Ngobrol & Berbagi Inspirasi Bareng Kibordis Darmawan Peelpi Yulio

Bandung - Keterbatasan gerak bukan alasan tepat berhenti produktif. Contoh nyata dibuktikan teman baik yang kita jumpai beberapa hari ke belakang. Namanya Darmawan Peelpi Yuliono.

Ia lahir dan besar di Jawa Timur sebelum hijrah ke Bandung pada awal 2000. Sejak usia tiga tahun, ia terserang polio yang membuatnya tak bisa lagi berjalan. Darmawan kecil kemudian melalui haro-harinya dengan alat bantu jalan, seperti kursi roda ataupun tongkat.

Di tengah keterbatasan gerak, siapa sangka, ada darah dan bakat seni yang mengalir dalam dirinya. Bakat itulah yang kemudian menghidupi Darmawan sampai hari ini. Melalui berbagai perjalanan, akhirnya ia memantapkan diri menjadi pemusik penuh waktu. Berbagai panggung pernah ia jajal, mulai dari panggung di acara nikahan, pesta, atau kumpul komunitas.

"Kalau manggung, begitu tawarannya ada, saya ambil," ucapnya penuh antusias.

Ia menguasai alat musik kibor dan kerap manggung berbagai acaras. Kepada kami, ia menceritakan perjalanannya menjadi musisi penuh waktu. Simak kisah Darmawan, yuk!
Pak Darmawan, sejak kapan sih main musik?
Saya mulai mengenal musik sejak kelas 2 SD. Menariknya, saya belajar musik itu enggak langsung main kibor, tapi main kolintang. Itu di YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) di Solo.

Kolintang?
Iya. Setelah belajar, saat saya kelas empat itu udah sering bantu melatih kakak-kakak kelas.

Kok bisa pak? Gimana ceritanya?
Ya, karena berlatih terus, akhirnya guru-guru tuh kayak nitipin saya untuk melatih teman sebaya dan kakak-kakak tingkat saya.

Kegiatan bermusiknya ini berlanjut saat ia melanjutkan pendidikan di salah satu SMP di Jember. Saat itu, Darmawan bergabung dengan Perkumpulan Musik Muhammadiyah di Jember. Ia makin tertarik dengan musik dan mempelajari instrumen kibor.

Dukungan dari sang kakak membuatnya makin optimistis. Ia juga memberanikan diri bergabung dengan band teman-temannya dalam perkumpulan tersebut.

Saat itu ngeband bawain lagu apa sih pak?
Lagu-lagu band aja seperti Koes Plus, lagu-lagu pop begitu.

Adaptasi dari kolintang ke kibor itu susah enggak sih pak?
Enggak kok. Karena memang sama aja dari segi tangga nadanya. Cuma beda media aja.

Apa yang bapak ingat dari momen tersebut?
Saya dan kibornya tinggian kibor. Hahaha.

Kok, bisa?
Ya, karena saya kalau main kan sambil duduk. Saya pernah main kibor sambil berdiri, cuma rasanya sakit banget karena saya berdiri pakai tongkat. Bagian ketiak ini ketahan, sakit, terus jadi enggak bisa fokus.

Dekade 1980-an dihabiskan Darmawan bersama teman-teman bandnya untuk manggung keliling Jawa Timur. Beberapa kota yang lebih besar seperti Banyuwangi disambangi band yang didirikannya.

Kegiatan bermusiknya ini membawa Darmawan menjadi pelatih musik di SMA-nya di Jember. Pekerjaan sampingan melatih ekstrakurikuler ini dijadikannya sebagai wadah berlatih. Enggak berhenti di situ, ia juga aktif dalam garapan internal sekolah seperti mengerjakan musik untuk acara perpisahan ataupun pentas seni.

Saat itu apakah bapak sudah punya kibor?
Enggak punya. Hehehe. Saya nebeng latihan di ruang kesenian sekolah.

Jadi, benar-benar bapak latihan keras itu di sekolah, ya?
Ya. Saat jam istirahat aja, saya izin ke guru 'boleh enggak saya pakai kibor ini?' dia jawab 'silakan aja' dan itu saya udah senang banget.

Masih ingat enggak alat yang bapak pakai?
Yamaha, tapi bukan yang PSR kayak zaman sekarang. Masih analog dan bentuknya gede banget.

Panggung ke Panggung Darmawan
Saat SMA, sembari melatih musik dan bermain layaknya remaja, Darmawan sibuk ngeband dan manggung. Saat itu, wilayah Jawa Timur dikelilinginya bersama band untuk mentas. Kendati mungkin fisiknya memiliki keterbatasan gerak, akan tetapi semangat bermusik Darmawan tidak surut sama sekali.

Berbagai keseruan dialaminya pada masa tersebut. Mulai dari jatuh saat manggung, merasakan serunya 'tur mini' di wilayah Jawa Timur, hingga memiliki kursi yang dikustom dan disebut sebagai alat manggung signatured-nya.

Tantangan saat manggung tuh apa sih, pak?
Banyak. Kita pernah dilempar oleh jagung saat manggung. Hahaha. Saya enggak pernah lupa tuh. Dan saya juga kan pernah jatuh saat mau turun panggung.

Saat bapak SMA, teman-teman bapak main musik seperti apa sih?
Sangat luar biasa tuh. 80 ke 90-an itu mulai masuknya rock.

Perkumpulan musik itu diisi sama temen-temen disabilitas atau gimana?
Enggak. Penyintas disabilitas ya hanya saya. Sisanya teman-teman saya normal. Tapi, ini yang menjadi kepuasan buat saya sendiri.

Apa yang jadi identitas ciri bapak selain kursi kustom itu?
Kostum saya yang selalu pakai dasi. Hahaha..

Selepas SMA, sebenarnya ia masih terus bermusik. Hanya saja, ia mulai bergeser peran sebagai pengajar dan ahli elektro. Hal ini berawal dari keikutsertaannya dalam program kursus elektro di Bangil, Surabaya. Di sana, ia menekuni bidang elektronik seperti menyervis televisi, radio, atau alat elektronik lainnya.

Enggak hanya kursus, ia juga sempat punya lapak usaha di Bangil. Lapak itu didapat melalui bantuan Kelompok Usaha Bersama Disabilitas dari Departemen Sosial.

Saat menjalankan kursus elektro di salah satu panti rehabilitasi disabilitas di Bangil tersebut, bakat musiknya tercium teman-temannya. Sehingga, selepas kursus, ia kebagian job melatih musik. Tak tanggung-tanggung, Darmawan menghabiskan dekade 90-an sebagai warga Surabaya dengan pekerjaan musik dan elektro yang digelutinya.

Peran ini dijalankan hingga tahun 2000. Di awal dekade 2000, ia terbang ke Jakarta untuk mengikuti Diklat dari Departemen Tenaga Kerja RI saat itu. Di sana, ia bertemu dengan wanita pujaan yang kini jadi istrinya.

Wah, jadi ketemu Ibu di Jakarta, ya?
Hahaha. Istilahnya Bonek, ya. Nekat. Alhamdulillah, jodohnya di Jakarta dan kebetulan istri saya asli Bandung.

Darmawan memutuskan menikah pada 2001. Usai melepas masa lajangnya, ia pindah ke Bandung dan memulai petualangan seru di babak baru.
Menjadi Musisi Penuh Waktu
Fase awal kepindahannya ke Bandung tak semulus yang kita lihat. Bila kita melihat Darmawan hari ini begitu menikmati hidup di usianya yang sudah kepala lima, ini tidak sama halnya dengan dua dekade ke belakang.

Memulai lembaran baru dari nol bersama istri, ia tak langsung jadi musisi profesional. Berbagai usaha sempat ia jalani, mulai dari membuka rental playstation di rumahnya hingga usaha-usaha sampingan lainnya.

Singkat cerita, Sang Istri yang aktif bekerja di YPAC Kota Bandung mengenalkannya pada pegiat musik di yayasan tersebut. Di sinilah potensi musik Darmawan tumbuh. Ia mulai kembali menemukan panggung-panggung di Kota Kembang sejak 2004.

Panggung pertama di Bandung tuh di mana, sih?
Di daerah Laswi. Itu ada kedai soto di sana. Enggak tahu sekarang masih ada apa enggak ya? Ya, intinya saya diajakin temen saat itu.

Dibayar berapa saat itu?
Enggak dibayar. Hahaha. Tapi saya sudah senang. Karena saya menjajaki lingkungan baru.

Lambat laun, panggung Darmawan pun terus bertambah. Ia kemudian dipanggil menjadi kibordis di hotel Bandung Giri Gahana Golf. Di sana, ia diberi job manggung satu kali dalam seminggu.

Kerja sama dengan pihak hotel boleh jadi berlangsung singkat. Namun, ia justru kebagian job lebih besar, yaitu menjadi kibordis di Hotel Savoy Homann. Di sini, Darmawan kebagian jadwal bermusik yang lebih banyak. Tentu, penghasilannya pun meningkat sejak manggung di sini. Ia mengingat perjalanannya bermusik di Savoy Homann berlangsung medio 2006 hingga 2010.

Memasuki dekade 2010-an, Darmawan harus berpisah dengan pekerjaannya sebagai kibordis di Hotel Savoy Homann. Sejak saat itu, ia menjadi pemusik lepas yang kerap manggung saat ada panggilan, baik di acara nikahan atau gathering alias perkumpulan.

Kendati kehilangan pekerjaan tetap, relasi yang dibangunnya selama menjadi pemusik justru membawa berkah lain, yaitu ia banyak mendapat panggilan bermusik. Menariknya, hanya itu pekerjaan yang ia lakukan untuk menghidupi tiga putrinya bersama sang Istri.

Pak, gimana sih caranya biar bisa jadi musisi penuh waktu yang cukup secara finansial?
Harus yakin sama apa yang kita pilih. Buat apa memilih bidang pekerjaan kalau kitanya enggak yakin?

Dan bapak benar-benar yakin mau hidup di musik, ya?
Wong saya sudah jatuh cinta sejak kecil sama musik, kok. Hahaha.

Tapi, tantangan pasti ada dong pak. Apalagi saat pandemi kayak kemarin?
Itu mah enggak bisa dilepaskan. Pilihan itu kayak sepaket sama risikonya. Jangan jauh-jauh ngobrolin finansial, kita bisa bermusik dan nyaman dari cibiran orang lain saja itu sudah anugerah. Jangan salah, banyak banget nih yang kayak begini.

Termasuk ke Pak Darmawan?
Iya. Asli. Tapi saya meyakini ini pilihan saya, dan saya selalu berusaha tampil semaksimal mungkin untuk 'melayani' keinginan mereka. Mereka rekues lagu, ya saya mainkan. Kita kan tugasnya menghibur penonton.

Bapak sempat ngeband saat di Bandung?
Pernah, satu kali. Tapi enggak berlanjut karena ya, enggak tahu personelnya pada ke mana. Jadi, saya fokus jadi pemain musik panggilan aja seperti ini.

Saat ini, Darmawan dikaruniai tiga putri. Dia pun kelak membebaskan sang putri memilih bidang pekerjaan yang disukainya, termasuk bermusik.

Kalau anak-anak dilarang main musik enggak sama bapak?
Sama sekali enggak. Apapun yang mereka mau, selama itu positif, saya dukung.

Bapak pernah ajarin mereka bermusik?
Kalau disengaja sih enggak. Saat mereka nanya 'pak, ini apa?', ya saya ajarkan. Saya enggak mendorong mereka jadi musisi kalau mereka hatinya setengah-setengah.

Dari Musik hingga Kuliner
Terpaan pandemi yang dirasakan semua warga dunia sejak awal 2020 hingga saat ini juga sempat mengguncang kondisi dapur Darmawan. Hidup dari panggung ke panggung, ia justru kehilangan pekerjaan karena memang kegiatan entertainment selama masa pandemi tergerus nyaris habis.

Namun bukan Darmawan namanya kalau mudah menyerah dan tidak mengeksplorasi ide-ide baru. Berawal dari kiriman tahu baso yang didapatnya dari Surabaya, Darmawan terpikir untuk mengembangkan produk ini menjadi bahan dagangan.

Pengalaman tinggal di Surabaya semasa muda pun dijadikan inspirasi menghadirkan kedai daring dengan tema masakan Surabaya. Saat ini, usaha bernama Teras Imah tersebut punya tiga menu andalan, yaitu Soto Ambengan, Rawon, dan Tahu Baso. Ketiganya punya harga variatif mulai dari Rp25 ribu sampai Rp35 ribu.

Kalau minat di kuliner itu karena apa, pak?
Pertama, ya, karena pandemi. Penghasilan dari manggung enggak ada dan kita mutar otak untuk akhirnya bikin usaha ini. Alhamdulillahnya istri saya bersedia bantuin.

Sistem beli di Teras Imah ini hanya ada di online ya pak?
Untuk saat ini, iya, dan memang kita mau fokus online dan pre-order aja sih.

Saat ini barangnya keluar berapa pak sekali PO?
Itu bisa sampai 20 porsi. Lumayan lah. Saya rasa usaha kuliner ini cukup sebagai pengganti sementara job-job saya.

Nah, saat nanti pandemi beres, mau balik lagi ke musik atau full jadi pebisnis kuliner?
Hahaha. Saya mah kepenginnya kuliner jalan, main musik juga jalan. Seru aja, saya menjalankan dua hal yang saya sukai.

Mendukung Kesetaraan
Sebelum mengakhiri sesi ngobrol, Darmawan sedikit mengisahkan terkait kondisinya sebagai tunadaksa akibat penyakit polio yang dideritanya saat usia 3 tahun. Sejak saat itu, ia tak bisa berjalan normal dan perlu bantuan tongkat serta kursi roda.

Namun, ia mengaku tak pernah kehabisan rasa kasih. Dari mulai kakak, saudara, teman-teman ngeband, hingga Istrinya, semua mendukung perjalanan hidup Darmawan yang dianggapnya sebagai petualangan seru.

Ada gejala yang kerasa enggak? Mungkin bapak masih ingat?
Usia 3 tahun itu saya udah bisa jalan. Awalnya saya demam, namanya orang tua zaman itu kan enggak tau ya, taunya masuk angin, demam. Eh, enggak taunya setelah ke dokter, dan ya divonis saya polio.

Saat harus menerima kenyataan tersebut, bapak gimana?
Saya malah enggak merasa terus berada di lingkungan orang normal. Itu alasannya kenapa saya melanjutkan pendidikan di Jember saat SMP.

Siapa yang banyak mendukung kegiatan bapak saat itu?
Kakak saya. Saya itu didorong main musik oleh kakak saya. Keluarga, teman-teman, dan istri saya tercinta.

Pandangan bapak soal treatment terhadap penyintas disabilitas itu gimana sih?
Perubahannya sih ada, walaupun enggak banyak. Tapi beberapa kebijakan terkait ini kan terus diluncurkan ya. Semoga ke depannya lebih baik saja.

Apa yang membedakan zaman dulu dan sekarang?
Kalau zaman dulu itu orang disabilitas kayak dianggap enggak ada. Sekarang, masih ada aja yang kayak gitu. Saya masih menemukan beberapa gedung dengan akses yang sulit buat kita. Tapi, kan sekarang sudah ada undang-undang yang menjadi wadah buat kita mendapat akses lebih mudah.

Apa yang bapak harapkan terkait hal ini?
Saya sih kepengin ada kesetaraan antara penyintas disabilitas dan orang normal. Kalau di musik sih, saya pengin bikin inklusi, sejenis proyek musik yang menggabungkan temen-temen disabilitas dengan temen-temen yang normal. Dengan begitu, kita jadi enggak ekslusif sendiri, dan enggak ada gap antara disabilitas dengan non-disabilitas.

Hal ini yang terus diungkapkan bahkan hingga wawancara usai. TemanBaik, barangkali kamu punya kesamaan minat dengan Pak Darmawan yakni mendirikan proyek kesenian yang mengelaborasi antara penyintas disabilitas dengan non-disabilitas, maka sosok dialah yang perlu kamu cari!

Namun, belajar dari perjalanan Darmawan, kita jadi sadar bahwasannya keterbatasan gerak bukanlah halangan untuk tetap produktif. Ide-ide dan cara bertahan hidup Darmawan selalu tepat sesuai apa yang dibutuhkan. Saat era 90-an di mana televisi dan radio menjadi alat primer layaknya gawai, ia mempelajari bidang elektro dan hidup dari kegiatan reparasi elektro.

Begitupula saat ia kehilangan pekerjaan di musik untuk sementara, ia segera beradaptasi dengan dunia digital dan berjualan makanan sebagai pengganti penghasilan sementara. Bukan hanya itu, ia memproyeksikan usahanya ini sebagai pemasukan tambahan saat pandemi usai dan kegiatan hiburan di Tanah Air kembali seperti sediakala.

Semoga sehat selalu, Pak Darmawan! Sampai ketemu di panggung-panggung selanjutnya!


Foto: Istimewa/Dokumentasi Darmawan Peelpi Yuliono

Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler