Ngobrolin Toleransi Bareng Rafly sang Fotografer Vihara

Adalah Muhammad Rafly. TemanBaik kami yang berprofesi sebagai fotografer. Saat ini Ia aktif sebagai fotografer di Vihara Tanda Bhakti, Kota Bandung.

Kami bertemu dengannya saat di lokasi digelar ritual Ulambana, beberapa waktu lalu. Pria yang akrab disapa Rafly ini terlihat hilir-mudik mengabadikan momen dalam tiap rangkaian acara.

Seolah tak mau ketinggalan momentum, matanya selalu siaga. Ketika ada momentum yang perlu diabadikan, ia akan bergegas mengabadikannya.

Sesuai namanya, Rafly seorang muslim. Ia mengamini saat kami bertanya tentang nama ritual yang sedang dilakukan.

"Punten, kang. Saya seorang muslim. Jadi kurang tau ini nama ritualnya apa. Nanti ngobrol dengan pengurus aja," ujarnya.

Percakapan pembuka dengan sang fotografer ini memancing kami bertanya lebih jauh seputar kegiatannya sebagai relawan di Vihara Tanda Bakti. Banyak hal menarik dari perjalanannya.

Rafly bercerita, keterlibatannya dalam kegiatan di Vihara Tanda Bhakti yang sudah berlangsung sejak 2012. Awal mulanya gara-gara Rafly jatuh hati dengan barongsai, kesenian tradisional Tiongkok yang identik dengan perayaan Imlek dalam tahun baru China.

Pria kelahiran 1998 ini sudah aktif berkegiatan di Vihara sejak duduk di bangku kelas 3 SMP. Tarian dan berbagai gerakan barongsai seolah menghipnotis Rafly remaja untuk belajar lebih jauh.

"Enggak bisa diterima begitu aja sih (sama tetangga khususnya), tapi Ibu dan Bapak saya sih memberi keleluasaan. Kadang, di kita tuh antara akidah sama kebudayaan, suka enggak bisa dibedain sama orang," ujarnya.

Pernyataan ini merujuk pada keterlibatannya bermain Barongsai sejak remaja hingga kini. Rafly menyebut, sudut pandangnya pada kegiatan di vihara bukanlah dari sudut pandang akidah, melainkan kecintaan terhadap ragam budaya yang ada di Indonesia.

Setelah sempat membuka obrolan, kami akhirnya kembali bertemu dengan Rafly di hari lain. Ia menyediakan waktu luang pada Jum'at (27/8/2021). Siang itu, kami diundang ke rumahnya yang terletak tidak jauh dari Vihara Tanda Bhakti.

Dari pertemuan kedua ini, cerita menarik tersaji lebih banyak. Bahkan, dari pertemuan kami, ada hikmah besar seputar toleransi. Yuk, simak perbincangan kami!

Halo, Raf. Kamu full time kerja di Vihara?
Oh enggak. Saya kerja jadi admin merangkap bantu-bantu di sebuah klinik dokter gigi. Enggak jauh dari sini (Vihara Tanda Bhakti) kok tempatnya.

Menarik sih. Bukan masalah perbedaan agamanya, tapi kok pilihan kamu cukup beda dengan kebanyakan orang, ya?
Maksudnya beda gimana? Karena saya banyak bantu di vihara ya? Hahaha.. Bukan satu-dua orang yang bilang begini kok.

Dan kenapa Vihara? Padahal ada gereja atau pura yang memungkinkan kamu terlibat sebagai relawan di sana?
Karena barongsai, hehehe.. Saya enggak tahu cara jelasin pakai kata-katanya gimana. Saya jatuh hati sama barongsai sejak kecil dan saya kepengin mempelajarinya sebagai salah satu kebudayaan yang secara nyata itu ada di kita kok.

Kamu sudah menjalaninya cukup lama, ya?
Iya. Sejak Kirab Budaya 2012. Waktu itu awalnya dari main barongsai.

Kok bisa jadi fotografer sekarang?
Sebetulnya sih, kalau kegiatan sekarang, motret-motret tuh karena saya berusaha insiatif aja. Masak iya kita biarin umat yang lagi ibadah itu harus sibuk foto-foto. Karena mungkin, dokumentasi kan sekarang jadi 'kebutuhan' juga dan posisi saya di vihara kan enggak sedang ibadah. Kenapa enggak sih kita bantu-bantu abadikan momen ibadah mereka.

Dari Barongsai Sampai Tambur
Kisahnya dengan barongsai dimulai pada 2012. Kirab Budaya yang diselenggarakan di Vihara Dharma Ramsi adalah debut bagi Rafly bermain barongsai. Saat itu, yang terlintas di benaknya hanya satu: jatuh hati.

Ia kemudian bertanya kiri-kanan untuk meyakini pilihannya bermain barongsai. Kendati mendapat jawaban beragam, arahan dari kedua orang tuanya cukup meyakinkan Rafly bergabung dalam festival kebudayaan tersebut.

"Ini mah seni, budaya. Enggak ada sangkut pautnya sama akidah. Kan yang enggak boleh tuh ngejual akidahnya," terang Rafly.

Di Barongsai tuh apa aja sih yang enggak banyak orang tahu?
Apa ya? Mungkin posisi kali ya. Ada orang yang memang bermain di depan, ada yang di belakang. Dan kita memang berlatih seenggaknya satu kali dalam seminggu.

Bedanya posisi depan dan belakang tuh gimana?
Kalau di depan ya banyak mainin mimik wajah si Barongsainya. Biasanya orang-orang yang main di posisi depan tuh, ya, secara fisik dia lebih ramping. Tapi, yang biasa main di posisi belakang itu biasanya yang lebih tinggi, besar, gemuk lah. Posisi belakang itu bakal mengandalkan kuda-kuda kaki yang kuat.

Oh, mungkin ini yang enggak banyak orang tahu ya?
Iya. Tapi memang posisi depan dan belakang itu harus kompak, harus udah ada chemistry lah. Makanya kita latihan.

Baca Ini Juga Yuk: Ratnauli Gultom, Petani Tangguh dari Silimalombu

Debut di barongsai tuh gimana ceritanya? Masih inget kan?
Itu tuh waktu abis Cap Go Meh 15. Ya tahun 2012 tadi. Tapi proses latihannya emang udah lama.

Apa yang bikin makin suka sama barongsai setelah masuk ke dalam?
Seni. Enggak tahu, kayak dapet aja di hati. Orang kan ada yang suka pencak silat, karate, ya sama aja.

Hanya itu aja?
Ya, selain itu saya mikir. barongsai ini kan memang ada di Indonesia. Bener kan? Tiap rangkaian perayaan Imlek, biasanya ada barongsai. Nah, tapi saya mikir, kok yang bisa mainin ini kebanyakan orang Tionghoa aja, padahal di kita kan jelas-jelas pertunjukannya ada. Kenapa kita enggak belajar juga?

Tapi, memang ada bedanya ya barongsai sebagai budaya dan sebuah ritual keagamaan?
Nah. Itu saya enggak berani jawab. Tapi yang saya ikutin memang pure, asli, itu kita belajar kekompakan gerak dan murni buat pertunjukan aja.

Keinginan kuat mengenal barongsai lebih jauh mengantarkan Rafly pada tempat belajar yang lebih serius. Pada 2015, Rafly diajak bergabung oleh pengurus di Vihara Tanda Bakti. Saat itu, ia bergabung untuk tampil pada Kirab Budaya di Tegal.

Menariknya, Rafly tak bermain barongsai saat kirab budaya berlangsung. Ia memainkan alat musik tambur. Ia menjelaskan, dalam kirab budaya biasanya akan tampil beberapa alat musik seperti kolenang, tambur, atau cengcengan, dan gong.

"Bukan alat musik khas sih. Tapi kayak untuk meramaikan kirab di jalan gitu dan saya enggak tahu itu masuknya tradisional atau gimana," terangnya.

Dan Rafly maenin apa aja?
Ya, merangkap. Tapi akhirnya jadi tahu aja. Yang waktu itu enggak tahu, ternyata ada ya alat musik seperti ini. Lama kelamaan jadi bisa.

Susah enggak sih?
Keliatannya gampang. Tapi pas dimainin, susah juga ya. Lumayan.

Ini satu-satunya paket alat musik yang bisa Rafly mainkan ya?
Iya, hahaha.. Saya enggak bisa main gitar, drum, gitu, enggak bisa. Saya bisanya main tambur.

Apa sih yang ditampilin dalam musik kirab gitu?
Ya lebih main ke irama sih. Udah mirip musisi lah. Nyetel nada, biar memang enak ditampilkan.

Dan ini bukan untuk keperluan ibadah kan?
Bukan dong. Intinya kalau udah masuk ke ranah ibadah, saya enggak ikutan.

Setelah pulang dari Tegal, Rafly makin dipercaya terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pihak vihara. Ia mengisi pos kosong yang tersedia, dari mulai membantu hal teknis hingga belakangan masuk ke tim dokumentasi. Aktivitas ini dijalankannya dengan sukarela, di tengah waktu luangnya sebagai pekerja harian di sebuah klinik dokter gigi.

Menghargai Perbedaan
Tumbuh di lingkungan dengan latar belakang kepercayaan beragam, perlahan membentuk Rafly menjadi pribadi yang lebih menghargai keberagaman itu sendiri. Sebagai informasi, beberapa relawan di Vihara Tanda Bhakti berasal dari anak muda lintas agama. Kami juga menjumpai seorang katolik yang juga nampak sibuk hilir mudik saat acara Ulambana berlangsung.

Kembali ke cerita Rafly. Ia menyebut perjumpaannya dengan teman-teman sesama relawan di vihara sebagai anugerah tidak ternilai. Ia membenarkan jika teman bisa didapat di mana saja. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata terkait perjumpaannya dengan teman-teman lintas agama di Vihara Tanda Bhakti.

"Ada teman dengan karakteristik atau stigma tertentu nih di masyarakat. Karena dia dari golongan B misalnya, dianggap beda dengan golongan A. Pas saya berteman dengan dia, ternyata ya sama aja," terangnya.

Saat masih sekolah kan Rafly udah sering berkegiatan di vihara ya. Teman-teman Rafly pada nanyain enggak sih?
Iya lah pasti. Mereka pada bingung. Tapi makin ke sini, mereka juga akhirnya sadar yang saya lakuin tuh karena saya suka sama aspek budayanya.

Apa jawaban Rafly saat itu?
Kalau pertanyaannya bercanda, ya saya jawab biasa aja, ada selipan bercandanya juga. Tapi, kalau yang udah serius sampe bawa-bawa akidah, saya jelasin: saya menjalankan rutinitas di sini bukan berarti saya ikut akidah sana. Untungnya emang teman-teman saya cukup ngerti sih.

Perbedaan di mata Rafly gimana?
Indah. Makin banyak temen yang beda, itu makin seru.

Sebagai catatan, Rafly pernah mengajukan sebuah pertunjukan barongsai dalam pentas kelas 17-an di tempat tinggalnya. Ia sendiri yang mengurus penampil dalam pertunjukan tersebut, tentu dengan melibatkan teman-temannya sesama grup penampil Barongsai. Pertunjukkan itu disebutnya berjalan sukses dan meriah.

"Meriah sih pertunjukannya mah. Walau di belakang, saya diomongin orang," kenangnya sembari tertawa.

Kerja untuk Uang, Hobi untuk Kepuasan
Awalnya, kami mengira Rafly bekerja penuh waktu di Vihara Tanda Bhakti. Namun, rupanya dugaan kami keliru. Aktivitasnya di Vihara Tanda Bakti dilakukan di tengah waktu senggang.

Rafly saat ini bekerja sebagai admin di sebuah klinik dokter gigi di Bandung. Saban hari ia mengurusi daftar antrean pasien, membuat rekap, hingga membantu hal teknis di klinik tersebut.

Terpaan pandemi yang melanda dunia, termasuk Indonesia juga sangat berpengaruh pada pekerjaan utama Rafly. Ia menyebut sedikit sekali dokter gigi yang berani membuka layanan pengobatan di masa pandemi. Tidak heran, sebab pekerjaan dokter gigi berhadapan langsung dengan mulut dan hidung yang diyakini sebagai media penularan virus paling memungkinkan.

"Dulu pasien bisa sampai 12 atau 15 sehari, sekarang paling hanya empat," terangnya.

Oleh karena itu, saban ada waktu kosong, Rafly menghabiskannya dengan berkegiatan di vihara. Ia banyak membantu terkait hal teknis, mulai dari menyiapkan meja, makanan, dam belakangan ia menjadi relawan dokumentasi.

Motret pakai kamera sendiri?
Enggak. Itu kamera punya teman.

Kepengin punya kamera sendiri enggak sih?
Pengen lah. Makin ke sini, saya jadi tertarik sama fotografi. Saya pengen belajar motret yang bener.

Oh, ya. Jadi bisa bisnis juga dari motret ya?
Enggak. Saya punya prinsip, kalau hobi itu jangan dijadiin ladang cari uang. Hobi untuk kesenangan. Kalau cari uang ya kerja. Di vihara atau barongsai pun sama. Saya enggak cari uang di sana, jadi relawan dan lain-lain. Enggak. Kalau mau dapat uang, ya saya kerja.

Saat ini, hal yang menjadi fokus Rafly adalah bisa memiliki kamera sendiri untuk berkegiatan fotografi, baik sebagai relawan atau fotografer lepas. Ia berharap tak perlu lagi meminjam kamera temannya jika ia hendak memotret. Selain itu, Rafly juga bertekad belajar fotografi lebih serius.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita Seru Rama, Antar Oksigen & Menyambung Napas Sesama

Indahnya Keberagaman
Sembilan tahun aktif berkegiatan di vihara, sebagai seorang muslim, Rafly makin menyadari keindahan perbedaan di Indonesia. Puncak dari rasa senangnya adalah ketika ia terlibat dalam peresmian Kampung Toleransi di Vihara Tanda Bhakti, beberapa tahun silam. Peresmian itu dihadiri Wali Kota Bandung Oded M. Danial.

Pada acara pembuka, Rafly dan tim menyambut pihak pejabat Pemerintah Kota Bandung dengan menyajikan barongsai dan pertunjukan kebudayaan. Momen ini pula yang membuat Rafly semakin yakin bahwa kepeduliannya terhadap toleransi umat beragama kini bukan jadi hal tabu lagi. Sebab, dari level pemerintah pun makin aktif menggalakan hal tersebut.

Banyak yang nontonnya enggak?
Banyak. Rame banget itu dan saya puas aja gitu pas hari itu. Soalnya kan belakangan ini banyak orang yang ngomongin di belakang lah, menganggap saya aneh. Tapi, pas udah tahu bakal ada acara seperti ini, mereka juga ada yang mau dilibatkan. Loh, kok dulu ngeledekin? Kok baru sekarang? Tapi, saya sih diem-diem aja.

Apa sih yang Rafly lihat dari perjalanan 9 tahun jadi relawan di Vihara?
Perbedaan itu indah dan saya jadi tenang kalau ke mana-mana. Saya ke masjid tenang, karena itu tempat saya beribadah. Kalau saya ketemu teman-teman dari kepercayaan lain, saya tenang dan enggak merasa berbeda dari mereka. Sebab, saya percaya, Tuhan memang satu, tapi, cara orang mencapai Tuhan mereka itu beda-beda dan itu sah-sah aja.

Ditanya mengenai siapa orang yang paling memberi pengaruh terhadap jiwa sosial dan toleransi, ia menyebut ibunya sebagai 'pahlawan'. Ia juga menyebut beberapa tokoh di vihara sebagai orang berjasa karena bersedia merangkulnya bergabung dan bersosialisasi.

"Kalau sama ibu mah memang sudah dekat dari kecil. Apa-apa curhatnya ke ibu. Nah, kalau di pihak vihara sih, saya terima kasih sama Koko Ciang dan Cici Heni. Mereka sangat merangkul saya, sehingga saya bisa punya banyak teman dan banyak pengalaman," ungkapnya.

Sebagai penutup, Rafly menyebut saat ini dirinya mulai merindukan kegiatan latihan barongsai untuk pertunjukkan. Maka dari itu, ia berharap pandemi segera berlalu agar kegiatan luar ruangan seperti barongsai dapat kembali bergulir.

Lebih jauh dari itu, pria berpostur jangkung ini berharap agar jiwa toleransi muncul pada jiwa-jiwa warga Indonesia lainnya. Dengan begitu, Indonesia bakal jadi negara paling indah di dunia.

Sebelum berpisah, Rafly juga berjanji akan memberi tahu kita jika acara-acara kebudayaan menarik yang digelar di vihara. Wah, patut ditunggu nih pertemuan berikutnya dengan Rafly.

Sehat-sehat selalu, Rafly! Terima kasih sudah menyadarkan kita akan pentingnya toleransi ya.


Foto: Dokumentasi pribadi
Layout: Agam Rachmawan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler