Sheni Chen, Memaknai Kesetaraan dengan Yoga dan Punk

TemanBaik, selama ini dunia punk kerap dianggap identik dengan representasi dari sikap ekspresif, memberontak, hingga kebebasan. Di sisi lain, olahraga yoga diidentikkan dengan ketenangan dan kedamaian.

Dua hal ini pun kerap dipandang sebagai hal yang berlawanan satu sama lain. Namun, Sheni Chen mengubah paradigma itu. Ia justru bisa menyatukan keduanya, antara yoga dan punk. Sehingga, keduanya menjadi satu entitas yang disebut unik, yogapunx.

Kini, perempuan 38 tahun itu pun aktif dengan dunia yoga dan punx. Ia menjadi instruktur yogasejak 2015. Kenal lebih dekat dengan Sheni dan yogapunx, yuk!

Jatuh Cinta pada Punk Sejak Remaja
Lahir dan besar di Bandung, Sheni mulai tertarik pada dunia punk saat menginjak bangku SMP sekitar tahun 1997. Saat itu, ia tertarik dengan dunia punk karena teman-teman di sekitar tempat tinggalnya berpenampilan selayaknya anak punk. Keren, itu jadi satu kata pertama yang ada dalam benak Sheni saat itu. Singkat cerita, ia pun mulai ikut-ikutan mengikuti tren punk saat itu bersama teman-temannya.

"Biasa lah, kan anak SMP ya, katanya kan umur segitu lagi nyari jati diri," ujar Sheni.

Ia pun akhirnya mulai akrab dengan musik punk, penampilan ala anak punk, dan tentunya gaya hidup anak punk. Lama-kelamaan, ia pun lebih mendalami dunia punk, bukan sebatas pada tampilan fisik semata. Ia mulai membaca buku-buku yang membahas seputar dunia punk. Hal itu semakin menguatkannya untuk tetap konsisten dengan gaya hidup punk.

Sheni juga mulai aktif ngeband, Ia pernah tergabung di beberapa band punk. Namun, hal itu dilakukannya semata-mata untuk mencari kesenangan, bukan untuk mencari uang.



Belajar Banyak dari Punk
Berkutat dalam dunia punk memang kerap masih ada yang mengasosiasikannya dengan hal-hal negatif. Namun, Sheni merasa ia justru mendapat banyak pelajaran di dunia punk. Ia bahkan merasa dirinya terselamatkan dari pergaulan dunia hitam teman-teman sebayanya dulu.

"Ternyata si punk ini menyelamatkan kehidupan remaja saya," ucapnya.

Menurutnya, saat remaja, teman-temannya ada yang terjebak pada hal negatif, mulai dari dugem alias dunia gemerlap, geng motor, berkelahi, hingga narkoba. Ia justru terhindar dari pergaulan-pergaulan semacam itu karena berkutat di dunia punk.

Baca Ini Juga Yuk: Melcyana Wulandari, Perempuan di Balik Kerajinan Wayang Pamulihan

Ia bahkan menemukan berbagai pandangan yang sesuai dengan pemikirannya. Ia bisa memaknai esensi kehidupan dari sudut pandang sebagai seorang anak punk yang memang mempelajarinya, bukan karena ikut-ikutan.

Dalam dunia punk, ia memandang ada kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya sama-sama manusia yang tak perlu dibedakan satu sama lain.

"Di punk itu saya meihat tentang gimana melihat manusia itu sama aja, bukan si ini perempuan, si ini laki," katanya.

Beragam perbedaan dalam kehidupan juga terlihat nyata dalam potret anak-anak punk. Namun, anak-anak punk tetap hidup dalam harmoni dan kebersamaan. "Jadi (punk) itu benar-benar mengubah mindset dan basic, itu kebawa terus sampai sekarang," tuturnya.

Ia sendiri mengaku tak bisa mendeskripsikan apa itu punk. Sebab, menurutnya hal itu terlalu subyektif untuk dijelaskan. "Dari dulu kalau ditanya tentang punk, enggak ada arti baku sih, karena terlalu luas dan terlalu subyektif, terlalu personal. Jadi susah mendeskripsikannya," ungkapnya.

"Paling kayak cerita kayak gini (menjelaskan apa itu punk), apa yang ngaruh ke hidup saya sekarang. Pokoknya, yang jelas nyelamatin hidup saya," papar Sheni.



Mengenal Yoga
Setelah berkutat dengan dunia punk dan selingkarnya, Sheni punya ketertarikan tersendiri terhadap yoga. Setelah mulai memasuki usia 30 tahun, ia merasa kesehatannya mulai menurun. Hal itu diakuinya tak lepas dari gaya hidupnya di masa lalu.

"Saya mulai nyoba-nyoba olahraga, tapi tertariknya sama yoga karena ngelihatnya bukan cuma fisik aja, tapi mental juga, dan itu yang memang diperluin, bukan cuma fisik olahraga tuh," ujar Sheni.

Ketertarikan ia pada yoga ada sejak 2009. Saat itu, ia sedang tinggal di Makassar. Di sana, ia mulai mencari berbagai informasi soal yoga, salah satunya membaca artikel. Ia pun sempat mencari informasi soal olahraga yoga di sana, tapi harganya dirasa mahal.

Pada 2010, ia memutuskan kembali tinggal di Bandung. Ketertarikan pada yoga pun masih bergelayut dalam benaknya. Ia pun mencari informasi lagi, termasuk ke studio yoga di Bandung.

"Ternyata sama aja mahal. Terus kepikiran, aduh kayaknya bukan olahraga buat saya deh karena enggak terjangkau," katanya.

Namun, ia seolah mendapat jalan tersendiri dan berjodoh dengan yoga. Saat itu, ia punya teman yang kebetulan sedang belajar menjadi instruktur yoga. Ia meminta temannya untuk mengajarinya yoga. Ia senang karena akhirnya bisa merealisasikan keinginannya belajar yoga.

Singkat cerita, Sheni mendapatkan beasiswa untuk menjadi instruktur yoga setelah mengikuti berbagai seleksi dan penilaian ketat. Mulai 2015, ia pun bisa menjadi instruktur yoga atau kerap disebut yogi.

Bandung - Buka Kelas Donasi
Setelah bisa menjadi instruktur, ia pun mulai mempraktikkannya dan mengajar yoga. Ia mulai mengajari teman-temannya dan akhirnya membuka kelas yoga untuk umum. Hingga akhirnya, ia pun menginisiasi yogapunx di Bandung.

Menariknya, yogapunx yang dijalankan bagi umum berbentuk kelas donasi alias tak dipatok harga. Konsepnya, ia berdonasi mengajarkan "murid-murid-nya" melakukan yoga. Di saat yang sama, para "murid" itu berdonasi dengan cara masing-masing, bisa dengan uang, memberi makanan, atau berbagi kemampuan dalam hal tertentu.

"Jadi pas pulang tuh kadang di tas ada kue, ada yang kasih makanan. Ada yang kerja di pabrik handuk, dia kasih handuk. Ada juga guru gambar, saya diajarin gambar sama dia. Pokoknya yang mereka punya dibarter, jadi ya kita saling berbagi aja," tutur Sheni.

Kelas donasi yogapunx itu memang dikhususkan olehnya bukan untuk lahan mencari uang. Ia ingin melakukan hal baik dengan cara yang bisa dilakukannya sesuai kemampuan. Ia pun semakin bersemangat karena ternyata banyak anak punk yang tertarik belajar yoga.

"Mikirnya tuh dulu aku susah buat mengakses si yoga ini. Jadi, kayak pengen berbagi juga gitu, makanya bikin kelas donasian," ucapnya.

Ia pun sengaja mengusung nama yogapunx. Sebab, di luar negeri, istilah ini memang sudah digunakan bagi aktivitas yoga yang dilakukan anak-anak punk. "Di luar negeri istilahnya juga yogapunx. Biasanya anak-anak punk yang ngajar yoga dan biasanya memang kelas donasian," papar Sheni.

Aktivitas yoga yang dilakukan pun kerap berpindah-pindah tempat. Hal itu biasanya tergantung dari ketersediaan tempat yang bisa dipakai secara gratis. Namun, sejauh ini aktivitas yogapunx ala Sheni tetap bisa berjalan konsisten.

Setiap mengajar yoga, memang tak banyak yang ikut serta. Sebab, terlalu banyak orang justru bisa membuat yoga tidak efektif. Sehingga, maksimal yoga dilakukan hanya oleh belasan orang.

Ia pun punya mimpi besar untuk semakin mempopulerkan yoga, terutama di kalangan anak punk. Ia bercita-cita bisa melakukan roadshow mengajar yoga bagi anak punk di berbagai wilayah di Indonesia.

Benang Merah Yoga dan Punk
TemanBaik, penasaran enggak jika ternyata dunia yoga dan punk punya benang merah yang nyambung banget? Sepintas, memang keduanya seolah dua sisi yang bertolakbelakang. Namun, faktanya, ia menemukan ada hal yang saling terkait antara keduanya.

"Nyambungnya tuh jadi kayak lebih ke menghargai diri sendiri, mengenal diri sendiri, menghargai orang lain, bersikap terhadap diri sendiri dan bersikap terhadap orang lain," kata Sheni.

Menurutnya, ada beberapa nilai yang sama di dalam yoga dan punk. Sehingga, ia memaknai kedua hal itu sebagai hal yang sama. "Misalnya kayak melihat manusia enggak dari gendernya, enggak melihat manusia sebagai orang kaya dan miskin," tuturnya.

Iklim kompetisi dalam yoga dan punk pun kecil. Apalagi, yoga itu berususan dengan kompetisi dalam diri, bukan dengan orang lain. Untuk bisa melakukan gerakan dalam yoga, seseorang harus bertarung dengan dirinya sendiri.

Nah, mungkin ada yang bertanya, apakah gerakan yoga dalam yogapunx yang dilakukan ada kaitannya dengan punk, misalnya sambil mendengarkan musik punk? Apa ada gerakan unik sendiri? Enggak kok, yoga yang dilakukan seperti yoga pada umumnya. Hanya saja, instruktur dan orang yang melakukan yoga ini adalah anak punk.

Setelah memadukan yoga dan punk, Sheni merasa ada beberapa hal yang berubah dalam dirinya. Ia masih memegang sejumlah prinsip dalam konteks punk. Tapi, di saat bersamaan, ada sisi lain yang dibentuk melalui yoga.

"Saya masih tetap memegang beberapa nilai, tapi ada yang berubah juga. Misalnya dari sikap, jadi lebih santai, sabar, tenang," ungkapnya.

Ia pun menggarisbawahi ketenangan yang didapatkannya melalui yoga. Ketenangan baginya merupakan esensi dari kehidupan yang harus dijalani.

"Saya pikir manusia itu sebenarnya bukan nyari bahagia sih, tapi nyari tenang. Kalau bahagia itu bisa ilusi, semu, tapi kalau tenang tuh kayak golnya. Yang susah tuh tenang dibanding bahagia," tandas Sheni.

Foto: Dok. Istimewa/Sheni Chen 
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler