Kisah Nuryadi Jadi Pengantar Makanan Gratis Bagi Pasien Isoman

Bandung - TemanBaik, ada yang ada di benakmu jika mengantar makanan bagi pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman)? Kekhawatiran terpapar mungkin jadi salah satu yang terbesar.

Intinya, tak semua orang berani mengantarkan makanan pada pasien isoman ini. Namun, ketakutan ini diterobos Nuryadi (29). Pria asal Kota Bandung ini jadi bagian dari program bagi-bagi bubur ayam gratis bagi pasien isoman yang dilakukan Gufron Lana, penjual Bubur Ayam Alan Jaya.

Dalam kesehariannya, Nuryadi mengaku bekerja di salah satu tempat hiburan malam di Bandung. Namun, ia kini terpaksa 'dirumahkan sementara' mengingat tempat hiburan tak boleh beroperasi di masa PPKM Darurat.

"Sehari-hari saya kerja di tempat hiburan malam di Kota Bandung. Kebetulan lagi diberhentikan dulu sementara karena enggak boleh ada aktivitas, jadi (perusahaan tempat saya bekerja) ikut peraturan yang harus dijalankan dari pemerintah," ujar Nuryadi.

Di tengah aktivitasnya yang senggang saat ini, Nuryadi memilih menyibukkan diri menjadi driver alias pengemudi khusus untuk mengantarkan bubur bagi pasien isoman. Ia begitu antusias saat diminta bantuan oleh Gufron untuk mengantarkan bubur.

"Kebetulan beliau tokoh masyarakat di sini, jadi saya tergugah ikut membantu," ungkapnya.

Baca Ini Juga Yuk: Gufron Lana, Menentang Batas Membantu Sesama

Ia sendiri membayangkan bagaimana sulitnya menjalani hidup sebagai pasien isoman. Sehingga, tanpa pikir panjang ia mau terjun langsung membantu mereka. Meski tak ikut serta mendanai bubur gratis, setidaknya ia bisa meluangkan waktu dan tenaga untuk mengantarkan bubur.

Niat membantu pasien isoman memupus rasa takutnya. Ia sendiri tahu risiko bertemu pasien COVID-19. Namun, niatnya jauh lebih besar daripada rasa takut terpapar. Setidaknya, protokol kesehatan jadi salah satu senjata untuk meminimalisirnya.

"Saya berani nganterin bubur ke pasien isoman ini bukan karena saya sudah divaksin, tapi intinya untuk sosial lah, bantu orang lain gitu. Kita kan makhluk hidup, makhluk sosial, harus saling bantu," tutur Nuryadi.

Pengalaman Menarik
Nuryadi sendiri jadi pengantar bubur bagi pasien isoman sejak program itu dijalankan pekan lalu. Setelah beberapa hari, ada cukup banyak pengalaman menarik yang dialaminya.

Menurutnya, pasien isoman memiliki sikap yang berbeda. Ada yang begitu khawatir menularkan COVID-19 pada orang lain hingga tak mau keluar rumah. Ada juga yang biasa saja dan mau menemuinya.

Sehingga, saat tiba di depan rumah pasien isoman, Nuryadi punya dua pilihan, menyimpannya tanpa bertemu dengan pasien atau bertemu dan menyerahkannya langsung.

"Cerita menariknya banyak orang yang benar-benar ketakutan untuk keluar rumah. Ada juga yang keluar mengenakan APD lengkap, pakai sarung tangan, kayak mau nguburin jenazah lah," ucapnya.

Nuryadi pun memahami sikap pasien isoman yang dihadapinya. Ia berpikir positif jika pasien itu tak mau menularkan COVID-19 padanya. Sehingga, tak ada sedikitpun rasa tersinggung meski ia lelah dan susah payah mencari alamat pasien.

Mereka yang mendapat bubur gratis pun banyak yang berterima kasih dan mengapresiasi Nuryadi maupun Gufron sebagai penggerak utama program tersebut. Ia pun semakin tahu bagaimana bahagianya pasien COVID-19 ketika mendapatkan bantuan meski hanya semangkuk bubur ayam.

Bahkan, ia pernah menemukan ada pasien COVID-19 yang menjalani di sebuah indekos. Pasien itu belum makan dari sore sehari sebelumnya karena tak bisa ke mana-mana. Begitu Nuryadi menghubungi pasien tersebut, orang di balik telepon menyambutnya dengan gembira.

Hal-hal seperti itu baginya memberi kebahagiaan tersendiri. Ya, memang bukan berupa materi. Tapi kebahagiaan bisa membantu orang lain seolah punya makna tersendiri yang terukur materi.

"Setidaknya saya ikut bantu orang lain tuh ada rasa senang, ada rasa puas. Bukan karena ingin dipuji atau apa, ini memang dari hati lah buat bantu orang lain," papar Nuryadi.

Nuryadi sendiri kerap berbincang dan memberi pesan pada pasien isoman. Ia selalu mendoakan dan tak ragu mengingatkan agar tetap menjalankan protokol kesehatan meski sedang menjalani isoman.

Ia pun kadang mendapat sesuatu dari pasien isoman yang mendapatkan bubur gratis. Meski tidak mengharapkannya, pemberian itu membuat hatinya tergugah. Ternyata, di sela isoman, pasien bisa tetap memberi perhatian pada orang lain seperti dirinya.

"Kadang kayak kemarin di daerah Gedebage, ada orang yang saya kirim, dia nitip (memberikan) air tapi dibungkus plastik dua lapis, terus dia sediain juga hand sanitizer. Terus dia bilang 'sebelum diminum disemprot dulu, ya'. Dia mungkin khawatir juga kepada saya terkena. Kalau masalah (ada yang memberi) uang, mungkin seikhlasnya aja yang ngasih, saya sendiri enggak mengharapkan," pungkas Nuryadi.

Foto: Oris Riswan/beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler