Witri Erdiawati, Guru SLB dan Penutur Bahasa Isyarat Kepolisian

Bandung - Witri Erdiawati S.R., S.Pd., sudah sekitar lima tahun menjalani profesinya menjadi guru di SLBN Cicendo Kota Bandung. Selain itu, ia kini juga jadi penutur bahasa isyarat pertama di Polda Jawa Barat.

Dengan ramah, ia menerima BeritaBaik.id di salah satu ruangan SLBN Cicendo. Di awal perbincangan, perempuan asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat itu bercerita soal perjalanannya mengajar di sekolah tempatnya mengajar.

Lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mulai mengajar sejak 2016. Ia pertama kali ditugaskan menjadi guru kelas TK B. Selanjutnya, berturut-turut ia menjadi wali kelas VII B (2017), wali kelas IV B (2018), guru kecantikan (2017-2018), dan sejak 2019 sampai sekarang menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tingkat SMP dan SMA Luar Biasa. Ia juga jadi pembina OSIS di sana sejak 2018.


Tertarik dengan Teman Tuli
Perempuan 26 tahun itu bercerita jika menjadi guru adalah cita-citanya. Namun, ia lebih berkeinginan menjadi guru luar biasa alias guru SLB ketimbang guru biasa.

Hasrat menjadi guru diakuinya karena berasal dari lingkungan keluarga. Sebab, sang ibu merupakan guru sekolah dasar. "Saya terinspirasi sama ibu, tapi ingin jadi guru luar biasa. Makanya (saat kuliah) masuk ke PLB UPI," ujar Witri.

Selain faktor lingkungan, ada keinginan besar dalam hatinya. Ia sangat tertarik dengan teman Tuli alias tunarungu. Ia ingin bisa berbincang dengan mereka menggunakan bahasa isyarat. Keinginan itu tak sebelumnya tak pernah terwujud karena tak punya kemampuan berbahasa isyarat.

"Memang tertarik aja, ingin belajar bahasa isyarat. Dulu kalau melihat mereka cuma bisa melihat aja, bingung mau ngobrolnya gimana," tuturnya.


Seiring berjalannya waktu, ia akhirnya bisa menguasai bahasa isyarat dan akhirnya cita-cita menjadi guru SLB tercapai. Bahasa isyarat dan berbagai ilmu yang dipelajarinya pun bisa diaplikasikan di sekolah tempatnya mengajar.

Enggak hanya dipakai mengajar, bahasa isyarat itu tentu dipakai dalam keseharian di sekolah, terutama ketika berbincang dengan siswa. Bahkan, ia menempatkan diri tak hanya menjadi guru, melainkan jadi teman para siswa.

Witri berusaha membangun kedekatan dengan mereka. Saat di kelas, ia menjalankan peran sebagai guru. Namun, di luar kelas, ia dan siswanya adalah sahabat. Bahkan, tak jarang ia menjadi teman curhat para siswa. Hal itu membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih mudah diterima. Siswa pun tak segan untuk bertanya ketika belajar.

"Saya sengaja selayaknya menjadi teman buat mereka biar mereka lebih terbuka. Yang saya rasakan, ketika dekat dengan mereka, misalnya mereka jadi enggak takut kalau mau nanya di kelas," ungkapnya.

Sementara jika ia menjaga jarak dengan siswa, siswa bisa saja segan untuk bertanya sesuatu ketika belajar di kelas. Akhirnya, ketidaktahuan siswa menjadi berlarut-larut. Sedangkan ketika dekat, siswa tak canggung atau takut untuk menanyakan sesuatu. Dengan begitu, proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif.



Baca Ini Jua Yuk: Irvine Jasta, Ilustrator 'Serba Bisa' Punggawa Pickers Store

Pernah Jadi Mojang Jabar 2015
Di balik profesinya sebagai guru, Witri punya latar belakang sebagai Mojang Jawa Barat pada 2015 perwakilan dari Kabupaten Cianjur. Ia didaulat menjadi Mojang Mimitran alias Mojang Persahabatan.

Mengikuti kegiatan Mojang Jajaka (Moka) pun dirasa memberinya banyak pengalaman. Di sana, ia belajar banyak seputar organisasi, komunikasi, tampil dan berbicara di depan publik, hingga punya jejaring yang lebih luas.

Selain jadi Mojang, ia pun aktif dalam berbagai kegiatan organisasi semasa remaja dan perkuliahan. salah satunya jadi bagian Putra Putri Bumi Siliwangi UPI.

"Karena senang berorganisasi, Itu kepake banget ketika ngajar. Misalnya, kita jadi tahu cara mengorganisasi karena saya pembina  OSIS, ketika bikin acara juga tahu hal-hal apa saja yang harus dilakukan," ujar Witri.

Sulitnya Mengajar Virtual
"Udah kangen banget sama anak-anak. Setahun ini enggak ketemu sama mereka," ungkap Witri ketika ditanya apa yang dirasakannya menjadi guru di masa pandemi COVID-19.

Di masa pandemi, ia merasa ada tantangan tersendiri. Sebab, ada berbagai hal baru yang mesti dilakukan, terutama mengajar virtual. Ia pun harus membiasakan diri tak bertemu para siswa yang begitu dekat dengannya.

Mengajar daring pun tak semudah yang dibayangkan. Sebab, ia harus berusaha sekreatif mungkin memberikan materi atau tugas bagi siswa. Di saat yang sama, hal itu kadang terkendala koneksi internet atau kemampuan ponsel siswanya.

Sebagai contoh, ia kerap dua kali memberi penjelasan agar membuat siswanya memahami pelajaran yang diberikan. Caranya, ia membagi siswanya menjadi dua kelompok saat mengajar melalui panggilan video, satu menggunakan Zoom, satu lagi menggunakan panggilan video grup WhatsAp. Itu karena ponsel siswanya ada yang tak bisa digunakan Zoom karena spesifikasinya terbatas.

"Jadi kadang kalau ngasih penjelasan itu bisa dua kali," ucap Witri.

Hal itu dirasa cukup merepotkan. Namun, semuanya mesti dilakukan karena ia merasa tanggung jawab mengajar harus dilakukan apapun kendala dan tantangannya.


Menjalani Peran Istri
Sebagai guru atau wanita karier, Witri punya tanggung jawab sebagai seorang istri. Namun, hal itu bukan kendala untuk menjalankan berbagai rutinitas dan kewajibannya sebagai istri.

Jika memang niat, semua kewajiban bisa dilakukan, termasuk peran dalam rumah tangga. Bahkan, ketika ia kebagian work from home (WFH), ia menjalankan dua peran sekaligus saat di rumah, yaitu menjadi guru dan menjadi istri.

Ia biasanya membagi waktu, pagi hingga siang, ia menjalankan tugas menjadi guru, yaitu mengajar virtual. Mengajar pun menjadi prioritas. Sedangkan siang hingga malam, ia menjalankan tugas sebagai seorang istri. Salah satunya melakukan rutinitas ibu rumah tangga, seperti mencuci pakaian, mencuci piring dan kawan-kawan, hingga membereskan rumah.

Sedangkan jika kebagian mengajar work from office (WFO) alias di sekolah, seluruh pekerjaan rumah tangga dilakukan sebelum dan setelah pulang ke rumah. Namun, ia dan sang suami sudah saling mengerti dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi, sang suami juga seorang guru, sehingga paham betul kewajiban satu sama lain yang berurusan dengan pekerjaan.

Namun, ia dan sang suami selalu menyempatkan diri untuk menikmati kehidupan rumah tangga. Ketika sama-sama sedang libur dari pekerjaan, itu jadi waktu yang tepat untuk menjalankan hubungan yang berkualitas.

"Karena sama-sama guru, kita berangkatnya sama pagi-pagi, pulang sore. Paling jadinya kita lebih banyak quality time di weekend," tutur Witri.

Penutur Bahasa Isyarat di Polda
Satu hal yang tak kalah menarik dari sosok Witri, ia merupakan penutur bahasa isyarat di Polda Jawa Barat. Peran itu dipercayakan padanya di awal 2021 ini. Polda Jawa Barat yang bekerja sama dengan pihak SLBN Cicendo membutuhkan penutur bahasa isyarat untuk dihadirkan ketika konferensi pers atau ekspos penanganan kasus.

Ia pun dipercaya pihak sekolah untuk didelegasikan menjadi penutur bahasa isyarat di Polda Jawa Barat. Ia sudah dua kali menjalankan tugas, yaitu saat ekspos kasus narkoba dan kosmetik ilegal.

"Kenapa saya yang dipilih, karena saya bisa BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)," kata Witri.

BISINDO sendiri merupakan bahasa isyarat yang biasa dipakai teman Tuli dalam keseharian. Bisa dibilang, BISINDO ini merupakan bahasa percakapan. Sedangkan dalam kegiatan formal, misalnya saat mengajar, yang dipakai adalah SIBI alias Sistem Isyarat Bahasa Indonesia. Singkatnya, SIBI adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam bentuk bahasa isyarat.

Witri sendiri mengaku tak 100 persen menguasai kosakata dalam BISINDO. Sebab, bahasa isyarat itu kerap berkembang dan ada beberapa kata yang tak dikuasainya. Namun, secara umum, ia bisa menggunakan kata atau kalimat umum dengan menggunakan BISINDO.

Sebelum hadir dalam konferensi pers sebagai penutur bahasa isyarat, ia biasanya akan mempelajari dulu materi yang akan disampaikan narasumber. Sehingga, ketika ada kata atau kalimat yang ia tak tahu gesturnya, ia akan mencari informasi lebih dulu.

Misalnya ketika ia menemukan kata karet dan tak tahu gestur bahasa isyaratnya, ia akan segera bertanya melalui temannya yang lebih paham. "Jadi sebelum konferensi pers, saya video call dulu sama orang Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteran Tunarungu Indonesia)," ungkapnya.

Ia tak malu melakukannya. Sebab, penuturan bahasa isyarat yang dilakukannya harus tepat agar dipahami teman Tuli yang menyaksikan konferensi pers tersebut.

Menjadi penutur bahasa isyarat di Polda Jawa Barat pun jadi hal menyenangkan. Sebab, ia mendapat pengalaman baru sekaligus menambah jejaring relasi. 

Foto: Djuli Pamungkas/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler