Cerita Asri Desiyani dan Dahsyatnya Doa di Tengah Pandemi

Bandung - Bertugas sebagai lurah di tengah pandemi COVID-19 punya lika-liku tersendiri. Hal ini dirasakan Lurah Cikutra, Kota Bandung, Asri Desiyani, M.AP.

"Lika-likunya banyak banget, banyak tantangan lah ya terutamanya. Karena penanganan COVID-19 ini bukan hanya kasus positifnya aja yang kita tangani gitu, bukan hanya orang yang sakitnya, orang yang sehatnya pun kita harus perhatikan ya," kata Asri kepada Beritabaik.id.

Sebelum pandemi menghadang, kesehariannya di kantoe berkutat mengurus warga dengan berbagai keperluannya. Saat pandemi datang, tugasnya bertambah. Ia berjibaku membantu mengurus warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) hingga memastikan berbagai bantuan dari pemerintah sampai ke tangan warga tepat sasaran.

Ia sendiri tahu persis betapa pandemi memberi dampak negatif luar biasa dalam kehidupan warga di wilayah Cikutra. Ada warga terpapar COVID-19 hingga kehilangan pekerjaan.

Bantuan dari pemerintah atau kerap disebut bantuan sosial (bansos) pun diharapkan jadi solusi untuk meringankan mereka yang terdampak ekonominya akibat pandemi. Namun, bansos ini terkadang diakuinya menghadirkan polemik tersendiri.

Mengurus penyaluran bansos tak semudah bayangan. Sebab, ada begitu banyak yang membutuhkan dan tak sabar menantikannya. Di sisi lain, bansos jumlahnya terbatas. Sehingga, terkadang tak semua yang membutuhkan bisa mendapatkannya.

"Dengan adanya bansos kadang menimbulkan suatu kelelahan bagi kami gitu. Karena kami harus mendata ulang siapa-siapa yang terdampak COVID-19, belum lagi bansos yang kita harapkan semua (yang membutuhkan) dapat gitu, tapi kan ada keterbatasan dari kuotanya (sehingga ada yang tidak kebagian). Itu pun jadi polemik sendiri sih gitu bagi saya dan pengurus RW," ungkap Asri.

Baca Ini Juga Yuk: Memetik Hikmah Pandemi ala Pengusaha Fesyen Rini Widiati

Tak jarang tudingan pun muncul dengan liar. Aparat kewilayahan hingga pejabat tingkat RW dan RT jadi target tudingan dan prasangka warga. Salah satunya anggapan bansos hanya diberikan bagi mereka yang dekat dengan aparat pemerintahan.

"Banyak (tudingan) yang seperti itu," tutur perempuan berhijan tersebut.

Namun, tudingan dan berbagai rintangan yang ada tak membuatnya menyerah. Asri berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugasnya dengan baik. Ia tak peduli berbagai anggapan miring di tengah pekerjaannya dan berusaha meredamnya sebaik mungkin.

"Peran saya di sini, saya hadir untuk bisa menetralisir (masalah yang ada) itu," ucap perempuan 33 tahun itu.

Datangi Kerumunan hingga Pasien Isoman
Pergulatan Asri di tengah pandemi bisa dibilang penuh tantangan. Sebab, ia kerap hadir di area kerumunan.

Ia harus memantau situasi langsung masyarakat di titik keramaian. Misalnya ke pasar atau ke tempat ramai lain terus menyosialisasikan protokol kesehatan, mengatur dan menyalurkan bansos, hingga mendatangi pasien isoman untuk memberi mengontrol dan bantuan.

"Alhamdulillah sih cukup menguras tenga. Belum lagi kita tiap hari harus woro-woro (sosialisasi protokol kesehatan), harus keliling, harus melihat kondisi di warga, kadang kita harus terjun langsung ke lapangan," jelas Asri.

Berbeda dengan pegawai kelurahan lainnya, ia dituntut selalu siaga melayani warga. Asri sulit melakukan work from home (WFH) alias bekerja dari rumah.

"Mungkin kalau di kantor yang lain, ada pemberlakuan WFH, tapi kami di wilayah itu enggak ada. Pernah di awal-awal ada pemberlakuan WFH, tapi camat dan lurah itu enggak boleh WFH. Jadi hanya staf yang lain gitu (yang boleh WFH)," paparnya.

Terpapar COVID-19
Sebagai lurah, Asri sadar betul segala konsekuensi yang harus dijalani, termasuk di masa pandemi. Ia tahu pekerjaannya penuh risiko.

Teranyar, selain berjibaku dengan berbagai urusan terkait dampak pandemi, ia juga terpapar COVID-19 beberapa waktu lalu. Namun, ia merasa beruntung karena gejala yang dirasakannya tergolong ringan.

"Saya pernah (positif COVID-19), tapi karena mungkin saya sudah divaksin, alhamdulillah saya gejalanya hanya batuk dan itu hanya lima hari," ungkap Asri.

Tak ada penyesalan pernah terpapar. Sebab, sejak jauh-jauh hari, ia sudah tahu risiko bekerja saat pandemi yang kerap berhubungan dengan banyak orang.

Dalam kesehariannya, ia bisa bertemu banyak orang berbeda-beda. Masalahnya, orang yang ditemui tak bisa diketahui terpapar COVID-19 dan menularkan padanya. Saat lengah, COVID-19 menghampiri Asri dan membuatnya jadi pejuang negatif selama beberapa hari.

Apalagi, ia juga kerap bertemu pasien isoman. Sehingga, gerbang masuknya COVID-19 ke tubuh seolah dibuka lebar. Meski protokol kesehatan sudah berusaha dijalankan seketat mungkin, sial tak bisa dihindari dan mesti terpapar.

Baca Ini Juga Yuk: Kisah Inspiratif Erika, dari Bangkrut hingga Gemar Berbagi

Namun, Asri selalu berusaha mengiringi langkahnya dengan doa. Sebab, ia tahu suatu saat akan terpapar. Ia mengaku, ketika pandemi melanda, ia sudah memprediksi tinggal menunggu waktu kapan terpapar. Hal itu pun terjadi.

"Saya sudah sadar, ini adalah risiko pekerjaan saya. Kapanpun pasti saya akan kena gitu, saya sudah berpikir seperti itu," ucapnya.

"Banyak juga lurah, camat, yang kena, dan saya pun berpikir, ya berarti saya tinggal menunggu waktu kapan saya kena. Saya berharap kalaupun saya harus kena, ya Allah tolong sembuhkan lagi saya dan tolong gejalanya yang ringan lah ya gitu," jelas Asri.

Usai terpapar, ia menjalani isolasi mandiri di rumah. Beruntung, tak ada anggota keluarga lainnya yang ikut terpapar. Pegawai atau staf Kelurahan Cikutra juga tak ada yang terpapar.

Selama isolasi mandiri, berbagai langkah penyembuhan dilakukan. Ia pun tahu betul rasanya berkutat dalam kebosanan 'terkurung' sendirian.

Namun, selepas berjuang, kesembuhan datang. Ia pun yakin kesembuhan itu tak lepas dari doa yang dipanjatkannya selama ini. Doa yang dipanjatkan benar-benar terasa dahsyat mengiringi perjuangannya. Itu jadi salah satu jalan kesembuhan bersama langkah medis yang ditemuh.

Usai sembuh, ia langsung bisa kembali bekerja seperti biasa. Asri pun memetik hikmah tersendiri setelah terpapar. Ia kini jauh lebih ketat dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Kalau hati-hati, dari dulu saya juga hati-hati, sangat prokes lah gitu. Hikmahnya, mungkin ya lebih hati-hati lagi. Kalau sekarang sih hati-hatinya dua kali lipat dibanding sebelum saya kena. Lebih bawel juga (mengingatkan prokes pada keluarga, pegawai kelurahan, dan warga)," paparnya.


Foto: Oris Riswan/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler