Gufron Lana, Menentang Batas Membantu Sesama

Bandung - Setiap hari, Gufron Lana (35) berprofesi sebagai penjual bubur ayam. Bubur Ayam Alan Jaya, demikian nama dagangan yang terpampang pada gerobaknya. Usaha ini ditekuni Gufron sudah bertahun-tahun.

"Saya biasanya jualan di Terusan Suryani (Kota Bandung), di Pasar Cangkring. Saya cuma pedagang kaki lima," ujar Gufron.

Namun, sejak pekan lalu, Gufron menghentikan usahanya. Ia tak lagi berjualan seperti biasa di lokasi. Gerobaknya pun kini terparkir di kediamannya.

Bukan karena gulung tikar, itu dilakukan demi menjalankan aksi baik bagi-bagi gratis bubur ayam bagi yang terpapar COVID-19 dan menjalani isolasi mandiri (isoman). Jika dirata-ratakan, dalam sehari ia menyalurkan sekitar 500 porsi bubur ayam gratis.


                                                                            Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Ia bahkan merogoh kocek sendiri dari tabungannya demi menjalankan program itu. Padahal, tabungan itu awalnya ia niatkan untuk uang muka membeli rumah. Ia sama sekali tak ragu melakukannya meski untuk mengumpulkan tabungan lagi harus memulainya lagi dari nol.

Pria berkacamata itu pun tak mau hitung-hitungan soal pengorbanan yang dilakukan. Sebab, ia meyakini pintu rezeki akan terbuka dan datang dari mana saja. "Saya sering dengar ceramah juga di masjid, matematika Allah enggak seperti itu, saya percaya (rezeki bisa datang dengan berbagai cara)," ucapnya.

Baca Ini Juga Yuk: Aksi Baik Naila Marva, Remaja Pemerhati ODGJ dari Padalarang

Ia lalu menggambarkan sejak proses awal bagi-bagi bubur gratis. Awalnya, ia hanya bermodalkan sekitar Rp10 juta dari uang tabungannya. Uang ini dipakai setelah berdiskusi dengan sang istri. Ia dan sang istri pun sepakat memakai tabungan yang ada demi membantu pasien isoman.

Dalam dua hari, tabungan yang ada sudah ludes. Namun, meski tabungan sudah habis, bagi-bagi bubur gratis itu tetap bisa dilakukan hingga sekarang. "Alhamdulillah, ini bukti nyata, sampai sekarang masih bisa ngirim (bubur gratis), masih bisa bantu orang. Harusnya sudah habis kalau menurut logika," ucapnya.

Gufron sendiri tak hanya menyediakan bubur gratis, biaya pengantaran juga ia tanggung. Ia merekrut pengemudi ojek online dan warga sekitar. Ia memberikan mereka ongkos agar bubur bisa sampai ke tangan pasien isoman.


                                                                         Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Kepuasan Menentang Batas
Gufron sendiri mengaku bukan berasal dari kalangan ekonomi kelas atas. Sebab, sehari-hari ia penjual bubur. Namun, hal itu bukan alasan untuk tidak berbuat baik.

Ia memandang banyak pasien isoman yang membutuhkan uluran tangan. Bahkan, meski pasien isoman memiliki banyak uang, hal itu justru tak berpengaruh saat menjalani isoman.

Menurutnya, sebagian besar penerima bubur gratisnya justru kebanyakan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Hal itu jadi pembelajaran tersendiri.

"Untuk yang saat ini isoman, uang itu tidak berarti, kang. Uang banyak juga enggak bisa keluar rumah," ungkap Gufron.

Dari situ, ia merasakan ada kepuasan tersendiri. Meski bukan orang kaya, tapi bisa membantu orang lain menghadirkan cerita tersendiri dalam benaknya. Bukan uang yang jadi ukuran, melainkan hal sederhana yang membuatnya puas.

Ya, semangkuk bubur harganya mungkin hanya ribuan hingga belasan ribu. Harga ini cukup terjangkau bagi banyak orang. Bahkan, bagi orang kaya, harga segitu mungkin dinilai tak ada apa-apanya.


                                                                           Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id

Namun, ketika menjalani isoman, harga bubur yang mungkin dianggap tak seberapa itu menjadi sangat berarti. Apalagi, penerimanya cukup memesan dan bubur akan diantarkan sampai depan rumah. Semuanya gratis!

Di saat mereka kesulitan mencari makanan, bubur itu datang untuk mengisi perut dan penyemangat bahwa masih ada orang yang peduli pada mereka. Bubur ini pun seolah disematkan doa agar pasien isoman cepat sembuh dari COVID-19.

Sebagai sesama manusia, Gufron memandang adalah hal biasa saat orang kaya membantu orang kurang berada. Namun, beda cerita ketika orang biasa membantu orang kaya. Batasan inilah yang kemudian jadi tantangan, ia berusaha mendobraknya. Ia beranggapan siapapun bisa berbuat baik tanpa memandang latar belakang ekonomi atau status seseorang.

"Ada kepuasan dari situ. Ya, alhamdulillah, kan sekali-kali orang miskin bisa bantu orang kaya sebenarnya mah. Senangnya itu, alhamdulillah kepuasannya enggak terukur (dari materi)," tutur Gufron.


Foto: Oris Riswan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler