Mulyadi, Ojol Disabilitas yang Antarkan Bubur Ayam Gratis

Bandung - #AksiBaik bisa dilakukan oleh siapapun, seperti apapun kondisinya. Seperti Mulyadi (46), pengemudi ojol yang tinggal di Jl. Suryani ini saban pagi mengantarkan bubur untuk penyintas COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Hebatnya lagi, Mulyadi adalah penyintas disabilitas. Saat dikonfirmasi oleh Beritabaik.id, ia mengaku kondisi fisiknya saat ini terjadi karena ia terserang penyakit polio saat masih balita. Kejadian ini membuat kaki kiri Mulyadi tak senormal kaki kanannya.

Akan tetapi, kondisi tersebut enggak menyurutkan semangatnya dalam menjalankan #AksiBaik. Oh ya, Mulyadi adalah pengantar bubur yang didistribusikan Bubur Ayam Alan Jaya, usaha milik Gufron Lana yang viral di media sosial karena membagikan bubur ayam gratis kepada pasien yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Saat sedang mengantarkan bubur, Mulyadi nampak semangat sekali. Ia mengetuk satu persatu rumah warga yang mendapat bubur ayam gratis.

Apabila dari dalam rumah tak ada suara yang menjawab, Mulyana akan menggantungkan bubur pesanan tersebut di pagar rumah. Setelah itu ia akan berteriak, memberi tahu empunya rumah kalau bubur ayamnya sudah tiba dan ia gantung di depan gerbang.

"Hari ini mah giliran antar bubur ke wilayah Bandung Selatan (Kopo), kalau kemarin itu ke wilayah Ujung Berung," ucapnya sebelum mengantarkan bubur ayam gratis.

Sebelum meluncur ke lokasi yang jauh dari rumah, biasanya Mulyadi mengantar bubur untuk warga yang tak jauh dari lokasi bubur ayam Alan Jaya. Saban pagi, ia sudah nongkrong di tempat pembuatan bubur.


Baca Ini Juga Yuk: Cerita Sunyi Junaengsih, Menyapu Jalan di Tengah Pandemi

Dalam sehari, Mulyadi bisa mengantar bubur gratis untuk 5 hingga 10 orang. Kendati harus berhadapan dengan penyintas COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri, Mulyadi mengaku tak begitu khawatir. Dirinya menerapkan protokol kesehatan yang ketat serta menghindari kontak langsung dengan pasien.

"Khawatir takut terpapar mah ada aja. Tapi, saya biasanya milih nyimpen pesanannya di pagar. Digantungin gitu," jelasnya.

Menjalankan #AksiBaik mengantar bubur ini membuat Mulyadi kehilangan sebagian mata pencaharian. Ya, bayangkan saja dalam sehari ia biasanya mendapat 10 hingga 15 kali trip apabila mengaktifkan aplikasi ojolnya, namun jumlah tersebut dipangkas menjadi senilai "uang bensin" yang nominalnya lebih kecil dari pendapatan biasanya. Sebagai informasi, uang bensin itu sendiri berasal dari uang pribadi Gufron Lana, sang inisiator pengantar bubur. 

Berbagai lika-liku perjalanan ia alami selama mengantar bubur. Seperti misalnya harus berputar-putar akibat rute pesanan yang terkena pembatasan wilayah atau lockdown, hingga menemui pasien isoman dengan berbagai karakter.

"Selesai ngantar itu siang lah. Jam 12 biasanya baru selesai. Nah, di situ baru ambil lagi pesanan," terangnya.

Mulyadi sendiri merupakan seorang penyintas disabilitas akibat terserang polio. Hal ini membuat kondisi kakinya mengalami ketidak normalan. Namun meski demikian, semangatnya tak memudar dalam menebar aksi baik.

Ia mengaku ikhlas dalam menjalankan aksi baik ini. Sebab, ada "kalkulator Tuhan" yang enggak bisa ditandingi siapapun, menurutnya.

"Saya berharap ada banyak aksi seperti ini. Banyak orang yang tergerak hatinya untuk bikin aksi sosal yang membantu sesama manusia," pungkasnya.

Mulyadi seolah memberi inspirasi buat kita yang dianugerahi kenikmatan besar oleh Tuhan, bahwasannya dalam kondisi sesulit apapun, sejatinya kita bisa berbagi untuk sesama. Semoga Pak Mulyadi sehat selalu, ya!

Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler