Merangkai Asa Disabilitas Lewat Sentuhan Angkie Yudistia

Jakarta - Sosok Angkie Yudistia sejak 2019 lebih dikenal sebagai Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo. Pencapaiannya ini memberi bukti bahwa keterbatasan bukan hambatan meraih kesuksesan.

Bagaimana tidak, perempuan kelahiran Medan, 5 Mei 1987 ini merupakan teman Tuli alias tunarungu. Ketidakmampuan mendengar membuat semangat hidupnya begitu besar dan bisa melaju hingga di posisi sekarang.

Namun, apa yang diraih Angkie bukan hal mudah. Butuh proses panjang baginya untuk menerima kenyataan, bangkit dari keterpurukan, hingga berjuang. Bahkan, ia tak hanya berjuang bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain, terutama penyandang disabilitas.

"Proses bangkit ini butuh waktu yang sangat lama karena banyak penyandang disabilitas tidak bisa menerima dirinya sendiri dengan keterbatasan yang dimiliki," ujar Angkie.

Perempuan 33 tahun itu terlahir dengan kondisi normal. Ia tumbuh seperti anak-anak lain dan menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, saat usia 10 tahun, ia kehilangan pendengaran. Hal itu sama sekali tak pernah terbayang dalam benaknya.

Hilangnya pendengaran Angkie diduga akibat ekses obat yang dikonsumsinya ketika mengidap malaria. Alhasil, di usia yang masih sangat muda, ia harus menerima kenyataan pahit. Ada pergolakan batin yang hebat, tak mau menerima takdir, hingga berujung hilangnya rasa percaya diri.

Di tengah derita yang ada, Angkie tetap berusaha menjalani kehidupan seperti biasa. Untuk urusan pendidikan, ia pun menempuhnya setinggi mungkin. Namun, secara perlahan ia mulai bangkit dari rasa mindernya pada usia sekitar 20 tahun. Hal itu terjadi saat kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.

Baca Ini Juga Yuk: Belajar Kebaikan dari Pengemudi Ojol yang Beri Pakaian pada ODGJ

Dosen dan teman-temannya seolah jadi obat 'penyakit' minder yang bersemayam dalam dirinya sejak kehilangan pendengaran pada usia 10 tahun. Angkie didorong untuk jujur dan berusaha menerima diri apa adanya.

Hal ini berbuah manis. Kepercayaan diri Angkie perlahan mulai tumbuh dan bisa menikmati kehidupan. Bahkan, lama-kelamaan semangat hidupnya semakin berlipat ganda.

"Jadi, saya butuh waktu 10 tahun untuk bangkit menjadi seorang perempuan dengan berkebutuhan khusus," ungkapnya.

Perlahan Jadi Sosok Berpengaruh
Titik bangkit kehidupan Angkie berjalan pesat setelah melalui 10 tahun dengan kepercayaan diri yang terjerembab. Ia melakukan berbagai langkah untuk membuktikan diri bisa meraih prestasi seperti yang bisa dilakukan orang lain pada umumnya.

Ia berkuliah hingga meraih gelar master di London School of Public Relations. Ia pernah jadi finalis Abang None Jakarta dan dinobatkan sebagai 'The Most Fearless Female Cosmopolitan' pada 2008.

Angkie bahkan tak hanya berjuang untuk kepentingannya sendiri. Ia mendirikan ThisAble Enterprise 10 tahun lalu. ThisAble Enterprise sendiri jadi sebuah wadah untuk memberdayakan penyandang disabilitas.

Tujuannya agar mereka bisa mandiri secara ekonomi melalui berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan disabilitas dan pasar tenaga kerja. Sebab, tak mudah bagi penyandang disabilitas untuk meraih pekerjaan di tengah keterbatasna yang dimiliki.

Buah kerja keras Angkie dan kawan-kawannya berbuah hasil. Ia bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan ojek online untuk mempekerjakan disabilitas di sana. Ia pun mendorong disabilitas untuk bisa berkarya dan menghasilkan produk, salah satunya produk kecantikan.

Di tengah berbagia kesibukannya, Angkie berusaha membagi kisah kehidupan, motivasi, dan mengubah cara pandang orang lewat sebuah buku. Ia menulis buku berjudul 'Perempuan Tunarungu, Menembus Batas'. Lewat buku ini ia menuangkan segala pengalamannya yang diharapkan jadi motivasi bagi orang lain, terutama penyandang disabilitas.

Sejak 2019, Angkie bahkan ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi stafsusnya. Hal itu membuat Angkie jadi pembeda di antara stafsus Jokowi yang lain. Ia jadi satu-satunya disabilitas di sana.

Sebagai stafsus, Angkie bertugas menjalankan tugas khusus dari Presiden. Ia bahkan dipercaya menjadi juru bicara presiden di bidang sosial. Kini, ia pun fokus menjalankan tugasnya sebagai stafsus.

Singkat cerita, berbagai langkah dan deretan prestasi pun menghampiri. Angkie yang dulu terjebak kehilangan rasa percaya diri justru jadi sosok berprestasi. Ia bahkan dikenal sebagai salah seorang disabilitas berpengaruh di Indonesia.

Berkarya Melalui Kepercayaan
Menjadi staf khusus jelas sebuah kepercayaan besar yang diberikan orang nomor satu di Indonesia. Namun, kepercayaan besar itu tentu tak mudah dijalankan, apalagi bagi penyandang disabilitas.

Namun, lagi-lagi Angkie tak mau terjebak dengan status sebagai penyandang disabilitas. Ia ingin membuktikan bahwa disabilitas bisa melakukan sesuatu, termasuk berkarya di balik layar untuk kemajuan penyandang disabilitas.

Salah satu alasan besar yang membuatnya mau menerima amanah menjadi staf khusus adalah teman-teman disabilitas itu sendiri. Ia tahu persis bagaimana kesulitan dan berbagai hambatan yang dialami disabilitas di banyak wilayah di Indonesia. Sebab, sejak kecil ia terbiasa hidup berpindah-pindah karena konsekuensi pekerjaan sang ayah.

Angkie juga tahu jika banyak penyandang disabilitas yang berpotensi menjadi 'orang'. Namun, untuk menjadi 'orang', diperlukan peran dari banyak orang, terutama keluarga dan masyarakat. Di samping itu, dukungan pemerintah juga jadi elemen tak tak bisa dilepaskan di dalamnya untuk menghadirkan berbagai program.

Sehingga, secara perlahan disabilitas juga diharapkan bisa membuktikan diri. Bahkan, bukan tidak mungkin semakin banyak disabilitas yang jadi sumber daya manusia (SDM) unggul hingga kebanggaan Indonesia.

"Makanya karena paham banget penyandang disabilitas ini memiliki hambatan, maka kita sangat membutuhkan dukungan banyak pihak. Sehingga penyandang disabilitas ini potensinya dapat dimaksimalkan menjadi SDM unggul yang membanggakan Indonesia," jelas Angkie.

Kendala yang dialami disabilitas untuk berkembang pun benar-benar nyata. Apalagi, ia juga merasakannya secara langsung sebagai teman Tuli. Dengan menjadi staf khusus, ia berharap bisa melahirkan sesuatu yang membuat kehidupan disabilitas di Indonesia jadi lebih baik ke depan. Di tengah kesulitan yang ada, ia pun selalu berusaha untuk terus bangkit.

"Yang bikin saya bangkit adalah teman-teman disabilitas. Ketika saya melihat teman-teman disabilitas bahwa kita memiliki masalah yang sama, perjuangan yang sama. Kita ingin mengubah nasib, baik mengubah nasib secara mental, secara ekonomi, sehingga kita bisa mandiri," paparnya.

Oleh karena itu, ia berusaha berjuang dengan kesempatan dan jabatan yang dimiliki. Ia ingin berkarya lewat berbagai langkah nyata yang kelak bisa dinikmati hasilnya oleh banyak penyandang disabilitas. Misalnya berusaha mendorong agar undang-undang terkait disabilitas bisa dijalankan di berbagai daerah hingga mengupayakan terbentuknya Komisi Nasional Disabilitas (KDI).

"Saya tahu teman-teman disabilitas dari beragam daerah. Saya mengikuti orang tua saya pindah-pindah daerah, pernah di Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Maluku," tuturnya.

"Saya merasa bahwa kita berada di perjuangan yang sama dan sulit banget untuk hidup yang akses (aksesibel) di Indonesia. Jadi, kita ingin melakukan perubahan. Makanya kita ingin berkontribusi (melalui jabatan ini)," jelas Angkie.

Foto: Oris Riswan Budiana/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler