Melawan Jemawa ala Gelandang Persib Dedi Kusnandar

Bandung - Sosok Dedi Kusnandar kini banyak dikenal sebagai pesepak bola andal di Persib Bandung. Ia bahkan sering disebut-sebut sebagai salah seorang gelandang terbaik di Indonesia saat ini.

Pujian itu tak lepas dari penampilannya di lapangan. Di turnamen Piala Menpora 2021, ia pun jadi nyawa irama permainan tim berjuluk 'Maung Bandung'. Ia bertugas mengatur ritme permainan hingga membantu penyerangan dan pertahanan.

Berkat penampilannya, ia bahkan kerap disamakan dengan gelandang Real Madrid dan Timnas Jerman Toni Kroos. Itu karena visi dan gaya bermainnya dianggap sama dengan Toni Kroos. Namanya pun belakangan berubah dan kini dijuluki 'Dedi Kroosnandar'.

Pujian ini jadi gambaran bagaimana kemampuan pria yang akrab disapa Dado tersebut. Bahkan, jauh sebelumnya, pria kelahiran Sumedang, 23 Juli 1991 itu disebut gaya permainannya mirip Andrea Pirlo oleh Djadjang Nurdjaman saat masih mengarsiteki Persib.

Pirlo sendiri merupakan salah satu gelandang terbaik dunia yang bergelimang prestasi bersama klub Italia AC Milan dan Juventus. Usai pensiun, Pirlo meniti kariernya sebagai pelatih.

Baca Ini Juga Yuk: Dokter Adhitya Wisnu & Cerita dari Balik Layar Rumah Sakit

Merendah dan Merasa Tak Puas
Dado sendiri menanggapi pujian yang dialamatkan padanya dengan santai, terutama saat tampil di Piala Menpora. Kata-kata manis yang dialamatkan padanya tidak membuatnya jemawa, termasuk ketika disandingkan dengan nama Toni Kroos.

Sebaliknya, ia justru merasa penampilannya sejauh ini belum maksimal. Saat banyak orang memandang penampilannya di Piala Menpora sangat baik, ia justru beranggapan sebaliknya. Sebab, ia belum mampu membantu tim meraih gelar juara Piala Menpora 2021 karena kalah di partai final.

"Kalau (penampilan di Piala Menpora) kemarin dianggap yang terbaik, enggak lah," ujar Dado.

Pria yang sebentar lagi akan berusia 30 tahun itu merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Ia bahkan selalu merasa tak puas dengan penampilannya.

Di balik ketidakpuasan itu, ada alasan tersendiri yang melatarbelakanginya. Sebagai pesepak bola, rasa puas dianggap jadi penghambat untuk kemajuan karier dan permainannya di pertandingan.

"Sebagai manusia (pesepak bola), kalau dibilang puas, maka enggak ada tantangan ke depannya (untuk menjadi lebih baik)," tutur pria yang juga juragan kontrakan dan pengusaha kuliner ini.

Meski begitu, ia berterima kasih jika penampilannya oleh banyak orang dinilai bagus. Namun, ia tak akan larut dalam pujian. Ia justru akan terus memperbaiki diri.

Sebab, ia punya mimpi besar yang belum pernah terwujud hingga kini. Dado belum pernah membawa Persib yang merupakan tim impiannya sejak kecil menjadi juara liga. Ia hanya baru merasakan gelar juara di level turnamen, tepatnya Piala Presiden 2015.

"Alhamdulillah kalau ada apresiasi (pujian) itu. Tapi saya step by step akan meningkatkan performa terus," kata Dado yang identik dengan nomor punggung 11 di Persib.

Foto: Official Persib
Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler