Ratnauli Gultom, Petani Tangguh dari Silimalombu

Medan - "Haruskah kita beranjak ke kota, Yang penuh dengan tanya." Penggalan lirik lagu God Bless bergema di kepala. Rasanya, apa yang tertuang dalam lagu 'Rumah Kita' ini layak menjadi 'soundtrack' hidup wanita satu ini.

Malang melintang di Jakarta pada awal dekade 90-an, mengalami kegundahan harus melawan macet dan panasnya Ibukota, akhirnya setelah nyaris dua dekade, ia memutuskan pulang ke Samosir.

Tak sekadar berdiam diri begitu sampai di rumah. Ia kemudian bergegas membuat Eco Village dan mengenalkan wisata desa tanpa harus mengubah atau memoles desa tersebut sampai terlalu menor. Ya, Ratnauli Gultom namanya. Wanita kelahiran 20 September 1969 ini mengaku selalu sibuk kalau tidak ditelpon. Kegiatan bercocok tanam dan menjala ikan begitu ia nikmati.

"Selalu sibuk, dan bagusnya langsung telepon saja (kalau mau mengingatkan wawancara)," katanya saat kami menunggu proses wawancara daring pada Kamis (15/7/2021) petang.

Akhirnya, kami bisa berjumpa dengan Ratna secara daring pada Jum’at (16/7/2021) pagi. Ia nampak baru selesai melakukan aktivitas di Silimalombu Eco Village.

"Masih sibuk jadi petani nih. Di Samosir saat ini kita masih tutup, dan tamunya memang beralih ke lokal. Nah, ini waktunya kita edukasi ke (turis) lokal bahwasannya pertanian kita bisa kita orbitkan lah," terangnya.

Tapi mbak. Sebelum bahas Silimalombu Eco Village, kita kepengin tau dong masa muda Mbak Ratna tuh gimana sih?
"Wah, dulu sih menghabiskan waktu di Jakarta saya. Kerja di berbagai kantor deh."

Ke mana aja dan tahun berapa aja?
Waduh. Udah kelamaan di sini jadi lupa tahun tahun ya. Ha ha ha.

Wah, gimana dong?
"Jadi saya kerja di TNT, bidang logistik. Tapi pernah juga tahun 1994 tuh kita ke Muarabaru. Sisanya sih banyak. Hanya saja waktu itu banyak bekerja di industri perikanan. Saya pernah setahun kerja di Muarabaru, Lampung tahun 1995, terus ke Cirebon di tahun yang sama sampai 1996."

Waktu jadi anak kantoran, biasanya nanganin bagian apa?
"Karena aku tamat SMA, aku biasanya ditempatin di bagian administrasi. Keuangan, kasir, dan pekerjaan yang sifatnya administrasi."


Lama juga ya di bidang itu?
"Setelah dari perikanan itu, tahun 1997 ke Tiga Raksa, lalu karena gudangnya diambil alih TNT, dan dari 1997 sampai 2008 saya kerja di TNT. Baru masuk di bidang logistiknya."

Kenapa waktu itu milih Jakarta sih Mbak? Enggak ke Bandung gitu?
"Kita kan di kampung waktu itu mikirnya kepengin ke Ibukota dulu deh. Jadi ada orang yang merantau ke Ibukota itu kayak ‘The Big Things’-nya deh. Dan saya enjoy waktu itu kerja di Jakarta, merantau. Di sana juga ada beberapa saudara di Jakarta, jadi enggak begitu asing karena saudara semua di sana."

Langsung resign ya jadinya?
"Prosesnya juga agak susah. Karena kantor terakhir ini, mereka kayak membutuhkan kita lah istilahnya. Agak sedikit lama saya prosedurnya. Jadi, mereka tuh enggak mau saya pindah ke kompetitor."

Terus alasan Mbak apa?
"Saya mau pulang kampung, mau nyangkol. Eh mereka kayaknya mikir itu hal yang di luar logika, enggak mungkin. Gitu. Ha ha ha"

Waduh, tapi iya juga sih…
"Di Jakarta itu, kerja di ‘segitiga emas’ itu dicari orang. Tapi saya nolak aja deh. He he he.

Apa sih yang memanggil untuk pulang saat itu? 
"Saya pikirkan, sekian tahun saya di Jakarta, macet itu setiap hari. Saya hitung berapa jam waktu saya dari rumah ke kantor. Dan saya hitung, saya lebih lama berada di jalan daripada di kantor. Di jalan itu saya bisa delapan jam, apalagi kalau jam pulang. Sore itu, saya pulang kerja jam 4 sampai rumah bisa jam 10 malam. Jam 5 pagi saya dari rumah, sampai kantor itu jam 8 lebih. Saya pikir, aduh, sudah cukuplah. Selain itu, alasan saya adalah orang tua. Waktu itu, orang tua saya masih hidup, dan saya bisa menjaga mereka sampai 8 tahun. Ya, pada akhirnya apa yang mau kita cari? Cari uang, di kampung pun banyak uang. Mau cari apa lagi? Saya memilih ke kampung. Walau akhirnya saya jadi petani, jadi nelayan. Saya enjoy menjalankan ini, sampai akhirnya kita join dengan WWOOF (World Wide Opportunities on Organic Farm)."



Baca Ini Juga Yuk: Mulyadi, Ojol Disabilitas yang Antarkan Bubur Ayam Gratis

Menggaet Turis Asing
Di awal berdirinya Eco Village Silimalombu, Ratna menarik beberapa turis asing untuk menjadi relawan di kebunnya. Aktivitas berkebun seperti menyapu, membabat, dan lain sebagainya dilakukan oleh turis asing. Ratna menyebut hal ini adalah upaya membuat tempatnya sendiri jadi lebih menarik.

Kerjasama dengan pihak luar negeri dan pembuatan platform saat itu menjadikan wilayah Silimalombu jadi sesuatu yang menyenangkan. Pada perkembangannya, wilayah Eco Village ini kemudian membuat homestay dan resto. Produk-produk dari ladangnya pun kini telah beragam dan menjadi sumber penghasilan sendiri.

"Itu semua kita lakukan secara ya, learning by doing aja,” terang Ratna.

Saat ini, tercatat ada lebih dari 20 produk dari kebun Eco Village Silimalombu. Produk itu terbagi ke dalam beberapa kategori. Semua itu merupakan hasil kebun yang dijual untuk tamu-tamu di homestay mereka. Nah, coba deh kamu kunjungi situs laketoba.net. Dari situ saja, sudah terbayang kan berapa banyak produk hasil kebun tadi?

Hal yang enggak kalah menarik adalah pengembangan produk itu sendiri. Misalnya, dari satu jenis produk mangga saja, ada berbagai turunan produk yang bisa dihasilkan. Dalam kesempatan ini, Ratna menjelaskan pengembangan produk yang dilakukannya.

Langkah awal yang Mbak lakukan saat memutuskan berkebun dan jadi petani?
"Waktu itu aku ikutin orang tua. Mereka menanam cabai, ya aku ikutin. Dan aku coba tanam apapun yang berbuah, seperti kemiri, alpukat, dan apapun yang berbuah deh. Dan sekarang, apa yang ditanam di awal ini, udah bisa kita panen rutin."

Kondisi di Silimalombu saat itu gimana?
"Ya, jalannya jelek, sepeda motor aja enggak masuk. Bahkan saat saya ketemu Thomas yang sekarang jadi suami saya, dia juga bingung waktu itu. Dan ternyata, Thomas juga punya tujuan yang sama: dia sudah rapat dengan 7 Kabupaten di Toba untuk bikin eco tourism, tapi saat itu idenya bisa dibilang ya, kurang populer lah. Belum terbayang oleh orang di 7 Kabupaten itu."

Wah, jadi ketemu Thomas di sini ya?
"Ya. Satu tahun awal dia bantu-bantu di sini untuk membuat rancangan produk, dan Maret 2013 kami menikah. Dari situ, mulai deh kita keluar banyak produk-produk."

Pembagian tugas dengan Thomas gimana tuh?
"Ya, saya jadi petani, Thomas jadi marketing dan juga dia komputernya jago. Kalau kita kan agak malas ya. Hahaha. Tapi di situ kita belajar dan belajar ya."


Wine Mangga, Produk Pertama yang Kini Jadi Jagoan
"Produk pertama yang dijajaki mereka adalah wine dari buah mangga. Saat itu, Ratna meneliti setidaknya ada 2 hingga 5 ton buah mangga yang jadi sampah karena buahnya pecah akibat terjatuh. Jumlah itu berasal dari satu desa. Bisa dibayangkan ya, bagaimana banyaknya mangga 5 ton yang jadi sampah itu?"

Awalnya, fermentasi mangga tersebut coba dibuat menjadi wine, dan ternyata gagal. Namun menariknya, fermentasi gagal ini rupanya bisa menjadi cuka buah. Saat itu, mereka bingung akan dipasarkan ke mana cuka mangga ini, hingga akhirnya mereka menemukan salad, yang memerlukan komposisi cuka mangga.

"Di situ kami sadar, sebetulnya produk gagal ini bisa menjadi produk baru. Jadi, saat gagal ini kita enggak bisa langsung mikir ini stuck. Prinsipnya sih, kalau ada 100 produk, pasti ada 10 yang sukses, dan dari 10 ini, kita harus pilih satu produk jagoannya," ujar Ratna.

Alhasil, saat ini wine mangga ini menjadi salah satu produk jagoan di Eco Village Silimalombu. Oh ya, saat sedang berbincang virtual, Ratna seolah membawa kami ikut garden tour secara virtual. Kami diajak keliling ke sebagian kecil wilayah Eco Village. Sebagai informasi, saat ini kunjungan ke Eco Village didominasi oleh turis lokal.

Produk-produk di Silimalombu Eco Village juga ditampilkan oleh Ratna. Sebut saja wine mangga, brendi, saus mangga, alat kecantikan, hingga hand sanitizer dari mangga. Nah, terkait produk ini, kamu bisa mengunjunginya di situs laketoba.net. Kami pun sebetulnya ingin sekali berkunjung ke sana untuk cerita lebih dalam lagi.

Namun, satu produk yang menjadi perhatian kami adalah hand sanitizer dari mangga. Nah, menurut Ratna, produk ini berawal dari proses destilasi dari fermentasi mangga. Menariknya, proses penyulingan ini bisa menghasilkan dua produk, yakni hand sanitizer dan mangga.

"Jadi, dari sampah mangga ini kita suling, dan dari penyulingan ini bisa didapat dua produk: hand sanitizer dan brendi. Nah, si brendi ini kan dia boleh dibilang sampah dari produk hand sanitizer ya. Jadi, semakin sampah dia, semakin mahal harganya,” ujar Ratna.

Berapa lama sih bisa bikin produk zero waste ini?
"Setidaknya kita riset 5 tahun. Gimana tiap sampah dari produksi ini bisa jadi produk baru. Dan pada akhirnya kita enggak hanya jualan produk saja, tetapi memikirkan juga gimana satu produk yang awalnya sampah, itu bisa benar-benar nol sampah karena diolah menjadi beberapa produk."

Ngomongin konsep sustainable sendiri nih, kalau di kota besar ya, itu bisa enggak sih kita menjalaninya?
"Bisa. Sesimpel kamu mengubah kulit-kulitan jadi eco enzim, mengolah sampah minyak menjadi sabun. Sebetulnya semakin banyak sampah yang kita hasilkan, semakin banyak produk yang bisa dihasilkan."

Kunjungan Raja Belanda & Festival Mangga Toba
"Eksistensi Eco Village Silimalombu boleh jadi tak begitu menohok di negeri sendiri. Namun, hal itu berbanding terbalik di mata dunia. Setidaknya, Ratna saja menyebut tiap hari ia bertemu dengan orang baru dari mancanegara.

Orang-orang dari Eropa dan Amerika berbondong-bondong datang ke Silimalombu. Kabarnya, mereka sampai memesan waktu destinasi dari beberapa bulan ke belakang karena takut tidak kebagian slot untuk berkunjung ke sana.

Setibanya di Eco Village, turis mancanegara ini diberi edukasi mengenai pertanian dan produk sustainable. Kunjungan internasional terakhir yang diterima oleh Ratna ialah saat Raja Belanda datang ke Silimalombu. Wah, keren ya!

Saat itu, Ratna menyebut tidak ada persiapan apapun saat Raja Belanda Williem-Alexander mengunjungi tempatnya. Bagi Ratna, konsep yang menarik untuk ditawarkan adalah konsep wisata desa, yakni menawarkan area wisata di sebuah desa tanpa harus mengubah desa tersebut menjadi tempat yang asing bagi warganya.

Eco Village Silimalombu itu sendiri terdiri dari 9 kamar yang didesain rapi menghadap ke hamparan Danau Toba. Akan tetapi, berkunjung ke sini enggak sekadar memanjakan mata saja, TemanBaik, melainkan juga belajar banyak soal lingkungan, utamanya hidup berkelanjutan (sustainable living).

"Waktu Raja Belanda ke sini, nah, itu jadi titik balik. Orang kayak bertanya, di Silimalombu itu ada apa sih? Dan akhirnya, banyak lah turis lokal yang tertarik juga datang ke mari," jelasnya.

Puncak dari antusias turis lokal untuk datang ke Silimalombu adalah perhelatan yang belum lama ini digagas Ratna. Ya, Festival Mangga Toba. Acara ini digelar pada 28 Mei hingga 3 Juni 2021.

Festival ini menampilkan keistimewaan yang dimiliki Mangga Toba, yang disebut sebagai buah yang berbeda dengan buah mangga pada umumnya. Minimnya upaya untuk budidaya buah Mangga Toba ini menjadi salah satu faktor pemicu semangat Ratna menggarap festival ini. Dalam festival tersebut, Ratna menunjukkan berbagai produk turunan dari Mangga Toba yang pada awalnya menjadi "sampah" karena sudah pecah akibat terjatuh dan tidak bisa dijual di pasaran.

Menikmati Hidup
Dikenal sebagai petani wanita yang tangguh, Ratna hanya tertawa saja. Ia menyebut perjalanan hidupnya untuk sampai pada titik "kedamaian" saat ini tidak serta merta didapat begitu saja. Ratna juga menyebut dirinya selalu merasa enjoy saat ditempatkan di manapun dan menjalani peran apapun.

Hanya saja, saat ini fokus wanita berusia 51 tahun itu ialah mengembangkan aneka produk dari Silimalombu. Ia merasa momentum pandemi ini bisa menjadi ajang untuk mempopulerkan makanan sehat lewat konsep eco tourism yang dijalankannya saat ini.

"Saya lebih free saat ini. Dulu, lipstick saya sangat tebal. Saya belajar merias muka segala macam. Padahal, kita jauh lebih cantik dan enggak habis waktu di depan kaca berjam-jam, enggak harus pakai sepatu tinggi, dan hidup apa adanya. Natural is more better," katanya sambil tertawa.

Sebagai penutup, Ratna menekankan lagi pentingnya konsep desa wisata yang belakangan ini digaungkan Pemerintah. Nah, Ratna punya pandangan sendiri nih mengenai hal ini.

Gimana tuh mbak Ratna?
"Ya. Saya menggarisbawahi ini ya. Selain pertanian di kita itu keren banget untuk diketahui dunia, saya juga ngeliat di sini, cara kita meng-hosting tamu juga perlu diperhatikan. Jadi, rasanya enggak perlu mengubah desa itu. Biarkan desa itu menjadi dirinya sendiri saja. Sehingga konsepnya menjadi wisata desa, bukan desa wisata."

Harapan dan gebrakan apa nih dari Mbak secara personal?
"Buat saat ini kita mengharapkan ada banyak orang yang terinspirasi sama apa yang kita buat. Kita sedang berbagi ilmu dengan desa tetangga untuk bikin eco tourism. Dan saya ngelihat mereka banyak keunggulan, di desa itu banyak orang yang menari, bernyanyi. Saya kira ini unik."

TemanBaik, seru ya, tinggal di Desa dan hidup natural. Jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota besar. Namun, apapun peranmu saat ini, jalani sebaik-baiknya, ya.

Cerita kami bersama Ratna hanya berlangsung kurang dari satu jam, nih. Sehingga sudah pasti belum merepresentasikan suasana dan keseruan di Samosir. Jadi, doakan kami supaya bisa bertandang ke Silimalombu Eco Village di Samosir supaya bisa bercerita lebih banyak lagi, ya.

Semoga pandemi segera berlalu, dan kita bisa berkelana lebih jauh lagi. Selamat berakhir pekan!

Foto: dok. Istimewa


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler