Alison Thackray, dari Peran Hantu ke Komedi Tunggal

Bandung - TemanBaik, masih ingat dengan sosok Alison Thackray, si 'Bule Bandung' yang sering nampil sebagai pelawak tunggal di salah satu stasiun televisi? Nah, sekarang, bagaimana kabarnya ya?

Alison belakangan ini memang tinggal di negara asalnya, Inggris. Namun saat kami menghubunginya, ia menyebut baru sebulan belakangan ini ia sudah kembali tinggal di Indonesia. Selanjutnya, kami pun diberi kesempatan untuk ngobrol bersama dia tentang perjalanan hidupnya, dan keberdayaan di mata Alison. Simak obrolan kami yuk!

Hai, Alison. Lagi di Indonesia nih sekarang?

“Oh hai! Iya, aku saat ini baru kembali ke Indonesia. Ini sudah sekitar satu bulan saya ada di Indonesia.”

Alison, kita kepengin banget ngobrol dengan kamu tentang perjalananmu sebagai salah satu wanita tangguh. Berkenan?

“Ya! Tentu. He-he-he. Kita bisa mulai dari mana ceritanya?”

Dari pertama kali Alison menginjakkan kaki di Indonesia aja deh. Kapan sih?

“Wow! Kalo itu sih umur gue ketahuan berapa dong. Ha-ha-ha. Jadi, pertama kali aku ke Indonesia itu tahun 1988.”

Bagaimana ceritanya tuh waktu pertama kali ke Indonesia?

“Awalnya saya ke Bali. Standarlah, kayak bule pada umumnya. Liat pantai begitu. Dan sebelumnya kebetulan saya pernah sekolah (SD) di Thailand selama 2 tahun. Nah, momen pertama ke Indonesia itu ya di sela-sela liburan saya sebagai anak SD Thailand.”

Apa yang terlintas di benak Alison waktu itu?

“Memang usia saya masih remaja ya. Hanya saja, saya ngerasa jatuh hati dengan kultur Asia. Khususnya ya Asia Tenggara ini ya. Dan itu berpengaruh banget waktu saya kembali ke Inggris.”

Berpengaruh gimana itu maksudnya?

“Saya ngerasa asing di Inggris. Ha-ha-ha.”

Ia menjelaskan, untuk menghabiskan masa remaja sebagai wanita di Inggris tidaklah mudah. Setidaknya itu berlaku untuk seorang Alison yang nyaman dengan masa kanak-kanaknya.

Seiring bertambahnya usia, Alison kemudian melanjutkan studi ke sekolah menengah dan berkuliah di jurusan Antropologi Sosial di salah satu kampus Inggris. Enggak disangka, jurusan kuliahnya itulah yang mengantarkan Alison ke Indonesia.

Kenapa kuliah ngambil jurusan tersebut?

“Hhmmm. Karena tertarik. Dan yang jelas saya itu dikasih anggaran untuk pergi ke manapun. Keliling dunialah. Dan saya memilih Indonesia saat itu. Menariknya, saya tiba di Indonesia itu pada bulan Mei 1998. Di mana ada peristiwa sejarah yang cukup seru saat itu.”

Apa yang terpikirkan Alison saat nyatanya kembali ke sini dan di sini sedang terjadi huru-hara?

“Saya enggak nyangka. Jadi, sebelumnya saya meng-update negara-negara mana aja yang aman buat dipakai penelitian skripsi. Dan Indonesia itu masuk kategori negara aman. Dan saya enggak nyangka, begitu saya datang, baru saja terjadi pergolakan. Saya datang itu dua hari setelah Presiden mengundurkan diri. Berarti sekira tanggal 23 Mei 1998. Wow! Dan saya enggak bilang ke dosen pembimbing. Saya kabari beliau saat sudah tiba di Indonesia. Ha-ha-ha.”

Apa saja sih yang Alison lakukan saat pertama datang ke Indonesia?

“Waktu itu saya 6 bulan di Indonesia. Ya, penelitian skripsi. Tentang perkembangan negara. Dan ya menariknya, apa yang terjadi di Indonesia saat itu justru itu yang membuat saya dapat nilai tinggi. Dan kamu tahu enggak? Apa yang membuat saya menjadi ‘milik Indonesia’ saat itu?”

Apa itu?

“Saat saya makan nasi padang. He-he-he. Saat saya makan nasi padang, saya ngerasa saya ini sudah milik Indonesia.”

Waktu itu Alison tonggal di Indonesia bagian mana?

“Saya tinggal di Tanggerang. Mungkin boleh jadi itu tempat yang cukup panas dan berdebu ya. Tapi mau bagaimana lagi? Orang-orangnya ramah.”

Oh ya, kenapa sih orang Bule selalu bilang orang Indonesia itu ramah?

“Karena kamu enggak tahu Bule itu se-sombong apa kalau lagi di negaranya. Ha-ha-ha.”

Setelah enam bulan menghabiskan waktu di Indonesia, jalan hidup Alison diakui oleh dirinya cukup ribet. Ia pernah tinggal di Australia, lalu kembali ke Manchester, Inggris. Saat itu, Alison telah menikah dan memiliki seorang putra bernama Stephen.

Prahara dalam rumah tangga Alison justru malah membawanya kembali ke Indonesia. Saat rumah tangganya berkesudahan, ia merasa ini waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia. Dengan bermodalkan keterampilan bahasa, Alison kemudian melamar untuk jadi pengajar Bahasa Inggris. Tujuannya sederhana: agar ia bisa hidup dan menghidupi sang Putra.

Tahun berapa saat memutuskan kembali dan ngajar Bahasa Inggris?

“Tahun 2004. Dan saat itu saya kembali ke Tanggerang. Ya, karena ada teman di sana. Saya melamar ke mana-mana, dan akhirnya melamar ke salah satu tempat les di Bandung. Itu enggak kerasa ya, dari Stephen se-kecil apa, sampai se-gede apa.”

Itu masih jauh dari fase stand up comedy, kah?

“Jauh. Sebelum jadi stand up comedian itu, saya jadi hantu dulu di beberapa panggung band Sarasvati.”

Barangkali di antara kamu pernah menonton pertunjukan musik dari band asal Bandung, Sarasvati, boleh jadi kamu pernah dikejutkan oleh sosok hantu perempuan Belanda dengan berbagai nama tokoh, salah satunya Ivanna. Nah, Alison-lah yang memerankan hantu perempuan tersebut.

Diakui Alison, peran tersebut muncul saat putranya, Stephen, terlibat dalam proses kreatif pembuatan single ‘Story of Peter’ milik Sarasvati, yang pertama kali muncul pada tahun 2010. Karena kebutuhan pertunjukan saat itu mengharuskan adanya sosok Ibu dari hantu kecil Peter, diajaklah Alison untuk memerankan tokoh hantu Ibu Peter itu.

Alison percaya hantu enggak?

“Terus terang, enggak. Ha-ha-ha. Dan saat pertama kali muncul sebagai Ibu Peter, saya juga sedang aktif menjadi stand up comedian itu. Jadi, kurang lebih berbarengan lah ya. Enggak jauh -jauh amat. Dan yang malah jadi menarik sih salah satunya saat beberapa orang malah tahu saya dari stand up comedy itu, lalu mereka bilang ‘wah saya tahu Teh Alison yang di Kompas TV’ aduh, ini kan artisnya Risa, bandnya Sarasvati. Jangan liat gue dong sebagai talent samping. Ha-ha-ha.”

Saat jadi hantu, bagian mana yang paling sulit buat Alison?

“Ivanna. Karena sosok Ivanna ini bikin saya agak ketakutan. Enggak tahu, mungkin karena saya terlalu masuk ke karakternya. Pokoknya di Ivanna itu saya ngerasa saya ada perubahan dalam diri saya.”

Pernah lihat hantu enggak sih? 

“Kalau lihat langsung sih belum. Hanya saja, di dalam hidup saya kayak ada beberapa kejadian yang enggak bisa saya terima pakai logika. Tapi, saya enggak mau mikirin jadi saya lewat saja. Ha-ha-ha.”

Selain jadi hantu, kegiatan Alison saat itu apa?

“Saya lama siaran di salah satu stasiun radio di Bandung. Selain itu, karena saya suka menari, jadi saya kerap berkumpul dengan teman-teman yang suka menari.”

Tinggal di Bandung, kan di daerah pemukiman nih. Alison pernah dimintain foto enggak sih?

“Pernah. He-he-he. Ini yang saya aneh sama beberapa orang di Indonesia. Ada bule kok difoto? Ha-ha-ha. Seriusan deh, bule itu sebetulnya sama saja kayak kalian kok. Sama-sama manusia.”

Mungkin karena bule, kali...

“Iya. Tapi kalau bicara bule nih. Karena kulit kita putih misalnya. Itu bukan suatu kelebihan kok. Malah kekurangan. Kan bule itu kulitnya putih, itu karena kekurangan pigmen yang namanya melanin. Fungsinya ini untuk melindungi dari paparan sinar matahari. Nah, di Inggris sih kita jarang ketemu matahari, jadi enggak butuh pigmen itu.”

Kalau belajar Bahasa Sunda itu sendiri bagaimana?

“Hal-hal tertentu yang pasti kita dapat saat tinggal di suatu wilayah adalah bahasa. Dan sebenarnya justru Stephen yang ngerti Bahasa Sunda duluan. Karena saya tinggal di Dago, dan Stephen kan mainnya sama anak-anak, ya bisa dibilang anak situ asli lah yang setiap hari mereka ngomong pakai Bahasa Sunda.

Satu ketika saya nyuruh Steven mandi, saya bilang ‘Stephen, it’s time to shower..’ dan dia bilang ‘Embung..’ ha-ha-ha. Jadi kata pertama yang saya tahu itu ya Embung. Lalu, kemudian saya dikasih tahu tetangga kalau embung itu kasar. Bagusnya bilang alim. Dan belakangan, saya paham ada tingkatan dalam Bahasa Sunda.”

Ada enggak sih hal yang berubah sejak Alison jadi hantu dan pelawak tunggal?

“Ada. Spontanitas. Pernah satu ketika saya ditelepon Risa untuk datang ke salah satu acara peluncuran bukunya. Begitu saya datang, saya diminta ganti kostum. Awalnya saya kaget, ‘ini mau apa? Ada apa?’ dan ternyata saya diminta membaca puisi. Ha-ha-ha, itu seru sih. Karena briefingnya tuh sesimpel, ini panggung, ini naskah, kamu sudah didandanin. Ya, get on the stage!”

Terkait penampilannya di acara lawak tunggal atau stand up comedy, Alison memang sudah menggemari acara stand up comedy di Inggris sejak kecil. Salah satu jenis komedi yang dia suka adalah komedi jenius, seperti yang dibawakan Daisy Donovan. Dalam menyajikan materi stand up comedy pun, Alison banyak membawakan materi dengan gaya demikian (komedi cerdas).

Saat kuliah di Inggris juga, Alison mengikuti sejenis Unit Kegiatan Mahasiswa di bidang teater. Kemampuan olah tubuh itu pula yang ‘digunakan’ oleh Alison saat memerankan tokoh hantu.

Sebagai pengajar Bahasa Inggris, atau katakanlah pengajar bahasa secara umum, Alison menganggap bahwa tidak ada standar ideal untuk seseorang mempelajari bahasa. Maksudnya di sini adalah tiap orang sah-sah saja belajar bahasa dengan gaya apapun, tergantung konteks ia akan menggunakan bahasa tersebut di mana.

Jadi enggak ada dong istilah belajar sama Bule bakal bikin kita lebih cepet jago Bahasa Inggris misalnya?

“Tergantung di mana kita perlu bahasa tersebut. Soal bahasa ya, yang kita pikirin adalah kita mau pakai di mana bahasa itu? Kalau saya sih ke Indonesia, saya perlu belajar Bahasa Indonesia untuk bertahan hidup. Cara belajarnya pun saya sesuaikan.”

Oh, jadi kalau buat tujuan lain misalnya untuk kuliah atau kerja, belajar bahasa asing dengan metode ‘bahasa tarzan’ enggak bisa ya?

“Kalau keperluan buat kuliah sih saya enggak menyarankan. Bagusnya ya belajar bahasa yang benar. Dan enggak bisa langsung lancar atau langsung jago ya seseorang dalam belajar bahasa itu.”

Jadi enggak apa-apa ya, kalau salah memakai bahasa?

“Saya belajar Bahasa Sunda atau Bahasa Indonesia  juga kan setelah beberapa kali salah. Misalnya, di Inggris itu kita hanya tahu satu kata ‘full’. Dan itu artinya kenyang. Suatu ketika, saya beli mobil pertama kali di Indonesia, dan saya ke pom bensin, saya bilang ke petugasnya ‘itu kenyangin..’ di sana mereka ketawa. Mereka bilang ‘Bu, maksudnya penuhin..’ dan saya kayak yang it’s okay. Saya belajar hal baru. Intinya dalam belajar bahasa, jangan takut salah.”

Terkait Bahasa Indonesia ini. Keunikan apa yang Alison dapat dari Bahasa Indonesia?

“Kalau di angkot ada orang bilang ‘kiri’. Itu kan ada beberapa jenis, ya. Kiri, kiri-kiri, dan kiri-bang! Nah, itu artinya kan kira-kira kalau kiri itu ‘stop!’, kiri-kiri itu ‘stop, now!’ dan kiri bang itu ‘stop-right-now!’ Ini sudah kelewat woy! Ha-ha-ha.”

Kalau orang Indonesia salah ngomong Bahasa Inggris, orang Bule bisa ngerti enggak sih?

“Hmm. Kalau menurut saya sih belajar Bahasa Inggris di Indonesia itu yang menyeramkannya kalau salah ngomong ke orang Indonesia. Kita mah sebagai Bule ya, enggak apa-apalah. Kayak misalnya ada Putri Indonesia zaman dulu siapalah, dia ngomong Bahasa Inggrisnya biasa saja begitu, dia akan dikritik habis-habisan sama orang Indonesia.”

Selama ngajar bahasa itu bagian paling ngeselinnya di mana?

“Hhmmm, kalau ada orang yang dia nanya kesalahannya dalam berbahasa Inggris, pas dikasih tahu, dia ngeles ‘saya pernah baca di internet...’ haduh, itu tuh ngeselin. Ha-ha-ha.”

Belakangan, Alison juga disibukan dengan bisnis internasionalnya di englop. Nah, terkait englop, Alison menyebut kalau bisnis ini merupakan bisnis internasional yang dijalankannya dengan tujuan konsumen di seluruh dunia yang ingin belajar Bahasa Inggris.

Englop sendiri bukanlah tempat les Bahasa Inggris. Tujuan englop itu sendiri adalah untuk memfasilitasi orang-orang di penjuru dunia manapun untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Tujuan lainnya adalah membangun komunitas buat orang yang ingin memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Oh, dikiran tempat les...

“Enggak sih. Jadi itu tuh untuk teman-teman yang kemampuan Bahasa Inggrisnya middle ke atas lah. Buat teman-teman yang kepengin membenarkan Bahasa Inggrisnya karena dia mau kuliah, misalnya gitu..”

Terus kalo mau lebih tau banyak hal tentang englop, itu gimana?

“Cek aja di website, www.englop.com. Hanya saat ini kita masih dalam tahap percobaan. Kalau untuk kamu yang kepengin tanya-tanya dulu, bisa subscribe news aja via website untuk tau update produk dan lain sebagainya. Biasanya kita kabari kok.”

Aktivasinya hanya di website ya?

“Kita bikin juga kanal YouTube. Awalnya, kanal YouTube ini difungsikan buat kita meraup member komunitas. Tapi karena enggak ada yang kepancing sama kontennya, jadi ya sudahlah. Ha-ha-ha. Eh tapi di YouTube itu saya bikin konten namanya Word of The Day. Nah, di sana, kita dapat segmen penonton dari komunitas yang enggak ada dana buat jadi member, tapi dia kepengin ilmu gratislah. Ya udah enggak apa-apa.”

Kalau yang di YouTube itu Word of The Day ya? Maksudnya gimana?

“Sebetulnya itu marketing. Ha-ha-ha. Enggak sih. Tujuannya itu saya memperkenalkan kosakata (vocabulary) sekalian untuk bantuin penonton tahu cara pengucapan. Karena masalah utama orang yang jago Bahasa Inggris itu permasalahannya di bentuk pengucapan. Nah, di Word of The Day itu kita diajarin mulai dari katanya, pengucapan, kapan kata itu dipakai. Itu sih buat siapapun yang kepingin belajar dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.”

Jadi itu berbayar enggak sih lesnya?

“Kalau di YouTube gratis. Tapi di website itu berbayar. Buat saat ini sih, ‘paket’ belajar yang paling berhasil banyak justru yang harganya paling mahal. Ada namanya elite program. Itu harganya di kisaran 97 dolar per bulan. Oh ya, sebagai catatan. Ini bukan usaha di Indonesia. Ini usaha internasional, yang mana kita juga pakai dolar sebagai tarifnya.”

Sebagai Bule yang lama tinggal di Indonesia, udah ngerti dong ya kesalahan orang Indonesia dalam berbahasa Inggris?

“Ya. Saya rasa sih begitu. Nah, di englop ini juga tuh misinya kita kayak kepingin ngasih pengalaman untuk orang yang mau belajar Bahasa Inggris, tapi enggak sempet atau enggak bisa ketemu bule.”

Selain dikenal dengan sosok wanita yang multitalenta sebagai pengajar bahasa, penyiar radio, pemeran teater, hingga pelawak tunggal, Alison juga termasuk wanita yang peka akan isu kesetaraan. Ia juga nampak aktif bersama teman-teman komedian lainnya dengan entitas #PerempuanBerhak. Di sana, komika-komika perempuan juga coba menyajikan lelucon lucu namun sarat makna.

Saat ditanya mengenai hal ini, Alison menyebut kepekaan terhadap isu kesetaraan ini didapatkannya sejak di rumah. Direktur di PT. Starlight Edutainment ini menyebut dirinya dibesarkan di lingkungan yang mengharuskannya bisa menguasai berbagai kemampuan, termasuk kemampuan yang biasanya lebih umum dilakukan oleh kaum adam.

Bagaimana Alison memandang hari perempuan sedunia?

“He-he-he. Saya itu jarang banget dikenal atau kalau orang liat saya, orang itu bilang: ‘eh, ada cewek’, yang artinya dikenal sebagai perempuan ya. Saya dikenalnya sebagai bule. Ha-ha-ha. Hanya satu kali saya dianggap wanita, itu saat saya hamil. Mereka bilang ‘eh, ada wanita hamil. Ayo kasih tempat duduk.’ Ya, risiko orang bernama Alison, artinya Putra Ali (Ali-Son) kan.

Tapi saya beruntung karena dibesarkan di lingkungan keluarga yang bisa dibilang ‘buta gender’. Ayah saya itu dididik oleh nenek saya diajarkan untuk bisa melakukan segala hal dari membenarkan motor sampai bikin kue. Jadi, bukan masalah ini laki atau perempuan, tapi ini life skill, atau kemampuan hidup.”

Jadi, perempuan yang keren itu adalah perempuan mandiri dong?

“Ya, saya kira begitu ya. Masalah se-sepele ganti galon aja, biasanya perempuan suka ngandelin laki-laki. Intinya saya bukan tipe yang anggun-anggun banget. Saya ngerasa enggak semewah karena saya bule, atau enggak se-princess karena saya wanita. Enggaklah, minimal angkat galon aja sih saya bisa sendiri. Masak saya yang minum airnya, orang lain yang angkat galonnya? Ha-ha-ha.”

Alison punya harapan apa di hari perempuan sedunia ini?

“Perempuan bisa jadi kuat karena bantuan keluarga. Pertama itu. Kedua, saya berharap perempuan di manapun mereka berada, bisa bebas menentukan hidupnya. Dan kedua, tiap keluarga bisa jadi wadah semangat buat tiap perempuan untuk mereka menentukan jalan hidup sendiri. Sebab saya percaya, saat kita melakukan sesuatu yang kita senang melakukannya, kepuasannya justru ada di situ. Ah, saya jadi merinding! Udahan ah, saya sekarang jadi gampang merinding. Jangan-jangan ini hantu Elizabeth datang. He-he-he.”

TemanBaik, kita bisa belajar dari perjalanan Alison ‘merantau’ dan mengenal banyak hal yang ada di dunia. Pertama, dari setiap tempat yang kita kunjungi, pasti ada nilai positif yang bisa kita ambil dan bawa, lalu, dalam proses belajar, kita enggak perlu takut salah. Sebab, dari kesalahan itulah kita bisa mendapatkan ilmu baru.

Senada dengan harapan Alison, semoga tiap orang di muka bumi ini bisa mendapat kebebasan untuk memilih jalan hidup yang diinginkannya. Selamat berakhir pekan ya, TemanBaik!


Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler