Jejak Langkah & Jiwa Tulus Ebi untuk Dunia Pendidikan Anak

Bandung - Namanya Muhammad Febriansyah. Usianya belum kepala tiga, akan tetapi ia sudah melalui perjalanan luar biasa, setidaknya dalam sewindu ke belakang.

Sebelas tahun lalu atau pada 2010, Ebi, sapaan akrabnya, lulus dari sekolah menengah (STM) di Jakarta. Dua tahun menjajal pekerjaan menetap di sebuah kantor, ia merasa jengah. Rasa jengah itu seolah menjadi puncak dari segala keresahan dirinya. Merasa punya energi yang lebih sebagai anak muda, ia lalu memutuskan mengembara.

Mendaki gunung adalah gerbang masuknya menuju perjalanan seru keliling Indonesia. Sebagai warga Jakarta, kala itu naik Gunung Gede di Bogor adalah tempat pelarian ideal. Sebab, lokasinya tak terlalu jauh dan bisa ditempuh pada akhir pekan. Di tengah pendakiannya, Ebi juga kerap menulis jurnal. Ia tertawa saat kami memiripkannya dengan seorang penyanyi pop yang juga doyan naik gunung.

"Wah, enggak kayak doi juga," ujarnya.

Usai mendaki Gunung Gede, ia menemukan keseruan dari sebuah perjalanan. Sejak saat itu, ia kecanduan dengan sesuatu berbau alam serta perjalanan. Ia juga mulai rutin menuliskan apa dialami selama berjalan.

Kecintaannya terhadap perjalanan dibarengi kecintaan pada anak. Alasan masa lalu dan keluarga lah yang menjadi bahan bakar Ebi tertarik dunia anak.

"Saya enggak mau anak-anak di luar sana merasakan apa yang saya rasakan," sambungnya.

Setelah naik gunung, ia kemudian mengembangkan area wisata di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Purwakarta adalah destinasi perjalanan pertamanya. Saat itu, ia mengembangkan destinasi wisata hotel gantung yang kini dikenal sebagai hotel tertinggi di dunia.

Setelah dari Purwakarta, Ebi melanjutkan perjalanan ke banyak wilayah seperti, Karimun Jawa dan Lumajang. Pada 2018, ia memilih Sulawesi sebagai destinasi kunjungan berikutnya. Ia menghabiskan waktu cukup lama di sana untuk mengembangkan akses pendidikan buat anak-anak.

Menjadi Fasilitator dan Membuat Produk Inovasi
Bukan hanya jalan-jalan, Ebi juga menjalankan aksi sosial dalam perjalanannya. Ia rutin berbagi dengan anak-anak di tempat melakukan perjalanan. Tak tanggung-tanggung, ia mendirikan sekolah alternatif dan taman baca alias perpustakaan keliling buat anak-anak.

Wilayah yang paling lama disinggahinya ialah Simbe, sebuah wilayah di pulau Sulawesi. Sejak 2018 hingga 2020, dua tahun ia habiskan untuk singgah di sana dan membangun akses pendidikan.

Kenapa setelah keliling Pulau Jawa, lalu milih Sulawesi?
Sebetulnya enggak ada planning bakal ke sana. Waktu itu memang lagi jalan dan ternyata cocok aja pas sampai Sulawesi. Cocok sama lingkungannya, sama alamnya, dan saya ngeliat banyak potensi sumber daya manusia yang bisa jadi sekumpulan orang hebat dari daerah mereka.

Jadi, Ebi ke sana saat ada bencana gempa di Palu, ya?
Setelah. Setelah ada gempa, saya jalan ke sana dan ngeliat keadaan di sana. Waduh, banyak orang, terutama anak-anak, yang kayaknya butuh media healing buat trauma mereka.

Apa yang kemudian Ebi lakukan saat melihat sekitar?
Ya, langsung aja saya eksekusi. Bikin taman bacaan. Penolakan tuh biasanya ada aja dari masyarakat. Tapi, karena saya masuknya lewat dunia anak, saya ngajarin anak mereka, memfasilitasi kebutuhan bermain sambil belajar, di situ mulai deh saya bisa diterima.

Sekolah alternatifnya itu kayak gimana sih?
Ini agak dramatis, sih. Jadi, kepala desa di tempat saya tinggal itu (di Simbe), kepengin buka PAUD di wilayahnya. Dia minta tolong ke saya dan akhirnya kita pakai sebuah kandang sapi untuk belajar.

Serius kandang sapi banget, Bi?
Iya. Tempat itu malamnya sih kandang sapi. Nah, pagi-pagi saya beresin, terus kita belajar di situ. Malamnya jadi kandang lagi.

Apa yang Ebi ajarin sama anak-anak di sekolah alternatif tadi?
Saya belajar tentang toleransi. PPKN kali ya, lingkungan hidup, dan bahasa Inggris dasar.

Materi ajar yang Ebi bawa itu dari mana?
Ada banyak buku koleksi pribadi dan bantuan temen-temen yang saya bawa ke lokasi. Satu ransel besar berisi 150-an buku anak gitu. Jadi, sebetulnya kan PR-nya itu, di tempat saya singgah, biasanya banyak anak-anak yang belum lancar membaca.

Oh, jadi dasar-dasar calistung lah, ya?
Ya, dibalut permainan gitu kalo saya ngajarnya. Dan saya menanamkan ke mereka buat jaga lingkungan juga. Makanya, ada materi lingkungan hidup yang saya bawa juga ke dalam kelas.

Baca Ini Juga Yuk: Ngobrol Asyik tentang Sejarah Bareng Alex Komunitas Aleut



Dari seluruh materi ajar, 70 hingga 80 persen bobotnya diisi materi lingkungan hidup. Ia membuat permainan berisi edukasi terkait menjaga lingkungan di wilayah tersebut.

Selain itu, untuk menjaga keberlangsungan jejaknya, Ebi mengajak anak-anak serta pemuda di wilayah tersebut untuk meneruskan langkahnya mengajar. Dua sampai tiga pemuda diajarkan mengasuh dan mengajar 'adik-adiknya' di kampung.

Apa sih yang Ebi dapatkan dari kedekatan dengan anak?
Mereka itu jujur. Enggak tau. Ada kebahagiaan yang enggak bisa aku jelasin saat dekat dengan anak-anak.

Kesan yang mungkin enggak bisa Ebi lupain?
Pernah saya dapet surprise berupa bunga. Tapi bukan bunga jadi. Anak ini menggambar bunga di kertas dan dia tulis ini bunga buat Kak Ebi. Terus ada lagi nih cerita saya dikasih gelang dengan tulisan burake waktu saya mau pamitan. Arti burake ini adalah Tuhan Yesus. Saya tanya sama dia: 'Kok kamu kasih kakak gelang ini? Kakak kan muslim.' terus dia jawab: 'Enggak apa-apa saya tau kakak seorang muslim. Tapi karena kakak baik sama saya, saya pengin Tuhan saya menjaga kakak di manapun kakak berada.' Gila ya, itu gua bingung mau ngomong apa. Sumpah!

Merinding sih Bi dengernya juga!
Asli! Dan di situ saya belajar indahnya toleransi.

Pernah dicap yang aneh-aneh enggak karena dekat sama anak-anak?
Dicap pedofil? Pernah lah. Hahahaha.

Serius?
Iya. Tapi, ya, biarin lah. Saya emang senang melakukan kontak fisik kayak meluk anak-anak atau saya cium. Tapi itu bentuk kasih sayang, enggak ada itu maksud ke sana.

Selain melakukan perjalanan sembari mengajar, Ebi juga mengoptimalkan sumber daya di desa tempat ia singgah. Ia bekerja sama dengan aparat desa mengembangkan area wisata di daerah tersebut. Setelah nantinya dikembangkan, Ebi menyerahkan operasionalnya kepada warga lokal untuk dilanjutkan.

Pulang ke Bandung
Setelah delapan tahun melakukan perjalanan, Ebi singgah di Bandung menjumpai kakak angkatnya. Tujuan awal Ebi singgah di Bandung adalah mendirikan taman bacaan dan program-program yang sempat dibuat di tempatnya berkelana. Namun, siapa sangka, justru Bandung-lah yang memanggil Ebi pulang.

Bermula dari kunjungannya ke wilayah Bandung Selatan, tepatnya Banjaran, ia mengeksplor wilayah tersebut dan menemukan tempat di kaki Gunung Puntang. Ebi kemudian mengeksplor kegiatan berbasis lingkungan yang menghasilkan produk baru. Tak tanggung-tanggung, ia tinggal di rumah salah satu rekan yang kemudian menjadi fasilitator bersama.

Bersama komunitas dan pegiat kreatif di Gunung Puntang, Ebi mendirikan sekolah alternatif untuk anak-anak di desa tersebut. Ebi juga membuat produk inovasi dari limbah yang kemudian dijual. Nah, keuntungan dari penjualan tersebut dialokasikan untuk membangun akses pendidikan tadi.

Hasil dari inovasi tersebut adalah dua artikel sepatu, yakni The Travellers dan Miasih Bumi Project. Nama yang pertama disebut adalah inovasi yang diciptakannya pada 2020. Ebi mengolah limbah pakaian menjadi produk sepatu kece.

Pengembangan terus dilakukan. Dari awalnya di proyek The Travellers ia hanya melibatkan setengah limbah tekstil untuk bahan baku sepatu, nah di proyek keduanya, Miasih Bumi Project, hampir seluruh komponen sepatunya berasal dari limbah pabrik.

Kalau kegiatan ngajar gimana di sana, Bi?
Tetap jalan. Bahkan karena lingkungannya deket ke Gunung Puntang, kita bikin program tiap akhir pekan itu namanya Smart Traveller. Jadi, anak-anak di sana kita ajakin buat jalan, membersihkan sampah, peduli sama lingkungan. Jadi kita ajak mereka jalan dari basecamp, ngambilin sampah, dan saya minta mereka bercerita pakai bahasa Inggris akhirnya.

Siswa-siswa yang belajar ini sebetulnya ikut sekolah formal juga atau gimana tuh?
Ada di antara mereka yang sekolah dan ada juga yang enggak. Nah, cuma menariknya, banyak di antara anak-anak ini yang suka ngelem (mabuk menggunakan lem).

Waduh, ribet juga ya?
Iya. Karena kan wilayah di sini juga pabrik sepatu, ya. Dan saya enggak peduli sih. Maksudnya, saya enggak datang dengan gaya berceramah bahwa ngelem itu salah dan bla bla bla. Biarin aja. Saya ikutin mereka maunya ke mana, arahnya ke mana, setelah dapet hatinya, baru saya kasih masukan kayak jangan begitu lah, udah yuk bisa yuk. Gitu gitu sih.



Perlu waktu berapa lama buat Ebi bisa masuk ke dunia anak sampai mereka akrab?
Paling lama itu sebulan, deh. Tapi, banyaknya kurang dari itu. Cuma sehari atau dua hari udah akrab banget, ada yang gitu.

Kok bisa sih, Bi?
Ya. Anak itu sensitif. Saya enggak memproklamirkan saya orang baik atau tulus. Cuma kalau memang kita niat baik dan tulus, anak itu cepet banget akrab sama kita.

Produk The Travellers dan Miasih Bumi Project sendiri masih jalan sampai sekarang?
Masih, sekarang aja saya masih produksi satu unit.

Pemesanan dan distribusinya gimana tuh?
Nah, ini tuh masih jadi pekerjaan rumah. Sementara sih buat pesen dan distribusi masih lewat saya pribadi di Instagram @ebss.travels, penginnya sih kalau udah mapan ada platform buat jualannya.

Jadi hasil dari penjualan sepatu itu Ebi pakai buat pendidikan anak di Puntang?
Iya. Plus juga nih, kita kan bener-bener pakai bahan dari limbah, ya. Jadi, seenggaknya bisa bantu ngurangin limbah tekstil juga dan kita bungkusnya pakai anyaman bambu tuh. Ya, ini juga bisa menjadi alternatif penghasilan buat perajin bambu di Gunung Puntang.

Baca Ini Juga Yuk: Samsul Bahri, Anak Punk yang Berjuang Populerkan Angklung

Menjadi Pejalan Baik
Di akhir sesi ngobrol, Ebi mengaku delapan tahun perjalanannya berkeliling sebagian besar wilayah Indonesia menjadikan pribadinya lebih damai, penuh rasa kasih, dan juga lebih mengerti tujuan hidup. Perlahan, ia mulai bisa berdamai dengan keadaan masa lalu di keluarganya.

Ebi juga senang karena pada tiap titik perjalanannya selalu ada jejak baik yang tertinggal. Misalnya saat ia lama tinggal di Sulawesi dan membuat sekolah, ia senang karena sekolah tersebut masih berjalan sampai saat ini.

Jadi, Ebi lebih seneng bikin sekolah daripada nulis puisi perjalanan atau kumpulan foto perjalanan?
Hahahahaha. Ya, gua suka nulis juga sih, suka motret juga. Tapi, kadang, ada hal yang rasanya ini 'bekasnya' itu bakal manjang. Dan kayaknya sih, saya memilih untuk membuka akses pendidikan buat anak-anak.

Selama travelling pindah-pindah kota itu pernah cinlok sama lawan jenis di satu desa enggak sih, Bi?
Waduh. Parah nih! Hahahaha. Ya, pernah sih ada cerita. Tapi mungkin karena saya tau tujuan saya di situ mau apa dan mereka juga tau, jadi pada akhirnya kami berteman baik aja satu sama lain.

Untuk keluarga nih, Ebi masih suka pulang ke Jakarta?
Enggak. Bahkan di tujuh tahun awal perjalanan, saya putus komunikasi dengan keluarga. Nah, tapi setelah masuk tahun ke delapan ini saya mulai mengerti indahnya perjalanan dan perahan saya mulai bisa lebih terbuka sama keluarga.

Komunikasi dengan keluarga gimana Bi sekarang?
Saat ini ya lewat telepon dan mulai agak terbuka aja.



Bi, untuk jadi pejalan baik versi kamu nih, apa aja sih nilai-nilai yang harus kita punya?
Menjaga lingkungan sih mungkin itu pasti, ya. Maksudnya, jangan sampai datang ke satu wilayah, terus lu asal selfie, nyampah, pergi, jangan lah. Terus kalau emang niatnya mau perjalanan panjang, pastiin kamu tau mau ngapain pas sampai di satu wilayah. Jangan sampai enggak ngelakuin apa-apa. Dan intinya sih padukan perjalaan itu dengan hal-hal baik.

Terakhir, Bi. Jadi kamu sudah merasa pulang nih ke Bandung?
Iya. Hahaha. Mudah-mudahan sih bisa manjang di sini dengan segala program dan proyek seru. Udah cukup lah main-main. Sekarang waktunya menata hidup dan mulai menetap.

TemanBaik, delapan tahun bukan waktu yang singkat buat sebuah perjalanan. Meski begitu, tidak ada yang salah buat kamu yang sekarang berpikir melepaskan diri dan berjalan sejauh mungkin yang kamu mau. Selama tujuanmu baik, kebaikan akan menyertai perjalananmu pula.

Namun, jika sudah waktunya pulang, jangan keasyikan di perjalanan, ya. Sebab, konon katanya, bagian terbaik dari sebuah perjalanan adalah saat kamu menemukan alasan pulang, seperti cerita Ebi di atas.

Selamat berakhir pekan, TemanBaik!


Foto: Istimewa/Dokumentasi Ebss Travels


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler