Cerita Dante Gondrong, dari Musik Rock Menuju Budidaya Jamur

Bandung - Dalam buku keduanya yang bertajuk 'Kastana Taklukan Jakarta', eks jurnalis musik Soleh Solihun pernah menulis "kalau tidak bisa jadi rockstar, ya jadi jurnalis musik saja.”. Namun, tulisan Soleh kemudian ditafsirkan semena-mena oleh TemanBaik kita yang satu ini. Alhasil, nukilan kalimat Soleh pun berubah menjadi "kalau tidak bisa jadi rockstar, ya jadi pembudidaya jamur saja" dengan tambahan "toh sama-sama terkenal".

Ya, Dante Putratama (26) pernah bermimpi menjadi bintang rock, terkenal, diliput media, dan kemudian menjadi viral. Ia menyebut itu adalah mimpi masa remaja yang indah. Seiring berjalannya waktu, mimpi itu masih ada, walau mungkin belum tercapai.

Namun, ia percaya Tuhan memang adil. Sebab, walau belum berhasil terkenal sebagai rockstar, ia terkenal sebagai pembudidaya jamur. Kualitas tinggi yang ditawarkan Dante dalam mengelola jamur hasil budidaya menjadi salah satu alasannya. Dari mulai Ibu-ibu komplek, pengusaha UMKM, pedagang warteg, hingga artis mengakui kualitas produk jamur hasil budidaya Dante.


'Dante Farm', itulah nama yang dicetuskannya saat mulai menjalankan bisnis dan kegiatan budidaya jamur ini di garasi rumahnya. Siapa sangka? Nama ini membawa keberuntungan bagi Dante.

"Dulu kepengin dikenal jadi musisi, rockstar. Sekarang terkenal sih, tapi sebagai tukang jamur. Yah, tapi doa saya dikabul sama Tuhan berarti ya," ujarnya sembari tertawa.

Bisa hidup dari 2.000 media tanam jamur boleh jadi enggak terpikir dalam benaknya. Sebelum akhirnya berserah dan menikmati profesi barunya, alumni FISIP Universitas Pasundan ini sempat menjajal beberapa fase. Ia membagikan cerita itu kepada Beritabaik.id. Simak cerita Dante, yuk!

Dante, baru balik nganter jamur nih?
"Iya. Tadi abis dari pasar.”

Ngeri, rockstar kita…
"Wih. Ha ha ha. Eh, tapi tetep banyak media yang ngeliput saya loh.”

Oh ya? Kok bisa?
"Judul yang dibikin di artikel Beritabaik.id bagus soalnya. Ha ha ha, jadi orang pada penasaran gitu sih.”

Setahun lalu, kami memang pernah mewawancarai Dante untuk mengangkat kegiatannya bersama Dante Farm. Saat itu, ia baru saja merintis budidaya jamur ini dan hanya punya 300 media tanam.

Selang setahun, jumlah 300 itu berubah menjadi 1.500 hingga 2.000. Ya, enam kali lipat! Mustahil peningkatan ini terjadi kalau produk jamur Dante Farm biasa-biasa saja.


Kok bisa banjir pesanan?
"Karena murah. Ha ha ha."

Eh, seriusan?
"Enggak tau ya. Mungkin karena buat saya usaha ini masih kecil. Maksudnya gini, usahanya masih kecil, dan jadi gampang ngontrol jamurnya. Jadi, kalau jamur kekontrol kan otomatis kualitasnya juga ya terjaga lah. Kalau saya mau nyari 'cuan' sih bisa aja saya fokus di kuantitas. Bodo amat gitu sama produk jamur bikinan sini. Tapi, pas dirasa-rasa, eh, kayaknya enggak gitu deh caranya."

Kok bisa deket sama jamur? Kan Dante identiknya sama gitar dan distorsi?
"Ha ha ha. Awalnya saya magang, eh atau kerja lah ya itungannya. Ya intinya kerja di kebun temen, di Cilame tempatnya. Sama, ngerjain si jamur juga. Nah, di situ belajar lah tentang treatment si jamur ini, perawatannya gimana, banyak hal lah seputar si jamur ini. Tapi, anehnya, pesenannya itu banyaknya dari sekitar Cimahi, di deket rumah sini. Akhirnya ya udah lah, si temen itu minta saya buka cabang. Dan sekarang jalan deh.”

Karena lebih murah atau enggak sih?
"Bisa jadi. Karena apalagi waktu awal itu saya jual Rp10 ribu per kilo. Itu pun udah saya anterin ke rumah mereka (pelanggan). Saya pakai cara ini biar lebih deket sama pelanggan aja sih. Biar mereka nyaman disuplai jamur dari saya. Dan ya, nambah temen aja, nambah relasi.”


Sampai sekarang masih segitu?
"Ada yang segitu. Sekarang variannya udah beda. Hahaha. Tapi start from 10 ribu deh. Sebenarnya kalau saya mau cari uang atau keuntungan berlebih sih bagusnya jangan ngejual ke Ibu-ibu komplek, atau penjual warteg, atau ya UMKM kecil gitu. Jual ke pasar atau pengepul. Cuma, saya enggak sepenuhnya lakuin karena pelanggan-pelanggan yang tadi saya sebutin itu berangkat dari pelanggan lama. Mereka yang ngebuka rejeki saya.”

Ada ikatan batin atau gimana itu tuh?
"Ha ha ha. Ya, bisa dibilang gitu. Pernah saya coba 'tes' mereka; saya enggak ngirim jamur ke tempat mereka nih. Saya pikir mereka bakal cari suplayer lain. Ternyata enggak, euy. Mereka nungguin jamur dari saya. Malah sampai nanyain kenapa saya enggak ngirim. Artinya pembeli ini loyal. Saya juga enggak akan ninggalin mereka.”

Menikmati banget berarti jadi pembudidaya jamur, ya?
"Banget. Saya tuh jadi kayak bisa berbagi kebahagiaan gitu sama pembeli jamur saya. Soalnya kan jamur ini diolah sama pembeli saya jadi produk makanan ya. Dan kalau si produk ini laris tuh, ke sayanya jadi seneng aja. Wah, ieu jamur ti urang alus berarti! Gitu.”


Baca Ini Juga Yuk: Cerita Femis Aryani Sang Pencerita Sejarah di Bandung

Meski begitu, ada beberapa hal yang harus Dante relakan karena profesi barunya ini disebut menyita waktu. Ya, pria kelahiran 1995 ini mengaku sudah merelakan cita-citanya menjadi anak kantoran yang nge-band. Meski begitu, ia tetap menjalankan kegiatan bermusiknya bersama proyek solo Dante and The Jade Claw.

Bagi Dante, bermusik ataupun menjadi pembudidaya jamur, keduanya merupakan hal yang menyenangkan. Sebab, dari dua hal ini ia sama-sama berbagi kebahagiaan sama orang lain.

Kalau main musik masih jalan enggak?
"Masih. Solo-soloan lah sekarang mah. Anak-anaknya juga kan udah pada fokus sama hidup mereka masing-masing. Pernah sih ada di tahap ngerasa ditinggalin. Ngerasa semangat sendiri kepengin ngeband, tapi orang-orang pada enggak mendukung saya. Tapi kayaknya fase itu udah lewat. Jamur, seolah bikin saya kayak berdamai aja.”

Tapi enggak berhenti kan?
"Enggak dong. Itu mah hobi. Enggak boleh sampai berhenti sih kalau main musik.”

Emangnya, yang bikin Dante seneng banget sama musik tuh apa sih?
"Karena saya suka liat musik sejak kecil, dan pas remaja punya cita-cita jadi anak band gitu.”


Dante dengerin musik apa?
"Ha ha ha. Ya gitu-gitu aja saya mah. Tapi, saya dengerin beberapa musisi indie kayak The Datsun misalnya. Intinya, perpustakaan musik saya tuh banyak berkembang di zaman kuliah. Tapi anehnya saya malah enggak banyak manggung saat itu.”

Apa sih kebahagiaan yang sama antara main musik dan budidaya jamur?
"Sama-sama nularin kebahagiaan sama orang lain. Saat ngeband, saya menghibur banyak orang. Walau panggung kita masih kayak di pensi sekolah, atau acara kampus, tapi entah, itu tuh selalu rame dan orang-orang tuh antusias aja dateng, joget-joget. Kayak mentransfer kebahagiaan gitu. Nah, kalau jadi pembudidaya jamur, itu nularin kebahagiaan saat kita bisa ngasih jamur dengan kualitas bagus, dan jamur itu bisa jadi sumber rejeki pembeli saya. Karena itu tadi, jamur kan bisa diolah jadi banyak produk makanan ya.”

Ngobrol sedikit soal jadi anak kantoran, Dante juga merelakan keinginannya menjadi anak kantoran. Padahal, ia sempat punya mimpi keliling dunia dari pekerjaannya.

Serius kepengin keliling dunia? Ngantor mah ngebosenin kali?
"Eh, dulu saya punya cita-cita jadi anak kantoran yang ngeband. Makanya ambil jurusan Humas, biar bisa ke mana-mana gitu kantoran. Ya, pemikiran awal-awal kuliah lah.”

Tapi pernah ngantor?
"Dulu pernah on job training gitu di Yogyakarta. Saya tuh ikut pelatihan buat jadi kru kapal pesiar gitu. Soalnya temen bilang ke saya enak tuh kalau kerja di kapal pesiar. Bisa keliling dunia dan ngenalin musik saya ke luar negeri. Soalnya, beberapa karya saya kan Bahasa Inggris juga tuh. Kepedean aja awalnya. Hahaha, enggak taunya pas lagi OJT, hadeh… Capek. Enggak mau lagi.”

Waduh. Emang kenapa jadi enggak mau ngantor?
"Memang enak sih ngantor tuh. Kerja di orang gitu maksudnya. Apalagi kerja di kapal, katanya duitnya puluhan juta walau kita jarang pulang. Haha. Tapi, enggak tau ya, saya ngerasa ada hal yang enggak saya suka aja. Kalau ngantor kan ada bos ya, ada atasan gitu. Nah, saat kita mau improvisasi nih atau mau ambil keputusan apa gitu, itu kan harus diskusi sama atasan. Padahal, misalnya pilihan itu bisa kita tentukan dengan cepat jawabannya. Ah, susah jelasinnya euy. Intinya kerja sendiri tuh lebih praktis aja.”

Jadi sekarang bergeser dong ya, dari anak kantoran yang ngeband jadi pebisnis yang ngeband?
"Nah! Bisa itu. Jadi bergeser lah, kantornya ke sini. Hahaha.”

Menggeluti budidaya jamur, ia belajar banyak hal tentang perawatan jamur. Memanfaatkan garasi rumahnya, ia saban hari mengurusi 1.500 hingga 2.000 media tanam jamur. Ya, hampir setiap hari ia panen dan mengantar hasil panennya. Mulai ke warteg, penjual sayur, dan belakangan merambah pasar tanpa meninggalkan pelanggan lamanya.

Kendati mungkin jamur enggak se-populer boba atau pizza, namun Dante menyebut padahal jamur bisa dikembangkan menjadi olahan makanan yang nikmat. Selain itu, kandungan gizi jamur pun menurutnya enggak bisa dipandang sebelah mata.

Iya tuh, jamur kan enggak terkenal. Dianggapnya obat, gitu?
"Ha ha ha. Padahal olahannya banyak. Bisa jadi kripik, gorengan, jamur crispy. Bisa seharusnya jadi camilan tongkrongan kayak kacang rebus lah misalnya.”

Gizinya tinggi kan ya?
"Proteinnya. Dia kayak pengganti daging gitu. Orang-orang yang enggak makan daging kan mereka ngeganti si daging ini pakai jamur. Diolah teksturnya biar mirip.”

Sekarang, Dante menjadi sosok yang lebih banyak dikenal. Memang bukan sebagai rockstar, namun sebagai pebisnis dan pembudidaya jamur. Usaha budidaya jamur yang dijalaninya pun berkembang pesat. Kini, ia menjual jamur dengan berbagai level. Mulai dari level A yang dibanderol Rp50ribu per kilogram, level B yang dibanderol Rp30 ribu perkilogram dan level C yang dibanderol Rp10 ribu per kilogram.


Wah, yang murah tuh yang jelek dong?
"Eh, tapi masih berani ngadu sama yang ada di Pasar. Serendah-rendahnya level C tuh saya masih cek sendiri kualitasnya. Karena ya, kan gampang ngeceknya. Jadi tetap bagus kok. Tapi sama yang Rp50 ribu mah jauh atuh. Ha ha ha.”

Intinya bagusan yang di Dante Farm ya?
"Ya, soalnya masih segar. Ibaratnya gini deh; kita beli jamur 10 ribu di Pasar tapi kan kita enggak tau itu masih segar atau enggak, karena kan nunggu 1-2 hari. Kalau di sini kan 10 ribu dapet yang baru dipetik gitu.”

Pernah iseng testimoni ke orang enggak?
"Pernah saya makan di warteg. Terus nanya, jamurnya beli di mana? Kata penjualnya di salah satu penjual sayur gitu. Nah, saya tau si penjual sayur ini pelanggan saya. Dia dapet jamur dari saya. Pas saya tanya sama penjual makanan di warteg tadi, dia bilang jamurnya enak karena masih seger. Nah, yang kayak begini biasanya saya jadiin catatan nih buat perbaikan produk ke depannya.”

Jadi, sekarang mah ngerasa terkenal lah ya?
"Lumayan. Ha ha ha. Dulu mah kan waktu ngeband, orang tua kepenginnya anaknya tuh masuk tv. Diburu media, diwawancara gitu. Tercapai sih sekarang, tapi diwawancaranya aja yang tercapai. Di situ kayak mikir aja, kayaknya emang ini yang terbaik buat saya.”

Karena apa?
"Karena sama-sama bikin orang bahagia. Itu saya seneng pisan, euy.”

'Ilmu' terakhir yang dibagikan Dante di akhir sesi wawancara adalah ilmu merelakan. Ia menyebut saat kita ikhlas menerima takdir, biasanya selalu ada jalan untuk kita bahagia. Misalnya Dante. Dulu ia keras kepala ingin menjadi rockstar dan diliput media. Namun, saat ia merelakan keinginan tersebut, malah ada bidang lain yang membuatnya jauh lebih bahagia dan diliput banyak media pula.

Ia juga memberi pesan kepada TemanBaik yang sedang mengejar mimpi menjadi sesuatu untuk tidak mudah menyerah, namun harus juga mempersiapkan diri untuk ikhlas dan melepaskan ego saat mengejar mimpi. Ia menyebutnya dengan istilah ‘rehat sejenak’.

"Tapi ya jadi pilihan kamu juga sih: mau merelakan, atau mau keras kepala. Dua-duanya pasti punya dampak kok," pungkasnya sembari tertawa.

TemanBaik, barangkali kamu mau menyediakan hidangan buka puasa dengan menu jamur dan kamu penasaran dengan kualitas produk jamur di Dante Farm, kamu bisa mengontak langsung Instagram @dantefarm_cimahi. Kamu bisa memesan aneka kelas jamur yang tersedia. Dan barangkali kamu penasaran sama karya musik Dante, kamu bisa mengintip aktivitas bermusiknya lewat akun Instagram @d.a.t.j.c.

Terima kasih ngobrol-ngobrolnya, Dante. Semoga setelah terkenal sebagai pembudidaya jamur, kamu juga bisa terkenal sebagai rockstar ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler