Blindman Jack, Sampaikan Advokasi Disabilitas Lewat Komedi

Jakarta - Gemar nampil sejak kecil, Blindman Jack kemudian hadir sebagai salah satu stand up comedian. Keterbatasan fisik sebagai seorang tunanetra sama sekali enggak menghalangi Jack dan kelucuannya dalam menghibur audiens. Keren!

Dalam acara daring bertajuk 'Kenali Profesi' yang disiarkan oleh DNetworks Indonesia, Jack menceritakan perjalanan dan kedekatannya dengan dunia hiburan. Jack kecil adalah seseorang yang sudah gemar nampil. Beberapa aksinya antara lain membacakan puisi dan pantomim. Panggung pentas seni di sekolah menjadi wadah untuk Jack kecil nampil.

Saat masuk usia remaja, Jack yang kala itu mulai mengalami rabun tetap pede nampil. Masa-masa itu dihabiskannya sebagai rapper dan pemain band. Ia menyebut fase ini adalah fase di mana ia mencoba menjadi pria 'cool', walau ia mulai merasa matanya mengalami rabun. Secara enggak sadar, ia juga mengenal komedi pada fase ini. Di tengah kosongnya jam pelajaran, ia biasanya membuat cerita yang menghibur teman-temannya.

"Enggak jauh dari musik sih saat SMP dan SMA tuh. Karena ceritanya saya kepengin menampilkan diri sebagai pria cool," terangnya sembari tertawa.

Saat masuk dunia kuliah, Jack lebih sering nampil di hadapan teman-temannya. Ia mulai serius bermain band dan menjadi ‘komedian tongkrongan’. Saat itu juga band Jack bersama teman-temannya mulai aktif manggung walau belum sempat rekaman. Nah, tantangan baru kemudian didapatinya saat ia masuk dunia kerja. Ia mulai diperkenalkan dengan profesinya di bidang advokasi disabilitas.

Dunia pekerjaan yang dianggapnya ‘terlalu serius’ membuat Jack mengeksplorasi sisi-sisi entertain atau hiburan yang dulu pernah dijalaninya. Ia menyebut, pekerjaan yang terlalu serius itu dikarenakan ritme kerja yang terlalu serius ini karena saban hari ia menjalani rutinitas yang sama. Ia belajar tentang organisasi, dan mendapat banyak pengetahuan baru tentang isu disabilitas.



Baca Ini Juga Yuk: Silvia Rizka Agustina, Cinta yang Berujung Jadi Pemandu Museum

Sebagai hiburan, ia memanfaatkan kemampuannya ngeband dan ber-komedi. Dua hal ini terus dijalankan hingga akhirnya ia merasa dapat menemukan stand up comedy sebagai media untuk menyampaikan advokasi terkait isu yang dikuasainya, yakni disabilitas.

"Jadi, siangnya ngomongin yang serius, malemnya baru deh kita berkomedi. Karena saat kita berkomedi, kita kayak nemu AHA momen. Kayak ketawa, lalu abis itu kita kayak mikir 'oh, iya ya.' gitu deh," ungkap Jack.

Kendati demikian, ia tidak menampik kalau advokasi formal perlu juga dilakukan. Hanya saja ia merasa kapasitasnya cenderung mengarah sebagai pemicu kesadaran masyarakat lewat nilai entertain atau hiburan yang ia miliki.

Perkenalannya dengan stand up comedy berawal saat dirinya menonton tayangan komedi dari Bill Cosby dan Robin Williams. Ia merasa ini adalah salah satu suguhan baru, kendati saat itu stand up comedy belum dikenal sebagai salah satu aliran komedi dalam sebuah pertunjukan. Saat perkembangan stand up comedy mulai terlihat, bahkan masuk ke ranah industri hiburan dengan hadirnya berbagai acara-acara stand up comedy, Jack sedang menimba ilmu di Australia. Namun di sana, ia mendalami stand up comedy itu. Beberapa kali ia menjadi penampil di acara-acara kampus. Dan saat kembali ke Indonesia, Jack kemudian bergabung dengan komunitas Standup Indo Jaksel. Di sana, ia berjejaring dengan banyak teman baru, dan banyak nampil di berbagai panggung lawak.

Tentang Komedi dan Disabilitas
Terkait profesi komedian yang dijalankan oleh penyintas disabilitas, Jack bukanlah satu-satunya. Masih ada nama seperti Dani Aditya, misalnya. Menanggapi hal tersebut, Jack justru mendukung pergerakan teman-teman difabel untuk mengeksplorasi bidang hiburan seperti komedi ini. Bahkan, ia punya pandangan kalau teman tuli diharapkan bisa ikut meramaikan ranah ini.

"Saya belum denger (ada teman tuli yang jadi stand up comedian). Padahal (stand up comedian) ini bisa banget dilakukan oleh teman-teman tuli," katanya.

Lebih mendalam lagi, Jack menyebut sebetulnya si pemateri stand up comedy ini enggak perlu terlalu terpaku kepada upaya melawak atau melucu, karena sebetulnya hal-hal sederhana yang kita temui sehari-hari juga bisa menjadi sesuatu yang bersifat komedi. Ia menirukan rumus dari salah satu komedian Indonesia, Ernest Prakasa, yang menyebut kalau komedi terdiri dari tragedi dan timing. Artinya, kita perlu memainkan waktu (timing) untuk menyajikan tragedi ini menjadi materi hiburan atau lawakan agar dapat disampaikan secara maksimal.

Di mata Jack, seorang stand up comedian harus mempunyai keresahan dan isu yang ia sampaikan. Jadi, stand up comedy bukanlah bercandaan di tongkrongan yang kamu bawa ke atas panggung, ya. Oleh karenanya, penting banget buat kamu yang kepengin menjajal profesi sebagai stand up comedian ini untuk membawa isu dari sesuatu yang ada di dekatmu.

"Kita banyak melihat sekitar aja. Apa sih yang selama ini kita rasakan? Itu yang akhirnya kita olah untuk kita sampaikan ke pendengar. Tapi nilai mirisnya dikurangin. Kita sampaikan secara lugas biar pendengar itu menanggapi ini tuh masalah yang elu harus tau. Dan setelah itu kita gali sisi komedinya," papar Jack.

Hal menarik dari stand up comedy itu sendiri di mata Jack adalah unsur komedinya bukan sesuatu yang kita cari, tetapi kita temukan sendiri. Seni mengolah tragedi dan waktu ini diperlukan oleh seorang stand up comedian.

Menjadi Normal Lewat Komedi
Belakangan, Jack sedang aktif dalam gelaran ‘Apa Itu Normal?’. Acara daring yang menampilkan teman-teman penyintas disabilitas yang tampil sebagai pelawak tunggal. Jack menyebut acara ini begitu diminati penonton. Bahkan, tiket untuk acara ini selalu ludes terjual.

Pada akhirnya, kegiatan Jack sebagai ‘orang kantoran’ dan juga sebagai penampil atau enternainer juga mulai seimbang. Ia bahkan menyebut skalanya 50 persen berbanding 50 persen. Dunia hiburan ini juga diakui Jack bakal menjadi sesuatu yang bakal ia jajaki ke depannya.

Sebagai pamungkas, Jack menyarankan kepada teman-teman yang memang berminat untuk mendalami stand up comedy untuk mulai berlatih menulis dan membawa isu dari dalam dirimu sendiri terlebih dahulu. Selain itu, kamu juga disarankan untuk berjejaring dengan bergabung ke dalam komunitas pelawak tunggal atau stand up comedy yang ada di wilayah tempat tinggalmu.

"Komunitas tuh ada di tiap Kota atau Kabupaten deh saya rasa. Jadi, buat temen-temen yang mau gabung, bisa segera dicari dan dikontak tuh komunitas yang ada di wilayahnya masing-masing," tutupnya.

TemanBaik, kisah perjalanan Jack merupakan salah satu contoh kalau keterbatasan fisik bukan menjadi alasan untuk kita berhenti produktif dan bermanfaat, setidaknya untuk diri kita sendiri dulu deh. Berkaca dari kisah Jack, lalu, alasan apa lagi yang kita siapkan untuk bermalas-malasan? Nah, ayo TemanBaik, temukan dirimu lewat kegemaranmu! Tetap semangat ya!

Foto: Tangkapan Layar Zoom DNetworks Indonesia

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler