Sang Guru di Balik Mobil Pinjaman Konferensi Asia Afrika

Bandung - TemanBaik, sudah tahu kan jika Indonesia punya peran penting di dunia? Hal itu bisa dilihat dari digelarnya Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18 April 1955. Momentum ini turut mendorong semangat dan perlawanan berbagai negara di dunia, khususnya di Asia dan Afrika, untuk meraih kemerdekaan.

KAA pun masih sangat menarik untuk terus diulas dari waktu ke waktu. Sebab, selalu ada cerita menarik yang layak untuk dihadirkan ke publik. Salah satunya adalah mobil pinjaman di balik KAA. Simak kisahnya, yuk!



Sulitnya Mencari Mobil Antik
TemanBaik, terbayang enggak bagaimana repotnya menyediakan lebih dari 100 mobil untuk digunakan para delegasi KAA? Di zaman sekarang, mungkin jauh lebih mudah menyediakannya karena banyak yang memiliki mobil, bahkan ada banyak tempat rental atau penyewaan.

Namun, bayangkan di tahun 1955, mobil masih jadi sesuatu yang sangat mewah dan jarang banget. Mereka yang memiliki mobil saat itu jelas bukan orang sembarangan alias kebanyakan merupakan orang-orang kaya.

Landung (96), tahu betul bagaimana sulitnya menyediakan mobil bagi para delegasi KAA. Sebab, ia merupakan saksi sejarah KAA sekaligus pelaku di dalamnya. Ia merupakan relawan yang bertugas menyiapkan akomodasi, terutama mobil bagi delegasi KAA.

Pria yang akrab disapa Abah Landung itu bercerita, di awal Februari 2021, Kementerian Luar Negeri memerintahkan panitia daerah KAA di Bandung untuk menyediakan akomodasi dan transportasi.



Panitia saat itu pun memutar otak. Apalagi, mobil yang ingin dihadirkan adalah mobil-mobil antik sesuai keinginan Presiden Ir. Sukarno. Abah Landung berjuang keras untuk mendapatkan mobil sesuai yang diinginkan panitia. Singkat cerita, mobil-mobil itu berhasil didapatkan dan digunakan para delegasi. Sehingga, KAA pun bisa terlaksana dengan lancar.

"Dari Februari sampai April, saya dapat mobil kurang-lebih 28," ujar Abah Landung.



Baca Ini Juga Yuk: Alison Thackray, dari Peran Hantu ke Komedi Tunggal

Berburu dengan Sepeda
Kebetulan, Abah Landung saat itu merupakan guru relawan yang mengajarkan warga di Bandung membaca dan menulis. Ia pun tetap menjalankan kesehariannya mengajar. Di saat yang sama, ia berburu mobil agar bisa dipinjam untuk perhelatan KAA. Alhasil, sebagian mobil berhasil dihadirkan Abah Landung.

Dalam perburuannya, ia menemui banyak orang yang memiliki mobil. Bahkan, ia juga kerap bertanya pada anak didiknya soal informasi siapa orang yang punya mobil. Perjalanan Abah Landung pun cukup unik, sebab ia berkeliling Bandung menggunakan sepeda untuk mengajar sambil berburu mobil.

Ia pun tak lelah mengayuh sepeda setiap hari untuk mengumpulkan mobil. Di saat yang sama, ia tetap mengajar seperti biasa. Namun, kondisi saat itu dan kesibukannya mengajar tetap bisa membuatnya menjalankan tugas dengan maksimal menghadirkan mobil untuk KAA.

"Pada waktu itu memang sulit, kendaraan juga terbatas, dan kendaraan yang saya punya hanya sepeda onthel," ungkapnya.



Pinjaman Tanpa Pamrih
Peran sebagai relawan guru pun memberi berkah tersendiri baginya saat berburu mobil. Apalagi, ia cukup terkenal di kalangan warga Bandung dan sangat dihormati. Mereka yang dipinjam mobilnya sama sekali tak keberatan. Bahkan, tak ada uang sewa. Namun, para pemilik mobil dengan senang hati meminjamkan mobilnya.

Hal itu tak lepas dari rasa hormat mereka pada sosok Abah Landung. Mungkin jika meminjam mobil dilakukan orang lain, belum tentu mereka mau merelakan mobilnya dipinjam untuk perhelatan KAA. Kebayang enggak bagaimana jadinya kalau mobil-mobil itu enggak bisa dihadirkan? Perhelatan KAA bisa saja terhambat.

"Yang punya mobil itu saat itu kebanyakan orang pasar, orang Jalan ABC, Suniaraja, Citarum, Cigondewah. Mereka dengan baik meminjamkan tanpa ada syarat apa-apa," tuturnya.



Menurutnya, para pemilik mobil saat itu begitu antusias meminjamkan mobilnya. Mereka tak minta dibayar. Sebaliknya, mereka justru berlomba-lomba ingin berkontribusi untuk membantu kesuksesan pelaksanaan KAA.

"Dasarnya dulu itu (orang-orang yang dipinjam mobilnya) tuh ikhlas, tidak ada pamrih, taat, saling menghormati," ungkap Abah Landung.

Sementara selain dari warga Bandung, mobil lainnya didatangkan panitia KAA dari daerah lain. Salah satunya berkat peran Soewarma, juru transportasi KAA. Mobil-mobil itu didatangkan dari Surabaya, Batavia, dan Yogyakarta. Selain mobil, Soewarma juga menyiapkan transportasi lain bagi delegasi KAA, seperti kereta api dan pesawat.



Foto    : Djuli Pamungkas/beritabaik.id
Layout : Agam Rachmawan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler