Islahul Umam dan Dedikasinya di Toko 'Amal'

Bandung - Islahul Umam sudah menginjak bulan kedua tinggal di Kota Bandung. Durasi itu sama dengan beroperasinya Barang Bekas Berkualitas (BarBeKu) sejak Juni lalu, sebuah toko yang menjual barang bekas dan furniture di kawasan Rancabolang.

Di sana, pria 33 tahun itu bekerja sebagai staf, lebih tepatnya pramuniaga. Kesehariannya melayani konsumen, termasuk menerima barang bekas yang didonasikan warga untuk dijual.

BarBeKu sendiri berkonsep sebagai tempat penjualan aneka barang, mulai dari furniture, pakaian, buku, sepeda, hingga stroller bayi. Mayoritas hasil penjualannya dipakai Yayasan Amal Khair Yadmin untuk membiayai pendidikan anak-anak dari kalangan ekonomi kurang mampu.

Pria yang akrab disapa Isla itu kemudian bercerita latar belakangnya bekerja di BarBeKu. Secara terbuka, ia mengaku membutuhkan pekerjaan karena ia tidak punya pekerjaan akibat dampak pandemi COVID-19. Ia tak bisa lagi bekerja di perusahaan tempat sebelumnya mencari nafkah.

"Selama pandemi ini saya enggak ada pekerjaan. Terus terang saja, pertama saya enggak ada pekerjaan," ujar Isla.

Namun, ada alasan lain yang membuatnya tertarik dengan pekerjaannya sekarang. Ia mengaku ingin berkontribusi dalam membantu anak-anak kurang mampu agar bisa mengenyam pendidikan.

"Alasan kedua, bagaimana saya bisa bekerja sambil bersedekah dan (BarBeKu) ini memang konsepnya bagus. Cuma orang-orang terpilih yang mau masuk ke sini biasanya," tutur pria berdarah Bandar Lampung yang besar di Cirebon ini.

Baca Ini Juga Yuk: Mandiri dan Berbagi Bahagia Lewat Bunga ala Oriana Dizza

Isla pun sangat bersyukur bisa mendapat pekerjaan dan gaji. Apalagi, tempatnya bekerja bukan sekadar mencari profit alias keuntungan. Lebih dari itu, BarBeKu dinilainya sebagai sarana untuk berbuat baik.

Ia berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugasnya, mulai dari promosi hingga melayani konsumen. Harapannya tentu bisa menghasilkan penjualan sebanyak mungkin demi kelangsungan pendidikan anak-anak kurang mampu.

Sebab, semakin banyak barang terjual, tentu pendapatan BarBeKu juga akan semakin banyak. Sehingga, 'napas' anak-anak mengenyam pendidikan bisa semakin dalam.

"Saya senang sekali (bekerja di sini) karena tujuan saya ingin beramal. Meskipun saya enggak bisa full ngasih dengan biaya, dengan uang enggak bisa, seenggaknya dengan tenaga lah," tutur Isla.

Pengalaman Berkesan
Selama sekitar dua bulan menjalankan BarBeKu di Bandung, Isla mengaku banyak mendapat pengalaman menarik. Berhubungan dengan konsumen ibarat punya cerita masing-masing.

Salah satunya ketika ada konsumen datang dan menawar salah satu barang. Ia tak habis pikir karena barang seharga Rp5 ribu masih ditawar. Apalagi, hasil penjualan akan didonasikan untuk pendidikan anak-anak.

"Karena sudah terbiasa nawar mungkin, ya. Saya bilang belum bisa (ditawar)," ungkap Isla.

Ia lalu menjelaskan soal barang yang ditawar konsumen itu. Bukan tak mau memberi harga lebih murah, tapi harga yang ditawarkan dianggap sudah sangat murah. Yang paling penting, hasil penjualan dipakai untuk donasi, bukan untuk kepentingan pribadi.

"(Setelah diberi penjelasan konsumen akhirnya) ngerti karena keuntungan dari (penjualan barang) ini bukan untuk kami saja, saya bilang, tapi kebanyakan 80-100 persen untuk adik-adik kita," jelasnya.

Baca Ini Juga Yuk: Gufron Lana, Menentang Batas Membantu Sesama

Namun, ada juga yang menurutnya justru tidak menawar harga. Sebaliknya, konsumen melebihkan uang dari harga yang tertera. Ia mencontohkan ada konsumen yang membeli pakaian bekas seharga Rp20 ribu.

"Mau saya kembalikan Rp30 ribu karena uangnya Rp50 ribu, orangnya enggak mau," ucap Isla.

Ia memandang konsumen itu memang ingin beramal. Namun, caranya dengan berbelanja dan membayar lewat nominal lebih besar.

Bicara soal tawar-menawar, diakuinya memang kerap terjadi. Meski harga yang diberikan sudah murah, kerap ada saja konsumen yang meminta turun harga. Sehingga, ia harus memberi penjelasan. Apalagi, barang yang dijual pun masih baik kualitasnya dan tentunya berharga super murah.

"Banyak sekali (konsumen menawar harga), namanya pembeli, ya raja ya. Kami sebagai pramuniaga harus super sabar. Seperti baju tidur atau kerudung, itu masih saja ditawar padahal itu sudah termasuk murah, kualitasnya masih bagus," paparnya.

Pengalaman lain yang tak kalah berkesan adalah saat ada konsumen adu penawaran. Itu terjadi saat ada donatur yang menyumbangkan kasur bekas. Begitu barang tiba di toko, ada konsumen yang langsung mengajukan tawaran Rp300 ribu.

Namun, pengunjung lain datang dan ikut menawar kasur itu. Akhirnya, adu tawar terjadi di antara dua konsumen. Satu sama lain saling menaikkan harga. Solusi pun diambil, Isla memberikan kasur pada penawar pertama seharga Rp300 ribu.

Sebenarnya, diakuinya bisa saja kasur itu dijual lebih mahal, apalagi pada konsumen lain yang mengajukan penawaran lebih tinggi. Namun, ia menghargai konsumen yang datang dan mengajukan tawaran lebih dulu.

Cara itu diharapkan jadi salah satu hal yang membuat konsumen merasa dihargai. Sebab, bukan semata-mata nilai penawaran yang didahulukan, tapi juga adu cepat.

Kini, Isla terus berusaha membuat BarBeKu Bandung tetap berjalan di tengah himpitan pandemi. Sebab, sejauh ini diakuinya pengunjung yang datang masih sedikit. Selain karena masih baru, imbas pandemi dan PPKM Darurat disinyalit turut jadi penyebabnya.

Dalam sehari, diakuinya hanya sekitar tiga pengunjung yang datang, itu pun belum tentu membeli barang. Namun, ia tak menyerah. Berbagai cara dilakukan agar BarBeKu tetap berjalan demi mendapatkan pemasukan untuk didonasikan bagi pendidikan anak-anak.


Foto: Rayhadi Shadiq/beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler