannya ke mana. Bener enggak? Jadi, saya sih paling menghadapi mereka dengan cara merangkul. Di luar jam sekolah, saat lagi enggak pakai seragam, saya anggap mereka teman saya.”

Antara ngajar SD, SMP, dan SMA, milih ngajar yang mana?
"Kalau buat reguler, saya mendingan ngajar SMP atau SMA. Kalau ngajar SD itu, ya saya bisa aja. Tapi ada bagian tahap perkembangan anak yang belum saya kuasain. Dan ngajar SD itu perlu banget untuk paham ini. Lain halnya kalau di Arunika itu kan target pribadi saya adalah gimana biar anak-anak di sini yang SD nya bisa baca tulis. Gitu dulu aja deh.”

Di bagian akhir obrolan, Sugi mengaku impian besarnya di dunia pendidikan adalah mendirikan sekolah. Lagi-lagi, pengalamannya mengajar di daerah 3T tadi menyadarkannya, bahwa pembelajaran adalah hak tiap anak. Sugi merasa ingin membantu anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan, apalagi karena masalah biaya.

Kegiatannya bersama KAMUN Arunika ini secara tidak langsung bakal menjadi portfolio yang amat berharga bagi mahasiswa Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2010 ini. Apalagi, melihat dari kondisi murid-muridnya, rasanya kondisi belajar mengajar di KAMUN Arunika cukup senafas dengan impian Sugi.

Kenapa akang bermimpi kepingin bikin sekolah?
"Saya merasa impian yang ideal untuk seorang lulusan pendidikan adalah punya sekolah sendiri. Kalau hanya mengajar di sekolah, itu sih ya sudah pasti. Reguler lah.”

Kegiatan di KAMUN Arunika ini bisa jadi pembuka jalan akang mencapai mimpi ya?
"Boleh jadi. Aamiiin. Saya sih kepinginnya tetap ngajar di sekolah reguler, tapi punya sekolah sendiri untuk saudara-saudara kita yang memerlukan pendidikan. Saya ngejar anak-anak yang waktunya dia sekolah, tapi enggak punya duit buat sekolah.”

Terakhir, kang. Nilai-nilai apa aja sih yang harus dimiliki seorang pengajar?
"Personalitas yang baik. Bagaimana cara dia berkomunikasi, bersosialisasi, bersikap. Karena pintar aja enggak cukup dalam mengajar.”

TemanBaik, kisah Sugiyanto sedikitnya mengingatkan kita pada lagu folk balada lawas, yakni 'Oemar Bakri' dari Iwan Fals. Perjuangannya mengendarai motor, menempuh perjalanan jauh dari Bandung ke Lembang tiga kali dalam seminggu, belum lagi semangatnya sebagai guru yang baik dan dewasa saat memainkan peran sebagai pengajar reguler di sekolah adalah salah satu contoh positif yang bisa kita tiru dengan bidang kita masing-masing.

Semoga guru-guru kita semua diberikan kesehatan selalu, ya. Terima kasih guru!

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler