Kisah Inspiratif Erika, dari Bangkrut hingga Gemar Berbagi

Pandemi COVID-19 memberi hikmah tersendiri bagi orang yang mau menyelami maknanya. Bahkan, kesulitan yang dialami bisa membuat pemikiran seseorang berubah.

Hal ini dialami Erika Nurhafitri Agustine (36). Perempuan asal Bandung ini merasakan perjalanan luar biasa sejak pandemi melanda. Kisahnya bahkan sangat menyentuh dan bisa menginspirasi siapapun yang mendengar. Mau tahu kisah menarik Erika?

Semula, Erika adalah pengusaha kuliner di Bandung. Ia punya tiga gerai tempat makanan. Pertama Ayam Penyet Mantan, dua lagi adalah gerai makanan ala Jepang. Ketiga lokasi usahanya ada di tiga tempat berbeda.

Seperti yang dialami banyak pengusaha, pandemi juga berdampak besar pada usaha Erika. Singkat cerita, ketiga tempat usahanya tutup alias bangkrut di awal pandemi pada 2020. Bukan hal mudah menerimanya, usaha yang dirintis dari nol harus hancur begitu saja. Setidaknya, ia butuh waktu sekitar enam bulan menerima kenyataan pahit itu.

"Enam bulanan tuh berat banget. Enam bulan tuh kayaknya kalau memang orang bilang tuh kayaknya saya butuh psikiater karena berat banget nerimanya," ujar Erika saat berbincang dengan Beritabaik.id di kediamannya di kawasan Titiran, Kota Bandung.

Ia sama sekali tak menduga jika usaha yang dulu memberinya keuangan stabil justru hancur dalam waktu sekejap. Di saat yang sama, kebutuhan harus terpenuhi. Alhasil, hilangnya pendapatan dan terus 'memanggilnya' kebutuhan membuat isi kepalanya dilanda pusing yang hebat.

"Bisnis yang dibangun dari nol tiba-tiba harus tutup. Terus, kita yang biasa ngandelin (pemasukan) dari situ, tiba-tiba enggak ada, mungkin kaget kan, sementara perut enggak bisa nunggu, cicilan enggak nunggu," ujarnya.

Dalam kondisi terpuruk, Erika mengaku sempat berada di titik nadir. Ia bahkan sampai kehabisan makanan. Namun, untuk kedua buah hatinya, ia selalu berusaha memenuhi kebutuhannya, bagaimanapun caranya.

Kiriman Makanan Pelembut Hati
Momentum besar akhirnya datang saat ia benar-benar dalam kondisi sulit hingga kehabisan makanan. Salah seorang temannya mengirim makanan ke rumah. Kebetulan, saat itu Erika belum makan.

"Begitu ada kiriman dari temen itu tuh aku mengucap syukur banget. Di situ aku belum makan. Begitu dapat kiriman dari temen tuh, enggak dilihat sih isinya apa, tapi satu perhatiannya, yang kedua berkahnya gitu. Oh, ternyata Allah denger aku belum makan, Allah tahu aku belum makan, tapi rezeki aku enggak akan ketuker sama orang gitu, akan datang sendiri," ungkapnya.

Tak lama berselang, Erika melahap makanan yang diterimanya. Saat makan, ia mengaku sampai menangis karena mendapat perhatian dari temannya. Meski hanya kiriman makanan, itu dirasa sangat berharga baginya.

"Begitu dateng makanannya, ya sudah aku syukurin di situ, makan tuh sambil nangis, ternyata makan satu nasi bungkus aja tuh nikmat banget gitu saat itu," ucapnya.

Ya, Erika memang dibalut kesedihan di tengah keterpurukannya saat itu. Namun, di saat bersamaan, ia bahagia karena masih ada yang peduli padanya. Bahkan, ia merasa kenikmatan yang luar biasa saat menyantap makanan itu.

"Sedih, bersyukur, seneng, banyak lah itu rasanya tuh, rasa makanan tuh jadi enak banget," paparnya.

Siapa sangka, kiriman makanan itu juga melembutkan hatinya. Ia mengubah pandangan tentang dunia dan akhirat. Ia bahkan tergerak melakukan kebaikan meski dalam kondisi sulit.

"Kalau aku sih mikirnya gini, ternyata dulu waktu lagi bisnis mikirnya kan penghasilan, uang. Tapi setelah adanya pandemi, saya jadi terpikir kayaknya bukan uang, bukan kesuksesan gitu yang pertama (harus dikejar)," ungkapnya.

"Ternyata yang kita nanti mau bawa pulang tuh cuma amal. Jadi, dari situ sih, jadi sebisa mungkin kita beramal. Walaupun satu bungkus nasi satu hari, tapi seenggaknya itu yang nanti bisa bawa kita nanti ke sana (akhirat)," jelas Erika.

Jumat Berbagi
Beranjak dari kesulitannya, secara perlahan Erika kembali menata kehidupannya, termasuk merintis bisnis lagi. Ia beralih dari yang semula memiliki tiga gerai tempat makan, menjadi bisnis makanan daring.

Ia menerima aneka pesanan makanan, mulai dari tumpeng hingga camilan. Semuanya dikerjakan di rumah. Setelah selesai, pesanan akan dikirim pada konsumennya.

Di tengah perjuangannya, Erika juga tergerak melakukan kebaikan yang terinspirasi dari kiriman makanan temannya. Sejak 2020, ia menjalankan program Jumat Berbagi, yakni membagikan makanan setiap jumat bagi mereka yang membutuhkan.

Hal ini ternyata mendapat respons dari orang-orang yang dikenalnya. Banyak yang membantu dan memberi donasi agar program ini bisa berjalan.

"Mulai dari sendiri dulu pertamanya, terus lama-lama banyak teman-teman yang nitip, nitip, nitip. Jadi akhirnya setiap jumat alhamdulillah rutin (membagikan makanan)," tutur Erika.

Sasaran penerimanya kerap berganti, mulai dari pemulung, pengemudi ojek online, panti asuhan, panti jompo, serta tempat dan orang membutuhkan lainnya. 

Makanan yang dibuat pun bervariasi setiap jumatnya. Kemampuan memasak Erika benar-benar dipakai untuk menghadirkan makanan. Tak asal jadi, ia membuatnya dengan sangat serius.

Sebab, meski dibagikan gratis, ia tak mau makanan yang diberikan asal-asalan. Sebaliknya, karena diberikan gratis, ia ingin menghidangkan makanan yang lezat agar yang menerimanya tak sekadar kenyang, tapi juga menikmati rasanya.

"Setiap aku masak, di satu bungkusnya aku masak enggak cuma ini lauknya ini loh, enggak gitu. Tapi aku masaknya sama hati gitu, sama cintanya aku gitu, kali aja nyampe (ke penerimanya)," katanya.

Erika pun secara khusus membuka donasi bagi mereka yang ingin ikut serta dalam program Jumat Berbagi. Ia memberi harga Rp10 ribu untuk satu porsi makanan yang akan dibagikan. Meski hanya Rp10 ribu, jangan salah, menu dan rasanya dibuat semaksimal mungkin. Sebab, ia tak mengambil untung dari situ.

Sebagai contoh, untuk paket nasi dan ayam penyet saja enggak mungkin kan harganya Rp10 ribu? Tapi, Erika bisa menghadirkan menu yang sebenarnya jika dijual bisa berkali-kali lipat lebih mahal.

Ia hanya ingin membuka kesempatan bagi mereka yang mau beramal. Sehingga, ia selalu berpikir dan memasak sebaik mungkin dengan anggaran yang diterima.

Hasilnya, aliran donasi yang masuk membuat Erika tak hanya bisa berbagi sendirian. Sebab, ada peran donatur yang bisa membuat makanan untuk dibagikan menjadi berlipat.

"Kalau misalnya awal bulan, pasti lebih dari 100 (porsi makanan yang dibagikan). Kalau misalnya sudah ini (pertengahan atau akhir bulan) sekitar 75, 80, enggak tentu sih setiap minggunya," tuturnya.

Untuk poses pembagian makanan, kadang ia sebarkan sendiri bersama tim, termasuk anak-anaknya. Namun, kadang pembagian juga dilakukan pemesan makanan. Yang jelas, bagaimanapun konsep pembagiannya, makanan itu sampai ke tangan penerima.

Hikmah dan Ajarkan Kebaikan
Bagi Erika, perjalanan sulit memberinya hikmah tersendiri. Paling terasa baginya, ia menemukan kepuasan tersendiri saat tergerak berbagi dan menjembatani orang lain berbagi.

Konsep berbagi yang dulu ada dalam benaknya pun berubah drastis. Dulu, ia berpikir berada dulu baru berbagi. Namun, kini hal itu berganti.

"Iya, dulu aku mikirnya gini, ah belum berbagi, belum tersentuh dulu hatinya, nanti kalau gua kaya baru berbagi, gitu kan dulu mikirnya. Tapi sekarang enggak, berbagi tuh enggak mesti kaya gitu," paparnya.

"Di saat kita punya satu, ya udah setengah, di saat kita punya setengah, ya udah seperempat. Karena aku yakin sih dengan kita berbagi kan nanti hasilnya buat kita juga," ucap Erika.

Kegiatan Jumat Berbagi pun secara tidak langsung diakuinya seolah menghadirkan berkah tersendiri. Usaha makanan daring yang dilakoninya bisa berjalan hingga kini.

"Berkahnya ya banyak pesenan sekarang, banyak orderan makanan. Kayak kemarin ada pesanan, hari ini juga ada, besok kosong, minggu sudah ada lagi. Jadi setiap per hari atau dua hari sekali sekarang alhamdulillah ada (pesanan)," ungkapnya.

Ia juga menemukan hikmah lain. Jika dulu kerap sibuk di luar rumah, kini ia lebih banyak di rumah menjalani aktivitas bisnis. Selain itu, waktu bersama keluarga juga lebih banyak. Hal ini merupakan momentum langka ketika tiga tempat bisnisnya ada di fase kejayaan.

"Banyak banget, sebenarnya pandemi ini tuh banyak banget hikmahnya," ucap Erika.

Di tengah perjalanan Jumat Berbagi, ia juga kerap menemukan hal-hal menarik. Mulai dari penerima makanan yang menangis saat menerimanya karena belum makan seharian, calon penerima menolak karena sudah dapat makanan dari orang lain, serta hal-hal menyentuh lainnya.

"Itu makin menguatkan saya bahwa di masa kayak gini kita tuh enggak sama. Jadi, saya semakin semangat aja untuk berbagi," ujarnya.

Bahkan, donatur juga banyak yang menginspirasinya. Salah satunya teman semasa SMA-nya yang kini jadi donatur tetap. Menurutnya, temannya itu sempat ada di fase kehidupan sulit. Namun, setelah roda kehidupan berputar lebih baik, temannya itu ingin berbagi melalui perantara Erika.

"Yang kayak gitu tuh benar-benar menginspirasi aku banget," katanya.

Sebagai orang tua, Erika pun berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan pada kedua anaknya. Ia mengajak mereka membantu memasak hingga membagikan makanan.

Rasa syukur membuncah dalam benaknya. Sebab, hanya sekali diajak dan diberi pemahaman soal kegiatan Jumat Berbagi, mereka paham dan membantu sukarela.

"Saya bilang sama mereka, kalau ini, ini amal yang bakalan kita bawa nanti ke sana (akhirat). Jadi, kalau kamu bantu bunda, itu sudah merupakan amal buat kamu. Jadi mereka bantunya ikhlas, lalu baginya juga ikhlas," ucapnya.

"Lalu, mudah-mudahan juga saya harapnya ini jadi inspirasi buat mereka gitu kalau mereka harus pinter berbagi, harus mau berbagi," pungkas Erika.

TemanBaik, menyentuh dan inspiratif banget kan kisah Erika? Jika kami tergerak melakukan #AksiBaik, jangan ragu ya!

Nah, jika kamu ingin berpartisipasi dalam Jumat Berbagi bersama Erika, kamu bisa mencari informasinya dengan mengunjungi akun Instagram @erikakitchenbandung.


Foto: Istimewa/Dokumentasi Pribadi

Bandung -

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler